Semua Berduka

1103 Words
Keadaan di Kerajaan Banjarian yang saat hanya berisikan orang-orang sekarat dan mereka yang terluka karena serangan iblis, sama sekali belum terlihat perubahan. Ini hari ke empat Zyan melakukan perjalanan, seharusnya ia akan kembali hari ini. Mayat-mayat sudah sangat membusuk karena kebayakan tubuh-tubuh itu hanya berupa potongan bagian tubuh yang berserakan. Ia tak habis piker kenapa Yelvan memilih melepaskan makhluk gagalnya. Padahal ia tahu makhluk itu hanya memiliki insting membunuh tanpa pandang bulu. “Walau aku tak berada di pihak Yelvan, tapi tetap saja tumpukkan mayat ini membuatku miris.” Yalcob, salah seorang pria tua yang meminta perlindungan pada Tahoi berdiri di sebelahnya. Mereka menatap pekerja yang sedang melemparkan tubuh-tubuh tak bernyawa itu ke dalam kobaran api yang sangat besar. Meski aroma aneh memenuhi semua udara di sekitar sana, tapi tahoi dan Yalcob memaksakan diri untuk melihat itu semua. Ia dan rombongannya memilih mengikuti Tahoi kemanapun hingga nyawa mereka pergi, selama Tahoi memberikan peelindungan pada rombongannya. “Anakku salah satu yang berada di sana. Ia tewas saat kembali memeriksa aula saat menyadari sekelompok anak-anak dan beberapa wanita bersembunyi di sana.” Takada air mata yang keluar dari wajah pria yang sudah keriput itu. Namun suaranya sedikit bergetar. “Sekarang kau tahu alasanku kenapa menentang Yelva selama ini bukan?” Tahoi berucap tanpa mengalihkan padangannya dari kobaran api yang mulai melahap tubuh-tubuh itu. Beberapa pekerja sesekali mengusap wajahnya, bukan arena eringat yang mengucur. Namun menghapus air mata yang tak bisa berhenti meski mereka ingin. Sebuah tekanan mental yang sangat berat menimpa mereka sekarang. Mereka tak tahu tangan atau kaki siapa yang mereka lemparkan ke dalam kobaran api. Bisa saja itu salah satu dari tema dekatnya atau saudaranya yang sama-sama mengabdi sebagai prajurit kereajaan. “Apa rencanamu selanjutnya? Sekarang Yelvan sudah tewas, dan soal pewaris tahtanya, aku sama sekali tak pernah mendengar sebelumya. Sepertinya dia sengaja menutupi rapat-rapat.” Yalcob meninggalkan Tahoi di sana setelah mengutaraka pertanyaannya. Pria tua itu tahu kematian Yelvan adalah salah satu dari tujuannya, selain menemukan daun Dalgor yang ternyata tak pernah ada di dalam kerajaan. Yalcon tahu kemana arah tujuan tahoi pada akhirnya, tapi ia memilih mengikuti Tahoi karena tak bisa lagi mempercayai pihak kerajaan atau pihakmanapun. Ia hanya meginginkan kemanan bagi keluarga dan rombongannya yang bisa ia dapatkan dari Tahoi. Termasuk jika mengkhianati kaumnya sendiri. Hutan yang menjadi arena pertarungan antara kelompok Valrey dengan monster yang taka da habisnya seperti tak cukup luas. Mayat-mayat dari makhluk itu sudah berserakan di sana, puluhan. Namun kedatangan mereka seperti tak ada habisnya. “Sial! Apa mereka berkembang biak dengan cepat?” keluh Valrey yang mulai lelah. “Aku tak tahu persis berapa total mereka semua. Namun sepertinya masih bayak yang akan datang.” Vio menjawab seadanya. Ia dulu hanya pernah melihat ruang penelitian enam. Di sana di isi sekitar seratus lebih monster ini. Sementara masih ada beberapa ruang penelitian lain yag meampung mereka. Orang yang melepaskan makhluk ini sungguh membuat Vio tak habis pikir. “Sargon! Kanan!” sorak Lucky melihat monster yang hendak menyerang Sargon. Tiba-tiba seakan konsentrasi semua monster itu terpecah, mereka meraung dan menggeram marah seolah ada sebuah panggilan dari sisi lain. Segera seluruh makhluk gagal yang mengerikan itu meninggalkan kelompok Valrey dan berlarian menuju satu arah. “Apa yang terjadi?” Sargon heran. “Aku seperti mendengar sebuah suara ultra sonic dari kejauahan. Tapi tak bisa kupastikan itu. Kemugkinan suara itu memancing mereka untuk datang,” ucap Raph. “Aku tak mendengar apapun,” ucap Valrey. “Karena kau tidak beruabah ke wujud iblis sepenuhnya,” balas Raph. Valrey mengangkat bahu dan melihat semua monster itu yang sudah sangat jauh. Wlau mereka gampang dibunuh karena gerakan serangannya gampang dibaca. Menurut Vio itu akrena mereka tak berpikir, hanya menyerang dan menyerang, itulah insting utama mereka dan itu mendominasi di dalam tubuh mereka. “Kalian bisa kewalahan jika harus menghadapi mereka semua.” Jeff datang dan tersenyum. Ia merasa menjadi pahlawan hari ini. “Siapa kau?” Valrey menunjuk Jeff. “Aku dulunya ‘pawang’ mereka,” “Jadi kau yang telah melepaskan makhluk itu?” teriak valrey kesal. Ia hampir saha menghambur kea rah Jeff jika tak ditahan cepat oleh Sargon dan Lucy. “Kami akan menjelaskan dalam perjalanan kembali,” Zyan muncul dari belakang mereka, karena tiga bawahannya yang lain yang sudah memancing monster itu dengan memasang sebuah alat khusus yang di letakkan sekitar lima kilo meter dari tempat mereka sekarang. “Apa maksudmu?” Vio maju selangkah. Ia sangat tak suka dengan cara bicara Zyan yang jelas berusaha mengambil alih kelompoknya. “Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Kita hanya punya waktu beberapa jam sebelum daya alat itu habis. Atau kalia masih ingin menikmati pertarungan dengan ‘mereka’?” sindir Zyan. “Kau pikir aku dan kelompokku akan berterima kasih karena kalian sudah membuat monster itu pergi dari sini?” Vio mulai emosi. Zyan melanjutkan langkahnya menuju Kerajaan. Sekitar dua tau tiga hari lagi ia bisa kembali. Ia juga harus mengejar titik pertemuan dengan tiga anggotanya yang akan menunggu di sana. Sementara Mickey, mugkin sudah sampai di kerajaan saat ini. “Hei! Kau tuli?” teriak Vio. Ia memang tak menyukai Zyan sejak pria itu masih menjadi tangan kanan Zarek. Zyan takkan ragu mejadi ‘pembuka jalan’ bagi Zarek selama menjalankan tugas, dalam artian ia takkan ragu membunuh manusia tak bersalah demi bisa melancarkan tugas yang diberikan Zarek padanya. “Kerajaan Banjarian sedang di ujung tanduk. Semua terjadi dalam waktu kurang dari sehari.” Zyan berhenti dan berkata tanpa menatap mereka yang masih berdiri dibelakangnya. “Maksudmu?” Tanya Valrey heran. “Raja Yelvan sudah tewas dalam serangan beberapa hari lalu. Itu sebabnya ia harus melepaskan makhluk gagal itu karena tenaga pertahanan sangat jauh dari kata kurang. Ia memiliki niat baik untuk menghidupkan kembali tim pemburu iblis yang sudah lama hilang, karena itulah ia membawa kalian semua ke kerajaan.” Zyan hanya menoleh sedikit, ia sengaja berkata demikian agar rasa bersalah timbul di dalam diri mereka. Dan ia tak perlu repot-repot membawa mereka kembali ke kerajaan. Selama beberapa saat tak ada satupun ucapan yang terlontar di antara mereka. Semuaya mencerna perkataan Zyan. Teryata Zyan berhasil, permainan kata-katanya yang sederhana berhasil membuat mereka merasa bersalah. Mereka sekarang hanya tahu jika Raja itu menaruh harapan besar pada mereka, sama sekali bukan tentang penelitian. Bukan ingin menyombongn diri, tapi merka tahu bagaimana kekuatan dan kemampuan mereka bahkan dapat mengalahkan iblis tingkat dua. “Baiklah. Kita kembali,” ucap Valrey memecah kesunyian di sana. Zyan tersenyum tipis. Permainan kata-kata akan lebih gampang untuk menghadapi mereka daripada dengan cara kekerasan. Zyan juga tahu bahwa ia takkan sanggup mengalahkan mereka semua karena mereka adalah jelmaan iblis yang sebentar lagi akan memihak pada Kerajaan Bnjarian baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD