Brak! Pibi membuka dan menutup pintu apartemennya dengan kasar. Seperti dulu, dia membopong gue lalu melempar gue ke ranjang. "Pibi, lo mau apa?" tanya gue was~was. Tatapan Pibi sungguh mengerikan, hati gue mulai diliputi ketakutan. "Lo gak bisa menebaknya?" ketus Pibi sambil membuka kausnya. Kira~kira gue tahu apa yang akan dilakukannya. Sumpah, gue tak berani membayangkannya. "Pibi, jangan lakukan itu," pinta gue memohon. Pibi mulai membuka gesper celananya sambil tersenyum sinis. "Sudah terlambat. Salah sendiri lo mengkhianati gue, lo berani meninggalkan gue! Dan gue gak akan melepas lo. Gue akan perkosa lo hingga hamil!" Meski telah memperkirakannya, tetap saja gue syok dan sakit hati mendengarnya. Mata gue sontak berkaca~kaca, gue berusaha membujuk Pibi untuk membata

