Sepanjang perjalanan pulang gue terus merenung, memikirkan permintaan Papi. Gue sangat bingung. Apa yang harus gue lakukan? Batin gue berperang sendiri! Sungguh, kalau bisa memilih, gue tidak mau melukai Pibi. Gue tak ingin memanfaatkannya! Gue mencintainya tanpa tendensi apapun. Tak peduli dia setajir apapun. Yang gue lihat, Pibi adalah pria kesepian yang butuh kasih sayang. Tapi, permintaan Papi membuat gue dilema berat. Cinta gue seolah jadi ternoda. Gue terus merenung hingga tersadar. Mengapa Pibi juga diam saja? Apa yang dipikirkannya? Wajahnya tampak serius sekali. "Pibi," panggil gue. Dia menoleh dan tersenyum kaku seperti sedang menutupi sesuatu. "Ada apa, Sayang?" "Mengapa lo enggak tanya penyebab gue lama menghilang saat di resto tadi?" pancing gue. "Bukannya

