Gue pasrah apapun yang terjadi, terjadilah. Ternyata justru tak terjadi apapun. Mama mengangguk kaku pada Papi. Dan Papi sepertinya sudah bisa mengatur mulut nyinyirnya. Sedang Pibi bersikap acuh tak acuh, Lelaki gue berubah sangat pendiam. Mungkin dia larut dalam perannya sebagai sweetest boy di mata Mama. Yang membuatnya tak suka justru kehadiran Bang Helga. "Bianca, lama tak bertemu. Abang kangen sekali," sapa bang Helga pada gue. Día mengembangkan tangannya, siap memeluk. "Iya, Bang. Bianca juga kangen," Gue tersenyum dan bersiap mendekat untuk membalas pelukan Bang Helga ketika menyadari tak bisa beranjak dari tempat gue sekarang. Olala, ternyata Pibi mencengkeram baju gue untuk menahan langkah kaki gue. "Lo bini gue, Bie. Gak usah peluk-peluk laki lain!" bisik Pibi g

