Rui mulai terbiasa dengan wujudnya sekarang dan ia juga bisa merubah wujudnya ke wujud semula.
Lin memberikan topeng yang hanya menutupi setengah wajahnya, topeng ini tidak hanya bisa menutupi wajahnya namun juga pelindung untuk Rui.
Topeng perak berukir naga yang sangat indah dengan elang.
Saat hendak turun dati gunung yang begitu tinggi , Rui sedikit takut. Tetapi Lin mendekat dan menggenggam tangannya. Rui menatap tak percaya dengan Lin yang menggenggam tangannya erat.
"Jangan takut ada aku, pegangan yang erat"
Ia mengendong Rui mendengar suara angin yang berhembus. Lin mulai melangkahkan kakinya sebuah pedang terbang di bawah kaki Lin. Ia terbang di atas kaki Lin Dan membawa mereka berdua menuju dasar.
Saat menuju dasar sebuah hutan yang lebat menyapa mereka berdua. Saat sampai pada dasar Lin menurunkan Rui dengan lembut. Rui merasa seperti tuan putri yang ada di dongeng dongeng.
"Terima kasih Lin"
"Hem, kau harus mengembangkan teknik terbang untuk pergi ke atas gunung atau turun gunung. Tanpa pedang kau juga akan bisa pedang hanya alat pembantu keseimbangan" Lin.
Ia mengantar Rui dengan wujud kakek kakeknya menuju luar hutan. Ia memperingatkan kepada Rui supaya menyembunyikan aura tuan muda jendral dan bertolak belakang dengan sifatnya dulu.
Rui mengangguk dan bergegas pergi ke dalam pasar yang begitu ramai dengan orang orang.
Sosoknya mulai hilang dari pandangan , Lin pun pergi kembali ke goa miliknya. Goa itu adalah milik masternya yang di tinggalkan olehnya untuk Lin.
Di goa itu bisa menarik energi alam jadi sangat bagus untuk menguji dan belajar ilmu valkutan. Karena kekuatan yang begitu besar bisa menembus level Roh dengan cepat.
Lin duduk di kasurnya yang empuk dan bersandar di leher kasurnya. Keadaan mulai sunyi tanpa Rui di benak Lin , tanpa ia sadari ia membayangkan saat Rui memasak.
Ia membayangkan Rui memasak untuknya hanya untuknya, lalu ia memeluknya dari belakang layaknya seorang kekasih.
Ia tersadar akan pikirannya yang aneh hanya tersenyum dan memejamkan matanya.
Bayang bayang Rui selalu menghantui di setiap ruang pikiran milik Lin.
Lin : Rui, kau harus tanggung jawab sudah mengambil apa yang aku jaga selama ini! Aku tidak akan membiarkan mu pergi dariku!
Haacchuuu...
Rui : ehm... Siapa yang membicarakan ku? Awas saja jika orang itu mengatakan hal yang tidak tidak tentangku.
Banyak orang yang melihatnya saat melewati pasar, entah apa yang ada dipikiran mereka Rui tidak terlalu peduli. Ia berjalan tegas seperti seorang pria berwibawa membawa sebuah pedang di tangannya.
Dari kejauhan ia melihat seorang pria dan wanita sedang duduk di tanah. Ia melihat mereka berdua seperti sedang sangat kesusahan dan sang pria berteriak teriak untuk diberi pekerjaan.
"Tolong tuan... Bantu kami! Kami ingin pekerjaan kasihan adiku sudah tidak makan 2 hari ini"
Rui kagum dengan mereka berdua yang tidak ingin mengemis tapi minta untuk di perkerjakan. Dengan itu mereka mendapat upah untuk makan sehari hari.
Saat Rui melewati dua orang itu, dua orang itu mohon kepada Rui untuk diangkat menjadi pelayannya.
"Maaf , aku tidak bisa mengangkat kalian menjadi pelayan karena aku sendiri tidak punya uang untuk membayar kalian"
"Baiklah" ada wajah kecewa di wajah mereka karena penolakan Rui.
"Jika tuan mau kami akan menjadi pelayan yang murah, kami rela di beri beberapa koin hanya untuk makan itu terserah tuan mau membayar berapa" ucap Wanita di belakang pria itu.
"Iya tuan itu saja sudah cukup " Lanjut pria yang berada didepan Rui.
Rui menghela nafas panjang lalu menanyakan dimana tempat makan yang enak di pasar ini. Mereka menunjukan sebuah warung besar yang ramai akan pengunjung. Karena Rui hanya mempunyai beberapa koin ia hanya pergi ke warung biasa.
Ia membeli 4 bungkus makanan yang lumayan baginya. Lalu kembali ke dua orang itu mengajaknya ke rumah mereka.
Saat ia sampai dirumah mereka , Rui prihatin melihat rumah yang rapuh. Sewaktu waktu rumah itu bisa hancur dalam sekejap dan banyak sekali lubangnya.
Ia melihat seorang anak perempuan kurus duduk di atas kursi. Saat mereka sampai anak perempuan itu teriak kegirangan dan memeluk pria itu.
"Kakak...."
"Aku lapar... Cacingnya tidak bisa diam.."
Rui hanya tertawa melihat keimutan anak kecil itu. Anak kecil itu mulai menyadari keberadaan Rui yang memakai topeng.
"Siapa?"
"Ini namanya Tuan Hao, ia membelikan kita makanan" ucap Pria itu.
"Waa terima kasih tuan Hao , Xiang sangat senang" ia memeluk Rui tanpa takut , dan Rui yang sangat menyukai anak kecil langsung menggendongnya.
Mereka memperkenalkan diri masing masing dengan sopan pada Rui.
Xue Xian adalah kakak tertua diantara mereka bertiga. Lou Xian adalah adik laki laki dari Xue dan yang paling kecil adalah Xue Xiang.
Mereka dulu adalah anak petinggi di daratan Lan karena ada tragedi dulu keluarga mereka habis. Hanya menyisakan mereka bertiga dan seharusnya ada satu pelayan ikut mereka. Namun pelayan itu tewas saat melindungi ketiga anak itu.
Ketiga anak itu sudah berjuang selama 5 tahun untuk hidup di luar. Kediamannya sudah di kuasai oleh orang lain , yang juga sangat dihormati oleh masyarakat di daratan Lan.
"Ah tuan , tidak pantas jika pelayan di gendong oleh tuannya" ucap Xian.
"Siapa yang membuat kata kata itu? Hah itu hanya omong kosong..."
"Eumm.."
"Bagaimana enak rotinya?" Tanya Rui.
"Enak tuan" dengan memakan roti yang di berikan Rui.
"Xiang, apa kau tidak takut dengan ku?" Tanya Rui.
Xiang berusaha menelan makanannya dan mengusap mulutnya yang berantakan.
"Tidak tuan, karena jika tuan adalah orang tuan tidak akan repot repot menerima kami menjadi pelayan dan membelikan kita makanan"
Rui tersenyum karena ucapan Xiang "pintar" ucapnya.
Mereka berdua terlihat bukan seperti tuan dan pelayan , melainkan seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu. Xiang turun dati pangkuan Rui dan berjalan mencuci wajahnya yang berantakan.
Rui menatap Xian dan Lou yang sedang menatapnya juga. Ia menyuruhnya untuk makan juga nasi yang Rui beli.
"Tuan, apa anda tidka makan?" Tanya Lou.
"Tidak, aku sudah makan banyak tadi. Ngomong ngomong jangan panggil aku tuan panggil saja Kak Hou" ucap Rui.
"Tapi tuan..."
"Tidak ada tapi tapian ini perintah" ucap Rui menghentikan ucapan mereka.
Mereka pun melanjutkan makan hingga habis tak tersisa. Mereka tersenyum dan bahagia karena mendapat makanan. Meskipun hanya roti , nasi dan telur ayam yang direbus meraka sudah menghargai itu.
Rui bermalam di rumah mereka dan saat Rui tidur Xiang sangat penasaran dengan wajah Rui.