BAB 9: Pertemuan yang Mustahil

1149 Words
﴾ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami diperkenankan menempati surga di mana saja yang kami kehendaki; maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.'" (Az-Zumar: 74) "Ahmad?" Nama itu meluncur dari bibir Fatimah seperti doa yang tertahan bertahun-tahun. Kakinya seolah terpaku ke lantai kayu. Tiga tahun berkabung, tiga tahun mendoakan almarhum, tiga tahun berusaha merelakan—dan kini, sosok itu berdiri di hadapannya. Pria di depan pintu itu memiliki wajah Ahmad yang dikenalnya, namun dengan beberapa perbedaan. Rambut yang kini dipotong sangat pendek, janggut yang lebih tebal, dan bekas luka samar di pelipis kirinya. Sorot matanya—mata yang sama yang selalu memandang Fatimah dengan kelembutan—kini dipenuhi kerinduan dan rasa bersalah. "Assalamu'alaikum, Fatimah," suara itu—suara yang sama yang tiga tahun lalu membisikkan janji-janji masa depan. Ustadz Hanan berdiri dalam diam, wajahnya sulit dibaca. Tangannya terkepal di sisi tubuh, tapi ia tidak bergerak mendekat. "Ini tidak mungkin," bisik Fatimah, air matanya mulai mengalir tanpa bisa ditahan. "Aku melihatmu di pemakaman. Aku mengusap wajahmu sebelum dikafani. Bagaimana..." Ahmad—atau siapapun dia—melangkah masuk dengan hati-hati. Hamzah mengikuti di belakangnya, mengunci pintu, dan memeriksa jendela dengan waspada. "Ini memang aku, Fatimah," ujarnya lembut. "Allah memberiku kesempatan kedua." Fatimah menggeleng, tubuhnya bergetar. "Bagaimana aku bisa percaya? Bagaimana..." "Malam sebelum kecelakaan," Ahmad melangkah sedikit lebih dekat, "kamu memberiku tasbih kayu zaitun. Kamu bilang tasbih itu dari Palestina, hadiah dari ustadzah yang pernah mengajarmu di pesantren. Ada ukiran kaligrafi 'Hasbunallah wa ni'mal wakil' di bagian belakangnya." Fatimah menutup mulutnya dengan tangan. Detail itu tidak pernah ia ceritakan pada siapapun—bahkan pada keluarganya. "Dan kamu selalu," Ahmad melanjutkan dengan suara bergetar, "selalu mengusap wajahmu setelah melihat sesuatu yang tidak patut. Kebiasaan yang kamu ambil dari ibumu." Air mata Fatimah semakin deras. Kakinya melangkah maju tanpa disadari. "Ya Allah... benarkah ini kamu?" Ustadz Hanan akhirnya bergerak, berdiri di antara mereka. "Sebelum kita melanjutkan," katanya tegas, "saya perlu bukti lebih kuat. Siapapun bisa mendapatkan informasi personal melalui berbagai cara." Ahmad mengangguk. "Hanan yang selalu waspada," ia tersenyum tipis. "Kau ingat malam terakhir kita di Madinah? Saat kita berdua terjebak badai pasir dan bermalam di masjid kecil di pinggir kota?" Ekspresi Ustadz Hanan berubah. "Lanjutkan." "Kau menceritakan masa kelammu sebagai anak band. Tentang tato pertamamu—salib terbalik yang kemudian kau ubah menjadi pedang setelah kau berhijrah. Tato yang kau sembunyikan bahkan dari keluargamu." Ustadz Hanan mundur selangkah, wajahnya memucat. "Bagaimana kau..." ia terdiam sejenak. "Hanya Ahmad yang tahu tentang itu." Keheningan menyelimuti ruangan. Fatimah menatap bergantian antara Ustadz Hanan dan Ahmad, jantungnya berdebar keras. "Bagaimana bisa?" akhirnya Ustadz Hanan bertanya, suaranya nyaris berbisik. "Kami mengubur..." "Jenazah yang kalian lihat memang aku," Ahmad menjelaskan, berjalan ke arah meja dan mengambil segelas air. "Tapi aku belum mati saat itu. Detak jantungku sangat lemah hingga tidak terdeteksi. Kecelakaan itu..." ia berhenti sejenak, "...dirancang dengan sangat rapi." "Siapa yang melakukannya?" tanya Fatimah. "Zubair Al-Faruqi dan jaringannya. Mereka mengetahui bahwa aku menemukan bukti keterlibatan mereka dalam pendanaan terorisme. Mereka merusak rem mobilku, mengira aku akan mati dalam kecelakaan itu." "Lalu bagaimana kau selamat?" Ustadz Hanan masih tampak tidak sepenuhnya yakin. "Setelah proses pemakaman, seseorang menyadari bahwa aku masih hidup. Seorang petugas pemakaman melihat pergerakan kecil di tanah yang baru ditimbun. Dia menggali kembali makam dan menemukanku masih bernapas—sangat lemah, tapi hidup." "Ya Allah..." Fatimah menutup mulutnya, membayangkan horor yang dialami Ahmad. "Aku dirawat secara rahasia. Saat sadar, aku dalam program perlindungan saksi. Mereka—pihak intelijen—memutuskan untuk membiarkan semua orang mengira aku sudah mati, untuk melindungiku dan mencegah Zubair Al-Faruqi menghilangkan bukti." "Tiga tahun," Fatimah berbisik, air matanya jatuh. "Tiga tahun aku menganggapmu telah tiada. Kenapa kau tidak memberitahuku?" Ahmad menatapnya dengan pandangan terluka. "Itu keputusan terberat dalam hidupku, Fatimah. Tapi jika Zubair tahu aku masih hidup, kau akan menjadi target pertama mereka." Hamzah, yang sejak tadi diam mengawasi dari dekat jendela, berbisik, "Kita tidak punya banyak waktu. Mereka mungkin sudah menelusuri jejak kita." Ahmad mengangguk, kemudian mengeluarkan sebuah laptop dari tas yang dibawa Hamzah. "Ada yang harus kutunjukkan pada kalian. Bukti yang kukumpulkan selama tiga tahun terakhir." Ia membuka sebuah file berisi diagram kompleks yang menghubungkan berbagai nama, organisasi, dan aliran dana. Di pusat diagram itu terdapat nama "Syaikh Ahmad" yang dilingkari merah. "Syaikh adalah kuncinya," jelas Ahmad. "Tapi tidak seperti yang kalian duga. Dia bukan dalangnya—dia adalah korban." "Apa maksudmu?" tanya Ustadz Hanan, mendekat untuk melihat diagram tersebut. "Identitas Syaikh Ahmad telah dicuri dan dimanipulasi. Orang yang kalian kenal sebagai Syaikh Ahmad selama dua tahun terakhir bukanlah Syaikh Ahmad yang asli." Ustadz Hanan terdiam, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang dalam. "Bagaimana mungkin? Aku bertemu dengannya hampir setiap bulan. Dia mengajariku. Dia..." "Mereka menggunakan teknologi pengganti wajah dan suara yang sangat canggih," Ahmad menjelaskan. "Syaikh Ahmad yang asli ditahan di suatu tempat—atau mungkin sudah tidak ada. Sementara seseorang mengambil identitasnya, menggunakan reputasi dan pengaruhnya untuk membangun jaringan pendanaan terorisme." Fatimah mengamati wajah Ahmad lekat-lekat, masih belum sepenuhnya memproses kenyataan bahwa pria yang ia tangisi selama tiga tahun kini berdiri di hadapannya. "Jadi surat peringatan tentang Ustadz Hanan itu?" tanyanya pelan. "Palsu," Ahmad menatap Fatimah dengan lembut. "Dibuat untuk memecah belah kalian. Mereka tahu Hanan menyelidiki kasus ini. Mereka ingin mencegah kalian bekerja sama." Ustadz Hanan mengusap wajahnya, tampak lelah dan terkejut. "Jadi selama ini aku belajar dari... seorang penipu?" "Yang lebih mengkhawatirkan," Ahmad menutup laptopnya, "mereka tahu aku masih hidup sekarang. Dan mereka akan melakukan apapun untuk menghentikan kita." Tiba-tiba, Hamzah yang sedang mengawasi jendela berbisik keras, "Ada pergerakan di luar. Beberapa orang mengepung rumah ini." Ahmad bergerak cepat, mematikan lampu dan mengambil sesuatu dari tasnya—sebuah pistol kecil. Fatimah terkesiap melihatnya. "Kalian harus pergi," kata Ahmad, menyerahkan laptop pada Ustadz Hanan. "Semua bukti ada di sini. Bawa ke Kolonel Harun di Densus 88. Dia akan mengerti." "Tidak," Fatimah menggeleng tegas, meraih tangan Ahmad. "Aku tidak akan berpisah denganmu lagi. Tidak setelah Allah mempertemukan kita kembali." "Fatimah," Ahmad menatapnya dengan sorot mata penuh kesedihan, "aku melakukan semua ini untuk melindungimu. Jika kau tetap bersamaku, kau akan dalam bahaya besar." "Aku tidak peduli," Fatimah balas menatapnya. "Allah yang mempertemukan kita kembali. Aku percaya Allah juga yang akan melindungi kita." Saat mereka berdebat, suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Hamzah memberi isyarat pada mereka untuk diam. Ustadz Hanan menarik Fatimah dan Ahmad merunduk di balik meja. "Ada jalan keluar lain?" bisik Ustadz Hanan pada Ahmad. "Pintu belakang, menuju kebun singkong," jawab Ahmad sama pelannya. "Tapi kita harus bergerak sekarang." Tepat saat mereka bersiap, terdengar ketukan di pintu—bukan ketukan kasar seperti yang mereka duga, melainkan ketukan lembut tiga kali. "Assalamu'alaikum," sebuah suara yang sangat mereka kenal terdengar dari balik pintu. Suara yang membuat mereka semua membeku. "Syaikh Ahmad?" bisik Ustadz Hanan tak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD