BAB 8: Suara dari Masa Lalu

1154 Words
﴾ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (Al-Isra: 36) "Suara... Ahmad?" Ustadz Hanan menatap Fatimah dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. Tangan Fatimah gemetar hebat memegang ponsel, wajahnya pucat pasi. "Fatimah, dengarkan aku," suara di telepon itu terdengar lagi. "Ini memang aku, Ahmad." Ustadz Hanan memperlambat laju kendaraan, kemudian memberi isyarat pada Fatimah untuk mengaktifkan pengeras suara. Fatimah dengan tangan gemetar menekan tombol. "Anda bukan Ahmad," kata Ustadz Hanan tegas. "Ahmad meninggal tiga tahun lalu." Hening sejenak sebelum suara itu kembali terdengar. "Hanan, masih tidak percaya seperti biasa. Aku tidak meninggal dalam kecelakaan itu. Itu hanya rekayasa untuk melindungiku." Fatimah menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir deras membasahi pipinya. "Ya Allah... benarkah ini kamu, Ahmad?" "Fatimah, sayang, aku tidak punya banyak waktu," suara itu terdengar mendesak. "Dengarkan baik-baik. Flash disk yang kau terima dari Zahra berisi virus pelacak. Buang benda itu sekarang juga." Fatimah menatap flash disk di tangannya dengan ragu. "Jangan lakukan itu!" Ustadz Hanan mencegah. "Ini jebakan. Teknologi manipulasi suara sudah sangat canggih. Mereka bisa meniru suara siapapun dengan sempurna." "Hanan selalu curiga," suara itu terkekeh. "Itulah yang membuatmu bertahan hidup selama ini, sahabatku. Tapi kali ini, percayalah padaku. Aku bisa membuktikan identitasku. Fatimah, ingat malam sebelum keberangkatanku ke bandara? Aku membisikkan sesuatu yang hanya kita berdua yang tahu." Jantung Fatimah berdebar kencang. Memang benar, Ahmad membisikkan sesuatu padanya malam itu—janji yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun. "Kau berjanji..." Fatimah berbisik, "kau berjanji akan membawaku umrah setelah kita menikah, dan kita akan memperbaharui ikrar pernikahan di depan Kabah." Keheningan menyusul. Ustadz Hanan melirik Fatimah, menunggu reaksi dari seberang telepon. "Subhanallah," suara itu akhirnya menjawab. "Dan aku juga berjanji akan mendirikan sekolah tahfidz untuk anak-anak kurang mampu dengan namamu, bukan?" Air mata Fatimah semakin deras. Itu benar—detail yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun, bahkan orangtuanya. "Ya Allah... ini benar-benar kamu?" Suara Fatimah pecah oleh isakan. "Ini aku, Fatimah. Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Sekarang, buang flash disk itu dan ikuti perintahku. Kalian sedang dalam bahaya besar." Ustadz Hanan masih tampak ragu, tapi sebelum ia berkata-kata, dua mobil hitam yang mengikuti mereka tiba-tiba mempercepat laju dan sekarang berada tepat di belakang mereka. "Kita tidak punya waktu berdebat," kata Ustadz Hanan sambil menginjak pedal gas, mempercepat laju mobilnya. "Buang flash disk itu, Ustadzah." Fatimah membuka jendela dan melemparkan flash disk ke jalanan. Tak lama kemudian, salah satu mobil penguntit itu berhenti tepat di tempat flash disk terjatuh. "Bagus," suara Ahmad terdengar lega. "Sekarang dengarkan baik-baik. Belok kiri di pertigaan depan, masuk ke jalan kampung. Aku akan menuntun kalian ke tempat aman." Ustadz Hanan mengikuti petunjuk itu, membanting setir ke kiri pada pertigaan yang dimaksud. Mobil mereka kini melaju di jalan sempit, diapit rumah-rumah penduduk. Satu mobil hitam masih membuntuti, namun jarak mereka semakin jauh. "Siapa yang mengejar kami?" tanya Ustadz Hanan, matanya tetap waspada mengawasi jalan. "Orang-orang Zubair Al-Faruqi," jawab suara Ahmad. "Mereka tahu kalian sudah menemukan bukti tentang keterlibatan mereka dalam jaringan terorisme internasional." "Dan bagaimana dengan Syaikh Ahmad? Apakah dia benar-benar terlibat?" Ustadz Hanan bertanya, suaranya terdengar berat. "Syaikh Ahmad..." suara itu terdiam sejenak. "Dia adalah kunci dari semua ini. Tapi bukan seperti yang kalian kira." Fatimah memejamkan mata, mencoba mencerna semua informasi yang terlalu mengejutkan ini. Ahmad masih hidup? Bagaimana mungkin? Siapa yang dikuburkan tiga tahun lalu? "Ahmad," Fatimah memberanikan diri bertanya, "jika kamu masih hidup, siapa yang... yang kami kuburkan tiga tahun lalu?" Hening sejenak. "Itu memang tubuhku yang mereka kira telah mati. Tapi aku selamat, dalam koma selama berbulan-bulan. Ketika sadar, aku dalam program perlindungan saksi. Mereka memalsukan kematianku untuk melindungiku dari Zubair." "Tapi kenapa kamu tidak memberitahuku?" Air mata Fatimah kembali mengalir. "Tiga tahun, Ahmad... tiga tahun aku berduka..." "Maafkan aku, Fatimah," suara Ahmad terdengar bergetar. "Itu keputusan paling berat dalam hidupku. Tapi aku harus melindungimu. Jika mereka tahu aku masih hidup, kamu akan menjadi target pertama mereka." Ustadz Hanan menggeleng pelan. "Ini terlalu sempurna untuk dipercaya." "Belok kanan di gang depan," suara Ahmad mengarahkan, mengabaikan keraguan Ustadz Hanan. "Kemudian matikan lampu mobil dan terus hingga ujung jalan." Ustadz Hanan mengikuti instruksi tersebut. Mobil mereka kini bergerak perlahan dalam kegelapan, melewati jalan setapak yang nyaris tak dapat dilalui kendaraan roda empat. "Berhenti di sini," perintah suara Ahmad. "Lihat rumah kayu di sebelah kanan. Masuklah. Kalian akan aman di sana." Ustadz Hanan menghentikan mobil dan mematikan mesin. Sebuah rumah kayu sederhana berdiri di tengah kebun singkong, nyaris tak terlihat dalam kegelapan malam. "Aku akan menemui kalian besok pagi," lanjut suara itu. "Banyak yang harus kujelaskan. Sekarang istirahatlah. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam," jawab Fatimah lirih sebelum sambungan terputus. Keheningan menyelimuti mobil itu. Fatimah masih terpaku, matanya menatap kosong ke depan. Ustadz Hanan menghela napas panjang. "Ustadzah percaya itu Ahmad?" tanyanya pelan. Fatimah mengangguk pelan. "Dia tahu hal-hal yang hanya diketahui oleh kami berdua." "Atau seseorang telah mengumpulkan informasi sangat detail tentang kalian," Ustadz Hanan menambahkan. "Teknik interogasi modern bisa mendapatkan informasi sangat pribadi." "Lalu apa pendapat Ustadz? Siapa dia sebenarnya?" Ustadz Hanan menggeleng. "Saya tidak tahu. Tapi yang saya tahu, kita perlu sangat berhati-hati sekarang." Mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah kayu tersebut. Pintu tidak terkunci, seolah memang disiapkan untuk kedatangan mereka. Di dalam, mereka menemukan ruangan sederhana dengan dua dipan, sebuah meja dengan lampu minyak, dan persediaan makanan serta air minum. "Seolah-olah seseorang telah mempersiapkan tempat ini untuk kita," gumam Fatimah. Ustadz Hanan memeriksa sekeliling dengan waspada. "Atau untuk menjebak kita." Fatimah duduk di tepi dipan, tubuhnya terasa lelah setelah semua ketegangan yang dialami. "Jika itu benar-benar Ahmad... Ya Allah, aku bahkan tidak tahu harus merasa apa." "Istirahatlah, Ustadzah," kata Ustadz Hanan lembut. "Saya akan berjaga. Besok kita akan mendapatkan kebenaran, insya Allah." Fatimah mengangguk, kemudian mengambil sajadah kecil dari tasnya dan menggelarnya untuk shalat. Dalam sujudnya yang panjang, air mata kembali mengalir, membasahi sajadah. Ia memohon petunjuk Allah, agar diberikan keteguhan hati dan kejelasan pikiran dalam menghadapi semua ini. Setelah shalat, Fatimah mengeluarkan Al-Quran kecil yang selalu dibawanya dan membuka halaman yang ditandai. Ayat-ayat surah Yusuf terpampang di hadapannya—kisah tentang perpisahan dan pertemuan kembali, tentang kesabaran dan keimanan yang teguh. Bibirnya bergetar membaca ayat demi ayat, meresapi hikmah di baliknya. Sementara itu, Ustadz Hanan duduk di dekat jendela, matanya waspada mengawasi kegelapan di luar. Tangannya bergerak menulis sesuatu di secarik kertas. Fatimah hampir tertidur ketika mendengar suara ketukan pelan di pintu. "Siapa itu?" Ustadz Hanan bertanya dengan suara rendah, tangannya bersiaga. "Saya Hamzah," jawab suara dari luar. "Saya membawa pesan dari Syaikh Ahmad." Fatimah dan Ustadz Hanan bertukar pandang terkejut. Bagaimana Hamzah bisa menemukan mereka di sini? "Dan satu lagi," lanjut suara Hamzah. "Ada seseorang yang sangat ingin bertemu Ustadzah Fatimah." Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Hamzah dengan wajah tegang. Di belakangnya, berdiri seorang pria dengan wajah yang nyaris tak dapat dipercaya Fatimah. "Ahmad?" bisik Fatimah, tubuhnya seketika membeku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD