BAB 7: Kepercayaan dan Pengkhianatan

1027 Words
﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am: 82) Kegelapan masjid dipecah oleh cahaya senter yang bergerak cepat. Ustadz Hanan memimpin jalan, menarik tangan Fatimah dan Zahra merunduk di belakangnya. Mereka bergerak menuju sebuah pintu kecil tersembunyi di samping mihrab—akses yang tidak diketahui pengunjung biasa. "Bagaimana Ustadz tahu ada pintu di sana?" bisik Fatimah terengah. "Saya membantu merenovasi masjid ini dua tahun lalu," jawab Ustadz Hanan singkat, tangannya cekatan membuka kunci pintu yang tersembunyi di balik ukiran kayu. Suara derap langkah dan teriakan semakin jelas dari pintu utama masjid. Zahra menatap Fatimah dengan sorot mata ketakutan, namun tetap waspada terhadap Ustadz Hanan. "Jangan lepaskan flash disk-nya," bisik Zahra pada Fatimah. Pintu kecil terbuka, menampakkan lorong sempit yang gelap. Ustadz Hanan memberi isyarat untuk masuk. Fatimah ragu sejenak—masuk ke ruang gelap bersama pria yang kini entah bisa dipercaya atau tidak. "Bismillah," gumamnya, memantapkan hati sebelum melangkah masuk. Zahra mengikuti di belakangnya. Ustadz Hanan menutup pintu sepelan mungkin, kemudian memimpin jalan di lorong sempit itu. Hanya cahaya senter yang menerangi langkah mereka. Udara pengap dan lembab terasa menyesakkan. "Lorong ini menuju halaman belakang masjid," jelas Ustadz Hanan. "Dulu digunakan sebagai jalur evakuasi saat kerusuhan tahun 98." Fatimah merasakan jantungnya berdebar kencang. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang berputar—siapa yang bisa dipercaya? Apa maksud pelacak di jilbab Zahra? Benarkah surat Ahmad itu palsu? "Ustadz," Fatimah memberanikan diri bertanya, "bagaimana Ustadz bisa menemukan saya di sini?" "Saya memasang pelacak di ponsel Ustadzah saat di rumah," jawab Ustadz Hanan tanpa rasa bersalah. "Maaf, tapi saya curiga Ustadzah akan pergi setelah menerima pesan itu." Fatimah terkesiap. "Ustadz membaca pesan saya?" "Tidak. Hamzah melihat adanya pesan mencurigakan masuk ke ponsel Ustadzah. Kami menduga itu jebakan." "Seperti pelacak di kerudung saya?" Zahra menyela dengan nada sinis. "Apa Ustadz juga yang memasangnya?" Ustadz Hanan berhenti melangkah, berbalik menghadap Zahra. Cahaya senter menyorot wajahnya yang tegang. "Itu bukan saya," jawabnya tegas. "Tapi aku tahu siapa yang melakukannya—orang yang sama yang memanipulasimu, Zahra." "Apa maksud Ustadz?" Fatimah semakin bingung. "Zahra bukan adik Ahmad," Ustadz Hanan menatap tajam. "Namanya memang Zahra, tapi dia salah satu anggota kelompok Zubair Al-Faruqi—kelompok yang sama yang membunuh Ahmad." "Kau pembohong!" Zahra mendesis marah. "Ustadzah, jangan percaya padanya!" Fatimah mundur selangkah, merasakan ketakutan yang semakin menjadi. Kedua orang di hadapannya saling menuduh, dan ia tidak tahu siapa yang harus dipercaya. "Ya Allah, tunjukkanlah jalan-Mu," doanya dalam hati. Lorong berbelok tajam, mengarah ke sebuah pintu besi. Ustadz Hanan membukanya perlahan. Udara malam yang sejuk menyambut mereka. Halaman belakang masjid terlihat sepi, hanya diterangi lampu taman yang redup. "Mobil saya di sana," Ustadz Hanan menunjuk sedan hitam yang terparkir di balik pepohonan. Saat mereka bergerak menuju mobil, tiba-tiba terdengar suara mesin kendaraan mendekat. Sebuah van hitam berhenti di dekat pagar belakang. Beberapa pria berpakaian gelap turun dengan cepat. "Mereka di sini!" Zahra tiba-tiba berteriak keras. "Tolong! Mereka menyandera saya!" Fatimah terperanjat, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Zahra. Ustadz Hanan dengan sigap menarik Fatimah merunduk di balik semak-semak. "Pengkhianat," desis Ustadz Hanan. "Dia memang bagian dari mereka." Para pria berbadan tegap itu bergerak cepat menuju arah suara Zahra. Cahaya senter mereka menyapu area sekitar, hampir menyentuh tempat persembunyian Fatimah dan Ustadz Hanan. "Ikuti saya," bisik Ustadz Hanan. "Bergerak pelan, jangan menimbulkan suara." Mereka bergerak merunduk di balik semak-semak, perlahan menjauh dari kerumunan yang kini mengelilingi Zahra. Fatimah bisa mendengar samar-samar percakapan mereka. "Mana wanita satunya?" tanya sebuah suara berat. "Dia bersama Ustadz Hanan," jawab Zahra. "Mereka pergi ke arah sana." Seseorang memberi perintah dalam bahasa Arab, membuat kelompok itu berpencar mencari. Fatimah dan Ustadz Hanan bergegas menuju mobil. "Cepat, masuk!" Ustadz Hanan membuka pintu mobil. Fatimah masuk dengan tergesa, tangannya masih menggenggam erat flash disk pemberian Zahra. Ustadz Hanan menyalakan mesin tanpa menghidupkan lampu, kemudian menjalankan mobil perlahan keluar area parkir. "Zahra menipuku," gumam Fatimah, masih tidak percaya. "Tapi flash disk ini..." "Bisa jadi jebakan juga," Ustadz Hanan mengemudi dengan waspada, sesekali melirik kaca spion. "Kita tidak bisa membukanya sembarangan." Mobil melaju tenang menembus malam. Fatimah merasakan tubuhnya gemetar akibat adrenalin yang masih terpacu. Ia merogoh saku jilbabnya, mengeluarkan tasbih kecil pemberian ibunya, dan mulai berzikir pelan untuk menenangkan diri. "Ustadz," Fatimah memecah keheningan setelah beberapa saat, "bagaimana saya bisa percaya pada Ustadz sekarang? Setelah Ustadz memasang pelacak di ponsel saya?" Ustadz Hanan menghela napas. "Saya tidak bisa memaksa Ustadzah untuk percaya. Tapi izinkan saya menunjukkan sesuatu." Ia mengeluarkan ponsel, mengetuk beberapa kali, kemudian menyerahkannya pada Fatimah. Sebuah rekaman suara terpampang di layar. "Dengarkan ini. Rekaman terakhir percakapan saya dengan Ahmad, dua hari sebelum kecelakaan." Dengan tangan gemetar, Fatimah menekan tombol putar. "Hanan, aku menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan tentang dana yayasan..." Suara Ahmad terdengar jelas, persis seperti yang Fatimah ingat. "Mereka menggunakan namamu untuk transaksi mencurigakan." "Siapa mereka?" Suara Ustadz Hanan menjawab. "Aku masih menyelidikinya. Tapi Syaikh Ahmad tampaknya terlibat juga. Aku tidak tahu apakah dia dimanipulasi atau memang bagian dari mereka." "Bagaimana dengan Fatimah? Apakah dia aman?" Ada jeda sejenak sebelum Ahmad menjawab. "Aku khawatir tidak. Mereka tahu tentang penyelidikanku. Jika terjadi sesuatu padaku... jagalah dia, Hanan. Aku percaya padamu." Air mata Fatimah jatuh tanpa bisa ditahan. Suara Ahmad yang begitu nyata membuka kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh. "Ini..." Fatimah terisak, "ini benar-benar Ahmad." "Itulah mengapa saya datang ke pesantren," Ustadz Hanan menjelaskan dengan suara lembut. "Untuk menepati janji saya pada Ahmad." Fatimah mengangguk pelan, masih belum sepenuhnya yakin tapi mulai membuka diri untuk mempercayai Ustadz Hanan. "Kita akan ke mana sekarang?" tanyanya setelah berhasil menenangkan diri. "Ke tempat Hamzah. Kita perlu memeriksa flash disk itu dengan komputer yang aman." Ketika mobil berbelok menuju jalan tol, Ustadz Hanan tiba-tiba menegang. Dari kaca spion, dua mobil hitam tampak mengikuti mereka. "Sepertinya kita punya tamu tak diundang," ucapnya, mempercepat laju kendaraan. Ponsel Fatimah berdering. Nomor tidak dikenal. Dengan ragu, ia mengangkatnya. "Assalamu'alaikum, Fatimah." Suara di telepon membuat tubuh Fatimah membeku seketika. "Tidak mungkin..." bisiknya tak percaya. "Ada apa?" tanya Ustadz Hanan, menyadari perubahan ekspresi Fatimah. Fatimah menatap Ustadz Hanan dengan wajah pucat pasi. "Suara ini... suara Ahmad."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD