﴾ وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا ﴿
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.'" (Al-Isra: 80)
Fatimah melirik jam dinding untuk kesekian kalinya. Pukul 8:35 malam. Waktu terus berjalan, sementara ia masih terjebak di rumah Ustadz Hanan tanpa tahu bagaimana caranya pergi ke masjid kampus tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Saya ke kamar mandi sebentar," ucap Fatimah sambil bangkit dari kursi.
Ustadz Hanan dan Hamzah masih sibuk menganalisa isi flash disk, terlalu fokus untuk sekedar mengangguk. Fatimah berjalan menuju kamar mandi di lantai atas, pikiran berkecamuk mencari cara untuk keluar dari rumah ini. Ia beristighfar dalam hati, merasa bersalah karena harus mengecoh Ustadz Hanan, tapi ancaman terhadap keluarga Rahman tak bisa diabaikan begitu saja.
Di lantai atas, Fatimah tidak langsung ke kamar mandi. Ia mencari jalan keluar alternatif. Sebuah pintu kecil di ujung koridor menarik perhatiannya—mungkin menuju balkon atau tangga darurat. Fatimah membukanya perlahan, mendapati tangga sempit yang mengarah ke halaman belakang.
"Alhamdulillah," bisiknya penuh syukur.
Fatimah kembali ke kamar mandi, menghidupkan keran air agar terdengar suaranya, lalu dengan cepat menyelinap kembali ke tangga darurat. Jantungnya berdegup kencang saat menuruni anak tangga satu per satu, berusaha tidak menimbulkan suara. Udara malam menyambut wajahnya saat ia mencapai pintu keluar.
Halaman belakang rumah Ustadz Hanan cukup luas dengan pagar tinggi yang mengelilinginya. Di sudut terdapat pintu kecil—kemungkinan akses untuk pemeliharaan taman. Fatimah bergegas ke arah sana, berdoa agar pintu itu tidak terkunci.
"Bismillah," gumamnya sambil meraih pegangan pintu.
Pintu berderit pelan saat terbuka. Fatimah menghela napas lega sebelum menyelinap keluar. Jalanan di belakang rumah cukup sepi. Ia mengeluarkan ponsel, memeriksa peta untuk mencari jalan terdekat menuju masjid kampus. Lima belas menit berjalan kaki—jika ia bergegas, masih ada waktu.
Fatimah merapatkan jilbabnya dan mulai melangkah cepat. Ia merasakan kegelisahan yang aneh—campuran antara rasa bersalah telah membohongi Ustadz Hanan dan ketakutan menghadapi orang misterius yang mengirim pesan ancaman. Namun tekadnya untuk mengungkap kebenaran tentang kematian Ahmad lebih kuat dari apapun.
"Ya Allah, lindungilah aku," doanya dalam setiap langkah.
Fatimah terus berjalan, sesekali menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikuti. Jalanan semakin ramai saat ia mendekati area kampus. Mahasiswa masih berlalu-lalang meski hari sudah malam—kebanyakan menuju perpustakaan atau kafetaria. Fatimah merasa sedikit lebih aman di tengah keramaian.
Masjid kampus terlihat megah dengan kubah hijau yang berkilau ditimpa cahaya lampu taman. Beberapa mahasiswa masih terlihat keluar dari masjid setelah shalat Isya. Fatimah melirik jam tangannya—8:55 malam. Ia tepat waktu.
Dengan langkah mantap, Fatimah memasuki area masjid. Ia menuju tempat wudhu wanita, membasuh anggota tubuhnya sambil memusatkan pikiran. Air wudhu yang sejuk sedikit menenangkan hatinya yang gelisah. Setelah mengenakan mukena yang tersedia di rak, ia masuk ke dalam masjid.
Ruangan utama masjid hampir kosong, hanya ada beberapa mahasiswi yang masih berzikir di pojok. Fatimah memilih sudut yang agak tersembunyi untuk menunaikan shalat sunah. Dalam sujudnya, air mata menetes tanpa bisa ditahan. Ia memohon perlindungan dan petunjuk Allah dalam menghadapi apa yang akan terjadi.
"Assalamu'alaikum, Ustadzah Fatimah."
Suara lembut seorang wanita mengejutkannya saat ia baru saja menyelesaikan shalat. Fatimah menoleh, mendapati seorang wanita muda berjilbab hitam panjang duduk tak jauh darinya. Wajahnya tidak asing, tapi Fatimah tidak bisa langsung mengingatnya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Fatimah hati-hati. "Anda yang mengirim pesan itu?"
Wanita itu mengangguk pelan. "Saya Zahra."
Mendengar nama itu, Fatimah tertegun. Zahra—nama yang disebut Ustadz Hanan di masjid saat penyusup bertopeng muncul. Bagaimana Ustadz Hanan bisa mengenal wanita ini?
"Kamu Zahra yang mana?" tanya Fatimah, berusaha mengingat-ingat. "Dan apa hubunganmu dengan Ahmad?"
"Saya adiknya Ahmad, Ustadzah," jawab Zahra dengan suara bergetar. "Orangtua saya tak pernah menceritakan tentang saya, bukan?"
Fatimah terperanjat. Ahmad memang pernah menyebut punya adik perempuan yang tinggal di luar negeri untuk kuliah, tapi ia tak pernah bertemu dengannya. Bahkan dalam acara pertunangan mereka pun, adik Ahmad tidak hadir.
"Tapi bagaimana kamu tahu tentang flash disk itu? Dan mengapa kamu tidak menemui orangtuamu langsung?"
Zahra mengeluarkan sebuah flash disk lain dari saku jilbabnya. "Ini flash disk yang asli. Yang kalian temukan hanyalah umpan. Ahmad sangat cerdas—dia tahu nyawanya dalam bahaya."
Fatimah menatap flash disk di tangan Zahra dengan ragu. "Kenapa aku harus mempercayaimu? Kamu bahkan mengancam keluargamu sendiri."
"Saya tidak pernah mengancam mereka," Zahra menggeleng tegas. "Saya hanya bilang mereka dalam bahaya jika Ustadzah tidak datang sendiri."
"Apa bedanya?"
"Perbedaannya adalah—" Zahra mendekatkan diri, berbisik dengan nada rendah, "—orangtua saya tidak tahu bahwa mereka sedang diawasi. Setiap langkah mereka dipantau sejak kematian Ahmad. Dan surat yang diberikan pada Ustadzah itu..." Zahra terdiam sejenak, "...bukan tulisan kakak saya."
Jantung Fatimah seolah berhenti berdetak. "Apa maksudmu bukan tulisan Ahmad?"
"Itu palsu. Dibuat oleh orang yang sama yang membunuh Ahmad." Zahra menatap Fatimah dengan sorot mata penuh kesedihan. "Dan orang itu sangat dekat dengan kita semua."
Fatimah merasa kepalanya berputar. "Jadi surat peringatan tentang Ustadz Hanan itu..."
"Sengaja dibuat untuk memecah belah kalian," Zahra mengangguk. "Mereka tahu Ustadz Hanan sedang menyelidiki kematian kakak saya. Mereka ingin Ustadzah tidak mempercayainya."
"Tapi siapa 'mereka' yang kamu maksud?" tanya Fatimah frustrasi.
Zahra mengedarkan pandangan waspada ke sekeliling masjid sebelum menjawab. "Kelompok yang sama yang berusaha merekrut Ahmad dan gagal—kelompok radikal yang menyusup ke berbagai yayasan Islam. Dan pemimpinnya adalah orang yang sangat dihormati dalam komunitas dakwah."
Zahra mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto. Napas Fatimah tertahan. Dalam foto itu tampak Syaikh Ahmad, guru spiritual Ustadz Hanan, sedang berbicara dengan pria berjenggot yang ia lihat di foto bersama Ahmad sebelumnya—Zubair Al-Faruqi.
"Tidak mungkin," Fatimah menggeleng tak percaya. "Syaikh Ahmad adalah ulama besar. Dia tidak mungkin terlibat."
"Penampilan bisa menipu, Ustadzah," Zahra tersenyum getir. "Buktinya ada dalam flash disk ini. Ahmad mendapatkannya dengan taruhan nyawa."
Fatimah hendak mengambil flash disk itu ketika tiba-tiba lampu masjid berkedip beberapa kali sebelum padam sepenuhnya. Kegelapan total menyelimuti ruangan. Fatimah merasakan tangan Zahra menggenggam tangannya erat.
"Mereka di sini," bisik Zahra panik. "Kita harus pergi sekarang!"
"Siapa yang—"
Sebelum Fatimah menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki bergema di lantai marmer masjid. Tidak hanya satu orang, tapi beberapa. Fatimah dan Zahra bergerak merunduk, berusaha mencapai pintu keluar tanpa terlihat.
"Cari mereka! Perempuan berjilbab biru dan hitam!" Sebuah suara berat terdengar memerintah.
Zahra menarik tangan Fatimah menuju pintu samping. Keduanya bergerak dalam kegelapan, hanya mengandalkan cahaya remang dari luar yang masuk melalui jendela kaca patri. Napas mereka tertahan, jantung berdegup kencang.
Tepat saat mereka hampir mencapai pintu, siluet seseorang menghadang di depan mereka.
"Assalamu'alaikum, Zahra," suara yang sangat dikenal Fatimah menyapa dengan tenang. "Sudah lama tidak bertemu."
Lampu senter menyorot wajah mereka, membuat Fatimah menyipitkan mata. Saat penglihatannya menyesuaikan, ia terkesiap melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka.
"Ustadz... Hanan?" Fatimah berbisik tak percaya.
Zahra mencengkeram tangan Fatimah lebih erat. "Jangan percaya padanya, Ustadzah! Dia bagian dari mereka!"
"Tidak, Zahra," Ustadz Hanan menggeleng pelan. "Aku bukan bagian dari mereka. Tapi kamu..." ia mengarahkan senter ke belakang Zahra, menyorot sesuatu yang membuat Fatimah terkesiap, "...membawa transmitter yang menuntun mereka ke sini."
Fatimah melihat benda kecil berkedip di ujung kerudung Zahra. Sebuah pelacak.
"Ya Allah..." Fatimah menutup mulutnya, tak tahu siapa yang harus dipercaya.
Belum sempat mereka bereaksi, suara tembakan memecah keheningan malam, disusul teriakan dari luar masjid. Ustadz Hanan dengan cepat menarik keduanya merunduk.
"Kita bicara nanti," ujarnya tegas. "Sekarang, kita harus keluar dari sini—sebelum mereka semua masuk."