﴾ اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ﴿
"Allah Pelindung orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya." (Al-Baqarah: 257)
"Fatimah Azzahra, seharusnya kamu mati bersama Ahmad tiga tahun lalu."
Suara itu bergema dalam kegelapan, mengirimkan getaran dingin ke tulang belakang Fatimah. Tangannya refleks menggenggam flash disk lebih erat, sementara bibirnya bergerak lirih mengucap doa perlindungan.
"Aعudzu billahi minasy syaithanir rajim..." (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk...)
Kegelapan di ruangan itu nyaris sempurna. Fatimah hanya bisa melihat bayangan samar sosok-sosok di sekitarnya. Ia merasakan seseorang menarik tangannya—sentuhan lembut yang ia kenali sebagai tangan Ustadzah Khadijah.
"Jangan bergerak," bisik Ustadz Hanan dari arah kanannya. "Saya akan coba mencari jalan keluar."
"Percuma saja," suara asing itu kembali terdengar, kini terasa lebih dekat. "Semua pintu sudah dikunci dari luar."
Tuan Rahman bergerak maju, berusaha melindungi istri dan Fatimah. "Siapa kau? Apa maumu?"
Bukannya jawaban, yang terdengar adalah suara benda berat diseret di lantai. Detik berikutnya, percikan api kecil muncul, menerangi sebagian wajah bertopeng hitam. Orang misterius itu menyalakan lilin dan meletakkannya di tengah ruangan.
"Serahkan flash disk itu," perintahnya dengan suara yang disamarkan.
Fatimah merasakan tubuhnya gemetar, namun ia berusaha tetap tenang. "Apa hubunganmu dengan Ahmad?"
Sosok bertopeng itu tertawa pelan. "Ahmad terlalu ingin tahu. Seperti dirimu. Dan lihat apa yang terjadi padanya."
Tiba-tiba, dari saku bajunya, Ustadz Hanan mengeluarkan senter kecil dan menyorotkannya langsung ke arah sosok bertopeng. Cahaya menyilaukan itu membuat si penyusup mundur, mengangkat tangan menutupi matanya. Dalam sekejap, Ustadz Hanan bergerak cepat, menerjang dan menjatuhkan sosok itu ke lantai.
"Zahra, nyalakan lampu darurat di sudut ruangan!" perintah Ustadz Hanan sambil berusaha mengunci pergerakan penyusup.
Fatimah terkejut—bagaimana Ustadz Hanan tahu tentang lampu darurat di ruangan ini? Dan siapa Zahra yang dia maksud?
Dalam kebingungan itu, lampu darurat tiba-tiba menyala, menerangi ruangan dengan cahaya temaram. Sosok bertopeng itu masih bergulat dengan Ustadz Hanan, namun pergerakannya terbatas. Dengan satu gerakan cepat, Ustadz Hanan berhasil menarik topeng hitam itu.
"Ya Allah..." Nyonya Rahman terkesiap.
Wajah di balik topeng itu adalah seorang pemuda yang tidak mereka kenal—usianya mungkin sekitar 20-an, dengan bekas luka melintang di pipi kirinya.
"Siapa yang mengirimu?" tanya Ustadz Hanan, masih mencengkeram kerah pemuda itu.
Bukannya menjawab, pemuda itu justru tersenyum sinis. "Kau pikir hanya aku yang datang?" Ia melirik ke arah jendela.
Benar saja, dari luar terdengar suara langkah kaki—tidak hanya satu, tapi beberapa orang.
"Kita harus pergi sekarang," Ustadz Hanan memutuskan, melepaskan pemuda itu dengan satu dorongan keras. "Ikuti saya!"
Tuan Rahman membantu istrinya berdiri, sementara Ustadzah Khadijah menarik tangan Fatimah. Ustadz Hanan memimpin mereka menuju pintu belakang yang tersembunyi di balik rak buku—pintu yang seharusnya hanya diketahui pengurus masjid.
"Bagaimana Ustadz tahu pintu ini?" tanya Fatimah saat mereka bergegas melalui lorong sempit di belakang perpustakaan.
"Penjelasannya nanti," jawab Ustadz Hanan singkat. "Kita harus sampai ke mobil dulu."
Mereka berlari melewati halaman belakang masjid, menuju area parkir. Derap langkah terdengar semakin dekat dari arah belakang. Tuan Rahman berusaha mempercepat langkah, namun usianya yang tidak lagi muda membuatnya tertinggal.
"Bapak, Ibu, masuk ke mobil saya," Ustadzah Khadijah membuka pintu mobilnya. "Fatimah, kau juga."
"Tidak," potong Ustadz Hanan. "Mereka mengincar Fatimah. Kita harus berpencar. Ustadzah Khadijah, Bapak dan Ibu ikut mobil Anda. Saya akan membawa Fatimah dengan mobil saya."
Tuan Rahman hendak protes, namun Nyonya Rahman menahannya. "Kita tidak punya waktu berdebat. Yang penting Fatimah selamat dulu."
Dengan berat hati, Tuan Rahman mengangguk. "Ustadz harus menjaga Fatimah. Jika terjadi sesuatu padanya..."
"Saya berjanji dengan nyawa saya," tegas Ustadz Hanan.
Mereka berpisah. Mobil Ustadzah Khadijah melaju lebih dulu, sementara Ustadz Hanan membawa Fatimah ke arah berlawanan. Dari kaca spion, Fatimah melihat beberapa sosok berpakaian hitam muncul di halaman masjid, namun terlambat untuk mengejar mereka.
"Kita akan ke mana?" tanya Fatimah, tangannya masih menggenggam erat flash disk.
"Tempat aman," jawab Ustadz Hanan singkat. "Kita perlu melihat isi flash disk itu secepatnya."
Fatimah menatap profile wajah Ustadz Hanan. Dalam cahaya remang lampu jalanan yang silih berganti menerangi wajahnya, ada ketegasan yang tidak ia lihat sebelumnya—sesuatu yang lebih dari sekadar sosok pendakwah yang ia kenal dari layar kaca.
"Ustadz tidak terkejut dengan semua ini," Fatimah berkata pelan, pernyataan bukan pertanyaan.
Ustadz Hanan menghela napas. "Saya telah menyelidiki kasus Ahmad selama tiga tahun, Ustadzah. Saya tahu kematiannya bukan kecelakaan biasa."
"Lalu surat peringatan dari Ahmad tentang Ustadz itu..."
"Saya sendiri bingung," akui Ustadz Hanan. "Ahmad adalah sahabat terbaik saya. Kami tidak pernah berkonflik. Surat itu..." ia terdiam sejenak, "...jika memang ditulis Ahmad, pasti ada alasan kuat di baliknya."
Fatimah menatap flash disk di tangannya. "Dan Ustadz yakin ini bisa menjelaskan semuanya?"
"Insya Allah," Ustadz Hanan mengangguk.
Mobil mereka memasuki kawasan perumahan elite di pinggiran kota. Ustadz Hanan menghentikan mobilnya di depan rumah minimalis dua lantai dengan pagar hitam tinggi. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat.
Tak lama, pintu pagar terbuka secara otomatis. Seorang pria bertubuh kekar menyambut kedatangan mereka.
"Hamzah," Ustadz Hanan mengangguk pada pria itu. "Bagaimana perkembangannya?"
"Polisi masih menyelidiki mobil Ahmad," jawab Hamzah. "Mereka menemukan lebih banyak bukti, termasuk sidik jari yang tidak dikenal."
Fatimah mengamati Hamzah—pria dengan janggut lebat dan tato samar yang masih terlihat di balik lengan bajunya. Ustadz Hanan menjelaskan bahwa Hamzah adalah sahabatnya sejak masa kelam dulu, yang kini menjadi asisten dan produsernya.
Mereka masuk ke dalam rumah yang ternyata studio sekaligus markas tim dakwah Ustadz Hanan. Di ruang kerja pribadi dengan komputer canggih, Fatimah menyerahkan flash disk untuk diperiksa.
"Bismillah," Hamzah bergumam sebelum memasukkan flash disk.
Layar komputer berkedip, menampilkan folder berisi puluhan file. Foto-foto, dokumen, dan beberapa rekaman suara. Fatimah menahan napas saat Hamzah membuka salah satu file foto—gambar Ahmad bersama seorang pria berjenggot yang tidak ia kenal, sedang memegang koper.
"Ini diambil seminggu sebelum kecelakaan," Ustadz Hanan menjelaskan. "Pria ini adalah Zubair Al-Faruqi, pengusaha yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis."
Hamzah membuka file berikutnya—transkrip percakapan telepon. Mata Fatimah melebar membaca nama-nama yang tercantum di sana, termasuk beberapa ulama terkenal dan... nama Ustadz Hanan sendiri.
"Ini..." Fatimah menatap Ustadz Hanan dengan bingung.
"Ahmad menyelidiki aliran dana yayasan yang mencurigakan," jelas Ustadz Hanan. "Dia menemukan bahwa beberapa yayasan Islam dijadikan kedok untuk pendanaan kelompok radikal. Namaku dicatut untuk melegitimasi transaksi itu."
Saat mereka terus memeriksa file, sebuah dokumen menarik perhatian—surat dengan kop Yayasan Cahaya Hidayah, yang ditandatangani oleh... Syaikh Ahmad, guru spiritual Ustadz Hanan.
"Tidak mungkin..." Ustadz Hanan berbisik, wajahnya memucat. "Syaikh tidak mungkin terlibat."
Tiba-tiba, ponsel Fatimah bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal: "Flash disk itu palsu. Ahmad menyimpan bukti asli di tempat lain. Temui saya di masjid kampus jam 9 malam. Datang sendiri atau keluarga Rahman akan menanggung akibatnya."
Fatimah terdiam, tangannya gemetar memegang ponsel. Saat ia mengangkat wajah, Ustadz Hanan menatapnya dengan sorot mata penuh tanya.
"Ada apa?"
Fatimah hendak menjawab, namun teringat peringatan dalam pesan itu. Jika ia memberitahu Ustadz Hanan, keluarga Rahman mungkin dalam bahaya. Tapi jika ia pergi sendiri...
"Tidak ada apa-apa," Fatimah tersenyum tipis, menyimpan ponsel. "Hanya pesan dari Ustadzah Khadijah. Mereka sudah sampai dengan selamat."
Dalam hati, Fatimah beristighfar karena terpaksa berbohong. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul 8 malam. Ia punya satu jam untuk menemukan cara pergi diam-diam dan menemui pengirim pesan misterius itu—mungkin orang yang sama yang menyimpan kunci dari semua misteri ini.