﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ﴿
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (Al-Hujurat: 6)
Ruang tamu pesantren mendadak sunyi. Kata "pembunuhan" menggantung berat di udara, mencekik setiap orang yang hadir. Wajah Nyonya Rahman memucat seketika, tubuhnya limbung hingga Tuan Rahman harus menopangnya.
"Astagh—" Fatimah menutup mulutnya yang terbuka. Dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya.
"Apa maksudnya ini?" Tuan Rahman bertanya dengan suara bergetar. "Pembunuhan? Siapa yang berani—"
"Polisi menemukan bukti bahwa sistem rem mobil telah dirusak dengan sengaja," Ustadz Hanan menjelaskan, matanya menatap layar ponselnya. "Hamzah, asisten saya, baru saja mengirimkan pesan. Dia ada di lokasi penemuan mobil sekarang."
Fatimah merasakan kepalanya berdenyut keras. Tiga tahun berkabung atas kecelakaan yang merenggut Ahmad, dan kini fakta baru ini muncul—fakta yang mengubah segalanya.
"Kenapa mobil itu baru ditemukan sekarang?" tanya Ustadzah Khadijah dengan nada curiga. "Bukankah seharusnya ditemukan saat pencarian tiga tahun lalu?"
"Karena mobil itu sengaja disembunyikan," jawab Ustadz Hanan. "Pelakunya cerdik. Mobil yang ditemukan hancur di tepi jurang tiga tahun lalu ternyata bukan mobil Ahmad yang sebenarnya. Itu mobil serupa yang sengaja ditinggalkan di sana untuk mengecoh."
"Ya Allah..." Fatimah berbisik, tak mampu membendung air matanya. Ia mengingat kembali hari pemakaman Ahmad, bagaimana semua orang berduka atas 'kecelakaan tragis' itu.
"Ustadz Hanan," Tuan Rahman menatap tajam, "dari mana Ustadz tahu semua ini? Mengapa Ustadz begitu yakin bahwa ini bukan kecelakaan? Dan kenapa Ustadz tidak pernah mengatakan kecurigaan ini pada kami selama tiga tahun?"
Pertanyaan itu menggantung berat. Fatimah menatap Ustadz Hanan, menunggu jawaban yang mungkin bisa menjernihkan kebingungannya.
"Saya tidak bisa mengatakan apapun tanpa bukti," Ustadz Hanan menjawab dengan tenang. "Saya telah menyelidiki kasus ini secara diam-diam sejak Ahmad meninggal. Saya tahu ada yang tidak beres karena Ahmad menelepon saya beberapa jam sebelum kecelakaan, menyampaikan kekhawatirannya tentang seseorang yang mengancamnya."
"Siapa?" tanya Fatimah cepat.
"Dia tidak sempat mengatakan nama orang itu," Ustadz Hanan menghela napas. "Telepon terputus, dan itu adalah komunikasi terakhir kami."
Nyonya Rahman, yang tadinya terdiam, tiba-tiba bersuara dengan nada menuduh. "Kalau begitu, bagaimana kami tahu bukan Ustadz pelakunya? Surat Ahmad jelas-jelas memperingatkan tentang Ustadz!"
Suasana kembali tegang. Fatimah merasakan dadanya sesak oleh kebingungan dan kesedihan.
"Izinkan saya pergi ke tempat yang Ahmad sebutkan dalam surat," Fatimah berkata tiba-tiba, mengejutkan semua orang. "Saya ingin mencari bukti yang dia simpan."
"Saya akan menemani Ustadzah," Ustadz Hanan menawarkan.
"Tidak!" Tuan Rahman menolak tegas. "Fatimah tidak akan pergi sendirian dengan Ustadz. Kami yang akan menemaninya."
Ustadzah Khadijah, dengan kebijaksanaan yang selalu menjadi andalan pesantren dalam situasi sulit, akhirnya memberi usul. "Bagaimana jika kita semua pergi bersama? Saya juga akan ikut untuk memastikan ketenangan semua pihak."
Setelah perdebatan singkat, akhirnya diputuskan mereka akan pergi bersama—Fatimah, keluarga Rahman, Ustadz Hanan, dan Ustadzah Khadijah—ke Masjid Al-Hidayah, tempat pertama kali Fatimah bertemu Ahmad lima tahun lalu.
Perjalanan ke masjid dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Fatimah duduk di mobil Ustadzah Khadijah, sementara Ustadz Hanan dan keluarga Rahman masing-masing menggunakan kendaraan sendiri.
"Ustadzah yakin dengan keputusan ini?" tanya Ustadzah Khadijah sambil menyetir.
Fatimah mengangguk. "Saya perlu tahu kebenaran, apapun itu. Ahmad tidak akan berbohong pada saya. Jika dia merasa perlu memperingatkan saya tentang Ustadz Hanan, pasti ada alasannya."
"Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa surat itu ditulis di bawah tekanan, atau bahkan dipalsukan," Ustadzah Khadijah mengingatkan dengan lembut. "Tabayyun, anakku. Allah mengajarkan kita untuk selalu memeriksa kebenaran sebelum mengambil kesimpulan."
Masjid Al-Hidayah masih sama seperti yang Fatimah ingat—sederhana namun teduh. Di sinilah ia pertama kali bertemu Ahmad, saat keduanya menjadi relawan pengajar Quran untuk anak-anak setempat.
"Kami bertemu di perpustakaan masjid," Fatimah menjelaskan sambil memimpin langkah menuju bangunan kecil di samping masjid utama.
Perpustakaan itu tidak besar, hanya ruangan berukuran 5x5 meter dengan rak-rak kayu berisi kitab-kitab dan buku-buku Islam. Di sudut ruangan, meja tempat Ahmad biasa duduk masih ada di sana—tempat di mana mereka sering berdiskusi tentang metode hafalan Al-Quran.
"Al-Quran hadiah pertunangan," gumam Fatimah, mengingat mushaf khusus yang Ahmad berikan padanya. "Mushaf itu ada di kamar saya di pesantren."
"Kita harus kembali ke pesantren kalau begitu," kata Ustadzah Khadijah.
"Tunggu," Fatimah terhenti. "Mungkin maksud Ahmad bukan mushaf itu. Dia bilang 'di tempat pertama kali kita bertemu, di balik apa yang membuat kita bersatu'. Kami bertemu di sini, dan yang menyatukan kami adalah..." Fatimah melihat sekeliling, mencari petunjuk.
"Mengajar tahfidz," Ustadz Hanan melanjutkan. "Ahmad selalu bercerita bagaimana kalian berdua bertemu saat sama-sama mengajar anak-anak menghafal Al-Quran."
Fatimah mengangguk, kemudian berjalan menuju rak berisi buku-buku metode hafalan Quran. Ia menelusuri satu per satu, hingga tangannya berhenti pada sebuah buku tebal berjudul "Panduan Tahfidz Al-Quran untuk Pemula" karangan Syaikh Abdullah Al-Ghazi.
"Buku ini," kata Fatimah, "Ahmad memberikan ini pada saya saat pertama kali kami bertemu. Katanya, metode dalam buku inilah yang menyatukan cara mengajar kami."
Dengan tangan gemetar, Fatimah membuka buku itu. Halaman demi halaman ia teliti, hingga di bagian tengah buku, ia menemukan sebuah amplop coklat kecil yang terselip di antara halaman tentang "Metode Pengulangan Terpadu".
"Bismillah," Fatimah berbisik sebelum membuka amplop tersebut. Di dalamnya, sebuah flash disk kecil dan sepucuk surat.
Fatimah membuka surat itu, membacanya dalam hati:
*Fatimah, jika kamu menemukan ini, berarti ketakutanku terbukti. Flash disk ini berisi bukti yang kumaksud. Ada transaksi mencurigakan terkait dana yayasan dan keterkaitan dengan kelompok ekstremis. Jangan percaya pada siapapun sampai kamu melihat isinya. Temui Syaikh Ahmad di Madinah, hanya dia yang bisa membantu memahami semua ini. Ahmad.*
"Ada apa, Fatimah?" tanya Nyonya Rahman, melihat wajah Fatimah yang memucat.
"Ahmad meninggalkan flash disk dan surat," jawab Fatimah pelan. "Kita perlu komputer untuk melihat isinya."
"Ada komputer di kantor masjid," kata Tuan Rahman. "Mari kita lihat bersama."
Saat mereka berjalan menuju kantor masjid, ponsel Ustadz Hanan kembali bergetar. Wajahnya berubah tegang saat membaca pesan yang masuk.
"Ada masalah?" tanya Ustadzah Khadijah, menyadari perubahan ekspresinya.
"Hamzah baru mengirim foto hasil temuan di mobil Ahmad," jawab Ustadz Hanan dengan suara rendah. "Mereka menemukan sebuah rekaman suara dan—" ia menatap Fatimah dengan sorot mata yang sulit diartikan, "—sebuah foto Ustadzah Fatimah yang diambil secara diam-diam, dengan tanda silang merah di wajahnya."
"Maksudnya?" Fatimah bertanya, merasakan tengkuknya dingin.
"Siapapun yang membunuh Ahmad," Ustadz Hanan menatap tajam, "tampaknya juga menargetkan Ustadzah."
Seluruh tubuh Fatimah gemetar. Nyonya Rahman menangis terisak, sementara Tuan Rahman merangkul istrinya dengan wajah pucat pasi.
"Dan ada satu hal lagi," lanjut Ustadz Hanan dengan nada serius. "Rekaman suara yang ditemukan itu—" ia menghela napas berat, "—adalah percakapan antara Ahmad dan seseorang yang membicarakan rencana pernikahan Ustadzah dengan saya, tiga tahun lalu."
"Apa?" Fatimah menatap tidak percaya. "Bagaimana mungkin? Saya bahkan tidak mengenal Ustadz sebelum hari ini!"
"Itulah yang membuat saya curiga," Ustadz Hanan mengangguk. "Ada seseorang yang telah merencanakan semua ini jauh sebelum kecelakaan terjadi. Dan kini, setelah tiga tahun, rencana itu kembali dijalankan."
Saat mereka tiba di kantor masjid dan bersiap memeriksa isi flash disk, tiba-tiba lampu padam. Seluruh masjid gelap seketika.
"Jangan bergerak!" perintah Ustadz Hanan tegas. "Ini bukan pemadaman biasa."
Dari kegelapan luar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Fatimah merasakan jantungnya berdebar kencang, tangannya mencengkeram flash disk dengan erat. Sebuah bisikan terdengar dari arah pintu:
"Fatimah Azzahra, seharusnya kamu mati bersama Ahmad tiga tahun lalu."