﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ ﴿
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang benar." (At-Taubah: 119)
[Now I'll develop the scene where they confront Ahmad's family, who arrived with a letter]
The confrontation should be tense but respectful, showing the complex emotions of grief, suspicion, and confusion. I should make sure to include:
- A vivid description of Ahmad's family (especially his parents)
- The emotional tension in the room
- The contents of the letter that contradicts Hanan's claims
- Fatimah's inner turmoil as she processes conflicting information
- Ustadz Hanan's reaction
- A resolution that leaves questions hanging
- An ending that pushes the story forward
I'll craft this carefully to stay exactly within 1200 words while creating a compelling narrative.
# BAB 3: Surat dan Kebenaran
﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ ﴿
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang benar." (At-Taubah: 119)
Ruang tamu pesantren yang biasanya tenang kini dipenuhi ketegangan mencekam. Fatimah berdiri kaku di samping Ustadzah Khadijah, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Di hadapan mereka, duduk sepasang suami istri paruh baya—Tuan dan Nyonya Rahman, orangtua Ahmad.
Tiga tahun berlalu, namun kesedihan masih terukir jelas di wajah mereka. Nyonya Rahman, dengan jilbab hitam sederhana, memiliki mata yang sama dengan Ahmad—mata yang selalu memancarkan kelembutan. Namun kini, mata itu dipenuhi kemarahan yang tertahan.
"Assalamualaikum," Ustadz Hanan mengucap salam dengan tenang saat memasuki ruangan, meski Fatimah bisa melihat ketegangan di bahunya.
"Waalaikumsalam," jawab Tuan Rahman dingin, tanpa menatap mata Ustadz Hanan. Pria berusia sekitar 60 tahun itu tampak lebih kurus dari terakhir kali Fatimah melihatnya saat peringatan satu tahun wafatnya Ahmad.
"Ustadz tidak perlu berpura-pura sopan di depan kami," lanjut Tuan Rahman, suaranya bergetar menahan emosi. "Kedatangan Ustadz ke pesantren ini sudah cukup menjelaskan niat tersembunyi Ustadz."
Ustadz Hanan tidak langsung menjawab. Ia mengambil posisi duduk di kursi yang berseberangan dengan keluarga Rahman, sementara Fatimah dan Ustadzah Khadijah duduk di samping, menciptakan segitiga tidak sempurna yang terasa bagai medan pertempuran.
"Saya tidak bermaksud mengganggu ketenangan keluarga Bapak," ujar Ustadz Hanan akhirnya. "Kedatangan saya semata-mata untuk menjalankan amanah sahabat."
"Amanah?" Nyonya Rahman angkat bicara, suaranya pecah oleh emosi tertahan. "Amanah apa yang Ustadz bicarakan? Ahmad kami tidak pernah menitipkan amanah apapun pada Ustadz!"
Fatimah merasakan sesak yang familiar di dadanya—perasaan yang selalu muncul setiap kali nama Ahmad disebut. Namun kali ini, sesak itu bercampur dengan kebingungan yang menyakitkan.
"Ibu," Fatimah memberanikan diri, "maaf, tapi saya tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Nyonya Rahman menatap Fatimah dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang dan kekecewaan. "Fatimah, anakku," ujarnya lembut, "kami datang untuk melindungimu dari kebohongan."
Tuan Rahman mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya—amplop berwarna coklat muda yang tampak lusuh dan terlipat di beberapa bagian, seolah sering dibuka dan dibaca.
"Ini surat yang Ahmad tulis dua hari sebelum kecelakaan itu," jelasnya sambil menyerahkan amplop tersebut pada Fatimah. "Surat yang dia titipkan pada kami jika terjadi sesuatu padanya."
Dengan tangan gemetar, Fatimah menerima amplop itu. Nama "Fatimah Azzahra" tertulis di bagian depan dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal—tulisan Ahmad yang khas dengan huruf 'r' yang selalu ditulis sedikit miring.
"Bacalah," bisik Nyonya Rahman. "Bacalah dan putuskan sendiri siapa yang membawa kebenaran."
Fatimah membuka amplop dengan hati-hati, seolah isinya bisa hancur dengan sentuhan sekecil apapun. Di dalamnya, selembar kertas dengan tulisan tangan Ahmad yang rapi.
"Bismillah," bisiknya sebelum mulai membaca.
*Untuk kekasihku Fatimah,*
*Jika surat ini sampai padamu, berarti Allah telah memanggilku pulang ke rahmat-Nya. Jangan bersedih terlalu lama, cukupkan air matamu, dan teruslah menghafal Al-Quran sebagaimana yang selalu kita impikan bersama.*
*Ada yang ingin kusampaikan, sesuatu yang selama ini kusimpan. Aku curiga ada yang tidak beres dengan beberapa orang di sekitar kita. Seseorang yang kupercaya telah menunjukkan sifat aslinya yang membuatku terkejut. Dia bukan orang yang selama ini kita kenal.*
*Hanan bukan sahabat yang kuceritakan padamu. Dia memiliki maksud tersembunyi yang bahkan aku sendiri tidak benar-benar pahami. Jika dia mendekatimu setelah kepergianku, kumohon berhati-hatilah. Jangan percaya apapun yang dia katakan tentangku atau tentang masa lalu kami.*
*Aku menyimpan bukti-bukti di tempat yang hanya kau dan aku tahu—di tempat pertama kali kita bertemu, di balik apa yang membuat kita bersatu.*
*Maafkan aku tidak menceritakan ini lebih awal. Aku berharap bisa menyelesaikannya tanpa membuatmu khawatir.*
*Cintaku selamanya,*
*Ahmad*
Air mata Fatimah jatuh membasahi surat itu, membuat beberapa huruf sedikit luntur. Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sesaat. Ia mengangkat wajah, menatap Ustadz Hanan dengan pandangan tak percaya.
"Apa maksud semua ini?" tanyanya dengan suara bergetar.
Ustadz Hanan tampak sama terkejutnya. Wajahnya memucat, rahangnya mengeras. "Bolehkah saya melihat surat itu, Ustadzah?" tanyanya dengan suara yang berusaha dijaga tetap tenang.
"Tidak perlu berpura-pura terkejut, Ustadz," Tuan Rahman menyela dengan nada dingin. "Surat ini hanya mengkonfirmasi apa yang sudah kami curigai sejak lama. Ahmad mulai bersikap aneh setelah pertemuannya dengan Ustadz di Madinah tiga tahun lalu."
"Saya tidak mengerti," Ustadz Hanan menggeleng. "Ahmad dan saya berteman baik. Kami tidak pernah memiliki masalah apapun."
"Lalu mengapa dia menulis surat ini?" tanya Fatimah, matanya masih terpaku pada tulisan Ahmad yang kini terasa begitu jauh dan asing.
"Surat itu—" Ustadz Hanan terhenti, tampak memilih kata-katanya dengan hati-hati, "—saya tidak yakin itu ditulis Ahmad. Atau jika memang dia yang menulis, pasti ada sesuatu yang membuatnya sangat tertekan hingga menulis hal seperti itu."
"Berani-beraninya Ustadz meragukan tulisan anak kami!" Nyonya Rahman bangkit, wajahnya memerah oleh amarah. "Kami mengenal tulisan tangan Ahmad sejak dia belajar menulis!"
Ustadzah Khadijah, yang sejak tadi diam mengamati, akhirnya angkat bicara. "Sebaiknya kita semua menenangkan diri dulu," ujarnya dengan nada menenangkan yang selalu berhasil meredakan situasi panas di pesantren. "Mari selesaikan ini dengan kepala dingin, sebagaimana Allah mengajarkan kita untuk selalu tabayyun (memeriksa kebenaran)."
"Kami sudah cukup bersabar selama tiga tahun," Tuan Rahman menghela napas berat. "Kedatangan Ustadz Hanan ke pesantren ini dan mengetahui niatnya mendekati Fatimah sudah cukup menjadi bukti bahwa kekhawatiran Ahmad beralasan."
Ruangan itu kembali hening. Fatimah merasa dunianya berputar tak karuan. Di satu sisi, surat Ahmad dengan peringatan eksplisit tentang Ustadz Hanan. Di sisi lain, sosok dai yang baru ditemuinya namun entah mengapa terasa tidak asing.
"Apa bukti yang dimaksud Ahmad dalam surat itu?" tanya Ustadzah Khadijah, memecah keheningan.
"Tempat pertama kali kami bertemu..." Fatimah berbisik, lebih kepada dirinya sendiri. "Perpustakaan Masjid Al-Hidayah. Di balik apa yang membuat kami bersatu..." Ia tercenung. "Al-Quran. Maksudnya pasti mushaf yang dia hadiahkan saat kami memutuskan untuk bertunangan."
Ekspresi Ustadz Hanan berubah. Ada keterkejutan sekaligus kewaspadaan di matanya. "Ustadzah," katanya pada Fatimah, "saya mohon jangan terburu-buru menyimpulkan. Ada banyak hal yang belum Anda ketahui tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum kecelakaan itu."
"Apa maksud Ustadz?" tanya Fatimah.
"Kecelakaan yang menewaskan Ahmad bukan kecelakaan biasa," jawab Ustadz Hanan, suaranya merendah hingga nyaris berbisik. "Dan saya yakin, bukti yang Ahmad simpan berkaitan dengan hal itu."
Fatimah tersentak. "Bukan kecelakaan biasa? Apa maksudnya?"
"Cukup!" Tuan Rahman menggebrak meja, membuat semua orang terlonjak. "Kami tidak akan membiarkan Ustadz meracuni pikiran Fatimah dengan teori konspirasi! Kami datang untuk membawa Fatimah pulang bersama kami, jauh dari pengaruh Ustadz."
"Bapak tidak bisa memaksakan kehendak pada Fatimah," Ustadzah Khadijah menjawab tegas namun tetap sopan. "Dia sudah dewasa dan berhak memutuskan sendiri."
Di tengah ketegangan itu, ponsel Ustadz Hanan bergetar. Ia melirik layarnya sejenak, dan wajahnya langsung berubah pucat.
"Ada apa, Ustadz?" tanya Fatimah, menyadari perubahan ekspresinya.
"Mobil Ahmad yang kecelakaan tiga tahun lalu," Ustadz Hanan menatap Fatimah dengan sorot mata yang sulit diartikan, "baru saja ditemukan di dasar Waduk Jatiluhur. Dan polisi menemukan sesuatu di dalamnya yang mengubah status kasus ini dari kecelakaan..." ia menelan ludah, "...menjadi pembunuhan berencana."