﴾ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا ﴿
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (An-Nisa: 58)
Fatimah merapikan jilbab syar'inya untuk ketiga kali dalam lima menit terakhir. Jari-jarinya bergetar halus, pertanda kegelisahan yang tidak biasa ia rasakan. Aula utama pesantren yang biasanya ramai kini terasa begitu sunyi. Hanya ada dirinya, menunggu pertemuan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
"Bismillah," bisiknya, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan—kebiasaan yang selalu menenangkannya.
Sejak percakapan dengan Ustadzah Khadijah tadi pagi, pikiran Fatimah tak pernah benar-benar tenang. Ia berusaha fokus mengajar kelas tahfidz pagi, namun berulang kali kehilangan konsentrasi hingga Maryam, asistennya, harus beberapa kali membantu mengoreksi bacaan santri.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Fatimah menundukkan pandangan, menarik napas panjang. Dari sudut matanya, ia melihat dua pasang sepatu memasuki ruangan—satu milik Ustadzah Khadijah yang sudah ia kenali, dan sepasang lagi yang ia yakini milik Ustadz Hanan.
"Assalamu'alaikum, Ustadzah Fatimah," sapa Ustadzah Khadijah dengan suara lembutnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Fatimah, perlahan mengangkat wajahnya.
Dan di situlah dia berdiri. Ustadz Hanan Hakim. Sosok yang selama ini hanya pernah ia lihat di layar ponsel atau televisi. Pria berperawakan tinggi dengan janggut terawat itu mengenakan gamis putih sederhana dengan sedikit sulaman di bagian kerah. Tatapannya teduh namun penuh wibawa, tipikal seorang pendakwah yang telah menghadapi berbagai lapisan masyarakat.
"Saya akan meninggalkan kalian untuk berbicara," ujar Ustadzah Khadijah setelah memperkenalkan keduanya. "Gunakan waktu sebaik mungkin. Ada banyak yang perlu dibicarakan."
Fatimah merasakan jantungnya berdegup lebih kencang saat Ustadzah Khadijah melangkah keluar dan menutup pintu. Untuk beberapa saat, keheningan mengisi ruangan. Ustadz Hanan mengambil posisi duduk di seberang meja, menjaga jarak yang sopan.
"Maaf jika pertemuan ini terasa mendadak, Ustadzah," Ustadz Hanan memulai dengan suara yang lebih lembut dari yang Fatimah bayangkan. "Tapi ada sesuatu yang sudah terlalu lama saya simpan."
Fatimah mengangguk, tidak yakin harus merespon apa. Ada sesuatu dalam cara Ustadz Hanan menatapnya—seolah ia telah lama mengenalnya meski mereka baru pertama kali bertemu.
"Saya mengenal Ahmad dengan sangat baik," lanjut Ustadz Hanan. Nama itu membuat d**a Fatimah terasa sesak seketika. "Kami berteman sejak kuliah di Madinah. Dia selalu menceritakan tentang Anda—hafidzah cerdas yang telah ia pinang."
Fatimah menelan ludah. Tiga tahun berlalu sejak kecelakaan itu merenggut Ahmad, namun rasa sakit itu masih terasa nyata. "Ahmad sering bercerita tentang Ustadz juga," ujarnya pelan. "Dia sangat mengagumi Ustadz."
Senyum tipis muncul di wajah Ustadz Hanan, namun tidak mencapai matanya yang menyiratkan kesedihan. "Hari itu..." ia berhenti sejenak, "sebelum kecelakaan terjadi, Ahmad menitipkan sesuatu pada saya."
Fatimah merasakan udara seolah menipis. Ingatan tentang hari nahas itu kembali menyeruak. Ahmad yang berangkat ke bandara untuk menjemput Ustadz Hanan—sahabat yang akhirnya tidak jadi datang karena perubahan jadwal—tidak pernah kembali. Mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan di tol, menewaskannya seketika.
"Amanah?" Fatimah berbisik.
Ustadz Hanan mengangguk. "Sebelum berangkat, dia menelepon saya. Ada firasat aneh yang ia rasakan. Dia berkata, 'Jika terjadi sesuatu padaku, tolong jaga Fatimah.' Saya tidak pernah menyangka itu akan menjadi permintaan terakhirnya."
Air mata menggenang di pelupuk mata Fatimah. Ia mengucap istighfar pelan, berusaha menguatkan hati. "Tapi... kenapa baru sekarang?"
"Saya mencoba menghormati masa berkabung Anda," jawab Ustadz Hanan. "Lalu saya harus menyelesaikan kontrak dakwah di luar negeri selama dua tahun. Saya baru kembali ke Indonesia enam bulan lalu dan mulai mencari kabar tentang Anda."
Fatimah terdiam, membiarkan informasi itu meresap dalam pikirannya. Ustadz Hanan telah menyimpan amanah ini selama tiga tahun.
"Lalu saya mendengar tentang apa yang terjadi di pesantren ini," lanjut Ustadz Hanan, nadanya berubah lebih serius. "Fitnah yang menimpa Anda."
Fatimah tersentak. "Ustadz tahu soal itu?"
"Komunitas pesantren lebih kecil dari yang kita kira, Ustadzah," jawabnya dengan senyum tipis. "Dan saya punya alasan kuat untuk menduga ini bukan kebetulan."
"Maksud Ustadz?" Kening Fatimah berkerut.
Ustadz Hanan mengeluarkan sebuah amplop dari saku gamis dan meletakkannya di atas meja. "Foto asli yang dimanipulasi untuk menjatuhkan Anda. Orang yang melakukannya adalah orang yang sama yang pernah menyerang reputasi Ahmad tiga tahun lalu."
"Ya Allah..." Fatimah terkesiap, tangannya menutup mulut. Mendadak semuanya terasa masuk akal. Fitnah yang ia alami memang terasa begitu terencana, bukan sekadar gosip pesantren biasa. "Tapi mengapa? Apa motifnya?"
"Itulah yang masih saya selidiki," jawab Ustadz Hanan. "Yang jelas, saya datang ke pesantren ini bukan hanya untuk memberikan kajian. Saya datang untuk menepati janji saya pada Ahmad—menjaga Anda."
Kilasan memori menyeruak dalam benak Fatimah. Ahmad yang selalu tersenyum lembut, Ahmad yang memintanya menjaga hafalan Quran melebihi apapun, Ahmad yang tak pernah lelah menyemangatinya. Dan kini, sahabat terbaik Ahmad ada di hadapannya, membawa sebagian kisah yang belum ia ketahui.
"Ustadzah Khadijah memberitahu saya bahwa Anda berniat mengundurkan diri," lanjut Ustadz Hanan, membuyarkan lamunan Fatimah.
"Itu keputusan terbaik," jawab Fatimah lirih. "Saya tidak ingin pesantren terus menjadi buah bibir karena saya."
"Dengan segala hormat, Ustadzah," Ustadz Hanan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, "melarikan diri bukanlah cara kita sebagai Muslim menghadapi fitnah. Allah selalu memiliki rencana yang lebih baik."
Kata-kata itu menohok Fatimah. Benarkah selama ini ia hanya melarikan diri?
"Saya punya usul," kata Ustadz Hanan dengan nada hati-hati. "Tapi saya takut ini akan terdengar tidak sopan mengingat kita baru bertemu."
Fatimah menunggu, jantungnya berdegup kencang entah mengapa.
"Saya memerlukan seorang pengajar tahfidz untuk program baru di yayasan saya. Dan Anda memerlukan lingkungan baru untuk meneruskan pengabdian. Saya menawarkan sebuah solusi yang—" Ustadz Hanan terhenti, tampak memilih kata-katanya dengan hati-hati. "—mungkin bisa menjawab kedua kebutuhan itu sekaligus."
"Ustadz ingin saya pindah mengajar ke yayasan Ustadz?" tanya Fatimah, sedikit bingung dengan cara Ustadz Hanan menyampaikannya.
Ustadz Hanan menghela napas panjang. "Lebih dari itu, Ustadzah. Saya menawarkan perlindungan nama baik dan kehormatan Anda melalui cara yang dihalalkan syariat."
Fatimah merasakan darahnya seolah berhenti mengalir saat menyadari apa yang dimaksud. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang keluar.
"Saya bermaksud mengajukan taaruf resmi," ucap Ustadz Hanan akhirnya. "Jika Anda berkenan, tentu saja."
Dunia Fatimah seolah berputar. Tawaran pernikahan dari seorang ustadz terkenal yang bahkan baru ia temui hari ini?
"Ini sangat... mendadak," Fatimah akhirnya berhasil berkata, suaranya nyaris tak terdengar.
"Saya mengerti ini mengejutkan," Ustadz Hanan tersenyum maklum. "Saya tidak meminta jawaban sekarang. Pikirkan baik-baik, istikharahkan. Yang perlu Anda tahu, ini bukan sekadar menjalankan amanah Ahmad. Ada banyak hal yang belum terungkap tentang kecelakaan itu, Ustadzah. Dan saya pikir, kita berdua berhak mendapatkan kebenaran."
Sebelum Fatimah sempat bertanya lebih jauh, pintu aula terbuka. Ustadzah Khadijah muncul dengan wajah gelisah.
"Maaf mengganggu, tapi ada situasi yang harus ditangani segera," ujarnya. "Keluarga almarhum Ahmad datang. Mereka mendengar tentang kedatangan Ustadz Hanan dan... mereka terlihat sangat marah."
Wajah Ustadz Hanan berubah tegang. "Mereka di sini?"
"Ya, dan mereka membawa surat yang mereka klaim ditulis Ahmad sebelum kecelakaan itu," jawab Ustadzah Khadijah. "Surat yang sepertinya berisi sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang baru saja Ustadz sampaikan pada Fatimah."