Fight!!!

1504 Words
Kini, tiga bersaudara itu tengah membaringkan tubuhnya di kasur king size milik Seano. Hal ini bukan untuk pertama kalinya, tapi mereka melakukan hal yang sama sedari mereka kecil. Walau di kamar yang berbeda, kamar Sean juga kamar Willy pun pernah mereka tempati bersama. "Kak, nanti kalau kakak sama abang udah punya pacar, jangan lupa sama Ily, ya?" ucap Willy begitu lirih. Seano yang kini berada di samping kanan Willy pun langsung memiringkan tubuhnya untuk menatap tepat pada manik mata Willy yang tengah menatapnya. "Abang gak bakalan pacaran sebelum adik kesayangan abang ini punya seseorang yang setia untuk menjaga Ily." Seano begitu begitu mantap. Hal itu karena kan ia telah berlabuh pada dirinya sendiri untuk memberikan perhatian pada wanita lain selain keluarganya. "Memangnya abang gak punya perempuan yang disukai di sekolah?" "Gak ada tuh" Seano mulai merapatkan tubuh pada Willy dan menerapkan tubuh adiknya dengan erat. "Kalau, Kakak?" "Kakak juga gak akan pacaran dulu" Kenapa? "Karena kamu adalah prioritas kakak, bukan hanya kakak saja, tapi abang dan kedua orang tua kita pun akan memprioritaskan Ily." "Tapi kan ... Menurut novel yang saya baca, biasanya masa SMA itu adalah masa mencari jati diri dan kisah asmara yang membara" "Nakal yaaa ... baca novel kisah percintaan" goda Sean seraya mencolek hidung Ily. "Ily gak sengaja kok, Ily kan ..." " Sssttt ... udah ah, lebih baik kita tidur, abang ngantuk" "Kakak juga" "Yaudah ... Kakak sama Abang tidur aja." "Kiss nya mana? hehehee ..." Ucap si kembar begitu kompaknya saat meminta ciuman dari adik tersayang. Cup, cup Willy mengecup kedua pipi pangerannya dengan senyum yang terus menghias bibir pink mungilnya. "Kamu juga tidur sayang ..." titah Sean kemudian menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Willy. "Iya, Ily juga ngantuk" hoaaamm ... Akhirnya, mereka pun tidur bersama. ***** Pagi hari yang cerah tak mencerminkan hati gadis berkacamata itu saat ini. Plakkk , suara tamparan yang begitu keras juga rasa sakit yang ia terima hingga terasa berdengung pada indera pendengaran nya. Mata nya tak lagi menyiratkan kesedihan, ia hanya menatap kosong lantai yang kini tengah ia pijak seolah menunggu akan apa yang di lakukan wanita paruh baya di hadapan nya saat ini. "Kamu tidak menuruti apa kata mommy, hm???" "Mau sampai kapan kamu begini? Jawab, Mommy!!!" ucapanya dengan penuh amarah dan juga nafas yang menggebu seakan tengah menahan emosi nya agar tak menyakiti gadis di hadapannya saat ini. Namun, emosi nya tak terbendung lagi saat suara kecil itu menjawab dengan lirih nya. "Sampai kalian kembali lagi, aku mau keluarga utuh, aku gak mau memiliki keluarga pincang seperti ini, cukup aku tahan semua sakit ... " Plakkkk, lagi, tamparan kali ini ia rasa bertambah keras. "Hikss ... hikksss ... " "Lihat, Mommy, lihatttt!!!" "Apa kamu mau, jika mommy harus menahan rasa sakit saat lihat daddy kamu membawa w***********g itu??? Apakah kamu mau mommy terus bertengkar dengan daddy kamu itu???" Gadis itu hanya menggeleng lemah saat kembali mengingat kelakuan daddy-nya. "Mommy tau kalau kamu butuh sosok ayah, mommy tau kamu butuh keluarga utuh, tapi mommy gak bisa jika harus kembali pada daddy kamu, mommy mohon ... jangan keras kepala, kembali lah sama mommy, Ge" "Hikksss ... hikksss ... maaf, Mom. Gea menyakiti hati, Mommy" "Tidak, sayang. Mommy yang harusnya minta maaf karena mommy telah menyakiti kamu. Maaf, sayang" Keduanya berpelukan, namun saat Gea sadar akan jam yang kini bertengger di tangan kanannya menunjukkan pukul 06.50 WIB. "Mom," "Kenapa, Sayang?" "Gea harus berangkat sekolah ..." "Astaga!!! Ini sudah jam berapa?? Ini, luka kamu belum di obati, kamu jangan sekolah dulu saja ya?" "No, Mom. Gea mau sekolah, masalah luka ini, Gea gapapa kok. Nanti Gea obati di UKS sekolah saja." "Okey, kalau gitu, Mommy antar ya" "Iya, Mom" Kedua wanita cantik berbeda usia itu kini memasuki mobil sport merah menyala. Gea yakin dirinya pasti telat. Huffftttt ... helaan nafas yang keluar dari bibirnya membuat matanya menuntun tepat ke arah segerombolan orang yang kini terlihat tengah mengeroyok satu orang. Tunggu, itu ... "Mom, berhenti, Mom ..." "Ada apa, Ge?" "Mom, itu ... " tunjuk nya pada segerombolan remaja itu. "Dia teman Gea, Mom" "Astagaaaa ... dia di keroyok, tapi ..." Keduanya tertegun saat melihat keahlian remaja itu. "Sean?" ***** Sebelumnya di kediaman Azfary. Baju? Oke. Tas? Oke. Rambut? Oke. Buku? Ah, bawa yang ada aja lah .... "Sip, perfect!" Sean langsung membawa sweater putih pemberian Willy dan segera turun ke bawah. Ia melangkah mendekati adiknya yang kini tengah duduk di kursi meja makan membelakangi Sean. Cup, "good morning, sayang" "Kakak ... Morning too ..." cup, balas Willy mengecup pipi Sean. Sean langsung mengacak gemas rambut Willy membuat sang empunya memekik tak terima. "Kakakkk ...." Sean hanya terkekeh lucu karena melihat aksi merajuk adik manisnya. Seano yang berada di samping Ily pun hanya menggeleng kan kepala. "Kak, Abang duluan ya, katanya mau ada pendaftaran calon anggota OSIS. Abang mau ikutan, kamu mau ikut?" "OSIS?? BIG NO!!! Abang duluan aja, Kakak mau sarapan dulu." "Yaudah kalau gitu. Mom, Dad, Abang berangkat sekolah dulu ya" "Iya, hati-hati ya sayang" "Pasti, Mom" "Jangan kecewakan kami, boy" "Daddy gak akan kecewa" Mendengar jawaban percaya diri putra sulungnya membuat William tersenyum puas. "Bye adik abang yang cantik ... pulang sekolah abang, kita jalan-jalan, oke?" "Asiiikkkk ... okey, Bang. Hati-hati yaaa ...." "Iya, Sayang" Seano pun pergi meninggalkan kediaman Azfary. Tak lama setelah itu, Sean pun segera berpamitan. Ia menggunakan motor miliknya setelah semalam saat selesai makan malam Sean merengek terus menerus agar bisa mengendarai motor miliknya sendiri. William pun akhirnya mengiyakan keinginan putra nya. Motor sport hitam dengan helm full face membuat Sean semakin terlihat lebih keren. Brummm ... brummm .... Deruman motor membelah jalanan padat dengan kecepatan masih batas rata-rata. Saat lampu merah menyala, ia pun menghentikan laju motornya bersamaan dengan motor lain dan segerombolan nya. "Wahhh ... wahhh ... Ada si songong nih, akhirnya ketemu lagi ...." Mendengar suara dari arah sampingnya, Sean segera menatap ke sumber suara. Yona? Lampu berubah menjadi hijau, namun sebelum Sean melaju, ia telah terkepung oleh geng Yona. Mereka terus menghimpit motor Sean agar mengikuti kemana mereka membawa motornya. "Cih, dia memang pengecut" Batin Sean yang kini menatap ke arah sekitar. Sepi. "s**l, padahal gue udah cakep, huffttt ...." Lagi, batinnya bersuara. Kini, mereka tengah berada di sebuah perumahan elit yang tersedia lapangan luas dan sepi. Mereka memberhentikan motornya begitu pun Sean. Salah satu di antara mereka menarik kerah belakang baju Sean yang membuatnya sedikit terhuyung ke belakang karena mendapat serangan dadakan. "Hahaha Sean, Sean ... Masih aja ya lo, belagu!" " .... " "Gue gak perlu basa-basi lagi buat sekedar balas lo karena masalah yang dulu" "Pengecut!" Desis Sean begitu pelan namun tetap terdengar oleh Yona. Matanya menatap Yona dengan pandangan dingin nan tajam membuat Yona sedikit bergidik ngeri saat melihat nya. "Serang!!!" Mereka langsung membabi buta pukulan dan tendangan pada Sean yang kini menjadi pusat balas dendam mereka. Bugghhh Bugghhhh Sssrreeetttt ... Brugghhh .... Tendangan dan pukulan yang Sean dapatkan langsung di balas olehnya dengan lebih bringas. Sean tak hentinya memberikan pukulan, tendangan bahkan tak memberikan kesempatan pada semuanya untuk sekedar meminta maaf . Bugghhhh ... bugghhhh ... Hhhwekk ... Salah satu di antara mereka memuntahkan darahnya akibat serangan Sean. Bugghhhh ... Bugghhhh .... Perkelahian terus berlanjut hingga, akhirnya Yona menghadapi Sean. "Mending lo nyerah aja, atau mau gue liatin video ini??" "Hahahaha ... Lo ngancam gue?? Lo kira gue takut sama ancaman murahan lo? Mau ngelawak, Lo? Punya otak tuh bukan hanya di simpan dan di pajang doang, tapi PAKE!!!! " "KURANG AJAR, LO!!!!" Merasa tak terima akan ucapan Sean, Yona pun mendekati Sean dan terjadilah baku hantam antara Sean dan juga Yona. Keduanya sama-sama memiliki memar. Namun, bisa di pastikan kalau Yona lah yang paling parah mendapatkan luka. "SEAN!!!" panggil seseorang membuatnya langsung beralih menatap sumber suara dan menjadi kesempatan untuk Yona. Yona mengambil balok kayu yang kini berada tak jauh dari jangkauannya. Bugghhhh , "ssshhh ... s**t, Yona lo memang paling pengecut!!! " Dengan cepat Sean kembali menghajar Yona hingga membuatnya terkapar tak sadarkan diri. Seseorang yang memanggilnya mulai mendekat, niat hati ingin menghentikan. Ia malah jadi penyebab terserang nya Sean oleh Yona. "Sssshhh ..." perih bercampur rasa sakit mulai terasa di area kepalanya. Telapak tangan Sean menggapai kepala bagian belakang dimana tempat ia mendapatkan pukulan itu. "Darah .... Yona s****n, awas aja kalau gue harus pitak karena operasi" Ocehan Sean saat dirinya mendapatkan luka. Langkah kaki itu semakin mendekat dan hal itu membuat Sean mendongakkan kepala nya. "Sean, lo gapapa? Astaga!!!! Darah, Sean ayo kita ke rumah sakit" "Gue bisa sendiri" ucap Sean dengan dinginnya. "Enggak, pokoknya sama gue, ayo kita ke rumah sakit." Kepalanya semakin terasa menyakitkan dan membuat Sean menyetujui ajakan Gea. "Mom, kita ke rumah sakit sekarang" "Sayang, mau di simpan dimana teman kamu itu? Kamu tidak lihat kalau mommy bawa mobil sport yang khusus untuk dua penumpang." "Aduhhh ... gimana dong, Mom" "Kamu yang bawa mobilnya" "No, Mommy dengan Sean, aku pakai motornya" "Ide bagus" Setelah nya, Gea memasukkan Sean yang kini dalam kondisi masih sadarkan diri namun merasa lemah karena rasa sakit di kepalanya. Ia dengan cepat memasangkan sabuk pengaman pada Sean. "Aku akan ikuti mommy dari belakang" "Okey, Hati-hati sayang" "Ya, Mom" Gea dengan cepat berlari ke arah motor sport milik Sean. Bisa di akui bahwa Gea sangat terpesona akan kecantikan motornya Sean saat ini. Ia pun menggunakan helm full face dan segera men stater motornya dan dengan cepat menancap gas mengikuti mobil sang mommy. "Gue harap, lo baik-baik aja Sean"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD