Jahilnya Sean Seano

1545 Words
Istirahat pun berbunyi, semua murid yang mendengar itu langsung keluar dari kelasnya menuju kantin atau pun perpustakaan. Tak banyak dari mereka juga yang pergi ke lapangan untuk bermain bola atau hanya mengobrol di koridor. Seano melangkah kan kaki nya dengan penuh percaya diri tanpa menghiraukan orang-orang yang sedari tadi infrastruktur dirinya. Karena saat ini, ia hanya ingin bertemu dengan Sean, dan mereka akan makan bersama untuk pertama kali di kantin sekolah barunya. Tok tok, suara ketukan pintu membuat para siswa yang tersisa di kelas itu langsung menatap ke arah dirinya. "Sean? Ngapain ketuk pintu?" Tanya seorang siswi yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Seano tak menjawab, ia hanya menatap mata siswi di hadapannya dengan tatapan dingin dan menunjuk nama yang telah terpampang jelas di name tag nya. Siswi itu melihat jari telunjuk Seano yang kini tengah menunjukkan nama padanya. "Seano?" " Aahhh ... jadi kalian kembar ? Wahhh ...." Tanya nya dengan sangat antusias. " Gilaa ... Satu aja bikin gue hampir melebihi dosis apa lagi ini, ada dua." Batinnya seraya menatap Seano dengan pandangan penuh harap nya. "Bang," panggil seseorang yang bisa di olah jika itu adalah Sean. "Ngapain ke kelas kakak?" Tanya Sean sesekali melihat teman sekelasnya yang kini tengah menatap Sean Seano seolah ingin menerkam kelelahan. "Bareng, Abang laki-laki sama mereka" "Ohh ... Iya ayo" Sean menatap kelasnya sekilas, "ternyata dia gak sekelas sama gue, ya" batinnya merasa kecewa akan yang ada. Akhirnya, Sean dan Seano melangkah kan kaki nya menuju kantin. Bisa jadi jika saat ini keadaan kantin telah terisi penuh. Setelah sampai, penyebab langsung berjalan menuju stand makanan yang telah berjajar rapi untuk memuaskan nafsu makan para siswanya. "Pak, nasi goreng spesial satu" pesan Sean. "Siap, Den" "Bu, saya mau salad buah dan jus alpukat satu" "Siap siap siap ... di wait sebentar ya, Den" "Iya, Bu" Tak menunggu lama lagi, pesanan mereka telah siap. Akhirnya mereka pun mengucapkan terima kasih dan segera pergi untuk mencari tempat duduk. Matanya terus berkeliling mencari tempat yang kosong. "Penuh ya, Bang?" "Hm ... mau ke taman aja?" tawar Seano yang ternyata masih melihat keadaan kantin. "Ay ... eh, eh ... ada tuh, Bang! Itu tuh, disana." Seano menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka berjalan berdampingan membuat eksistensi mereka semakin terlihat jelas. Beberapa siswi yang menyadari kehadiran mereka langsung sibuk membicarakan keduanya. "Adik kelas tahun ini ganteng ganteng ya ..." "Mereka tuh yang katanya anak pemilik sekolah ini" "Serius, Lo?" "Astaga ... jadi bingung mau pilih yang mana" Tak hanya itu, mereka pun ada yang diam-diam mengambil potret mereka untuk di jadikan nya koleksi atau pembentukan fans di group besar AIS. . Back to topic "Hey, Ge. Kita duduk disini ya, soalnya bangku lain udah penuh nih ..." Gea yang merasa namanya terpanggil langsung menatap ke arah sumber suara dan di kejutkan dengan pandangan pertamanya. "Seano?" Tanya nya dalam hati saat melihat Seano yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan wajah dingin milik lelaki itu. "Gea? Boleh kan?" Tanya Sean yang baru saja menyadarkannya dari pesona seorang Seano. "Ah, iya boleh ..." Jantungnya berdetak semakin cepat saat tahu Seano duduk di hadapannya. "Ganteng, cool, rapi, pasti pintar ..." batin Gea memuji Seano dalam hatinya. "Lo gak makan, Ge?" Lagi, Sean menyadarkannya akan tingkah kurang ajar Gea yang telah berani mengagumi anak pemilik sekolah ini. "Ah ... Iya, ini makan kok" Mereka pun makan tanpa suara dan hanya terduduk tenang seraya menyantap makanan masing-masing. Hingga, suara getaran pada ponsel Seano yang ia simpan di atas meja bergetar pertanda sebuah panggilan video masuk. "Hallo sayang ..." Angkat Seano yang kini tengah tersenyum saat menerima panggilan itu. "Abang sama kakak lagi apa?" "Kita lagi istirahat, ini lagi makan nih, Ily udah makan belum?" Ucap Sean "Udah dong ... yaudah, abang sama kakak habisin dulu makannya." "Ehh ... jangan di matiin, Ily tunggu ya, sedikit lagi ini habis kok" cegah Seano agar adiknya tak mematikan panggilan mereka. "Ekhemm ... Sean, aku ke kelas ya ..." "Hm ..." Jawab Sean singkat karena kini telah sibuk dengan gadis di sebrang sana yang saat ini berada di balik ponsel Seano. "Siapa cewek itu? Sepertinya spesial buat mereka? Atau jangan-jangan, itu pacarnya Seano ... tadi kan Seano panggil cewek itu sayang ... " pikirannya kini berkabut dengan hati yang merasakan gemuruh tak suka akan senyum Seano yang tertuju pada orang lain. Akhirnya Gea pun kembali ke kelasnya. "Woyyy ... Gak ngajak-ngajak ya kalian kalau makan disini" sapa seseorang yang kini tengah berkacak pinggang di belakang si kembar. Sean menatap ke arah sumber suar dan alangkah terkejutnya ia saat melihat orang itu yang ternyata adalah Darrian. "Lo sekolah disini?" Tanya Sean dan langsung mengalihkan kembali tatapannya pada ponsel Seano. "Iya nih, paling cuma sampe kelas dua " "Ehhhh ... ada Willy ..." "Hai kak Darrian, ternyata kakak juga sekolah di AIS ya?" "Iya donggg ... kan biar barengan sama mereka" ucap Darrian seraya merangkul kedua bahu si kembar. Mereka terus melanjutkan obrolannya tanpa mengharukan sekitar. Dan jika ingin tau suasana kantin saat ini ... KACAU!!! Para siswi kini tengah berkumpul menjadi satu untuk memotret tiga siswa tampan yang kini tengah terfokus sesekali tertawa pada ponsel di genggaman salah satunya. "Nyesel kalau gak di abadikan ..." "Share group, share group" "Gilaaaa ... Kenapa bisa pada ganteng gitu sih??? " ***** Di kediaman Azfary, kini Kim Lily tengah memanggil putrinya untuk turun karena guru homescholling nya telah tiba. "Ily ..." "Ily ..." panggil Kim pada putrinya yang sedari tadi berdiam diri di kamar. "Sayang, kamu lagi apa?" tanya Kim pada putrinya yang saat ini tengah terduduk lesu. Ily menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan menatap Kim dengan mata berkaca-kaca. "Mom ... Ily ingin sekolah bareng Kakak sama Abang ... Ily juga mau punya teman, Mom." Kim tak menjawab, ia hanya mengelus surai sang putri yang kini telah meneteskan air matanya. "Ssttt ... sssttt ... Ily jangan nangis ya, Mommy sudah bilang pada Daddy dan kamu boleh sekolah bersama Abang dan Kakak." "Seriously???" Pekiknya tak percaya akan apa yang di ucapkan Kim. "Mommy serius ... tapi tetap dalam pengawasan kami ya ..." Willy menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia merasa senang bukan main. Walau pun masih lama untuk penerimaan siswa baru tahun selanjutnya, ia akan mulai mempersiapkan segalanya dari sekarang. Siapa tahu ia bisa akselerasi dan bisa satu kelas dengan salah satu kakanya. Akhirnya Ily pun turun bersama Kim untuk menemui sang guru dan mulai belajar. . . Waktu telah menunjukkan pukul 15.45 WIB, itu artinya .... "Kita pulanggggg ...." Teriak Sean saat memasuki mansion. Ily berlari menghampiri kedua kakaknya dengan begitu riang. "Abang ... Kakak ... Ily boleh sekolahhhh ... Yeayyy" "Serius???" Tanya Sean yang juga merasa senang. "Iya, tadi mom bilang gitu." "Yeeaayyy ... " Ily langsung di peluk erat oleh Sean dan dibawa berputar berkali-kali saking senangnya. "Stop, Kak. Kasian Ily pasti pusing." Ucap Seano menghentikan tingkah kembarannya. "Ups, maaf sayang ..." setelah mengucapkan itu, Sean dengan perlahan menurunkan Ily dan merangkul pinggangnya dengan erat. Seano menarik Willy perlahan agar mendekat ke arahnya. Ia memeluk Willy dengan penuh kasih sayang. "Selamat ya adikku yang paling manis ...." ucap Seano begitu lembut dan berbeda dengan sikapnya saat di luar sana. "Thank you, my Prince" Seano melepas pelukannya dan mencium kedua pipi Willy dengan gemas. Cup cup, krrauuk... "aahhhkkk ... Abanggggg ..." jeritan Willy saat pipinya merasakan gigitan dari Seano. Seano langsung kabur begitu saja tanpa berbalik ke belakang. Sean yang kini menatap adiknya langsung mendekat dan bertatap wajah dengan adiknya. "Mana yang sakit?" tanya Sean penuh rasa khawatir dengan kedua tangan yang menangkup kedua pipi Ily dengan perlahan. "Ini ..." tunjuk Ily pada pipi kirinya dengan manja pada Sean. Sean menatap intens pipi Willy, ia semakin mendekat hingga tak berjarak, "aaaahhhkkkk ... kakak juga, nyebelin!!!!!" teriak Ily saat pipi kanannya terasa sakit akibat gigitan Sean. Sean pun kabur untuk menghindari amukan Willy yang ternyata kini tengah mengejarnya. Karena lift mansion mereka begitu lama terbuka, akhirnya dengan berat hati Sean berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia terus berlari dan sesekali berhenti untuk mengatur nafasnya. "Huhhh ... huhhh, capek. Astaga !!!" Pekiknya merasa kaget karena Willy kini tengah berada di hadapannya dengan kedua tangan yang berkacak pinggang serta wajah merah karena gigitan kedua kakaknya. Sean menatap Willy dengan penuh permohonan. Ia mendekat dengan perlahan, senyum di bibirnya terasa canggung karena takut akan kemarahan adik cantiknya. "Eh, adekku yang manis kok sudah disini??" "Itu pipi nya merah gitu, lucu deh ..." Canda Sean yang ternyata di hadiahi jeweran manis pada telinganya. "Eh, eh ... Ampun sayang ampunnn" "Gak, kakak nyebelin ... sini ikut Ily." Ternyata Willy membawa Sean menuju kamar Seano. Dan tanpa mengetuk nya lagi, Willy masuk dengan Sean tanpa ragu yang langsung membuat si empunya kamar terperanjat kaget. "Sayang, itu kakak kenapa di jewer? sshhhh ... Aahhkk sakit, cantik." Willy tak menghiraukan keduanya, ia masih kesal. "Ampun Ily, kakak ngaku salah ... please, lepas yaaa ..." Willy yang tak kuasa melihat kedua kakaknya kesakitan akhirnya melepas jeweran nya. "Jangan gitu lagi, pipi Ily kan sakit ..." Eluhnya pada si kembar yang akhirnya mendapat pelukan hangat dari keduanya. "Maaf yaa ... Kakak gak akan ulangi lagi ..." "Iya, abang juga minta maaf ya sayang ..." Akhirnya Ily pun mengangguk memaafkan kedua kakaknya. Dan, tanpa ia tahu bahwa kedua kakaknya kini tengah ber-tos karena berhasil meluluhkan Kemarahan adiknya. ***** Di tempat lain, seseorang kini tengah tertidur di kasur king size nya dengan mata yang menatap nyalang ke arah atap-atap kamar. "Sebenarnya siapa cewek itu? Se-spesial apa dia sampai buat Sean dan Seano lupa keberadaan gue." "Pokoknya gue harus dapetin Seano, gimana pun caranya." Tekadnya telah bulat, ia akan mendapatkan Seano, mau dengan cara halus atau licik sekali pun. "Ayo main game ..." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD