AIS dan Dia...

1578 Words
Sekolah Internasional Azfary Sekolah Menengah Atas yang selalu menjadi favorit di kalangan siswa yang memiliki kekayaan menengah ke atas. Sekolah yang menjadi no satu karena fasilitas dan kecerdasan para siswa nya. Di pagi hari yang cerah ini, Sean dan Seano telah siap dengan seragam barunya karena mereka telah resmi menjadi siswa SMA. Mereka keluar dari lift secara bersamaan. "Selamat pagi ..." ucap mereka begitu serempak menyapa orang tersayang mereka. "Pagi, Sayang." Jawab sang mommy seraya menata piring yang akan mereka pakai untuk sarapan. "Ayah sama Ily mana, Bu?" tanya Sean saat tak melihat keberadaan daddy dan adik tersayang nya. "Dad sudah berangkat ke kantor, kalau Ily masih di kamar, Kak." "Yaudah, kakak mau panggil Ily dulu deh." Saat Sean pintu bangkit dari duduknya, bunyi lift yang terbuka membuat Sean mengurungkan niatnya. “Kakak… Abang…, seragamnya bagus bangeettt….” Ucap Ily seraya berlari menghampiri semuanya. "Iya dong, kakak sama abang kan sekolah di AIS." Ucap Sean seraya bangkit dari duduknya dan berusaha menarik adiknya. Ily juga mau sekolah ... "namun ucapnya begitu lirih dengan kepala yang tertunduk dan jari jemari yang saling bertautan. Kim Lily yang melihat kesedihan putrinya langsung mendekat dan mengawasi saya dengan penuh kasih sayang. "Memangnya Ily gak suka dengan homeschooling nya?" "Ily suka kok, tapi Ily gak punya teman, Mom. Ily juga pengen punya sahabat kayak kak Darrian yang jadi sahabat abang sama kakak." "Tapi ibu gak mau kamu sampai terluka di luar sana, Sayang." ucap sang mommy begitu lirihnya. Itulah alasan yang Kim Lily dan William takutkan. Jika saya keluar, mereka takut kejadian serupa saat saya berumur lima tahun terulang kembali lagi. Mereka sangat tak ingin melihat anaknya putus. "Nanti mama akan bilang pada daddy masalah keinginan Ily. Tapi sekarang, Ily harus segera sarapan karena kakak sama abang sudah nunggu Ily. Kasihan tuh, kalau di hari pertama mereka sekolah tapi terlambat." Ily melepaskan pelukan sang mommy kemudian menatap pangeran kembarnya. "Abang, Kakak, maafin Ily ya. Kalian pasti udah laper dari tadi." "Gak kok, sekarang kita sarapan dulu, Ily duduk sini." Ucapnya seraya menarik pelan lengan adiknya agar duduk di tengah-tengah antara Sean dan Seano. Setelah Ily nyaman dengan duduknya, Seano mengelus surai indah milik Ily dengan senyum lebar yang terpatri di wajah tampannya. Setelah berdo'a, mereka pun memakan sarapan dalam diam. Karena itulah tata krama yang selalu diterapkan oleh kedua orang tua mereka. . . Mobil mewah berwarna hitam membuat beberapa siswa yang sedari tadi sibuk akan dunianya masing-masing langsung memusatkan perhatiannya pada mobil yang baru saja datang. Sang supir keluar dan membuka pintu penumpang pada mobilnya. Dan, muncul lah Seano dengan wajah dinginnya membuat siswa di sana menjerit tertahan saat menatap ke arahnya saat ini. Seano yang berpenampilan rapi membuat kesan baik bagi siapa saja yang melihatnya. Lalu, satu kaki keluar dari dalam mobil dan disusul kaki satunya lagi bersamaan dengan tubuh yang di condong karena ia pun akan keluar dari mobilnya. "Anjirrr ... ganteng banget ...." "Murid baru? Adik kelas? atau apa nih? Gilaaa ... stock cogan bertambah." "Yang satu good boy, satunya lagi bad  boy ..." "Ya Tuhan, berikan salah satunya pada hamba ... tapi, dua-duanya juga boleh kok, Tuhan." "Mereka nya yang kagak mau sama lo, meski pun di takdir kan Tuhan, pasti mereka pilih gak lahir ke dunia ini." "Jahat banget sih lo, Ne ..." Ane tak menggubris ucapan teman nya. Matanya kini hanya terfokus pada satu titik. Seano "Tuhan, jadikan dia jodoh gue ..." Bisik nya teramat pelan. "Mimpi!!!" Ucap Jessica yang mendengar lirihan Ane. Ane menatap sengit ke arah Jessica yang di balas dengan juluran lidah tanda mengejek dirinya. "Jess ...." Teriakkan Ane begitu kencang dan membuat sang empunya nama berlari menjauhi Ane. Dengan cepat Ane mengejarnya yang terus lari dan berusaha menghindari serangan Ane. "Stop, Ne ... Gue capek ...." Teriak Jess yang masih tetap berlari. "Sini gak, Lo!!!" Bruugghhh "OMG!!!!! p****t GUE SAKIITTTTT." Teriak Ane yang kini tengah jatuh tersungkur karena bertabrakan dengan seseorang di hadapannya yang sama dengan posisinya saat ini. "Heh, cupu! Mata lo udah empat masih gak bisa di pake buat liat jalan, apa?" sshhh ... desis nya menahan sakit di area pantatnya. "Ne, lo kenapa???" Tanya Jessica seraya membantu Ane berdiri. Dengan cepat, tangan itu menarik kasar rambut keriting gadis yang kini masih terduduk di lantai. "Sa ... sakit kak," lirihan itu masih terdengar jelas di pendengaran Ane dan Jessica. Namun, bukannya melepas. Ane dengan sengaja semakin menarik rambut sang adik kelasnya tanpa belas kasih lagi. "Cih, ternyata ada wanita seperti ini di sekolah Daddy." Ucap Sean yang kini berjalan dengan santainya bersama Seano. Walau wajahnya terlihat sangar, Sean masih mempunyai hati saat melihat orang yang di tindas di hadapannya saat ini sudah tak berdaya. "Telepon daddy aja, suruh keluarin mereka berdua dari sekolah ini." Ucap Seano yang kini terus berjalan menuju lapangan. Berbeda dengan Sean yang kini berdiri di hadapan gadis cupu itu seraya mengulurkan tangannya. Sean menatap kedua kakak kelasnya dengan tatapan tajam. "Tunggu tanggal mainnya." Sean menggerakkan telunjuknya ke arah leher dan membuat satu buah garis. Die! Sean membawa gadis cupu itu ke taman belakang. Biarlah ia membolos, karena ia yakin takkan ada yang berani melawannya. "You okey?" "Hah? Hm, aku baik-baik aja, makasih ..." "Sean, nama gue Sean Rude Azfary, jangan sampai tertukar dengan kembaran gue." Si gadis cupu hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Imutnya. Tersadar akan pikiran gilanya. Sean segera menggelengkan kepala karena tak habis pikir akan apa yang ada di dalam otaknya. "Lo?" "Apa, Sean?" "Nama lo?" "Gea. Terima kasih ya, kalau gak ada kamu ..." "Santai aja, gue juga punya adik cewek. Dan gue pernah lihat dia ketakutan persis kayak lo, tadi." Kenapa gue jadi cerita gini? Batinnya berteriak semakin tak mengerti. "Yaudah, sana ke lapangan." "Kamu?" "Bolos dong, syuhh ... syuhh sana" usir Sean pada Gea yang langsung di turuti gadis itu. "Nyebelin!" batin Gea merasa tak Terima saat dirinya di usir seenaknya. Gea pergi meninggalkan Sean. Sesekali ia berbalik untuk melihat Sean. Namun, hal yang sangat konyol ia lihat dari sosok bad boy yang tadi menyelamatkannya. Sean kini tengah meregangkan ototnya. Tangannya di tengadah kan ke atas dan menghirup udara segar di sekitar pohon besar di hadapannya saat ini. Sean mendekat dan menempelkan telapak tangannya pada pohon tersebut. "Poh, gue ikut tidur di atas lo, ya. Jangan sampai lo tumbang saat gue tidur." Setelah mengucapkannya, Sean langsung mengambil ancang-ancang untuk naik dan ... Yes! Berhasil. Gea terdiam kaku di tempatnya. Bahkan ia tak habis pikir akan apa ya di lakukan Sean. "He's crazy?" batinnya bertanya karena tak paham. Drrtt ... drrrtt ... getaran ponsel di saku bajunya membuat Gea mengalihkan pandangannya. "Mommy?" Batin Gea saat membaca nama panggilan pada layar ponsel miliknya. "Hallo, Gea sayang ... gimana sekolah barunya? Suka?" "Suka, Mom. Thanks ..." "Iya, Mommy harap kamu bisa betah di Indonesia." "Ya, Mom. Gea akan berusaha betah di negara ini." "Sabar ya sayang, cukup setahun saja. Bertahanlah" "Yes, Mom." "Yasudah, Mom tutup ya panggilannya, bye honey ..." "Bye, Mom" Gea menutup panggilannya. Ia langsung menengadahkan kepalanya keatas berharap air mata yang sedari tadi ia tahan takkan keluar. Namun, apalah daya kalau hatinya terlalu sakit mengingat kejadian naas yang melukai hatinya. Flashback on Gea Brakkkk  ... Prangggg ... suara benda jatuh dan pecahan itu terdengar di telinganya membuat gadis yang baru saja terlelap itu kembali membuka matanya. "Lagi-lagi kamu bawa w***********g  ke rumah ini!" "Halahhh ... sut up f*****g your mouth, urus saja pekerjaanmu yang tak pernah selesai itu. Come on baby ...." Ajak sang pria yang kini merangkul mesra wanita sexy di sampingnya. "Keluar dari rumahku!!!" Jerit Sonya yang tak kuasa lagi menahan amarahnya. "Ini rumahku, kau yang harusnya keluar dari rumah ini! Pergi sana! Wanita s****n yang tak bisa mengurus rumah tangga." Hancur. Itulah yang dirasakan oleh Sonya. Bahkan wanita itu tak sadar bahwa anak gadisnya sedari tadi tengah menguping pertengkaran mereka. "b******n!!! Andre, kau laki-laki b******n ... Aku mau cerai denganmu!" "Okey! Kita CERAI!" ucapan itu membuat gadis yang sedari tadi bersembunyi jatuh terduduk karena lemas. Telinganya berdengung seolah terus menerus mendengar kata-kata perceraian dari kedua orang tuanya. "Tidak, aku tidak ingin keluarga yang seperti ini. Aku tidak ingin ..." "Mommy sama Daddy harus tetap bersama, Gege gak mau sendiri. Gege masih mau sama-sama." Otaknya kini telah berkabut hingga tak dapat memikirkan sesuatu hal yang positif untuk dirinya sendiri. Dengan cepat ia berlari ke arah nakas tepat di samping tempat tidurnya dan menemukan barang yang ia butuhkan. "Lebih baik aku mati daripada harus menyaksikan setiap detiknya kehancuran keluarga ini." Ssrreettt ... gunting itu telah berhasil melukai nadi yang tepat berada di pergelangan tangannya. Braakkkk ... "Geaaaaaa ...." Teriakkan sang mommy yang hanya bisa di balas dengan senyuman oleh Gea. Senyuman yang menyimpan begitu banyaknya kesedihan. Dan itulah, kejadian buruk untuk terakhir kalinya saat ia berada di negara kelahirannya. Negara yang banyak menyimpan memory pahit dalam hati dan pikirannya. Flashback off "Heh, kenapa kamu masih disini? Kenapa kamu gak ke lapangan?" Tegur salah satu kakak OSIS laki-laki ber name tag Tio yang bisa di pastikan tengah melakukan patroli untuk mengecek siswa baru. "Maaf kak, saya tersesat." ucapnya begitu gugup. "Yaudah, ikut saya!" "Baik kak, Terima kasih." Akhirnya Gea dan juga Tio meninggalkan taman belakang sekolah. Sean melihatnya. Ya, Sean melihat tatapan sendu juga air mata yang keluar dari gadis bernama Gea itu. Ia bahkan sempat terduduk untuk mendengar lebih jelas apa yang Gea ucapkan dengan si penelepon. Namun apalah daya saat jaraknya dengan Gea begitu jauh membuatnya tak dapat mendengar apa-apa. Sean kembali berbaring dan mencari posisi ternyaman nya. Ia menatap ke atas dimana matanya matanya melihat semua daun itu bersatu untuk menutupi tubuhnya. "Entah kenapa, lo mampu membuat pikiran gue bercabang layaknya akar pohon ini, Ge." "Eh? Sean, lo gila ya? Ngapain mikirin cewek itu sih?" Ia dengan cepat menutup matanya. " Aaiisshh ... Kok gue kepikiran dia gak pakai kacamata ya? Pasti cantik." "ASTAGA !!!!" Jerit nya semakin frustasi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD