Permusuhan

1613 Words
Sean Seano tengah berdiri di gerbang putih yang bertuliskan ANTARIKSA JUNIOR SCHOOL yang kini tengah tertutup rapat. Bagaimana tidak, jika sebelum berangkat sekolah pun mereka masih melakukan kegiatan rutinnya untuk Jojo si kodok dan peliharaan lainnya. Bahkan, jika sang ibu tak menegur mereka, bisa di yakinkan jika mereka tidak sadar saat menunjukkan petang hari. "Abang sih lama, jadi telat kan kita." Ucap Sean seraya berusaha menelpon seseorang yang kini tengah melaksanakan tugasnya. "Kakak juga lama, coba kalau abang tadi duluan aja sama pak Man, pasti gak bakalan telat gini." Dengus Seano yang tak terima saat dirinya di salahkan. Seseorang mengangkat panggilan Sean dari sebrang sana. " Halo . " "Kita di gerbang nih, bantuin dong Sam." Ucap Sean. " Ck , ada-ada aja sih kalian, yaudah tunggu, gue otw kesana ." Panggilan pun di putuskan secara sepihak dari sebrang sana. Berhenti gerbang dengan senyum di bibirnya. Bukan senyum manis, melainkan senyuman jahil yang membuat Sean Seano semakin buruk suasana melihatnya. "Aduh ... aduh ..., tumben kalian telat, hahaha ! " "Bukain dong, sekali ini aja ... ya, ya." "Gak bisa, peraturan tetap peraturan, dan itu harus selalu di tegakkan." "Ayolah ... sekali ini aja, nanti pulang sekolah boleh deh main ke rumah gue." Sogok Sean pada lelaki yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Beneran? Ah, ntar kalian ninggalin gue lagi," "Beneran, kali ini gak bakalan ninggalin lo lagi, ya kan, Bang?" Ucap Sean meyakinkan remaja lelaki di hadapannya. " Hm ...." "Bener ya, awas lo kalau bohong, gue laporin Pak Toto." "Beneran, ya kan, Bang?" Ketua OSIS kok gampang banget di sogok nya. "Kalau bahan sogok, maaf, gue udah terlalu kaya buat nerima nya. Tapi kalau di sogok sama bidadari, ya mana mau nolak ... hahahaha . " Suara pintu gerbang terbuka membuat satpam yang sedari tadi sibuk dengan tontonan pada layar televisi dalam posnya pun keluar dengan tergesa. "Hei, kenapa kalian masuk?" Tanya sangat satpam dengan garangnya. "Maaf Pak, tadi mereka berdua memang saya suruh membeli perlengkapan OSIS, jadi mereka telat." "Begitu, ya sudah silahkan masuk" "Heh, ini pintu gerbangnya kenapa gak sekalian di tutup lagi?" Ucap pak satpam saat melihat gerbangnya masih terbuka. "Sama bapak aja yaaa ..." teriak Sean dan mereka bertiga pun lari menjauh dari sana. Akhirnya mereka lolos dari jeratan satpam yang sedari tadi memberikan laser merahnya pada Sean Seano. Ketiganya berlari menuju kelas yang sangat di syukuri sedang tak ada guru yang mengajar. "Hahaha ... kirain bakal ketahuan sama Pak kumis." "Gak lah, lo kayak gak kenal sama sahabat lo ini." "Iya, ketua OSIS gila!" "Tapi janji ya, kalian mau ajak gue ke rumah kalian pulang sekolah." "Iya iya, Janji." Setelah mengucapkan itu, Sean dan Seano saling memberikan tatapan dengan seringai kecil di bibir mereka. Remaja lelaki yang kini bersama Sean Seano adalah Darrian Sammy Aston. Sahabat pertama saat mereka memasuki kelas dua junior school. Darrian blasteran Amerika Jerman yang memiliki mata biru dengan paras yang tampan. Selain kaya, Darrian pun merupakan ketua OSIS dan Seano sebagai wakilnya walau sebentar lagi jabatan mereka akan segera lengser dan di gantikan oleh adik kelas mereka. Ketiganya selalu menjadi sorotan para siswi kelas maupun kelas lain. Sering pula, mereka mendapatkan beberapa hadiah, makanan atau pun surat. Mereka senang mendapatkan itu semua. Namun, mereka akan membagikannya kembali pada anak jalanan yang memang membutuhkan secuil makanan yang susah payah mereka dapatkan. "Wahhh ... Ada coklat, kasih Willy ahhh ... " "Gak modal banget sih," Darian yang mendengar itu pun hanya memutar matanya jengah. "Komentar aja terus ... " "Asal jangan ada kacangnya" "Loh, kenapa?" "Ily alergi kacang-kacangan" "Okey ... padahal enak banget ada kacang almond nya" ***** Bel pulang sekolah pun telah berbunyi membuat seluruh siswa berhamburan keluar untuk menghirup udara bebas. "Eits ... eittsss ... mau pada ninggalin gue lagi kan???" "Gak, buruan!" Mereka pun berjalan bersamaan. Penampilan Seano dan Darrian memang selalu perfect walau pun setelah jam pulang sekolah. Baju yang tetap rapi dengan wajah yang masih terlihat fresh berbeda dengan tampilan Sean saat ini. Baju seragam telah keluar dari tempatnya. Dasi telah hilang entah kemana, rambut yang acak-acakan membuat kesan nakal pada remaja itu seolah Sean seperti tokoh bad boy yang ada di novel-novel. "Gak sabar banget gue pengen lihat Willy." "Centil banget sih lo jadi cowok Sam." "Gapapa dong, lagi seneng nih gue ..." belum menyelesaikan ucapannya, seseorang menabrak Sean dari belakang begitu kerasnya membuat ia tersungkur ke arah depan. "Mata lo dimana, hah?" Ucap Sean begitu lantangnya membuat siswa siswi lainnya berhenti untuk sekedar melihat apa yang terjadi. "Jalan kalian yang lelet kayak siput, lo pikir ini sekolah milik nenek moyang lo?" "Kalau iya kenapa?" Tanya Darrian dengan sombongnya. Karena itu memang benar. "Ck, ketua OSIS gak becus kayak lo mau ikutan ngomong, sini adu jotos aja sama gue." Tantang seseorang itu dengan seringai meremehkan yang tersungging di bibirnya membuat Sean naik pitam. Bughhh Bughhh "Hahaha, baru di pukulan aja udah KO lo, mulut besar lo tadi kemanain?" Tanpa di duga, remaja lelaki itu menyerangnya dengan membabi buta. Bughhh ... Bughhh  ... Bughhh, adu jotos pun tak ter elakkan lagi. Sean dan lawannya tengah mendapatkan memar di wajah mereka. Bughhh  ... "Apa-apaan kalian ini? Yang lain bubar! Kalian berdua, ikut ibu ke ruangan bimbingan konseling!" Sean menatap Seano yang kini tengah mengacungkan jempolnya ke arah Sean membuat ia tersenyum senang. "Gue menang! sshhh ... " batinnya bersorak kegirangan. Sesampainya di ruangan konseling, Sean dan Yona kini duduk di kursi yang berhadapan dengan sang guru. Brakkkk .... "Mau jadi apa bangsa ini kalau anak-anak sebesar kalian pun sudah saling adu ketangkasan begini? Lihat, muka kalian sudah banyak memar juga darah, nih lihat" Ucap sang guru dengan amarahnya seraya memperlihatkan seragam kotor Yona yang telah terkena tetesan darah. "Ckckck, tolong jelaskan kejadian sebelumnya." Sean memulai ceritanya yang pasti di sanggah oleh Yona seolah ia merasa tak bersalah apa-apa disini. "Lo, yang salah! " "Lo!!!" "Lo!!!" Brakkk ... brakkk, "cukup! Besok kalian harus membawa orang tua kalian untuk mengahadap pada ibu. Sebutkan nama dan kelas kamu" Tunjuk nya pada Yona. "Yona Ardiansyah, kelas sembilan C. " "Kamu!" "Sean Rude Azfary, kelas sembilan A." Sang guru menghentikan jarinya yang sedari mengetik pada Keyboard dan tatapan mata yang kini menatap Sean begitu intens. "Azfary?" Tanya sang guru pada Sean yang dibalas anggukan olehnya. "Anak dari William Azfary?" Tanya nya lagi seolah belum percaya akan apa yang di ucapkan oleh sang murid. "Iya, Bu. Ibu kenal dengan Daddy saya?" "Tidak, saya hanya tau saja. Baik, setelah surat panggilan orang tua saya print, saya akan memberikan hukuman pada kalian." "Yahh ... jangan di hukum dong bu." Desah Yona pada sang guru dengan muka memelas nya. Surat panggilan orang tua pun kini telah berada di tangan keduanya. "Enak saja gak di hukum, silahkan bawa sapu ke lapangan outdoor." "Bu, ini kan sudah jam pulang sekolah." "Lantas kalian berantem tadi dimana?" "Sekolah bu." Ucap keduanya dengan nada lemah. "Sudah kelas tiga bukannya memberikan prestasi malah membuat kekacauan. Bagaimana kalau adik kelas kalian mengikuti perilaku buruk kalian yang seperti tadi? Jadi, silahkan berdiri dan bawa sapu ke lapangan outdoor." Mereka berdua pun keluar ruangan yang langsung di berondong oleh pertanyaan dari Darrian. "Kenapa nih? Apa kata bu Dita?" "Bang, nih panggilan orang tua, sama abang ya kasihnya, kakak gak berani," ucapnya yang kemudian meninggalkan keduanya yang masih dilanda keterkejutan. "Ehhh ... mau kemana kak?" Teriak Seano saat melihat Sean berbelok ke arah lapangan. "Kerjain hukuman dulu," yang dibalas dengan teriakan juga. Yona menatap ke arah Sean dengan tatapan tajam miliknya. Entah mengapa, ia selalu iri pada Sean. Ia selalu berusaha untuk menyaingi Sean dalam bidang yang sama dengan kemampuan yang ia bisa, namun tetap saja kalah. Maka dari itu, ia mulai mengibarkan bendera permusuhan pada Sean dan berharap suatu saat ia yang akan menang melawannya. ***** "Kita pulanggg ..." ucap Sean Seano berbarengan seraya memasuki mansion Azfary. "Yeay ... abang sama kakak pul ... lang, kakak?? Kenapa muka kakak memar-memar gini?" Tanya Ily dengan paniknya saat melihat keadaan Sean. "Kakak gapapa kok, Ily udah sampai dari tadi?" "Udah kak, eiyyy ... jangan alihkan pembicaraan. Sekarang kita obati dulu ya ... " Willy langsung menarik Sean untuk duduk di sofa ruang tamu dan ia pun berlari untuk mengambil P3K yang disimpan dekat dapur. "Gilaaa ... Masih bocah aja udah cantik, gimana kalau udah besar nanti," gumam Darrian yang masih terdengar jelas di telinga Seano. "Mau adu jotos sama gue?" "Gak, terima kasih" Darrian pun berlari kecil untuk duduk di dekat Sean. Bukan karena ingin dekat dengannya, melainkan ia ingin melihat bidadarinya lebih dekat . "Loh, ada kak Darrian juga ya?" "Wahhh ... Willy masih ingat sama aku?" "Ingat dong, kak Darrian kan sahabat abang sama kakak." "Senangnya ..." Ucap Darrian dengan wajah yang bersemu merah. Willy semakin mendekatkan wajahnya, hal itu membuat Darrian semakin merah merona. Padahal, Willy mendekat bukan ke arahnya, melainkan ke arah Sean yang kini sedikit meringis karena terkena obat merah. "Kenapa lo?" Tanya Seano yang melihat Darrian beberapa kali mengusap wajahnya. "Hah? Gue? Gapapa! ya, Gue gapapa" "Muka lo kok merah gitu sih?" "Masa sih?" Tangannya dengan cepat mengeluarkan ponsel yang berada di saku celananya. Karena grogi, ia menjatuhkan ponsel itu tepat di kaki Willy. Tangan mereka saling bersentuhan, ingat! Hanya menyentuh. Namun reaksi Darrian yang berlebihan langsung bangkit dan berlari menuju ke kamar Seano. "Kenapa bang?" tanya Willy yang melihat tingkah laku Darrian. "Gatau, udah aneh dari lahir kali." Ucap Seano dengan acuhnya, sang abang mendekat ke arah Willy dan memeluknya sekilas. Tak lupa juga dengan kecupan ringan pada kening Willy membuat gadis itu tersenyum senang. "Abang ke kamar ya." "Iya bang." Seano pun berjalan menuju lift yang tersedia di mansion mereka. Melihat kepergian Seano, Willy kembali terfokus pada luka Sean. "Kakak jangan luka lagi, Ily gak suka, Ily khawatir sama kakak, Ily sedih kalau kakak kesakitan kayak gini." Sean memeluk pinggang Willy yang kini masih berdiri dihadapannya. "Kakak gapapa kok, kakak kan kuat" "Jangan ulangi lagi ya ..." Sean memeluknya dengan kepala yang menempel pada perut Willy. Nyaman, itulah yang ia rasakan. "Kakak, jawab Ily, kakak gak boleh berantem lagi ya ..." Tak ada jawaban dari mulutnya melainkan hanya anggukan kepala pertanda setuju akan apa yang diucapkan oleh adiknya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD