Sean menatap sengit ke arah Darrian yang kini tengah memangku kepala Willy di atas paha nya. Dengan perlahan, namun pasti. Sean pun melepaskan pelukan Willy pada tubuh Darrian dan hal itu membuat Darrian membelalak kan matanya pertanda bahwa ia tengah protes. "Lo, yang keenakan." Ucap Sean dengan datarnya tanpa menghiraukan keterkejutan Darrian. "Terserah gue dong, toh bentar lagi juga gue mau pergi." Balas Darrian seraya mengembalikan tangan Willy mengaturnya kembali. Sean yang mendengar itu pun menajamkan pendengarannya. Ia jika merasa pernah mendengar kata pergi. " Mungkin cuma bohong. " Batin Sean menolak apa yang sebelumnya ia dengar. Namun percuma, apa yang di katakan Darrian adalah hal yang sebenarnya. "Apa?" tanya Darrian saat mendapat tatapan aneh dari Sean yang tak berkedip s

