Bab 3 - Toko Buku

1788 Words
Hubungan Wulan dan Samudra menjadi hangat sejak mereka saling berbagi kegemaran yang sama, berburu buku langka. Sering kali mereka mendiskusikan buku-buku terbitan lama yang membuat aku, Layung, dan Pijar merasa tertendang keluar dari forum karena tidak paham dengan topik pembicaraan. Para kutu buku itu sangat bersemangat menceritakan pengalaman perburuan buku langka mereka dan bagaimana mereka bisa mendapat penafsiran yang berbeda dari satu buku yang sama. Sifat Samudra yang kekanakan benar-benar membuatnya tak mau kalah dari Wulan, kami pernah diajaknya pergi ke suatu pertokoan buku bekas untuk menjadi juri perburuan buku langka mereka. Sejujurnya memang seru sekali, seperti mencari harta karun ditumpukan buku bekas. Nilai sebuah buku tidak menurun hanya karena tidak memiliki segel, justru buku itu menjadi antik dan lebih berharga karena membawa kembali ilmu dari masa lalu yang bisa jadi sudah mengalami berbagai transisi ide dari waktu ke waktu hingga sekarang. Sayangnya banyak dari buku bekas itu sudah tidak utuh wujudnya. Warnanya yang menguning itu suatu daya pikat tapi jika halamannya compang camping tentu sulit untuk diminati. Meski ada beberapa metode untuk merekondisi buku, tetap lebih baik jika bisa mendapatkan buku yang utuh dan lengkap. Meneliti buku satu persatu diantara bergunung-gunung buku pun makan waktu tak sedikit. Bermodal kejelian, wawasan luas, dan keberuntungan saja belum tentu bisa menemukan satu harta karun disana. Walau tentu kepuasan atas usaha yang berbuah manis membawa sensasi yang tak terlupakan, tapi aku tetap lebih memilih membeli buku di pasar online atau pasar modern. Begitu juga Layung dan Pijar. Begitu pula hampir 80 persen umat manusia. Kecuali Samudra dan Wulan. Saat kami datang bersama mereka untuk taruhan perburuan buku itu, kami dibagi menjadi 2 tim. Aku bersama Wulan, Layung satu tim dengan Samudra, kemudian Pijar menjadi juri. Aku dan Wulan mengaduk-ngaduk satu kios selama tiga jam dan masih belum mendapat satu pun buku yang cukup langka dan bernilai untuk dibawa ke juri. Begitu pun Samudra dan Layung. Kulihat Layung hanya duduk mengobrol dengan pemilik kios sambil minum es kelapa muda disaat Sam dengan berapi-api meporak porandakan kios tersebut. Lalu satu jam kemudian aku mendengar teriakan kemenangan dari Samudra. ”Sam, kamu dapet buku apa sampe seseneng itu?” tanyaku. ”Sewindu hilangnya Tan Malaka terbitan 1957. Gila! Ini sih temuan besar.” jawab Sam dengan senyum lebar di wajahnya. “Masih lengkap gak tuh halamannya? Coba cek dulu..” tanya Wulan seperti dia tahu sesuatu. ”k*****t! Ilang 5 halaman! Kamu udah tau ya, Lan?” Samudra menghardik dengan kesal seperti telah kalah main lotre. ”Hahahaha, iyalah! Mana mungkin ada buku itu aku gak tau. Aku udah nemuin buku itu beberapa bulan lalu. Tapi karena halamannya hilang banyak ya gak jadi kubeli. Hahahaha, selamat berburu lagi kawan!” jawab Wulan dengan nada puas menertawakan tingkah Sam. ”Alah, kamu emang udah dapet apa? Belum juga, kan?” tanya Sam menutupi rasa malunya. ”Nih, the old man and the sea terbitan Pustaka Jaya tahun 1983. Halamannya lengkap, cuma sobek di beberapa halaman tapi masih bisa dibetulin.” jawab Wulan bangga. Aku yang sedari tadi di samping Wulan bahkan tidak menyadari dia sudah menemukan buku itu. ”Loh, kamu kapan nemuin itu, Lan? Kok gak bilang-bilang kalo udah dapet?” tanyaku setengah kecewa karena merasa terhianati oleh teman satu timku sendiri. ”Dari sejam yang lalu pas kamu ngeliatin es kelapa muda Layung, Ta. Hehehe, sengaja aku diem aja, biar kamu gak ikut nyusulin si Layung. Abisnya ini kan terbitan 83, kita butuh cari cadangan lagi buat plan B kalo kalo Sam dapet yang lebih antik dari ini. Tenang aja, abis ini kita ditraktir Sam. Kamu pesen es kelapa muda sama gerobaknya sekalian, Ta.” jawab Wulan nyengir sudah membuatku kehausan demi plan B yang bahkan tidak diperlukannya. ”Jadi udahan nih taruhannya? Siapa yang menang?” tanya Pijar yang baru muncul entah dari mana. ”Woy, kan elo yang harusnya jadi juri! Kemana aja bambang?” kata Samudra sambil memiting kepala Pijar. ”Hehe, makan nasi pecel di samping. Yang dagang cuantik tenan lho, Sam.” jawab Pijar cengengesan. ”Woo, malah makan sendirian ya. Yaudah Pijar aja yang traktir! Ayo makan penyetan depan stadion. Kata bapak yang punya kios ini di situ sambelnya enak.” sahut Layung yang ternyata sedari tadi membicarakan masalah tempat makan bersama bapak pemilik kios. ”Eh eh, kok jadi aku? Ini yang kalah siapa jadinya?” ”Gak ada yang kalah. Aku mau minta tanding ulang. Wulan gak fair masa dia udah pernah datengin kios yang aku pilih.” ”Yee, salah sendiri gak tanya-tanya. Yaudah next time kita tanding lagi, sekarang makan dulu. Udah laper banget nih.” ”Ayo! Aku juga laper! Makan yang pedes-pedes kayanya enak” ajak Pijar sambil berlalu menuju parkiran kendaraan. “Bambang! bukannya abis makan?” sahut Sam sambil mengikuti Pijar dari belakang. Itu adalah pertama kali dan terakhir kali kami pergi ke pasar buku bekas bersama-sama. Setelah itu berapa kali pun Sam merajuk minta dilakukan tanding ulang, Layung dan Pijar tak pernah menurutinya. Siapa pula yang mau berjam-jam mengobrak-abrik tumpukan buku demi menuruti sifat kekanakan Samudra, begitu alasannya. Wulan pun menolak karena dia lebih suka menggunakan kekalahan Sam sebagai alat untuk menggodanya.    Wulan memang memiliki hobi membaca yang sama dengan Samudra. Bahkan bisa dibilang dia memiliki koleksi buku unlimited di kamar kosnya. Tidak akan habis kami baca. Buku-buku itu mengalami perputaran di kontrakan kami. Dari Wulan pindah ke tanganku, setelah itu dipinjam Sam, lalu pindah ke tangan Layung, dan terakhir harus dibaca Pijar. Pijar adalah orang yang tingkat ketertarikan membacanya paling rendah diantara kami, durasi membacanya pun paling lama. Jadi harus ada pada urutan terakhir diantara kami. Setelah Pijar selesai membaca buku itu, bukunya baru akan kembali ke Wulan. Begitu sampai ke tangan Wulan sebenarnya kami sudah membaca buku lainnya. Jadi akan terus berputar seperti itu sampai semua buku selesai dibaca. Demi terpenuhinya dahaga kami pada buku, kami rutin memperbarui koleksi perpustakaan Wulan. Karena Wulan yang paling telaten merawat buku, jadi setelah membeli buku, selanjutnya akan kami serahkan tanggung jawab perawatannya pada Wulan. “Sam, ada kios buku baru nih. Kesana yuh.” ajak Wulan sambil membawa selembar brosur pada suatu hari minggu sebelum ujian tengah semester 6. ”Dih, Sam doang yang diajak?” tanya Layung. “Emang Layung mau diajak cari buku?” jawab Wulan ”Ya enggak lah, mending shopping ke mall sama Pijar. Kamu kalo ke kios buku lama kaya emak-emak beli daster.” ejek Layung. ”Besok udah mulai UTS loh, masa ke mall?” sambung Wulan. ”Yee emang ada aturan gak boleh ke mall sebelum UTS?” tangkas Pijar ”Hati-hati aja, Jar. Kalo kamu kena bully lagi bukan salah kita ya.” kataku. ”Ta, Wulan masa cuma ngajakin Sam doang lho. Parah gak sih?” Layung mulai kompor. ”Parah sih asli.” jawab Samudra. ”Parah emang.” tambahku. ”Parah. Tega.” tambah Pijar. “Terus ya, terusin aja, kompor semua emang.” kata Wulan ngambek. ”Cie ngambek.” kata Layung. ”Cie marah.” kata Sam. ”Duh gemesnya kalau merajuk” kataku. ”Gimana gimana ngambeknya?” kata Pijar. “Jadi berangkat gak nih ke kios buku? Aku mau cari buku buat skripsi tau!” Wulan mulai emosi. ”Aku juga mau skripsi.” kata Layung. ”Sama aku juga.” kata Sam. ”Aku juga.” kata Pijar. ”Aku apalagi.” kataku. ”Gek terus-terusno wae ya koyo ngono. Tak tinggal mulih kapok! Rak meh rene meneh aku. (Terus-terusin aja gitu ya. Aku tinggal pulang biar kapok kalian! Gak mau ke sini lagi aku.)” dan keluarlah jurus andalan Wulan, ngamuk dengan bahasa daerah persis seperti emak-emak mengomeli anaknya. Kami pun tertawa terbahak-bahak menikmati omelan Wulan. Menggemaskan sekali. “Hahaha, aku sama Layung mau ke DP mall liat Via Vallen manggung, Lan. Ikut kita aja yuk.” ajak Pijar. ”Dih, emoh (gak mau) aku nonton dangdut.” jawab Wulan. ”Ini dangdutnya naik level lho di mall. Yuk, Sam, Ta.” ajak Layung. “Sam, Ta, temenin aku aja!” paksa Wulan. Aku dan Samudra saling pandang. Kami jelas tidak mau ikut Layung dan Pijar nonton konser dangdut. ”Yaudah ayo!” jawabku dan Samudra bersamaan. ”Ayo kemana?” tanya Wulan dan Pijar bersamaan.      Aku benci rencana ini. Seharusnya aku pergi ke kios buku bersama Sam dan Wulan. Tapi saat kunyalakan motorku, tidak keluar reaksi sama sekali. Berulang kali kukayuh kick starter kaki di motor maticku, sama sekali tak mau menyala. Akhirnya Wulan pergi ke kios buku membonceng motor Sam, lalu Pijar dan Layung menawarkan untuk mengantarku ke kios buku setelah menonton konser. Itu karena saat ini konsernya sudah berlangsung, akan terlambat bila mereka mengantarku dahulu baru pergi ke mall. ”Tenang aja, Ta. Mereka kan kalau cari buku lama banget. Kita selesai nonton konser baru nyusul pun mereka masih belum apa-apa.” kata Pijar dalam mobil saat menuju mall. ”Jangan cemburu gitu ah. Kayanya Sam belum doyan cewek deh.” sambung Layung sambil tersenyum. ”Cemburu?” tanyaku. ”Heleh, kita semua udah tau kali, Ta. Gak usah sok kaget gitu deh.” kata Layung lagi. ”Kita?” tanyaku semakin penasaran. ”Iya, kita. Aku, Pijar, Samudra. Wulan kayanya belum sadar sih, kayanya.” jelas Layung. ”Ini lagi ngomongin apa sih? Ngarang aja kalian.” Aku jadi berdebar-debar entah kenapa. ”Gak usah pake mengelak segala, Ta. Emang kenapa kalo kamu suka sama Wulan? Gak ada yang nglarang juga kok. Ya gak, Jar?” perkataan Layung membuatku merasa serba salah. ”Yoi. Lossno wae, Ta. Keluarkan segalanya.” tambah Pijar. ”Emang gak ada yang nglarang, Yung. Tapi kalau Wulan maunya sama Samudra, terus gimana? Aku serba salah jadinya.” kataku lemas. Sudahlah, kubiarkan saja mereka tau sekalian kegundahan dalam hatiku. ”Nah iku ciloko. (Itu celaka.)” respon Pijar. ”Kalian juga uda pada sadar ya Wulan maunya sama Sam?” tanyaku setelah melihat respon mereka yang berbeda dari bayanganku. Layung dan Pijar saling pandang sejenak, lalu kembali melihat ke jalanan. ”Gak ada yang gak tau, Ta. Cicak di kontrakan aja juga udah pasti tau.” jawab Layung dengan nada datar. ”Berarti Samudra juga udah tau?” aku bertanya karena selama ini Samudra memang tidak menampakkan tanda-tanda apapun berkenaan dengan Wulan. ”Kamu itu teman sekamarnya, kenapa malah tanya kita? Kalian gak pernah ngobrol apa gimana sih?” Layung menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi. ”Aku tanya karena gak tahu. Selama ini Sam gak pernah ngomong apa-apa tuh tentang Wulan.” jawabku sedikit kesal entah kenapa. “Ta, gimana Sam mau ngomong kalo dia juga tau kamu suka ke Wulan. Dia nunggu kamu jujur duluan, lah. Dia juga pasti serba salah sekarang.” kata Layung masih dengan nada datar membuatku semakin menyesal sudah meninggalkan Sam dan Wulan berdua saja di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD