Aku pertama kali bertemu Wulan saat ospek. Dia berada dalam satu jurusan dan satu rombel (rombongan belajar) denganku. Awalnya aku mengenal Wulan sebagai gadis pendiam tak banyak teman. Sejujurnya justru terkesan seperti dia sengaja membangun tembok tak ingin berteman. Bukan sombong, wajahnya jauh dari kata itu. Hanya sengaja menjaga jarak tak ingin melibatkan diri dengan siapapun. Tak pernah terlihat mengobrol dengan seseorang apalagi mengajak bicara duluan. Tipe yang akan menjawab dengan sekedarnya jika diajak bicara. Meski begitu Wulan tak menolak saat namanya dipilih sebagai pemeran utama wanita untuk pementasan teater pada malam inagurasi di hari terakhir ospek. Secara kebetulan aku terpilih sebagai pemeran utama pria, lawan mainnya. Kami terpilih bukan karena tampang atau kemampuan kami, tapi karena nama kami yang keluar saat diundi oleh kakak senior. Karena Wulan tak menolak, aku pun tak mau terlihat pengecut dengan menolaknya.
Kami akan mementaskan karya sastra Siti Nurbaya. Wulan berperan sebagai Siti Nurbaya dan aku sebagai Syamsul Bahri. Kupikir melakonkan sepasang kekasih dengan seorang yang mengobrol saja tak pernah akan sulit, tapi ternyata aku dan Wulan memiliki suatu perasaan klik yang aneh sejak pertama kami beradu peran. Bermain teater tidak sama seperti berakting di depan kamera, kami membatasi dialog dan lebih menekankan pada gerak tubuh serta mimik wajah. Dan Wulan melakukannya dengan sangat baik, lebih dari yang kuduga. Pada latihan pertama kami, dia bisa langsung menjiwai tokoh Siti Nurbaya yang terpaksa kawin dengan Datuk Maringgih demi melunasi hutang ayahnya yang sakit keras. Aku sebagai Syamsul Bahri, kekasihnya, tinggal menyesuaikan dengan permainan Nurbaya yang sangat ciamik di atas panggung. Meski berlebihan bila dikatakan kami mendapatkan kemistri di latihan pertama, tapi aku yakin meresapi sosok Syamsul Bahri akan mudah bila Wulan yang menjadi Siti Nurbaya.
Berkat latihan yang harus kami lakukan setiap hari, aku dan Wulan menjadi dekat. Disela-sela istirahat kami sering membicarakan tentang dialog, tokoh, dan karakter dari novel yang kami pentaskan. Dari situ aku tahu bahwa Wulan adalah orang yang cerdas. Dia memiliki wawasan yang luas dan pemikiran yang kritis. Cara bicaranya pun penuh percaya diri. Ku dengar dia adalah mahasiswa penerima beasiswa prestasi, namanya menjadi rangking satu nilai tertinggi pada saat penerimaan mahasiswa baru angkatanku. Penampilannya juga bisa dibilang menawan. Tingginya sekitar 158 cm, kulitnya putih bersih, tidak kurus tidak gemuk juga, rambutnya ikal sebahu sering digulung sembarangan. Meski tak pernah berdandan tapi wajahnya enak dilihat. Itu semakin membuatku penasaran kenapa dia berusaha menjaga jarak dengan orang lain padahal menurutku Wulan pasti akan populer diantara gadis lain di jurusan kami.
Sehari sebelum pementasan drama, latihan kami selesai hingga larut malam. Karena rumah kos Wulan hanya beda satu gang denganku, jadi kuputuskan untuk mengantarnya pulang. Sebelum pulang aku menawarinya makan karena kami tadi belum sempat mengisi perut sama sekali. Karena Wulan mengiyakan, kami mampir ke burjo yang sekarang menjadi langganan kami.
“Kamu asli mana, Lan?” tanyaku sambil menunggu makanan datang.
“Aku Jogja, Ta.” jawabnya singkat.
“Oh, deket dong. Jadi bisa sering pulang kampung. Aku asli Bengkulu, jauh kalau mau pulang.” kataku menanggapi.
“Aku malah gak pengen pulang.” dia mengatakannya sambil melihat ke arah lain.
“Lho, kenapa? Betah di sini?” tanyaku basa basi.
“Gak ada yang bakal menyambut aku pulang juga. Mending di sini.” jawabnya masih dengan menatap jalanan yang sepi.
“Kok bisa? Bapak ibumu?” sekarang aku mulai penasaran.
“Aku yatim piatu, Ta. Bapak ibuku meninggal waktu aku SMA kelas satu. Kecelakaan. Tragis kalau kata orang.” Wulan mengatakannya sambil tersenyum tipis. Membuatku merinding setengah mati.
“Sorry, Lan.” aku langsung mengatakannya tanpa berpikir.
“Sorry kenapa? Bukan salahmu mereka kecelakaan Ta. Itu salah Supir truk yang mengantuk. Bapak Ibuku hendak berangkat kerja seperti biasa, melewati jalan yang biasa di jam yang sama juga seperti biasanya… Lalu dari arah sebaliknya muncul truk. Dengan kecepatan tinggi… Langsung menabrak pembatas jalan. Motor yang ditumpangi ayah dan ibuku berada di sisi pembatas jalan, berada di urutan paling pertama dari kendaraan yang menjadi korban. Itu kecelakaan beruntun, Ta. Setelah menabrak orangtuaku, truk itu menabrak lusinan motor dan mobil lainnya. Kedua orang tuaku meninggal di tempat. Terlindas… Terseret… Tertindih bangkai kendaraan. Aku sedang di sekolah saat itu. Guru BK memanggilku di tengah pelajaran. Mengabarkan berita duka lalu mengantarku pulang. Di rumah sudah ramai sekali. Dan aku ini anak tunggal, Ta. Aku tidak punya kakak adik atau sepupu yang seumuran. Jadi saat aku tiba dirumah yang menyambutku adalah para pelayat.”
“Saat aku tiba sudah ada dua peti mati di halaman rumahku. Tidak boleh dibuka. Katanya kondisi jenazah sangat mengenaskan. Mereka melarangku untuk melihatnya. Saat itu aku sangat terguncang, Ta. Aku tak sempat memikirkan apa pun. Aku hanya menurut menangisi dua peti mati itu dan mengantarkannya ke pemakaman. Setelah itu ramai saudaraku berkomentar di grup chat keluarga. Mengucapkan bela sungkawa, ikut mendoakan, melarang untuk melewati jalan itu sampai 40 hari, bahkan ada yang menyangkut pautkannya dengan weton dan hal-hal klenik lainnya. Diantara itu semua yang terburuk adalah ada yang mengirimkan link berisi video detik-detik kecelakaan itu. Saat aku melihatnya, hatiku hancur berkeping-keping, Ta. Rasanya sakit sekali melihat orang tuaku dihantam bertubi-tubi dalam video itu. Bahkan ada video yang menunjukkan dengan jelas keadaan tubuh yang tercerai berai di jalanan. Mereka menontonnya, mengabadikannya dengan kamera, membagikannya sebagai berita tapi mereka lupa ada keluarga yang remuk hatinya melihat video itu. Dengan melihatnya saja dadaku sesak seperti ikut terhantam oleh kendaran itu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakit yang dialami orang tuaku saat badannya koyak dilindas truk sebesar itu. Kecelakaan tragis, kondisi yang mengenaskan. Aku tak diizinkan melihat jenazahnya secara langsung, tapi aku melihatnya dalam video yang sudah disebarkan berkali-kali.” aku tak bisa berkata-kata. Aku tak tau harus menanggapinya dengan bagaimana. Aku bisa merasakan kegetiran dari kata-kata yang diucapkan Wulan. Aku bisa merasakan sesak yang sama dengan mendengarkan ceritanya.Tapi aku hanya bisu menatapnya bercerita dengan wajahku yang konyol.
“Sorry aku malah cerita kaya gini. Kamu pasti jadi gak nafsu makan.” kata Wulan saat makanan datang. Aku langsung menyeruput es teh dan menyendok nasi gila pesananku agar tak membuatnya merasa bersalah.
“Enggak. Santai aja, Lan. Lanjutin ceritanya kalau kamu mau. Aku orangnya kuat.” aku menjawab seadanya di kepalaku. Wulan tertawa mendengarnya.
“Hahaha. Kuat? Emang kita lagi adu panco?” katanya sambil menyendok nasi ayam bumbu bali menu andalan burjo ini.
“Hehe. Kamu terus tinggal sama siapa sepeninggal orang tuamu, Lan?” tanyaku melanjutkan topik.
“Aku tinggal sendiri, Ta. Saudara ayahku jauh di luar negeri. Sedangkan saudara ibuku kebanyakan memiliki anak yang masih balita. Mereka sempat menawariku tinggal bersama saat mereka tahu aku mendapat uang ganti rugi dan uang asuransi dari kedua orang tuaku. Tapi tentu aku menolak. Saat itu aku pikir dengan tetap tinggal di rumah itu maka kehangatan kedua orang tuaku akan terus terjaga. Aku ingin memelihara kenangan dan kebahagian yang kurasakan bersama mereka. Tapi setelah tiga tahun pulang pada rumah yang kosong, aku merasa pikiranku terlalu naïf. Beruntung aku mendapatkan beasiswa ini, aku jadi punya alasan untuk melanjutkan hidup.” aku tak tahu sekuat apa gadis dihadapanku ini. Dia bertahan sendirian tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan orang tuanya semasa hidup, ketika disaat yang sama dia mengingat dengan jelas rekaman video kecelakaan tragis yang merenggut nyawa orang yang dicintainya itu. Dengan mendengar ceritanya entah bagaimana aku merasa paham kenapa dia memilih untuk menjaga jarak dengan orang-orang yang tak perlu. Dan aku merasa tersanjung dia mau menceritakan hal yang sangat personal ini kepadaku.
Kami berhasil mendapatkan kemistri yang kami butuhkan untuk pementasan teater selepas percakapan malam itu. Seperti yang diharapkan, penampilan kami sukses memeriahkan malam inagurasi dengan kisah kasih tak sampai Siti Nurbaya. Banyak pujian ditujukan untukku dan Wulan. Dan sebagaimana keberhasilan pentas kami di malam inagurasi, aku dan Wulan berubah menjadi teman akrab di kampus. Wulan sudah tak merasa segan-segan lagi padaku. Dia jadi lebih ceria dan cerewet daripada biasanya. Meski itu tetap tak mengubah sikap dinginnya pada teman-teman yang lain setidaknya kini dia bukan lagi si gadis penyendiri. Aku dan Wulan hampir selalu bersama saat di kampus, termasuk untuk semua tugas kelompok yang bisa dikerjakan bersama. Pada awalnya muncul rumor kami berkencan selepas pementasan itu, tapi sama halnya kabar burung lain rumor itu hilang seiring waktu. Bahkan tanpa perlu kami klarifikasi.
Setelah kepindahan Pijar ke depan kamar kosku, aku jadi sering pulang pergi kampus bersama Pijar. Pada saat itu aku dan Wulan belum cukup dekat untuk saling mengunjungi kamar kos satu sama lain, jadi aku hanya sesekali menceritakan tentang mereka pada Wulan. Lalu saat akhirnya kami pindah ke rumah kontrakan, aku menawarinya untuk mampir sambil mengerjakan tugas liputan. Awalnya aku takut Wulan merasa tak nyaman bertemu dengan orang-orang baru. Tapi ternyata justru sebaliknya. Mereka saling menyambung ikatan erat satu sama lain. Yang pertama kali dekat dengan Wulan adalah Pijar. Karena mereka berasal dari satu kota yang sama jadi pembicaraan berjalan lancar menggunakan bahasa daerah yang aku tak mengerti.
“Wulan ini satu daerah denganku, Ta.” kata Pijar menjelaskan.
“Enak aja. Aku masih di kota ya, kamu udah masuk pelosok.” ejek Wulan.
“Jangan ngomongin pelosok di sini. Kamu gak tau yang paling pelosok siapa?” goda Pijar sambil melirik-lirik ke arahku. Mereka lalu tertawa bersamaan.
Setelah Pijar, Layung ikut nimbrung. Seperti biasa Layung melancarkan modusnya memberi pancingan pada Wulan. Dan yang justru terpancing malah Samudra. Mereka bertiga heboh membicarakan Siti Nurbaya yang pernah kami pentaskan.
“Kamu kan pernah meranin Siti Nurbaya, Lan. Kamu pasti tahu kalau Nurbaya itu sebenarnya punya sifat pemberontak juga, kan?” pancing Layung.
“Nurbaya itu bukan memberontak, Yung. Dia cuma berusaha mengejar cintanya pada Syamsul Bahri.” sahut Sam tiba-tiba.
“Dengan latar di tahun itu, mengejar cinta juga wujud pemberontakan, Sam.” kata Layung mematahkan teori Sam.
“Dia tetap patuh pada keluarga dengan menikahi Datuk Maringgih lho. Dia cuma dijebak dan difitnah oleh Datuk yang cemburu.” kata Sam lagi.
“Heh, kalian ini meributkan apa? Kalau yang kamu maksud Nurbaya memberontak dengan berencana pergi ke batavia menyusul Bahri itu bukan memberontak namanya. Dan Nurbaya juga bukannya patuh, dia berkorban demi melunasi hutang ayahnya...” Wulan menengahi dengan panjang lebar membuat perdebatan antar ketiganya semakin sengit. Aku dan Pijar menonton sambil sedikit-sedikit makan pop corn seperti di bioskop. Pada akhirnya mereka malah tertawa bersama-sama melihatku dan Pijar sudah menghabiskan satu baskom.
Saat perjalanan mengantarkannya pulang aku bertanya pada Wulan mengenai teman-teman satu rumahku. “Kok kamu bisa langsung akrab sama temen-temen kontrakanku?” tanyaku.
“Gak tau. Nyambung aja sih.” jawabnya.
“Emang sama temen-temen kampus gak nyambung?” tanyaku lagi.
“Ya gak juga. Cuma males aja, beda konteks.” jawabnya menghindar.
“Beda gimana?” tanyaku memburu.
“Kalau temen-temen kontrakan kamu itukan udah sering kamu ceritain orangnya gimana-gimana aja jadi ya kaya udah kenal lama aja aku. Kalau anak kampus kan kita gak tau aslinya gimana.” jawab Wulan yang sebenarnya terasa aneh dan mengada-ada tapi kubiarkan saja asalkan kini dia jadi lebih banyak memiliki teman.
Anehnya Layung, Pijar dan Samudra juga menyambut Wulan dengan sangat baik. Semenjak kedatangannya saat itu mereka jadi sering menanyakan Wulan. “Wulan mana?”, “Ajakin Wulan, Ta.”, “Wulan suruh ke sini cepet!”, “Wulan jemput sekalian gak?”, “Seru nih kalau ada Wulan.”. Mereka memborbadirku dengan pertanyaan-pertanyaan itu, terus menerus setiap kali kami kumpul berempat. Akhirnya kubuatkan grup chat yang isinya kami berlima agar mereka bisa membiarkan hidupku tenang dan makin meriahlah suasana. Kini Wulan menjadi bagian dari perkumpulan kami. Seperti ibu untuk rumah kontrakan kami. Kami menjadi keluarga yang saling menjaga satu sama lain. Dan sejak bergabungnya Wulan bersama kami, itu menjadi penutup untuk kami mengajak orang lain bergabung bersama dan begitu pula mesti menolak saat ada yang ingin menyusul saat kami berkumpul berlima. Kami cukup dengan lima orang gila dengan agenda utama perkumpulan kami yaitu merayakan purnama.