Bab 2 - Perkumpulan (1)

1707 Words
Meski kami memiliki ritual sebulan sekali bukan berarti kami hanya bertemu sekali dalam sebulan. Aku, Samudra, Layung dan Pijar tinggal dalam satu rumah kontrakan saat ini. Sebelumnya kami adalah penghuni kos yang kamarnya berdekatan satu sama lain. Kamarku letaknya paling pojok berhadapan dengan kamar Samudra, sebelah kamarku adalah kamar Layung dan di depannya ada kamar Pijar. Rumah kos kami bentuknya memanjang ke belakang. Setelah tempat parkir di depan, ada sepuluh kamar berhadap-hadapan. Lalu ruang dapur, jejeran kamar mandi dan tempat menjemur pakaian. Setelahnya ada empat kamar berhadap-hadapan dan itulah kamar kami. Karena itu tak banyak yang tertarik mampir ke kamar kami kecuali serangga dan kecoa. Letaknya kurang strategis, ada di paling belakang jauh dari pintu masuk. Lorongnya sering kali becek karena air jemuran dan kamar mandi, betul-betul terasa seperti kamar para pembantu. Tapi harga kamar di belakang ini lebih murah sedikit daripada kamar yang lain, itu yang menjadi pertimbanganku. Aku adalah yang pertama kali mengisi kamar belakang ini, kemudian Pijar, lalu Samudra dan Layung. Kami berempat langsung menjadi dekat karena perasaan senasib sepenanggungan. Awal hubunganku dan Pijar sedikit canggung, itu karena perbedaan dialek diantara kami. Pijar ini asli Jogja yang bicaranya medok dan suka mencampur kata bahasa jawa dan bahasa Indonesia dalam satu kalimat. Aku yang pendatang baru di Jawa dibuatnya terpingkal-pingkal setiap kali mendengarnya berbicara. "Aku ki anak pertama, adik-adikku to masih precil-precil, paling gede kelas siji SMP, Ta. Bayangno, di rumah ramene kaya apa, punya adik kembar masih belajar jalan, terus yang gedean SD hobine nangisss wae ditukari mbakne sing SMP. Semuane cewek san aku cowok sendiri, Ta. Ibuku dikit-dikit Mas Pijarrrr tolong ini, Mas Pijar tolong itu. Lha Bapakku meneh, kerjane luar kotanan, kalo di rumah gak iso gak mbedoni si kembar, wes koyo kapal pecah rumahku, Ta. Jejeritan nangis kuabeh. Makanya aku pilih kuliah luar kota, Ta. Ta, kok mesam-mesem wae lho, mudeng ora?" "Aku ini dari Bengkulu, Jar. Baru pertama tinggal di Jawa. Makanya daritadi aku pengen ketawa, ga paham aku kalo bicaramu campur-campur begitu." "Oalahhh, ngomong dong! yaudah tak ceritain lagi dari awal pake bahasa Indonesia." Senang sekali aku berkawan dengan Pijar. Sedikit banyak aku jadi paham bahasa lokal karena dia. Dia juga enak diajak bicara dan sangat toleran, mungkin karena anak pertama jadi bisa dibilang Pijar ini pikirannya lurus dan bijaksana, suka mengayomi dan loyal. Meski belum lama berteman, Pijar selalu mengajak pulang pergi kampus bersama dengan mobilnya, lembaran rupiah dari dompetnya juga ringan sekali keluar untuk urusan makan dan jajan bersama. Seperti uang bisa dicetak sendiri, Pijar tak pernah menganggap itu berarti. Anehnya kenapa dia memilih tinggal di kamar kos yang murah dan pojokan ini, padahal bisa saja dia menyewa apartemen di belakang gedung fakultasnya, fakultas hukum. Sekitar tiga bulan setelah Pijar, Samudra pindah ke kamar di seberangku. Lalu seminggu setelahnya Layung menyusul. Aku dan Pijar berbahagia atas bergabungnya dua manusia itu. Samudra asli Jakarta, jadi sama sepertiku dia tidak paham bahasa jawa. Sedangkan Layung asal Solo, lidahnya satu jenis dengan Pijar. Kini percakapan jadi bisa lebih luas dan luwes. Pijar jadi punya back up untuk menjadi penerjemah bahasa setiap kami mengobrol. Layung juga sangat interaktif dengan bahasa jawanya yang berwarna-warni. Layung adalah mahasiswa baru dari fakultas teknik mesin saat dia pertama pindah di rumah kos kami. Dia orang yang tidak bisa diam, aktif di himpunan mahasiswa jurusannya, aktif juga sebagai anggota mapala fakultas, dan selalu ngoceh setiap nongkrong bersama kami. Tenaganya seperti tak ada habisnya padahal yang dimakan hanya nasi rames dari warteg depan kosan, itu melulu setiap hari. Sampai suatu hari kami ikut-ikutan pesan nasi dari warteg itu untuk membuktikan apa benar nasi rames ini bisa memberi tenaga sekuat Layung. Ternyata tidak, itu hanya berlaku pada Layung. Memang Layung saja yang terlahir penuh energi. Padahal Layung ini badannya kurus dan yang paling pendek diantara kami tapi dia kokoh kuat membawa tas carrier 80 liter sambil mendaki, bahkan Pijar yang badannya lebih besar berisi dari Layung sempoyongan saat diminta menggantikan Layung membawa tas itu. Kalau Samudra, awalnya dia tak banyak bicara. Wajahnya ketus menyebalkan, tapi setelah diajak bicara, terlihatlah sosok aslinya yang konyol dan kekanakan. Sama sekali berbeda dengan penampakan tubuhnya. Diantara kami berempat bisa dibilang memang Samudra yang paling good looking. Badannya terawat dengan baik, kulit putih, tinggi -meski tak lebih tinggi dariku-, sedikit berotot, banyak penggemar. Meski begitu dia bukan tipe cowok b******k yang suka mempermainkan hati wanita. Hari-harinya sibuk dengan belajar, membaca buku, dan pergi ke laut atau pulau untuk menyelam. Samudra ini mahasiswa fakultas ilmu kelautan. Keluarganya menjalankan bisnis kerang mutiara, rumput laut dan terumbu karang. Anak tunggal yang sudah digariskan sebagai penerus kejayaan keluarganya. Tapi dia menolak hidup bermewah-mewah. Dia lebih memilih hidup bersahaja dengan uang beasiswa selama tinggal di perantauan. Sekitar satu tahun kami bertahan di rumah kos itu. Pada tahun kedua pemilik kos mulai serakah. Dia menaikkan harga sewa kamar kami 35% dari biasanya. Bagiku dan Layung itu sama dengan puasa satu minggu. Kami berdua memutuskan untuk pindah mencari kamar kos lain. Samudra dan Pijar tidak merisaukan kenaikan harga kamar, tapi mereka memutuskan ikut pindah bersamaku dan Layung setelah mendengar keputusan kami. Lalu entah bagaimana Pijar datang membawa solusi yang lebih baik. Pijar menemukan sebuah rumah yang dikontrakkan di dalam gang perumahan cukup jauh dari kos lama kami tapi dekat dengan gerbang utama kampus. Rumahnya tampak masih baru, dengan halaman depan untuk parkir, ruang tengah, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur dan halaman belakang. Bukan rumah yang sangat besar pun tidak kecil dan mengenaskan seperti kamar kos kami sebelumnya. Harga sewa yang ditawarkan juga terasa lebih murah dari pasaran rumah kontrakan biasanya. Tentu saja kami setuju untuk langsung pindah ke rumah itu. Di rumah kontrakan ini aku memilih satu kamar dengan Samudra, Layung sekamar dengan Pijar. Tidak ada alasan khusus tapi karena pilihan ini Layung dan Pijar jadi semakin menggila menyetel lagu koplo kencang-kencang setiap malam. Aku dan Samudra terpaksa bertahan dengan itu. Sejak tinggal dalam satu atap kami jadi makin mengenal satu sama lain, saling bergantung seperti sebuah keluarga. Pijar sebagai bapak rumah tangga dengan sabar membereskan semua kekacauan yang kami perbuat pada rumah ini. Tiap malam dia pula yang selalu menggembok pagar dan mengunci pintu. Menyediakan martabak, gorengan, roti bakar, atau singkong keju setiap kali ada yang harus begadang mengerjakan tugas atau saat kami kumpul bersama untuk main PS di akhir pekan. Diam-diam dia selalu menanyakan kabar kami satu per satu, dia pula yang paling sigap saat salah satu dari kami ada yang jatuh sakit. Berbanding terbalik dengan Pijar, teman sekamarnya adalah seorang biang kerok. Layung tak pernah berhenti membuat onar. Bersama dengan Samudra mereka selalu siap membakar rumah ini menjadi abu dengan perdebatan panas tentang dunia politik dan ekonomi. Belum lagi percakapannya dengan Pijar membahas berita terkini, pasti berujung dengan perdebatan panjang dan alot. Itu terjadi bukan karena Layung idealis atau visioner, tapi karena dia senang mempelajari psikologi dan jalan pikir orang lain. Dia sengaja selalu kontra dengan pendapat lawan bicaranya agar bisa mengamati cara berpikir lawannya. Mengorek-ngorek asal usul mereka bisa berpendapat seperti itu, mempelajari cara mereka mempertahankan pendapat, menyerang dengan jawaban konyol hingga lawannya kesal, dan menikmati bagaimana respon dari lawan bicaranya itu. Itulah cara yang Layung pilih untuk memahami seseorang, menyebalkan tapi efektif dan sejauh ini selalu berhasil menelanjangi orang-orang. Yang paling sering dikerjai Layung adalah Samudra. Sam ini mudah sekali menyambar umpan. Dipancing sedikit dia akan langsung menjabarkan teori-teori yang tak ada habisnya. Dia tak pernah kekurangan materi untuk menangkis omongan Layung karena kebiasaannya membaca. Mulai dari liputan berita, jurnal, biografi, ensiklopedia, bahkan koleksi novel sastraku pun ikut menjadi santapannya. Seperti tak pernah kenyang, Sam selalu mencari bacaan baru, mencari hal baru untuk dipelajari. Begitu juga Samudra menaruh minat pada sastra, apalagi puisi. Sampai kadang aku berpikir seharusnya Sam bisa mengisi kuliah sastra. Dia menjiwai buku puisi lebih dalam daripada dosen-dosenku. Benaknya lebih peka, intuisinya kuat, kesadarannya bisa dengan cepat melayang terhanyut masuk dalam barisan kata. Ditambah wawasan yang luas dan terbuka, aku bahkan tak bisa menebak sedalam apa pikirannya. Dengan sifatnya yang sering impulsif dan pembawaannya yang riang tanpa dosa, kami sadar ada banyak hal dari Samudra yang ingin dia sembunyikan. Terlalu kontradiktif, mengecoh untuk dipahami sekaligus menyenangkan. Dia selalu menjadi orang yang ingin kita berkumpul bersama, paling kencang menertawakan Pijar, paling receh candaannya. Dia adalah pemberi warna di kontrakan. Kurasa karena Sam adalah anak tunggal karenanya ia suka mendapat perhatian dari saudara-saudara yang tak dia miliki. Umpama Pijar adalah bapak maka Samudra adalah anak bungsu. Si beban keluarga yang menggemaskan, yang kehadirannya dirindukan semua orang. Hampir tiap malam kami menghabiskan waktu bersama jika tidak ada tugas atau kegiatan kampus. Kadang main PS, nongkrong di kafe yang sedang diskon, makan di burjo langganan, nonton bioskop, main game, datang ke konser musik, macam-macam. Paginya tentu saja kuliah. Anehnya kami sama-sama serius dengan pendidikan kami. Tidak ada yang namanya bangun kesiangan, apalagi bolos. Yang ada adalah buku berserakan di sana sini seperti pasar loak. Saling pinjam buku, baju, sepatu, sudah tak perlu lagi permisi. Kami juga saling membantu untuk urusan tugas, apalagi Samudra dan Layung yang esainya menggunung. Tiap ujian pun kami saling berbagi jadwal agar bisa saling mengingatkan. Dengan begitu saat nilai akhir keluar, barangsiapa mendapat ipk terendah dia akan menjadi olok-olok. Apalagi bila tidak mencapai batas cumlaud, akan menjadi bahan sindiran satu semester penuh. Pernah terjadi pada Pijar di semester ketiga. Dia tak henti-hentinya menggerutu atas satu nilai C di mata kuliah umum yang juga diikuti Layung yang mendapat nilai A. Layung puas menindas Pijar, begitu pula aku dan Samudra. Menyenangkan sekali mesti hanya satu semester sebab pada semester berikutnya Pijar justru meraih ipk tertinggi diantara kami. Dengan tinggal bersama kami juga jadi saling mengetahui lingkar pertemanan masing-masing. Tak jarang kami membawa teman kampus ke kontrakan untuk mengerjakan tugas kelompok atau beberapa teman ikut menyusul saat kami sedang nongkrong. Tentu saja sebagian besar dari mereka adalah para gadis yang berusaha keras mendapatkan hati Samudra dengan sia-sia. Lalu sebagian sisanya adalah kawan-kawan satu jurusan yang tidak cukup akrab untuk dapat masuk dalam lingkar perkumpulan kami. Kecuali satu orang yang entah bagaimana sudah menjadi bagian dari perkumpulan kami sejak pertama kali datang ke kontrakan. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Wulan, kawan satu jurusanku. Gadis yang bersinar seperti purnama di mataku. Dan kurasa membawanya ke kontrakan kami adalah hal yang paling aku sesalkan dalam hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD