Bab 1 - Merayakan Purnama

1885 Words
Perkenalkan, namaku Semesta, biasanya aku memperkenalkan diri dengan panggilan Ta, pendek saja. Aku asli Bengkulu, saat ini sedang menyelesaikan studi sastra Indonesia di salah satu universitas di kota Semarang. Esok pagi aku akan menghadap beberapa dosen yang agung untuk mempresentasikan skripsi hasil kuliahku selama empat tahun di sini. Selama empat tahun, empat tahun. Tak habis pikir, bagaimana bisa ilmu yang kudapat selama empat tahun kuliah harus disimpulkan dalam satu buku skripsi ini? Terlalu banyak materi yang tidak bersinggungan dengan tema yang aku angkat, materi-materi itu adalah ilmu, dan ilmu-ilmu itu mendiami otakku. Setelah mengisi pikiran dan mempengaruhi perilaku, ilmu-ilmu itu mulai menyesaki, hampir meledak keluar. Agaknya skripsi ini media perantara yang pantas untuk memuntahkan sebagian isi pikiranku, tapi cuma bisa sebagian, sebagian kecil. Makanya, menulis skripsi itu sulit, harus memilah dan memilih dari semua yang menyesaki pikiran. Aku mengerti sekarang mengapa banyak mahasiswa yang kuliahnya lama terhenti di skripsi. Setelah perjalanan panjang memilih dan memilah, sekarang aku sampai pada puncaknya. Membuat presentasi dan mempersiapkan diri menjadi juara atas sidang skripsi di hadapan para dosen yang agung. Otakku ini cemerlang, tak perlu diragukan pasti lulus tanpa revisi, jadi langsung saja pikirkan langkah selanjutnya. Perayaan. “Habis sidang kita kemah kemana enaknya, Sam?” “Wulan udah nyiapin acara. Lo pikirin sidang skripsi aja, Ta.” “Acara apaan?” “Rahasia.” “Dih! Besok purnama lho, Sam.” “Iye, tau bawel! Udah percaya aja ngapa dah! Gunting rambut sana, besok sidang juga!” Sebenarnya bukan sidang skripsi yang perlu dirayakan, tapi malam bulan purnama. Teman sekamarku, Samudra, harusnya tahu betul hal itu. “Purnama itu eksklusif, hanya sebulan sekali muncul, harus dirayakan!” itu kalimat yang terus menerus dia katakan untuk meyakinkan kami -Aku, Layung, Pijar, dan Wulan- untuk merayakan kemunculan purnama setiap bulan. Jika sudah mendekati jadwalnya, Sam akan berubah menjadi seorang bocah keras kepala yang merengek terus menerus gigih tak kenal waktu dan tempat, sampai kami merasa jengah dan menurutinya. Sam yang jurusan ilmu kelautan nampaknya sudah tersihir oleh hubungan bulan dan laut. Jika dia sudah mulai mendongeng, tidak bisa lagi dipisahkan antara romansa dan horor, antara nyata dan mitos. “Si betawi ganteng ini benar-benar sudah miring pikirannya. Keblinger tenan! (bener-bener keblinger!)” kata Pijar sambil geleng-geleng pada saat Samudra menjelaskan hubungan antara pasang surut laut dan bulan sebenarnya adalah pengorbanan laut yang membiarkan dirinya tumpah demi bulan purnama yang dicintainya bisa bercermin menikmati keindahan dirinya sendiri. “Makanya baca buku, Jar! Gaya gravitasi bumi menarik bulan semakin dekat, membuat permukaan laut naik ke darat karena tekanan dari gravitasi bulan, itu artinya apa? artinya laut sudah mengorbankan diri, sebab bumi sudah mencintai bulan sedari awal, laut membiarkan dirinya menjadi perantara, mempersilahkan cinta bumi terefleksi melalui permukaan laut yang naik meluap-luap. Ini romantisme, Jar. Bagaimana bisa tidak dirayakan?” Meskipun awalnya kami merayakan purnama karena obsesi Sam, tapi selanjutnya aku sendiri merasa purnama memang pantas untuk dirayakan. Sinar rembulan saat purnama selalu membuatku takjub, bagaimana bisa sinarnya yang temaram menjelma menjadi lampu panggung mengubah semua yang ada diatas bumi menjadi makhluk rupawan ketika bulan utuh bulat sempurna. Bintang-bintang tunduk, awan menyingkir, memberikan waktu bagiku untuk menjadi lebih terang, bersinar, tampan dan siap menjadi perhatian dunia. Tidak seperti matahari yang cahayanya terasa hangat, bagiku cahaya purnama terasa segar bak kabut yang turun dari puncak pegunungan, ringan saja merasuki inti sukma. Membuatku merasa terisi, penuh dengan energi. Dan terutama, kenapa purnama perlu dirayakan itu karena tidak ada pemandangan yang lebih indah daripada mata Wulan yang memantulkan bayangan bulan purnama di malam-malam yang kami habiskan dengan canda dalam hangatnya api unggun. Mata dan senyuman, juga suaranya menyatu padu dengan cahaya keperakan purnama, suasana surgawi yang menjadikan purnama pantas, wajib, dan harus dirayakan tiap bulan. Tentu saja Wulan tidak tahu perasaanku ini. Di depan Wulan aku sebisa mungkin terlihat segila Samudra yang mencintai bulan purnama. Seperti angin yang diam-diam mencintai rerumputan, aku hanya ingin Wulan tahu aku ada tapi tidak untuk memilikinya. Karena aku tahu, siapa yang jadi bulan purnama bagi Wulan. "Lan, apa arti purnama bagimu? Kenapa kamu mau aja ikut merayakan purnama?" "Kenapa aku mau aja ikut terseret dengan kegilaan kalian maksudmu? Kenapa ya, Ta? Sepertinya aku sudah sama gilanya dengan kalian." "Ayolah, Lan. Kamu tau bukan itu jawaban yang aku mau." "Sebenarnya aku juga tidak benar-benar mengerti alasannya, Ta. Waktu pertama aku ikut merayakan purnama, aku merasa seperti ditelanjangi oleh bulan purnama. Aku merasa sang purnama tau siapa aku sebenarnya. Dia membelaiku dengan sinarnya yang keperakan, seperti mengatakan aku tak perlu menjadi orang lain, aku tak perlu menjadi sok kuat dihadapannya. Seperti belaian ibuku dulu. Purnama mengambil beban dari pundakku, membiarkan aku lepas sebentar, menikmati dunia. Aku sebatang kara sejak orang tuaku meninggal. Dan itu membuatku mau tak mau harus menjadi kuat seorang diri. Aku tidak masalah dengan itu, aku sudah terbiasa sekarang. Tapi saat bersama kalian membuatku sadar siapa aku sebenarnya. Itu yang membuatku sangat menikmati ritual sebulan sekali kita, merayakan purnama, Ta." “Oh, jadi bukan Sam alasannya?” “Iya pertamanya sih karena diajak Samudra.” jawaban yang ditutup dengan senyum malu-malunya itu selalu membuatku gemas, seandainya senyum itu untukku pasti sempurna. Selain Wulan aku juga pernah menanyakan arti merayakan purnama pada Pijar dan Layung. Suatu malam di camping ground Desa Promasan Gunung Ungaran, kami sempat berbincang-bincang perihal ini. “Ayo main truth or dare!” ajak Sam. “Aku duluan. Pijar, truth or dare?!” tanyaku langsung pada Pijar. “Hih, kok langsung aku lho!” “Ayo cepet-cepetan jawab, Jar! Yang lama jawabnya langsung kena dare.” tangkis Sam. “Truth!” langsung saja diucapkan Pijar, karena dia pasti tahu akan dikerjai habis-habisan jika memilih dare. “Jujur, apa arti merayakan purnama buat kamu?” tanyaku. “Halah, pertanyaan retoris. Artinya pergi kemping sama kalian.” “Ayolah, masa artinya cuma itu, Jar?” tanya Sam tidak puas. “Jawab jujur, Jar. Dari dalam hati gitu lho!” sambung Layung lalu terkekeh. “Iya itu, arti merayakan purnama ya berarti kemping sama kalian. Kan memang tiap purnama kita kemping berlima doang, kan? Itu udah paling jujur kok.” “Jadi yang perlu dirayakan kempingnya dong, bukan purnamanya?” tanya Wulan. “Ya, gak gitu juga, Lan. Bulan purnama memang cantik, sih. Dulu waktu aku masih kecil, aku sering diajak bapak sama simbahku bertapa di gunung atau di sungai pas bulan purnama. Padahal aku ngantuk banget, mana banyak nyamuk, tapi tetep harus ikut. Gara-gara itu juga aku jadi diejekin dijauhin sama temen-temenku, makanya dulu aku sebel banget kalo udah mau purnama.” “Lha kok kamu masih mau aja diajakin Sam merayakan purnama, Jar?” tanya Layung. “Lha mboh (gak tau).” jawab Pijar spontan tak mau mikir. “Sekarang udah jauh-jauh sekolah keluar kota, tapi tetep aja diajaknya nonton bulan purnama ya, Jar?” sambung Wulan. “Namanya juga takdir. Tapi kali ini aku lihat purnama udah ga kaya waktu aku kecil lho. Dulu purnama itu seperti dewa, aku bertapa untuk bisa menyerap kekuatan dari cahayanya. Sekarang purnama kelihatan teduh, cantik, kalem, gak ada serem-seremnya.” “Kamu jadi bisa melihat wajah lain dari bulan purnama melalui perayaan purnama ini ya, Jar?” tanyaku lagi. “Iya, Ta. Mungkin karena itu makanya aku seneng aja merayakan purnama bareng kalian. Berarti arti merayakan purnama buatku ya menikmati sisi yang lebih indah dari purnama yang selama ini aku kenal.” “Wih, puitis banget kamu, Jar.” ledek Layung. “Kamu dari tadi puas ngeledekin aku terus ya, Yung. Coba jawab pertanyaannya Semesta, Apa arti merayakan purnama buat seorang Layung? Pasti cuma karena kamu mapala suka jalan-jalan to?” Pijar tak mau kalah. “Ayo jawab, Yung. Yang jujur dari dalam lubuk hatimu yang terdalam.” kini Sam yang meledek Layung. “Hah, gampang. Dengarkan baik-baik, bagiku merayakan purnama itu merayakan persahabatan kita. Aku menghargai Sam yang tergila-gila dengan bulan purnama, jadi ya apa salahnya memilih tanggal pas bulan purnama sebagai hari perkumpulan kita. Yang penting bagiku kita bisa senang-senang bareng seperti ini, sebulan sekali lepas dari tugas kuliah, rapat himpunan, rapat ukm, laporan praktikum…” “Iyaa iyaaa yang aktif organisasi, sibuk terusss…” Wulan memotong omongan Layung. “Makasih lho, Yung, aku dianggep sahabat.” pecah tawa Pijar meledek Layung. “Kamu memang semprul, Jar, tapi kalo ga ada kamu nanti aku pinjem duit sama siapa pas akhir bulan?” balas Layung dan kami semua tertawa. “Yung, tapi kamu juga mengakui romantisme bulan purnama, kan?” tanya Sam belum puas kalau jawabannya belum berhubungan dengan bulan purnama. “Sampai sekarang masih gak ngerti sih romantisnya dimana, tiap hari ada bulan, tiap bulan juga bakal purnama, bulan pun bakal disitu-situ aja gitu, Sam. Cuma ya emang nikmat banget kemping kaya gini. Kalau menurutku nih, sebenarnya yang eksklusif itu bukan purnamanya tapi acara kita kumpul begini.” “Iya ya, Yung. Kita kumpul berlima kemping begini kan bisa tiap hari, tapi kenyataannya kejadian kalo pas purnama doang.” Wulan menambahi. “Itu karena kita sudah termindset, Lan. Istilahnya nih, sudah tercatat di alam bawah sadar kita. Tiap bulan otomatis liat kalender, mencari jadwal purnama, meluangkan waktu, mencocokkan jadwal dengan yang lain. Begitu terus hampir empat tahun. Kita menspesialkan hari ini, kita yang membuatnya eksklusif.” “Jadi, bukan purnama yang perlu dirayakan, tapi perkumpulan kita ini, Yung?” tanyaku pada Layung. “Leres (betul) mas Semesta!” jawab Layung. “Tapi bulan purnama memang cantik kok, Sam. Malam jadi terang benderang. Jangan ngambek gitu to.” tambah Layung sambil mencubit dagu Sam, dan sekali lagi tawa meledak menghangatkan malam kami. Aku sendiri sulit memahami kecintaan Samudra pada purnama. “Aku mengagumi purnama, Ta. Kemunculannya selalu kurindukan. Penampakannya menghangatkan. Hanya dengan memandanginya saja aku merasa seperti terlahir kembali. Apalagi setelah aku mendalami tentang siklus rotasi bulan, aku seperti sadar bahwa untuk bisa memandangi purnama seperti ini adalah berkat, makanya kita harus selalu merayakan purnama bersama-sama, Ta, kita harus merayakan hadirnya kembali purnama diantara kita dengan suka cita." begitu katanya saat aku menanyakan tentang purnama pada Sam di suatu perayaan purnama kami. Ku pikir awalnya Sam mengagumi keindahan sosok purnama itu sendiri, lama-lama ia membuat ikatan batin yang kuat dan mendramatisir keberadaan purnama, tapi sahabatku Sam tentu saja tidak sedangkal itu. "Kenapa purnama, Sam? Matahari kan lebih powerfull." "Aku bukan mengagumi kekuatan, Ta. Bukan berarti aku tidak mengagumi matahari juga." "Apa karena namamu Samudra, makanya kamu merasa terikat dengan rembulan?" "Heh, namamu Semesta berarti kau merasa harus terikat dengan alam?" "Iya juga ya. Terus kenapa purnama, Sam?" "Karena aku memilih purnama dan purnama memilihku, Ta. Tak ada padanan kata dalam kamus manapun untuk bisa menjabarkan kenapa Samudra menggilai purnama." Kurasa cara Sam mencintai purnama memang tidak untuk dipahami orang lain melainkan hanya untuk dirinya sendiri. Bagiku kegilaan Sam pada purnama masih pada taraf kompromi, dia tak pernah memaksaku untuk memiliki sudut pandang yang sama dengannya, ia pun menerima cara kami memaknai purnama, justru kami berhasil menemukan arti yang kami resapi masing-masing berkat Samudra. Begitulah kami selalu merayakan purnama. Masing-masing kami berangkat dengan alasan yang berbeda, namun kami menikmati momen yang sama. Awalnya saja terasa konyol, tapi selanjutnya justru menjadi hal yang paling utama. Purnama menjadi perantara, media, alasan untuk kami merayakan ikatan yang tumbuh diantara masing-masing diri kami. Purnama menjadikan kami utuh, satu kesatuan yang tak terpisahkan hari ini. Purnama pun menjadi sebab sekaligus akibat kami menghargai hubungan rumit yang tanpa sadar semakin liar dan di luar kendali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD