Bab 8 - Mantra (1)

1684 Words
Seminggu sudah berlalu, akhirnya besok gerhana datang juga. Gerhana bulan langka yang telah kami tunggu-tunggu. Dalam seminggu ini banyak sekali yang terjadi. Setelah aku sakit, Wulan juga ikut sakit. Dia muntah-muntah, demam, tak nafsu makan. Mungkin tertular dari sendok yang digunakannya menyuapiku tempo hari. Sehari kemudian Layung kehilangan laptop di kampus, padahal semua data skripsinya ada di laptop itu. Keadaannya lebih buruk dari sakit, dia marah-marah mencaci maki apapun yang bisa dicaci maki, kemudian diam terus menerus tak mau makan tak mau beranjak dari kamar. Telepon dari Bu Lina yang kemudian menjadi penyemangat hidupnya kembali. Sam dan Pijar juga ada-ada saja, mereka babak belur dalam kerusuhan antara demonstran dan aparat pengamanan pada saat demo kenaikan harga bbm di Gedung Gubernuran. Aku tak tahu apa ini bisa disebut beruntung sampai kami akhirnya bisa merayakan purnama dalam keadaan sehat dan lengkap esok hari. ”Kamu udah packing belum, Sam?” tanyaku gemas karena beberapa hari ini dia hanya sibuk membaca buku padahal keadaan kontrakan sedang kacau balau bak posko pengungsian. “Aman. Tinggal beli logistik.” Sam menjawab dengan mata masih menatap buku. Aku penasaran itu buku apa, sampulnya tampak asing belum pernah kulihat sebelumnya. Kutundukkan kepalaku agar bisa membaca judul dan pengarangnya, tapi belum sempat terbaca Pijar memanggilku dari luar. ”Sam! Ta! Bantuin sini! Mobilnya gak mau nyala.” Pijar menyuruh kami berbegas keluar. ”Yang ngerti gituan kan Layung!” jawabku dari kamar sambil beranjak bangun menuju parkiran. Jika mobil Pijar yang selama ini selalu baik-baik saja tiba-tiba ikut mogok tak mau menyala tepat sehari sebelum merayakan purnama terjadi maka bisa disimpulkan bahwa alam semesta sedang berusaha untuk menghalangi kami menikmati gerhana, kan? ”Udah diservis belum sih?” tanyaku pada Pijar yang sedang mengamati Layung mengotak-atik mesin mobilnya. ”Belum. Rencananya besok abis dari pulau biar sekalian dicuci.” jawab Pijar dengan alis berkerut di tengah dahinya. ”Apanya yang rusak, Yung?” tanyaku pada Layung yang sekarang pindah ke bagian bawah mobil. ”Ini juga lagi dicari, Ta.” jawab Layung sambil menarik Pijar ke bawah untuk membantunya memegang senter. ”Pertanda nih gak boleh kemana-mana pas gerhana. Tau gak mitos anak-anak sama ibu hamil gak boleh keluar rumah pas gerhana? Nanti diculik iblis.” celotehku berusaha menurunkan tensi Pijar dan Layung yang sedang tinggi. ”Emang kita anak-anak? Lagian sejak kapan kita percaya mitos? Ini bukan pertanda, Ta. Tapi ujian keteguhan hati, niat gak kita melalui semua rintangan untuk merayakan purnama langka. Biasanya nih kalau ujiannya banyak nanti hasil akhirnya pasti spektakuler.” Sam tiba-tiba muncul dan langsung menyahut omonganku. ”Niat sih niat, tapi kalau ni mobil gak nyala gimana? Naik angkot sampe Jepara?” jawabku menyindir. ”Kayanya seru juga ngeteng sampe Jepara. Naik bis dari sini ke terminal, terus langsung ke Jepara.” Sam malah bersemangat dengan rencana itu. ”Haduhhh, mending bawa ke bengkel aja deh ni mobil.” kataku malas. Membayangkan naik turun kendaraan umum dengan tas sebesar kulkas di punggung pasti merepotkan sekali. Saat sedang memikirkan angkutan umum, Layung mendadak berteriak dari bawah mobil. Meminta seseorang coba menyalakan mesin. Sam seketika masuk ke mobil, mencoba menstaternya sekali lagi. Dan mesin mobil langsung menyala. ”Tuh kan! Cuma butuh keteguhan hati, Ta.” kata Sam dari dalam mobil. ”Keteguhan hati lambemu! (mulutmu!) Butuh kerja kerasku ngotak-atik mesin iyo!” Layung menyambar omongan Sam. Kami tertawa melihatnya kesal mengelap tangan yang belepotan oli. ”Good job, Yung! Gak rugi kuliahmu empat tahun.” puji Pijar senang mobilnya sudah menyala lagi. ”Good jobmu kui (itu)! Mobil pernah diservis ora sih? (gak sih?) kotore nemen! (kotor banget!)” Layung tambah kesal dengan pujian Pijar. ”Iyo sesuk tak servis! (Iya besok aku servis!) Full tune-up! Ojo kuatir! (Jangan khawatir!)” jawab Pijar sambil merangkul Layung. Esoknya kami sudah bersiap-siap dari pagi. Pijar membawa mobil ke bengkel, Layung dan Wulan berbelanja lauk pauk ke pasar, aku dan Sam mengecek kembali peralatan berkemah. Sekitar pukul 11 kami menyelesaikan semua persiapan lalu berangkat dari kontrakan. Tidak satu pun dari kami tahu jalan, hanya berbekal GPS online kami akhirnya bisa sampai di Pantai Kartini. Karena bukan akhir pekan pantainya sepi tidak banyak pedagang dan pelancong. Kami rombongan satu-satunya dan sudah pasti menarik perhatian nelayan yang menyewakan perahunya untuk wisata. ”Mas mau nyebrang pulau ya? Sama saya aja mas, langsung saya antar. Kalau mau kemah juga boleh, saya jemput lagi besoknya.” Seorang bapak-bapak berumur sekitar 40 tahun mendekati kami dan langsung menawarkan jasanya. ”Kok Bapak tau kita mau kemah?” tanya Layung menanggapi si bapak. ”Lha itu tasnya segede lemari. Banyak kok yang sering kemah di pulau mas. Apalagi malam minggu. Mereka biasanya booking perahu dulu lewat telepon, soalnya perahu di sini jeda keberangkatannya lama.” terang Pak Nelayan. ”Oalah pantes perahunya gak banyak ya, Pak.” sambung Pijar. ”Bapak namine sinten? (Bapak namanya siapa?)” tanya Layung sopan ”Kulo Risman mas.(Saya Risman mas.)” jawab Pak Risman. ”Kulo Layung, niki Pijar, Wulan, Semesta, terus niku ingkang paling bagus dewe Samudra. Menawi badhe nyebrang pripun nggih pak carane? Tumbas tiket riyin wonten dermaga nopo saget langsung kalih Pak Risman? (Saya Layung, ini Pijar, Wulan, Semesta terus itu yang paling ganteng sendiri Samudra. Kalau mau menyebrang bagaimana ya pak caranya? Beli tiket dulu di dermaga atau bisa langsung sama Pak Risman?)” tanya Layung dengan bahasa yang lebih rumit dari biasanya. ”Kersane mas. Langsung kalih kulo nggih saget tapi mangke mboten saking dermaga munggahe. Saking wingkinge warung kulo. Menawi badhe tumbas tiket teng loket nggih saget nanging luwih awis. (Terserah mas. Langsung sama saya juga bisa tapi nanti bukan dari dermaga naiknya. Dari belakang warung saya. Kalau mau beli tiket di loket juga bisa tapi lebih mahal.)” jelas Pak Risman. “Mangke wangsule pripun nggih, pak? Dijemput malih kalih Pak Risman? (Nanti pulangnya gimana ya, pak? Dijemput lagi sama Pak Risman?)” Layung lanjut mengobrol dengan Pak Risman. “Nggih mas. Menawi pingin kula jemput nggih saget. Menawi badhe numpak prau liyane nggih mboten nopo-nopo. Dipaske kalih jam wangsule njenengan mawon to. Kula biasane nyebrang sore, yen isuk niku rencang kula liyane. (Iya mas. Kalau mau saya jemput lagi juga bisa. Tapi kalau mau naik perahu lain juga gak apa-apa. Disesuaikan dengan jam kepulangan Masnya saja. Biasanya saya nyebrang sore, kalau yang pagi ada teman saya yang lain.)” Pak Risman menanggapi pertanyaan Layung. “Ooh, langsung numpak saanane prau nggih pak? (Langsung naik seadanya perahu ya pak?)” Layung bertindak sebagai penerjemah menerangkan padaku dan Samudra maksud perkataan Pak Risman. Kami lalu berunding sebentar untuk memutuskan apakah Pak Risman ini bisa dipercaya atau lebih baik memilih jalur resmi di dermaga. Sebagai orang awam kami memilih jalur resmi yang lebih pasti daripada lewat jalur belakang, tapi untuk berjaga-jaga kami tetap menyimpan nomor telepon Pak Risman seumpama besok tidak ada perahu menyebrang yang bisa mengangkut kami. Kami berjalan ke dermaga dan membeli tiket. Dermaga ini menyediakan fasilitas untuk menyebrang ke pulau atau hanya sekedar rekreasi wahana air. Ketika kami diarahkan untuk naik perahu ternyata perahu Pak Risman juga yang kami tumpangi. ”Lho Pak Risman lagi.” kataku spontan ketika melihat Pak Risman di atas perahu. ” Iya mas, sama saja sama saya lagi.” kata Pak Risman sambil menyalakan motor perahu. ”Kaget saya, perasaan tadi masih di belakang. Tahu-tahu bapak udah ada di atas perahu aja. Besok Pak Risman juga yang jemput, Pak?” tanyaku karena aku duduk paling belakang bersebelahan dengan Pak Risman jadi sekalian saja kuajak berbincang. ”Iya mas. Masnya untuk apa ke pulau?” tanya Pak Risman dengan mata tetap melihat ke depan. Ekspresinya serius, berbeda dengan saat berbicara dengan Layung. ”Nanti malam ada gerhana bulan langka, Pak. Kami mau lihat dari pinggir pantai.” jawabku singkat. ”Mas tahu tidak jaman dulu gerhana itu berarti mala petaka, bencana. Lebih baik jangan dilihat mas.” kata Pak Risman dengan nada datar. ”Iya pak, saya dulu juga waktu kecil dikasih tau gitu, jangan keluar nanti diculik iblis yang makan purnama. Setelah dewasa saya jadi tahu kalau itu cuma mitos yang bersumber dari kepercayaan turun temurun. Beda lagi kalau dilihat dari sudut pandang sains atau ilmu pengetahuan. Nanti malam itu fenomena alam langka yang cuma terjadi seratus tahun sekali, Pak. Sayang sekali kalau dilewatkan.” kataku panjang lebar. ”Memang untuk orang di jaman ini hal-hal seperti itu justru ditunggu-tunggu. Padahal di tempat lain gerhana bisa jadi penyebab kematian banyak orang. Taruhannya nyawa.” kata Pak Risman sambil mengemudi. ”Kok bisa, pak?” tanyaku kaget mendengar Pak Risman tiba-tiba menyambungkan gerhana dengan kematian banyak orang. ”Apa yang mas sebut mitos itu seringnya memang berdasar pada kepercayaan dari orang jaman dulu, orang sekarang menyebutnya tahayul. Tapi mitos terbentuk bukan karena asal-asalan, pasti ada susur galur asal muasal mitos itu ada dan dipercaya. Dunia ini tidak hanya ditinggali oleh kita saja. Alam dan isinya penuh misteri yang tidak terduga pikiran. Kita hidup berdampingan dan bergantung dengan alam jadi ada baiknya kepercayaan dari jaman dulu tetap dilaksanakan. Untuk itu, lebih baik berada di dalam rumah atau berada di dalam tenda selama gerhana terjadi, demi keselamatan mas dan kawan-kawan.” tutur Pak Risman menerangkan. Tangannya sigap membelokkan kemudi, matanya tajam menatap pulau di kejauhan yang mulai nampak. Aku masih tak bisa menangkap apa hubungan gerhana dengan pertaruhan nyawa yang dikatakan Pak Risman sebelumnya. Meski kata-kata Pak Risman ada betulnya juga. Mitos kadang terasa konyol tak masuk akal tapi pasti ada asal muasal sebab akibat mitos itu dipercaya dari generasi ke generasi. Andaikata mitos itu sudah tak relevan dengan keadaan saat ini, kita sebagai generasi muda mesti tetap menghargai dan menghormati orang-orang yang mempercayainya. Sambil memikirkan itu tak terasa kami pun sampai di tempat tujuan kami. Disambut dengan sepasang gapura biru membingkai hutan tropis di atas pasir putih. Aku langsung merasa damai dan nyaman. Seperti di halaman rumahku sendiri. Angin semilir membawa bau asin laut, langit luas tak terhalang kabel atau gedung-gedung pencakar langit, semburat oranye matahari yang mulai turun tahta, membuat hilang semua kekhawatiran dan carut marut perasaan gelisah. Kami langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda dan menuju dermaga lama untuk menikmati senja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD