Bab 8 - Mantra (2)

2049 Words
Pulau ini memiliki akses jalan cor yang mengelilingi pulau. Jangan bayangkan jalan mulus seperti jalan gang perumahan, ini lebih indah beribu kali lipat. Jalan ini lebarnya cukup untuk empat orang, kanan kirinya rimbun oleh tanaman perdu dan pepohonan tinggi. Cabang dari pepohonan saling bertemu membentuk terowongan rimbun membuat cahaya matahari menari indah menerobos sela-sela daun. Burung, tonggaret, mungkin juga fauna lain asli pulau ini tak membiarkan pulau sunyi. Dengan menutup mata membiarkan telinga dan paru-paruku bekerja saja, aku merasa hidupku bertambah satu tahun lebih panjang. Ini pertama kalinya kami datang ke pulau ini. Informasi yang kami miliki hanya sebatas referensi dari internet, jadi kami meniti jalan cor mengelilingi pulau yang rimbun oleh pohon raksasa hingga satu jam tak terasa sampai akhirnya menyadari dimana letak mercusuar dan dermaga yang dimaksud. Dermaga lama ada di bagian barat pulau, persis di depan mercusuar. Karena sudah tidak digunakan, aksesnya tertutup semak belukar tinggi menyisakan setapak jalan kecil yang tidak akan ditemukan bila tidak sengaja dicari. Dibalik perdu rimbun, tersimpan dermaga kayu yang benar-benar romantis mencumbui laut. Papan yang menjadi pondasi berderit terinjak. Aku melangkah perlahan berharap titiannya tak habis sampai ke tengah laut. Sedang yang dilakukan Samudra adalah berlari memburu ujung anjungan lalu melompat ke lautan tenang di bawahnya. “Aaaaa, tolong katakan ini bukan surgaaa!” teriak Sam setelah muncul dari dalam laut. Aku juga tidak bisa menyangkal tempat ini bagai surga tersembunyi. Hanya ada kami dan laut tenang dan angin semribit dan matahari terbenam dan suara tonggaret dan kicauan burung. “Terumbu karangnya cantik banget, ayo nyebur!” tambah Sam. Suaranya menyebarkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi siapa pun yang ikut mendengarnya. Aku tersenyum seperti hari ini adalah hari pertama aku melihat Sam sesenang itu. Layung menyusul melompat masuk ke dalam laut. “Gak ikut lompat?” tanyaku pada Pijar yang tersenyum duduk di sebelahku persis di ujung dermaga. “Lompat gak ya?” dia tampak seperti ingin sekali lompat tapi ragu oleh entah apa. Kubantu dia memutuskan dengan mendorongnya terjun jatuh ke laut saat itu juga. “Ngapain ragu-ragu? Ya lompat, lah!” teriakku pada Pijar yang badannya sedang melesat masuk ke air. “Kamu juga lompat, lah!” perintah Wulan padaku sambil tertawa melihat Pijar yang sudah mulai naik ke permukaan. “a*u ya, Ta!” umpat Pijar begitu badannya mengapung. Aku juga akan melompat, nanti. Saat ini aku sedang ingin menikmati desir angin yang hangat menyapu kulit, melihat lautan berkilau memantulkan sinar matahari, mendengarkan simfoni penghuni pulau, mencium asin laut di udara, dan duduk berdampingan dengan gadis yang kucintai. Aku bisa apa? Hatiku tak mau berhenti bungah, pikiranku tak bisa berhenti memuji paras eloknya yang penuh senyum hari ini. Rambutnya cantik dibiarkan terurai melambai-lambai ditiup angin, penampilannya hari ini seperti peri yang sayap kecilnya disembunyikan dibalik kemeja flannel kotak-kotak favoritnya. Menolehkan kepala, membiarkan mataku menangkap sosoknya yang memungut topi Samudra lalu memakainya, berusaha menahan tangannya yang mendorongku sambil tertawa. Meski hanya sekejap aku merasa cinta seperti inilah yang aku harapkan. Tak perlu memilikinya hanya untukku sendiri, merampas kebahagiaannya mencintai orang lain. “Ta, ayo lompat!” teriak Wulan dari dalam air setelah kalah adu dorong dariku. Aku bangun, menikmati Sam, Layung, Pijar, dan Wulan menungguku lompat sejenak, berjalan mundur lalu lari menerjang lautan. Byurrrrr! Matahari sudah meninggalkan cakrawala seutuhnya. Api unggun telah menyala. Kami duduk mengerubungi api menjaga diri tetap hangat dari angin yang mulai berhembus beku. Langit malam ini cerah tanpa awan, bintang-bintang berbaris menempati rasinya masing-masing dan sang tokoh utama benar muncul sebagai bulan purnama yang perkasa menunggu detik-detik sejajarnya matahari, bumi dan bulan. ”Ta, bulan purnama biasanya cuma sebulan sekali kan?” tanya Wulan yang duduk di sampingku sambil memeluk lutut. ”Benar, Lan. Malam ini kita mendapat kesempatan istimewa. Menemui purnama kedua kali, menjadi saksi gerhana bulan yang mungkin hanya akan kita lihat sekali seumur hidup.” jawabku lugas. ”Bulan malam ini jadi lebih besar dan lebih terang daripada malam-malam lainnya ya.” tambah Wulan sambil menatap rembulan di langit dengan cantiknya. Dia lalu menyandarkan kepala di pundak Samudra yang juga sedang menatap purnama di sebelahnya. ”Bukan bulannya yang jadi besar, Lan. Itu ilusi optik yang tercipta karena jarak bulan yang lebih dekat dengan bumi daripada malam-malam biasanya. Jadi bulan terlihat lebih besar dan lebih terang.” sahut Layung. ”Lebih indah.” tambah Sam. ”Dan lebih kuat.” lanjut Pijar. Samudra tiba-tiba menoleh ke Pijar dengan alis berkerut di dahi. “Aneh. Ini sama seperti di buku.” Dia lalu pergi mengambil buku tua yang sudah beberapa hari ini dia tekuri tanpa henti. Kami berempat diam membisu memperhatikan Samudra membolak-balik beberapa halaman buku itu dengan seksama. “Nih, dengerin. Sang purnama naik bangkit kedua kali. Maha perkasa, maha digdaya. Hatta grahana lahir mengecup bhumi. Maka takliflah aji kekuatan persembahan grahana.” Samudra membacakannya dengan khidmat. “Buku apa itu, Sam?” tanya Wulan mewakili kami semua. “Di buku ini ceritanya bulan purnama punya kekuatan suci yang diturunkan saat terjadi gerhana bulan yang sakral. Grahana lahir mengecup bhumi, seperti kata Layung tadi, bulan mendekat ke bumi. Gerhana malam ini gerhana langka, kan? Yang menjadikan purnama muncul dua kali dalam satu bulan kalender, menjelaskan tentang purnama naik bangkit kedua kali. Dan bulan malam ini lebih indah, lebih kuat, maka perkasa maha digdaya.” Samudra menerangkan dengan berapi-api seperti kesetanan. Mengacuhkan tatapan kami yang sedari tadi bingung mengartikan kata-katanya. “Wah, Sam mulai lagi deh halunya. Siap-siap dengerin dongeng kawan.” celoteh Layung menyindir Sam. “Sam, itu buku apa?” kataku mengulang kembali pertanyaan Wulan yang belum terjawab. “Awalnya kupikir ini sastra klasik, Ta. Setelah k****a berulang-ulang rasanya gak seperti novel. Tapi malah mirip kitab tentang kekuatan suci bulan gitu.” jelas Sam masih dengan alis terkumpul ditengah dahi berusaha meyakinkan kami. “Kekuatan bulan gimana? Kamu ngomongnya jadi persis kaya mbahku di kampung lho, Sam.” sahut Pijar. “Heh, jangan-jangan aliran sesat itu, Sam.” kata Layung bercanda. “Hush, ngece koe ya! (ngeledek ya kamu!) Mbahku bukan aliran sesat, cuma suka ngilmu (mencari ilmu) aja.” Pijar membela diri sambil cengengesan. “Sssttt, masih ada lanjutannya.” Samudra mengangkat tangannya, meminta kami diam dan kembali memperhatikan dirinya. Seperti pemain teater hendak memulai pertunjukan, Sam berdiri diam membiarkan mata kami menelusur gerak geriknya. Suara ombak menyapu pantai, suara retak kayu dimakan api, lalu dersik merdu angin laut mengisi kekosongan panggung saat ini. Saat perhatian kami ada pada Sam seutuhnya, dia mulai bergerak. Mengalihkan pandangan dari buku di tangannya pada kami satu per satu. Masih bertahan dengan ekspresi kaku kerutan alis di dahi, matanya tajam bertemu mata kami yang mulai geli dengan tingkahnya. Kali ini dia beralih memandang lautan di hadapannya, mundur beberapa langkah membuat jarak yang cukup untuk aku dan Wulan juga Layung dan Pijar memperbaiki duduk kami membentuk setengah lingkaran dengan api unggun dan Sam tegak lurus sebagai center di antara kami. Lautan yang ombaknya tenang serta langit malam dengan bintang dan bulan kemerahan terhampar luas di hadapan kami. Layung yang duduk di seberangku mulai tolah toleh antara memandang Sam di sisi kanannya lalu lautan di sisi kirinya, penasaran apa yang ditatap Sam dengan mata tajamnya itu. Wulan disampingku menahan tawa melihat tingkah Layung. “Teaternya kapan dimulai?” bisik Layung saling bertukar pandang dengan Pijar, Wulan, dan Aku berturut-turut. Mengindahkan Sam yang daritadi masih mematung berdiri di tengah kami. Wulan cekikikan tak bisa menahan geli melihat wajah linglung Layung yang kebingungan. Aku dan Pijar mengangkat bahu, menggelengkan kepala sama tak pahamnya dengan Layung. Tiba-tiba Samudra bergerak setelah jeda sesaat. Dengan cahaya api unggun dia membaca lagi buku yang disebutnya kitab kekuatan suci bulan itu. Dia menarik nafas panjang, lalu dengan suara lantang membacakan bait lanjutan dengan gagah. “Mila prahara mandhapa prahara, ratri dadosa asrep, gepak, lan cekam. Kajengipun purna candra lajeng ical ugi mboten malih muncul lebeting abad-abad salajengipun. Seganten lebak amuk, samesta purna, tiyang priyantun gerilya, dadosaken ewed kekiyatan kagem ngupadi purna candra ingkang wiyos saking guwa garba kang pejang dipunjapeni. Mila prahara tandas sasampuni purna candra panggihaken malih katiganipun.” setelah mengatakannya Sam menurunkan buku lalu mendongak ke atas menatap purnama. Aku bergidik merinding mendengar bait yang dibacakannya. Yang lainnya terkejut dengan suara Sam yang menggelegar memecah keheningan. Mata kami masih sama menatap Sam yang sekarang balik mematung menatap purnama. “Udah, Sam?” tanya Layung kembali bingung menunggu gerakan selanjutnya. Sedetik kemudian kurasakan firasat buruk. Angin tiba-tiba kencang meniup api unggun, menerbangkan pasir, mengacak-acak tenda. Gemuruh dan kilat muncul. Ombak mengganas hampir meraih kami. Lalu petir mulai menyambar-nyambar menciptakan suasana tegang. Aku, Wulan, Layung dan Pijar tertegun, kaget melihat keadaan alam yang tadi tenang dan damai berubah seketika penuh amuk. Wulan meremas ujung kaos yang kupakai, dia menutup matanya dengan lengan satunya untuk menghalau pasir masuk ke mata. Layung dan Pijar pun sama, berusaha menghalau angin yang menerbangkan pasir dengan lengannya sambil coba mencerna apa yang sedang terjadi tiba-tiba. Tapi tidak dengan Samudra. Dia tetap tenang berdiri mematung menatap purnama. Tak bergeming tak berkedip seperti tersihir. Aku otomatis ikut mendongak ke langit, melihat apa yang membuatnya terhipnotis. Tepat ketika aku berhasil menangkap dimana letak purnama, aku melihat awan hitam menggulung-gulung mengitari rembulan. Seperti dikepung kegelapan, bulan menjadi satu-satunya benda langit yang terlihat. Langit penuh dengan awan tebal berisi kilat dan petir bergerak mendekati purnama hingga tak disisakannya celah sedikitpun. Diantara pasir yang berterbangan dan angin badai semakin ribut, kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri bulan purnama yang awalnya bundar bulat sempurna sedikit demi sedikit kehilangan bentuk aslinya. Bulan kemerahan itu kini mulai berubah wujud seperti cookies yang digigit sisi-sisinya. Bolong disana-sini seperti ditelan gulungan awan, cahayanya yang terang kemerahan perlahan meredup. Sekujur tubuhku merinding kesemutan, tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku membatu, waktu seperti berhenti, suara senyap, mataku terpaku pada bulan yang kini tinggal seperempat utuh. Sampai sebuah guntur menyambar lalu bulan sepenuhnya menghilang. Langit gelap gulita. Guntur itu terdengar seperti bom yang menghancurkan gedung. Aku refleks membungkuk ke tanah melindungi kepala. Saat itulah kulihat tiba-tiba terbentuk pusaran angin di atas api unggun. Pusaran angin itu semakin besar semakin menarik kami mendekat ke api unggun. Aku berusaha bertahan tidak terhisap dengan meringkuk serendah mungkin ke tanah. Kemudian dari bawah, samar-samar kulihat tangan keluar dari inti pusat pusaran angin di atas api unggun. Tangan itu langsung menarik Wulan masuk ke pusaran angin. “AAAAAA..!!” terdengar lengking suara jeritan Wulan. Lalu Wush! Pusaran angin itu hilang dalam satu kedipan mata. Aku masih meringkuk saat aku sadar angin sudah berhenti berhembus. Tiba-tiba segalanya kembali tenang. Laut tak lagi berombak, gemuruh kilat petir hilang, sunyi senyap hanya suara derak kayu dari api unggun yang tersisa. Dan aku masih tetap meringkuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Aku mengangkat kepala melihat ke langit memastikan yang kulihat bukanlah khayalan. Dan benar, aku yakin di sana, tadi tepat di sana ada bulan purnama kemerahan yang bulat sempurna bersinar terang di sana. Kini tempat itu kosong. Langit kosong melompong. Bahkan awan tebal itu enyah entah kemana. Wulan! Aku langsung bangun berbalik melihat sekeliling. Wulan tak ada! Tadi itu benar-benar ada tangan yang menarik Wulan masuk ke pusaran Angin. Sekarang terlihat oleh mataku Sam, Layung, dan Pijar. Mereka sama terkejutnya denganku, mereka masih membeku diam tak bergerak terduduk di atas pasir memegangi kepalanya masing-masing. Layung bertukar pandang denganku. Matanya mengatakan hal yang sama persis denganku. Dia lalu menoleh ke arah Sam. “Sam.. Ini apa?” katanya lirih. Sam tidak bergerak, matanya terbelalak menatap tanah. “Sam! Sadar! Ini apa Sam?!” Layung berteriak membentak Sam. Aku ikut tersentak oleh suara Layung. Emosiku tersulut membuatku lantas menghampiri Sam menarik kerah bajunya dan membentaknya dengan penuh amarah sambil menunjuk langit kosong gelap gulita. “Sam! Lihat! Bulan menghilang, Sam! Wulan juga! Wulan hilang! Apa yang kamu baca tadi?!” Satu tanganku yang tadi kugunakan untuk menunjuk langit kini mengepal melancarkan tinju ke wajahnya. Sam jatuh terguling di atas pasir. Kuangkat lagi badannya, hidungnya berdarah, matanya menatapku kosong. “Sadar b******k! Gara-gara buku tololmu Wulan hilang! Tanggung jawab dasar b*****t!” kupukuli wajahnya dengan beringas. Mulutku tak berhenti meracau, memaki menyalahkan Samudra atas hilangnya bulan dan Wulan. “k*****t! Mau sampai kapan kau begini?! SADAR SAM!” pukulanku meleset. Aku kehabisan tenaga setelah memukulinya sampai babak belur tapi tetap tak mendapat perlawanan apapun. Kulampiaskan sisa emosiku dengan meraung marah dan menangis sejadinya. “Ta, kita pergi dulu dari sini. Di sini gak aman.” kata Pijar sambil memapahku menjauh dari pantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD