Badai aneh tadi telah memporak-porandakan tenda kami. Pasir pantai tempat kami berdiri pun basah oleh ombak dan api unggun satu-satunya penerangan kami kini telah padam. Saat ini kami berada dalam kegelapan total di pulau tak berpenghuni. Kami. Aku, Samudra, Layung dan Pijar. Tanpa Wulan. Masih dengan kesadaran yang dipaksakan, aku mengingat kembali asal muasal petaka ini terjadi. Segalanya sempurna ketika kami tiba di pulau, kami tak melakukan suatu kesalahan apapun dan aku juga tidak merasa menemukan suatu yang janggal dengan pulau ini. Kami menikmati senja dengan damai, mengerubungi api unggun dengan hangat. Hanya setelah Samudra membacakan kutipan dalam buku itu, tiba-tiba badai menerjang, bulan purnama perlahan memudar sisi-sisinya seperti kertas yang mengabu dimakan bara hingga habis tak bersisa. Muncul pusaran angin yang menghisap Wulan, bukan, muncul tangan dari pusaran angin yang menarik Wulan masuk terhisap pusaran itu lalu lenyap. Semuanya lenyap. Angin, petir, badai, bulan, Wulan dan akal sehatku, lenyap. Mustahil. Ini sama sekali tak masuk akal.
Cahaya dari senter ponsel Layung adalah satu-satunya penerangan kami di sini. Sambil menggendong Samudra di punggung, Layung memimpin jalan. Pijar memapahku mengikuti cahaya itu menuju sebuah gubuk kosong yang mungkin difungsikan sebagai warung di akhir pekan. Layung mendudukkan Samudra dalam gubuk itu. Pijar melakukan hal yang sama padaku, lalu mereka mencari kayu dan membuat api dengan peralatan yang ditinggalkan di gubuk ini. Sekarang penglihatan kami lebih luas setelah api unggun menyala. Aku dapat melihat Samudra dengan jelas. Wajahnya babak belur tak sadarkan diri. Aku yang membuatnya begitu. Dia yang menyebabkan ini semua terjadi. Dan bahkan dia tak sadar telah melakukannya. Sekujur tubuhku basah tapi badanku terasa panas hanya dengan memikirkan itu.
Layung dan Pijar terduduk di hadapanku. Kami beradu pandang tak mampu berkata-kata. Layung berkaca-kaca meremas kepalanya dengan kedua tangan, menatap kosong api di depannya. Pijar bersandar lemas meluruskan kaki. Hutan sunyi seperti kami. Hewan malam yang biasanya nyaring kali ini bungkam. Hanya suara api satu dua kali menggetarkan gendang telinga kami. Tak lama kemudian Samudra tersadar. Seperti baru bangun dari mimpi buruk, dia menatap kami dengan mata terbelalak dan nafas memburu. Matanya seperti mencari sesuatu, menoleh kanan kiri, lalu bangun dengan tergesa keluar dari gubuk. Layung dan Pijar mengejarnya, aku tetap duduk di tempatku. Tak peduli. Dari kejauhan aku mendengar suara mereka.
“Sam, mau kemana?!” tanya Layung. Suaranya seperti sedang menahan Sam bergerak.
“Sam, uwis to ayo balik wae. (udah ayo balik aja.)” kata Pijar dengan suara memohon.
“Yung, aku mimpi bulan menghilang, Yung! Aku harus liat sendiri dimana bulan, Jar.” kata Sam kencang. Aku tak tahan mendengarnya, aku bangun mengejar mereka.
“Itu bukan mimpi, Sam! Ini semua nyata! LIHAT!” aku menyeret Sam ke tepi pantai. Terdengar suara ombak tapi tak terlihat apapun. Langit gelap gulita, tak tampak bulan atau pun bintang. Hampa, seperti berada di dalam studio kosong tanpa lampu. Sam terjatuh berlutut, menangis memukuli pasir pantai.
“Buku!” tiba-tiba dia menyambar ponsel Layung, mengarahkannya ke pasir meraba-raba pasir, mencari sesuatu.
Benar, buku itu sumber dari petaka ini. Mungkin kita bisa mencari petunjuk dari buku itu. Aku, Layung dan Pijar ikut menyisir pantai mencari buku itu. Tapi hasilnya nihil. Matahari mulai muncul, langit mulai terang tapi masih tak terlihat tanda-tanda adanya buku itu. Bahkan di tempat dimana kami berada semalam tak ditemukan sisa-sisa kertas atau apapun yang berbentuk seperti buku. Buku itu lenyap tak berbekas. Kami berempat kehabisan tenaga, kami sudah mencari berjam-jam sampai ke dalam hutan dan masuk ke laut. Seperti lenyapnya bulan dan Wulan, buku itu menghilang dengan misterius.
“Kita pulang saja.” kata Pijar sangat lirih. Samudra langsung bereaksi.
“Apa maksudmu? Wulan hilang, Jar! Kita gak bisa pulang tanpa Wulan!” kata Sam murka.
“Terus maumu apa? Mau terus-terusan menggali pasir? Mau terus-terusan berteriak memanggil nama Wulan? Kamu lihat gak gimana Wulan menghilang? Dia terhisap pusaran angin terus ilang gitu aja, Sam! Ini bukan seperti Wulan bakal tiba-tiba muncul tersangkut di atas pohon atau mengapung di tengah laut.” Pijar menjelaskan dengan seluruh tenaga yang tersisa. Kami semua diam.
Aku paham kami semua lelah dan yang dikatakan Pijar ada benarnya. Tetap bertahan di pulau ini tanpa rencana apapun tidak akan membawa perbedaan. Tapi pulang tanpa Wulan juga terasa sangat tidak benar.
“Kita harus memulihkan diri. Memikirkan masalah ini dengan tenang. Kita juga harus mencari tahu apa bulan hanya menghilang di pulau ini atau menghilang seutuhnya dari dunia.” tambah Pijar.
“Kalian saja pulang. Aku akan tetap di pulau ini.” kata Sam keras kepala.
“Kau itu kunci dari masalah ini, Sam! Kita tak tahu apa yang akan terjadi jika kita terus berada di pulau ini. Bisa saja kejadian semalam terulang dan kau terhisap lenyap ke dalam pusaran angin seperti Wulan.” kata Pijar.
“Semua ini gara-gara buku itu, Jar!” potong Sam.
“Dan kamu kehilangan itu.” sambar Layung.
“Mungkin buku itu terbawa angin atau ombak saat badai kemarin. Masih ada kemungkinan kita menemukannya, Yung!” balas Sam.
“Pikirkan baik-baik, Sam! Apa semua yang terjadi adalah kejadian yang masuk akal? Apa menurutmu buku itu hilang juga karena hal sepele seperti itu?” Layung mulai kehabisan kesabaran. Sam diam, begitu juga kami.
Dari jauh terlihat ada perahu yang mendekati pulau. Itu pasti perahu pagi seperti kata Pak Risman. Seketika muncul ingatan tentang percakapanku dengan Pak Risman di perahu saat itu dan juga mimpiku beberapa hari lalu. Tiba-tiba kejadian sial yang terjadi berturut-turut sebelum keberangkatan kami terasa seperti petunjuk bagiku.
“b*****t!! Kita harus ketemu Pak Risman sekarang juga! Pak Risman pasti tahu sesuatu!” Umpatku tanpa sadar begitu melihat perahu mendekat.
“Pak Risman bisa curiga kalau kita pulang cuma berempat tanpa Wulan, Ta. Kita naik perahu ini saja.” ajak Pijar. Masuk akal, salah-salah kami bisa dituduh melakukan tindak kriminal atas lenyapnya Wulan.
“Yung, kamu masih ada nomor telepon Pak Risman?” tanyaku pada Layung. Layung memeriksa ponselnya.
“Masih. Tapi batreku lowbat, di sini juga susah sinyal.” jawab Layung sambil menyerahkan ponselnya. Ponselku rusak karena basah, begitu juga Pijar dan Sam.
“Kita pergi dari pulau ini. Kita harus selidiki buku sialan itu, cari apapun yang bisa jadi petunjuk. Mulai dari Pak Risman. Kita bisa sekaligus memintanya untuk jadi informan seandainya ada sesuatu terjadi di pulau ini saat kita mencari di tempat lain. Beresin barang-barang yang tersisa jangan sampai ada barang kita yang ketinggalan. Kita pulang pakai perahu itu sekarang.” aku mengatakannya seolah aku tahu dan bisa melakukannya dengan mudah. Padahal ini adalah perjudian. Aku sendiri tak tahu harus mencari petunjuk kemana. Aku merasa berat meninggalkan tempat terakhir aku melihat Wulan. Tapi instingku mengatakan kita hanya akan membuang waktu bila terus berada di pulau ini. Satu hal yang pasti, aku merasa Pak Risman tahu sesuatu yang akan berguna.
Sam tidak membantah, Layung dan Pijar langsung berdiri memunguti barang-barang kami yang berceceran tertiup angin. Untuk terakhir kali aku putari pulau ini, mengamati bila ada yang bisa menjadi petunjuk, mencari barangkali ada celah yang aku lewatkan. Setapak demi setapak mengingatkanku pada Wulan. Kemarin kami masih bersama meniti jalan ini, tak pernah terbayangkan olehku sebuah angin puyuh menculiknya. Bukan. Sebuah tangan menarik Wulan. Aku sangat yakin sudah melihat tangan keluar dari pusaran itu. Wulan bukan hilang karena pusaran angin biasa, seseorang berniat menculiknya. Tapi kenapa Wulan? Sam yang telah membaca buku terkutuk itu. Sam juga yang berdiri tepat di depan api unggun, lebih mudah untuk diraih jika memang ini masalah jarak. Artinya tangan itu memang mengincar Wulan sedari awal. b*****t! jangan-jangan Wulan dijadikan tumbal atas mantra yang dibaca Sam. Katanya buku itu tentang kekuatan suci bulan purnama yang diturunkan ketika gerhana, apa ini artinya sekarang Sam mendapat kekuatan suci itu? Tapi kenapa bulan justru menghilang. Sebenarnya apa yang dibaca Sam, darimana dia dapat buku itu? Jika sekarang buku itu lenyap, kesempatan terakhir yang kita miliki adalah ingatan Sam tentang buku itu. Aku yakin buku itu sudah dibacanya dari beberapa hari lalu mestinya sekarang ia sudah hafal dengan isinya. Benar, Sam adalah kunci untuk menemukan dalang dari masalah ini.
Saat aku kembali barang kami sudah terpacking rapi. Kami langsung menuju dermaga dan naik perahu yang tersandar. Untungnya perahu ini membawa beberapa peziarah jadi kami bisa langsung menumpang tanpa menarik perhatian. Aku berencana untuk menelepon Pak Risman begitu sampai di pantai. Jika beruntung mungkin aku bisa menemuinya empat mata.
“Ta, kasih tau rencananya.” tanya Layung. Dia duduk di sampingku, mendekatkan badannya padaku, berbisik tanpa menatap.
“Kalian balik ke mobil, aku bakal nemuin Pak Risman sendirian. Jaga Sam, dia mungkin bakal lebih aneh lagi mulai dari sekarang. Kita harus mengorek informasi sebanyak mungkin dari Sam selagi dia masih sadar.” kataku menjelaskan sambil tetap memandang ke depan.
“Kenapa sama Pak Risman, Ta?” selidik Layung.
“Beberapa hari lalu aku sempat dapat mimpi tentang Wulan dan laut. Dan hal-hal aneh yang terjadi terus menerus sebelum kita berangkat sepertinya bukan sesuatu yang kebetulan. Kata-kata Pak Risman kemarin juga bukan tidak berhubungan sama sekali. Aku perlu memastikan sesuatu dengan beliau. Bisa saja Pak Risman tahu sesuatu atau bisa juga sebaliknya. Yang jelas aku harus bisa membujuk Pak Risman untuk mengawasi pulau dan melaporkannya pada kita tanpa menimbulkan kecurigaan.”
“Caranya?” tanya Layung lagi. Kali ini dia menoleh menatapku.
“Kita lihat saja nanti.” Aku menjawab dengan seringai sambil menatap Pijar di haluan perahu.
Pijar tampak frustasi mengacak-acak rambutnya. Samudra masih mengunci mulut, murung. Pijar beberapa kali mengajaknya bicara tapi Sam mengacuhkannya. Aku penasaran apa yang sedang ada dalam kepalanya, sebab dia tak pernah mengacuhkan Pijar selama ini. Yang kukhawatirkan adalah rusaknya pikiran Sam sebagaimana sering terjadi pada orang-orang yang belajar ilmu hitam. Tentu itu hanya asumsiku, terlalu banyak hal yang masih menjadi misteri, banyak hal yang mesti diselidiki.
“Untung dewe isih diparingi selamet iso sowan ning makom sak durunge kiamat ya, bu. (Untung kita masih diberikan keselamatan bisa berziarah ke makam sebelum kiamat ya, bu.)” kata seorang bapak-bapak peziarah yang duduk di belakangku. Aku tak sengaja mencuri dengar karena suaranya cukup kencang melawan suara mesin perahu.
“Iyo pak. Aku yo ora nyongko mau bengi iso peteng ndedet ora ono wulan ora ono lintang. Nek ora mergo ono obor, mesti tak kiro mataku sing picek. Wis tenan bener arep kiamat iki, pak. (Iya pak. Aku juga gak nyangka semalam bisa gelap gulita gak ada bulan gak ada bintang. Kalau bukan karena ada obor, pasti kukira mataku yang buta. Bener-bener mau kiamat ini, pak.)” sambut sang ibu. Aku tak begitu paham artinya tapi aku bisa menangkap maksud pembicaraan mereka. Layung yang juga ikut mendengar percakapan itu langsung melirik kearahku.
“Kandani kok. Ngono aku nonton berita jare mergo ono gerhana bulan makane bulane ora ketok. Tapi yo mosok bar gerhana terus bulane orak mbalik meneh. Teve ki emang senenge gawe berita ora bener. Wes pasti arep kiamat iki. Dewe kudu akeh-akeh donga ya, bu. (Iya, kan. Waktu aku nonton berita katanya karena ada gerhana bulan makanya bulannya gak kelihatan. Tapi ya masa setelah gerhana terus bulannya gak balik lagi seperti semula. Teve memang suka bikin berita gak bener. Udah pasti mau kiamat ini. Kita harus banyak-banyak berdoa ya, bu.)” kata sang bapak menutup percakapan.
Dari percakapan bapak dan ibu itu setidaknya aku bisa paham beberapa hal. Satu, mereka merasa semalam gelap gulita tak ada bulan dan bintang. Itu berarti bulan tidak menghilang hanya di pulau ini saja tapi juga di tempat asal bapak ibu itu. Yang berarti bisa jadi bulan juga sungguh menghilang di seluruh muka bumi. Kedua, di televisi hanya memberitakan bulan menghilang karena gerhana. Itu artinya media masih belum tahu penyebab asli hilangnya bulan. Artinya sudah pasti bukan kebetulan bulan menghilang saat Samudra selesai membaca buku terkutuk itu. Ketiga, mereka yakin ini adalah tanda-tanda kiamat. Masih tanda-tanda, berarti belum ada kejadian lain yang terjadi selain tak terlihatnya bulan dan bintang. Ini membuatku semakin yakin jika penyebab lenyapnya bulan adalah Samudra membaca kutipan buku itu. Karena hanya kami yang mengalami angin badai, ombak tinggi, dan diculiknya satu-satunya gadis di antara kami. Aku perlu memastikan pada Layung apa yang aku dengar ini benar begitu artinya. Dan juga perlu mengecek internet memastikan yang dikatakan bapak dan ibu itu bukan hanya omongan ngawur karangan mereka saja. Ini membuat perjalanan menyebrang kembali ke Jepara terasa seperti ribuan tahun.