Bab 10 - Berbeda

1806 Words
"Yung, kamu juga dengar, kan?" tanyaku pada Layung ketika hendak turun dari perahu. "Iya. Terdengar jelas." jawabnya memberikan kode menganggukkan kepala sambil berjalan menghampiri Pijar dan Samudra yang sudah lebih dulu di dermaga. "Aku cari warung untuk isi baterai ponsel sekaligus menelepon Pak Risman. Kamu coba tanya-tanya Samudra sambil makan. Dan jangan kasih tau dulu ke Sam tentang apa yang kita dengar sampai aku mendapat kabar dari Pak Risman." aku langsung memisahkan diri setelah mengatakannya, Layung lanjut meneruskan jalan menemui Pijar dan Samudra.               Aku mendatangi sebuah kios yang berjualan snack dan makanan oleh-oleh. Setelah mendapatkan izin untuk mengecas baterai ponsel, aku langsung menghubungi Pak Risman. “Halo. Pak Risman? Ini saya Semesta yang kemarin menyebrang dengan perahu bapak untuk melihat gerhana di pulau.” kataku begitu telepon diterima oleh Pak Risman. “Semesta? Aduh, maaf saya gampang lupa belakangan ini. Gimana? mau dijemput mas?” jawab Pak Risman seperti asing dengan namaku. Barangkali Pak Risman tipikal orang yang tak ingat nama tapi ingat wajah. “Ini saya udah balik ke Pantai Bandengan malah, Pak. Saya butuh bantuan Pak Risman untuk melengkapi penelitian saya. Apa Pak Risman ada waktu untuk jadi narasumber?” aku berbohong mengenai penelitian. Berharap agar Pak Risman percaya dan mau membantu tanpa curiga. “Ooh, boleh boleh mas. Silakan, saya bisa bantu apa?” Pak Risman langsung menyetujuinya. “Sekarang Pak Risman sedang di pantai tidak, Pak? Saya ke tempatnya Pak Risman saja biar ngomongnya enak ya.” Pak Risman lalu menyuruhku untuk langsung datang ke warungnya. Setelah memberikan arahan, beliau lalu menutup telepon.               Sambil menunggu baterai ponsel penuh, aku membuka laman berita terkini. Dan ternyata benar, gerhana bulan dan hilangnya bulan semalam menjadi headline dimana-mana. Dari beberapa artikel yang k****a, pemberitaan masih mengarah pada fenomena gerhana langka yang membuat bulan tak nampak malam tadi. Tidak ada yang memberitakan secara berlebihan meski para peneliti masih mencari tahu penyebab dari tak terlihatnya kembali rembulan setelah gerhana. Para pewarta hanya memberitakan layaknya fenomena alam pada umumnya, dan belum muncul kegaduhan dari para netizen. Aku tak tahu apakah aku harus merasa bersyukur atau tidak, setidaknya aku merasa sedikit lebih tenang setelah membaca berita-berita itu. Bukan hanya kami yang tak bisa melihat rembulan, meski itu tak membuat keadaan membaik tapi untuk saat ini dapat meyakinkanku bahwa mataku masih berfungsi normal dan pikiranku belum gila. Kita masih harus menunggu petang tiba untuk memastikan apakah kejadian semalam sebatas kebetulan atau seperti yang kutakutkan. Saat ini waktu terus memburu, banyak hal mengantri untuk dibereskan.               Pak Risman menyambutku di depan warung saat aku tiba. Tak sulit menemukan warung ini. Ini adalah salah satu warung makan sederhana dari banyaknya jejeran warung makan yang langsung menghadap ke laut. Seorang wanita yang sepertinya adalah istri Pak Risman sedang duduk di belakang meja kasir, tersenyum melihatku. “Mau minum apa mas? Biar dibuatkan istri saya.” kata Pak Risman menawarkan minum saat kami duduk. “Es teh manis saja, Pak. Terima kasih. Ibu setiap hari jualan di sini, Pak?” tanyaku basa basi. “Iya mas. Selama gak hujan ya buka terus warungnya.” jawab Pak Risman penuh senyum. “Ohh gitu. Ini pak saya mau wawancara sedikit melanjutkan yang kemarin. Pak Risman semalam apakah ikut menonton gerhana?” tanyaku langsung masuk pada topik. “Tidak mas. Buat saya, pamali kalau menonton gerhana.” jawab Pak Risman sambil mengerutkan dahi. “Nah, apa saya boleh tau pamali seperti apa yang Pak Risman maksud berkenaan dengan gerhana?” tanyaku serius. “Kalau dari cerita yang turun temurun dipercaya keluarga saya, pamali keluar rumah apalagi melihat langsung saat terjadinya gerhana. Karena gerhana itu sebenarnya adalah mala petaka yang terjadi karena pikiran jahat manusia. Ketika para manusia dipenuhi dengan pikiran jahat seperti keserakahan, iri dengki, dan kebencian, pikiran-pikiran yang tak terucapkan itu akan diserap oleh alam dan dimuntahkan kembali oleh alam dalam bentuk sihir gelap yang membuat purnama menghilang. Makanya ketika gerhana kita diminta untuk tetap terjaga di rumah. Gak boleh keluar apalagi menonton gerhana, karena kita bisa celaka kena sihirnya.” terang Pak Risman. “Sihir gelap? Gimana itu, pak?” jika hubungannya dengan sihir, maka masuk akal bila bulan menghilang setelah Sam membaca suatu mantra dari buku itu. “Kalau untuk bagian sihirnya sendiri saya juga kurang tahu mas. Yang saya tahu sebatas sihir yang muncul dari pikiran jahat manusia aja. Mitos itu kan kadang suka gak masuk akal seperti tahayul to. Saya sih percaya karena hal itu sudah dipegang teguh oleh keluarga saya secara turun temurun aja.” jawab Pak Risman seperti menyangkal bahwa dirinya percaya pada hal seperti sihir. “Ooh begitu ya pak.” aku baru akan berpikir bahwa mungkin ini berhubungan dengan kejadian kami, tapi kurasa aku harus kecewa. “Ngomong-ngomong saya masih gak ingat lho sama sampean (kamu) mas. Emang kemarin kita sempet wawancara ya?” tanya Pak Risman bingung. Dan aku pun ikut bingung, sepertinya Pak Risman sama sekali tak mengingat pernah bertemu denganku padahal hanya rombongan kami yang kemarin menyebrang untuk berkemah di pulau. Jujur saja, cara bicara Pak Risman hari ini juga berbeda dengan saat di perahu kemarin. “Bukan wawancara sih, pak. Kemarin kita cuma ngobrol-ngobrol aja tentang gerhana. Pak Risman sempat membahas kalau gerhana di jaman ini adalah hal yang ditunggu-tunggu sedangkan di tempat lain bisa jadi penyebab kematian banyak orang. Makanya saya balik lagi penasaran dengan lanjutan cerita bapak.” aku coba memancing ingatan Pak Risman. “Ah, masa saya bilang begitu? Apa maksudnya karena ombak ganas yang biasa terjadi saat gerhana? Tapi itu cerita lain sih mas. Beda dengan yang saya bicarakan barusan. Yang menarik dari mitos tadi itu adalah diceritakan saat dunia gelap gulita manusia akan ketakutan, melupakan pikiran jahatnya, dan saling tolong menolong untuk kebaikan bersama. Ketika pikiran-pikiran jahat itu sudah hilang, sihir gelap itu pun juga akan memudar. Kemudian rembulan akan bersinar kembali. Sebenarnya sih kalau saya pikir-pikir ya ada positifnya juga. Dengan kita terjaga kita diminta untuk introspeksi diri, kejahatan apa yang sudah kita perbuat sampai gerhana muncul. Setelah gerhana hilang dan bulan bersinar kembali kita akan jadi manusia yang lebih baik lagi pada sesama dan pada alam juga. Karena bagaimana pun, bagi seorang nelayan bulan itu membawa pengaruh besar pada mata pencaharian kami.” tutup Pak Risman. “Saya baru pertama dengar yang seperti ini pak. Menarik sekali ya. Gerhana terjadi karena alam terlalu banyak menyerap energi negatif manusia, seperti terkontaminasi. Lalu untuk memurnikannya energi negatif itu dimuntahkan kembali dalam bentuk gerhana bulan yang mengharuskan manusia introspeksi diri untuk bisa kembali ke purnama semula. Apakah ada kepercayaan atau mitos lain yang Pak Risman tahu mengenai gerhana bulan pak? Yang berhubungan dengan sihir dari mantra atau tumbal?” tanyaku lagi berusaha seobyektif mungkin. “Kalau berhubungan dengan mantra atau tumbal sih gak ada yang saya percaya mas. Paling ya katanya kalau sedang gerhana dilarang melaut karena laut pasang dan ombak ganas. Nelayan juga banyak yang kehilangan arah dan tersesat di saat langit gelap gulita karena gerhana. Makanya tadi dibilang menyebabkan banyak kematian.” jawab Pak Risman sambil berusaha mengingat-ingat. “Kalau tentang pulau yang kemarin kita sebrangi apakah ada mitos atau kepercayaan yang berhubungan dengan gerhana, pak?” tanyaku mulai meruncing. Pak Risman melirik ke arah kanan atas seperti sedang mencari-cari dalam ingatan. “Setahu saya sih kayanya gak ada mas. Memang kenapa mas?” jawabnya setelah hening sejenak. “Gak apa-apa pak. Saya cuma penasaran karena gerhana bulan semalam adalah gerhana bulan langka dan setelah saya amati dari pulau itu kemudian fenomena lain terjadi. Apa Pak Risman sudah melihat berita hari ini? Semalam bulan tidak muncul lagi setelah gerhana, itu bukan hal yang biasa terjadi lho pak. Makanya saya mau minta tolong juga dengan Pak Risman, apabila ada sesuatu terjadi di pulau selama saya mesti melakukan penelitian di tempat lain apakah Pak Risman berkenan memberitahu saya melalui telepon?” aku merasa berdosa karena sudah membual pada seorang yang lugu seperti Pak Risman. “Ada sesuatu yang terjadi itu seperti apa ya mas?” tanya Pak Risman lebih pada takut daripada penasaran. “Misalnya terjadi badai yang tidak wajar atau mendadak muncul keanehan lain di pulau. Apapun itu. bisa tolong hubungi saya pak? Seandainya tidak terjadi apapun juga tidak masalah, Pak. Tolong Pak Risman tetap mengirimi pesan setiap hari.” untuk meredam kecurigaan aku melempar senyum palsu. “Iya bisa sih mas, saya juga tiap hari pasti menyebrang.” jawab Pak Risman setuju. “Baiklah, mohon kerja samanya kalau begitu pak. Ini ada sedikit imbalan untuk wawancara tadi. Mohon diterima ya pak. Jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya kedepannya pak.” aku mengulurkan tangan menyalami Pak Risman sambil menyelipkan sebuah amplop berisi uang tunai untuk memastikan Pak Risman mau melanjutkan bekerja sama berbagi informasi.               Aku berlalu menuju parkiran mobil. Entah kenapa aku merasa Pak Risman yang kutemui hari ini berbeda dengan orang yang mengajakku bicara di perahu. Saat di perahu Pak Risman berusaha meyakinkanku untuk percaya pada mitos dan tetap berada di dalam tenda selama gerhana. Tapi Pak Risman hari ini lebih seperti seorang realistis yang sekedar menjalankan mandat karena sudah turun temurun dalam keluarga. Informasi yang kuterima juga tak seperti yang kubayangkan. Meski sama-sama membicarakan gerhana sebagai mala petaka, tapi Pak Risman hari ini menyoroti sisi positifnya ketimbang pertaruhan nyawa seperti kemarin. Apa terjadi sesuatu dengan Pak Risman? Kemarin pun Pak Risman tampak berbeda dari saat berbicara dengan Layung dengan saat bicara denganku. Aku jadi meragukan kevalidan informasi dari Pak Risman. Meski aku memintanya untuk mengawasi pulau dan melaporkannya padaku, aku tetap harus memastikan kebenaran informasi dari Pak Risman sebelum benar-benar mempercayainya. Tak ada pilihan lain, di waktu yang singkat ini hanya Pak Risman kenalan yang punya akses menyebrang setiap hari. Masalah lenyapnya bulan dari muka bumi juga sudah terbukti benar, kemungkinan bulan hanya menghilang dari pulau itu saja sudah tak perlu dipikirkan. Hanya saja kenyataan Wulan hilang di pulau itu tetap membuatku tak bisa tenang. Ada kemungkinan sebuah pusaran angin akan muncul di suatu tempat memuntahkan Wulan beserta si penculik keluar sewaktu-waktu. Bagaimana pun pulau itu tetap harus diawasi. Kini kebuntuan yang tersisa hanya tinggal buku sialan yang dibaca Samudra itu. Penyebab utama masalah ini, yang dengan ajaib menghilangkan diri. Sejauh ini yang kutahu Samudra salah mengira buku novel klasik sebagai kitab kekuatan suci bulan. Kekuatan suci apanya? Buku itu malah menuntun kita pada dunia yang gelap gulita tanpa bulan. Apa mungkin bulan memberikan kekuatan hingga membiarkan dirinya sendiri lenyap? Kekuatan suci macam apa yang hendak ditaklifkan oleh bulan hingga membuatnya mengorbankan diri menjadi tiada? Malam itu bulan tampak seperti terbakar, koyak, dia seperti dihabisi tanpa ampun. Sama sekali tak terlihat seperti memiliki kekuatan untuk bisa diberikan pada orang lain. Mengingat Samudra sendiri kaget dengan reaksi bulan setelah membacakan bait dari bukunya, kurasa ini bukan hasil yang dia harapkan. Mungkinkah bait dalam buku yang ia baca kemarin adalah suatu kutukan alih-alih taklif kekuatan sebagaimana tertulis dalam buku? Jika benar maka Samudra juga telah ditipu. Seseorang memanfaatkan Samudra untuk melenyapkan bulan dan menculik Wulan sebagai tumbal. Tapi untuk apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD