Bab 11 - Novel

1771 Words
Saat aku sudah dekat dengan tempat parkir aku melihat Layung, Pijar dan Samudra sedang berada di warung makan. Aku langsung menghampiri mereka yang tampak lesu terduduk membisu. Makanan di hadapan Samudra masih penuh belum tersentuh sedangkan milik Layung dan Pijar bersih tak bersisa. Aku menatap Samudra lekat, air mukanya masih sama seperti saat terakhir aku melihatnya. Diam tertunduk, alis mengernyit di tengah dahi seperti sedang berpikir keras dalam dunianya sendiri, terpaku pada satu hal mengabaikan hal lainnya. “Dari tadi masih gini?” tanyaku pada Layung dan Pijar yang sudah tak sabar menungguku bicara. “Iya. Diajak ngomong gak nyaut sama sekali. Gimana tadi?” tanya Layung. “Pak Risman mau?” tambah Pijar. “Mau. Tapi menurutku informasi dari Pak Risman gak bisa dipercaya 100%. Kita harus cek lagi jangan diterima mentah-mentah. Yung, nomermu yang aku kasih ke Pak Risman. Kalau dia gak kasih kabar, kamu yang tanya duluan.” kataku sambil menyerahkan ponsel kembali ke Layung. Aku menatap Samudra lagi, mempertimbangkan akan memulainya dari mana.            Kuhela nafas sebentar, Layung dan Pijar masih terus menatapku menunggu penjelasan yang belum kuberikan. “Kita perlu berbagi sudut pandang supaya bisa melihat masalah ini dengan lebih baik. Dengarkan apa yang mau aku katakan terlebih dulu, sekonyol apapun itu.” aku memberi peringatan, terutama untuk menarik perhatian Sam. “Aku yakin kalian juga melihat purnama musnah setelah Sam membacakan suatu bait dari buku sialan yang saat ini hilang dengan ajaib itu. Aku bilang musnah, karena di mataku purnama tampak seperti kertas yang terbakar bara sedikit semi sedikit sampai akhirnya habis hilang sama sekali bersamaan dengan suara guntur yang luar biasa keras. Persis setelah itu aku melihat pusaran angin muncul tepat di atas api unggun. Pusaran angin itu sangat kuat, aku hampir terseret mendekat tapi berhasil bertahan karena aku meringkuk serendah mungkin di tanah. Dari posisi itu, aku melihat sebuah tangan keluar dari inti pusat pusaran angin itu dan langsung menarik Wulan masuk ke dalamnya. Demi Tuhan aku yakin sekali dengan apa yang kulihat. Tangan itu menarik Wulan masuk ke dalam pusat pusaran angin. Bukan angin yang menghisap Wulan masuk.” Layung dan Pijar menahan nafas sejenak, Samudra tetap diam menunduk tapi aku tau dia ikut mendengarkan. Aku bisa merasakan suasana yang mulai berubah diantara kami. “Kamu yakin, Ta? Waktu Sam selesai baca buku itukan tiba-tiba angin jadi kencang banget. Menerbangkan pasir kemana-mana, aku aja hampir gak bisa melihat sama sekali.” kata Pijar tak percaya. Mimiknya berubah dengan cepat. “Makanya aku bilang kita harus berbagi sudut pandang, Jar! Menurutmu ini masuk akal buat aku? Aku juga mau gila rasanya, Jar!” aku lelah, aku tak bisa lagi menguasai diri. “Aku percaya, Ta. Aku gak lihat langsung tangan itu tapi aku percaya kata-katamu. Lanjutin yang mau kamu omongin.” Layung mengatakannya dengan mata lurus menatapku.            Kulanjutkan bercerita, “Saat perjalanan menyebrang ke pulau, Pak Risman sempat memperingatkanku. Dia bilang bahwa Gerhana itu sebenarnya adalah mala petaka yang bisa menjadi penyebab kematian banyak orang. Dia menyuruhku untuk tetap berada di dalam tenda demi kebaikan kita semua. Tapi aku mengacuhkannya, menganggapnya sebagai mitos yang tak berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Karena itu, aku langsung ingin menemui Pak Risman begitu menyadari petaka ini sungguh terjadi. Meski terlambat, kupikir masih ada harapan kita bisa merebut kembali Wulan dari tangan b******n yang sudah menculiknya. Tapi lagi-lagi hal aneh terjadi. Pak Risman seperti tak ingat sama sekali pernah bertemu denganku, dia bahkan tak ingat pernah mengatakan itu padaku. Dia hanya bercerita kalau dalam keluarganya turun temurun mempercayai gerhana adalah sihir gelap yang muncul karena pikiran jahat manusia.” aku hampir merasa putus asa saat mengatakannya. Lahir perasaan menyesal yang teramat sangat karna sudah mengacuhkan segala peringatan yang telah kuterima. Memori tentang mimpiku muncul kembali. Samudra menarik Wulan dariku membawanya ke arah laut. Wulan menangis memanggil namaku dan aku hanya terduduk di pantai tak kuasa meraih tangannya. Perasaan tak berdaya yang sama, kini menjadi lebih nyata. “Sihir gelap? Gimana maksudnya, Ta?” Pijar merespon dengan sama persis seperti aku setelah mendengar kata sihir untuk pertama kalinya. “Dari yang aku tangkap, sihir gelap itu hasil dari banyaknya pikiran jahat manusia yang terakumulasi kemudian diserap oleh alam dan dimuntahkan kembali oleh alam dalam bentuk bencana yang membuat purnama menghilang. Saat gerhana terjadi mereka diharuskan untuk terjaga di dalam rumah, dilarang untuk keluar apalagi melihatnya secara langsung atau akan mendapat celaka dari sihir gelap ini. Pak Risman percaya kalau perintah untuk terus terjaga saat purnama adalah agar umat manusia introspeksi diri, melupakan pikiran jahat mereka, sehingga sihir gelap itu ikut memudar dan purnama kembali bersinar.” jawabku. “Maksudnya pikiran jahat?” tanya Layung. “Pikiran jahat seperti iri dengki, kebencian, keserakahan. Sifat manusia yang selalu menyebabkan kerusakan dan pertikaian.” Samudra mengangkat wajahnya. “Kerusakan dan pertikaian?” kata Sam terkejut. “Ya. Saat pikiran jahat manusia membuat banyak kerusakan dan pertikaian, gerhana dimunculkan oleh alam agar manusia takut dan lupa pada pikiran jahat mereka lalu kembali saling tolong menolong pada sesamanya.” aku menjelaskannya sambil menatap Sam. Aku rasa Sam mengingat sesuatu, matanya kini kembali dari lamunannya, fokus menatapku. “Buku itu.. di dalamnya banyak bercerita betapa bulan adalah sumber kekuatan yang mendatangkan kedamaian dan harapan bagi banyak orang sejak zaman dahulu kala. Purnama adalah perwujudan bulan sempurna setara dewa. Ada tiga purnama yang paling kuat, purnama pertama adalah purnama yang memancarkan sinar keperakan, sinarnya lembut dan menenangkan dan selalu mengabulkan doa-doa serta pengharapan manusia. Purnama kedua adalah purnama kemerahan, purnama ini muncul atas kerusakan dan pertikaian yang disebabkan oleh manusia, kemunculannya untuk memusnahkan segala yang keji dan memenangkan kaum yang menjalankan kebajikan. Jangan-jangan..” Sam berhenti sejenak. “Gerhana semalam adalah purnama kedua. Gerhana itu memang membuat purnama bersinar kemerahan, tapi kalau sesuai dengan yang ada di buku harusnya purnama kedua yang memusnahkan hal-hal yang keji. Sedang yang kita lihat justru sang purnama yang musnah.” sambar Pijar memotong penjelasan Sam.            Dari informasi yang diberikan Sam, purnama kedua muncul karena kerusakan dan pertikaian antar manusia, sesuai dengan kepercayaan Pak Risman yaitu sihir gelap yang muncul karena pikiran jahat manusia. Di buku itu purnama kedua memusnahkan segala yang keji dan memenangkan yang melakukan kebajikan, dalam cerita Pak Risman gerhana menakuti manusia agar mereka lupa akan pikiran jahatnya dan kembali saling membantu sesamanya, melakukan kebajikan yang sama. Meski telah ditemukan benang merah antara kepercayaan Pak Risman dan buku itu tapi saat ini tidak ada pertikaian atau kerusakan yang berarti di negeri ini, tidak ada penyebab yang cukup kuat untuk secara tiba-tiba membuat purnama kedua muncul. Dan perkataan Pijar benar, kenapa sekarang justru purnama kedua yang musnah? “Sam, lanjutin ceritamu. Purnama ketiga apa?” kita butuh informasi lebih banyak untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. “Purnama ketiga adalah purnama yang lahir dari rahim yang mati di mantrai. Sinarnya mensucikan kehendaknya mutlak, kemunculannya untuk meluruskan dunia yang sudah hancur. Memakmurkan seluruh yang tersisa di bawah sinarnya. Lambang kebangkitan kembali, kejayaan yang abadi. Dalam buku itu diceritakan bulan memiliki kekuatan suci tak terbatas dimana dalam seratus tahun sekali bulan akan memilih satu orang untuk menerima pecahan kekuatan suci itu. Tidak sembarang orang yang bisa mendapatkannya, hanya orang yang pantas dan sanggup untuk menanggung kekuatan sedahsyat itu yang akan dipilih oleh sang rembulan. Orang yang mendapatkan kekuatan itu bisa menjadi apapun yang dia inginkan, seorang raja, seorang empu, seorang tak terkalahkan yang akan dicintai dan dihormati sepanjang hidupnya, orang terkuat yang memiliki purnama dalam telapak tangannya. Termasuk orang itu bisa membuat negrinya makmur dengan menampakkan purnama setiap malam, atau membuat musuhnya takluk dengan menyembunyikan bulan ketika perang.” Sam menghentikan ceritanya. Dia kini menatap Layung dan Pijar. “Menyembunyikan bulan? Tunggu, apa ini berarti saat ini bulan bukan musnah tapi sedang disembunyikan? Ada orang yang sedang menyembunyikan bulan?” tanya Layung. “Aku menganggapnya seperti itu. Ada satu halaman dalam buku itu, halaman terakhir yang isinya seperti penggalan mantra. Tak jelas arti dan maksudnya, hanya berisi beberapa bait yang aku bacakan di hadapan kalian. Awalnya aku menduga itu adalah mantra untuk mendapatkan pecahan kekuatan bulan. Aku sudah membacanya sendiri beberapa kali dan tidak bereaksi apapun. Aku tak tahu kenapa membacanya di hadapan kalian malam itu justru berakhir seperti ini.” Samudra menunduk kembali, menyangga kepalanya dengan kedua tangan. “Jangan-jangan itu mantra untuk menyembunyikan bulan Sam!” kata Layung mewakili kami semua. “Tapi hanya orang yang memiliki kekuatan bulan yang bisa melakukannya, Yung. Dan aku sudah bilang, aku sudah membacanya sendiri berkali-kali, aku bahkan membacanya saat merayakan purnama di merapi kemarin. Tapi tak beraksi apapun.” Sam tidak menyangkal kemungkinan mantra itu adalah untuk menyembunyikan bulan. Dan meyakinkan dirinya bukan orang yang memiliki kekuatan suci. Jika mantra itu hanya berhasil pada orang yang memiliki kekuatan suci, kenapa Sam yang tak memiliki kekuatan itu bisa membuat mantra bekerja? Mungkinkah ada seseorang dengan kekuatan suci diantara kita malam itu? “Sam apa dijelasin ciri-ciri orang yang memiliki kekuatan suci?” tanyaku. “Hanya dijelaskan bahwa sang rembulan sendiri yang akan memilih orang yang pantas dan sanggup untuk mendapatkan kekuatan suci itu. Begitu seseorang mendapatkannya, seumur hidupnya akan dicintai dan dihormati. Aku tak tahu ini kiasan atau bukan, tapi dikatakan orang itu memiliki purnama di telapak tangannya.” Sam membuka kedua telapak tangannya. Tak ada apapun. Begitu pula Layung, Pijar, dan aku. Kami menyodorkan kedua telapak tangan kami dan tak melihat ada “purnama” di telapak tangan kami. Kurasa memang bukan salah satu dari kami yang memiliki kekuatan itu. Mungkin seseorang yang menarik Wulan masuk dalam pusaran angin itu. “Sam, coba ceritain soal halaman terakhir buku itu. Apa isinya cuma mantra saja? Apa disebutkan sesuatu tentang tumbal dalam buku itu?” tanyaku mengingat Wulan juga diculik ditengah kejadian ini. “Tumbal? Menurutmu Wulan dijadikan tumbal?” Pijar terkejut mendengarnya. Layung juga tampak seperti tak pernah berpikir sampai ke sana. “Tidak ada apapun yang berhubungan dengan tumbal atau pengorbanan dalam buku itu. Di buku itu rembulan digambarkan sebagai sosok yang penuh cinta dan kasih, murni, inti kekuatannya hanya untuk memelihara kehidupan di alam semesta ini.” Sam menjawabnya seperti dia sendiri juga sudah mempertimbangkan kemungkinan itu. “Apa gak ada mantra untuk mengembalikan bulan Sam?” tanya Layung. “Aku membaca semua bait yang ada di halaman terakhir buku itu semalam. Tidak ada lagi mantra lain, Yung.” jawab Sam sambil menggelengkan kepala.            Otakku menerima terlalu banyak informasi ganjil dalam waktu sesingkat ini. Ada tiga purnama terkuat, ada seorang penerima kekuatan, tak ada satu pun butuh tumbal. Lalu untuk apa bulan disembunyikan? untuk apa Wulan diculik? Dimana seseorang yang memiliki kekuatan bulan itu bersembunyi? Bagaimana caranya mengembalikan bulan? Waktu terus berjalan, dimana lagi kami harus mencari petunjuk? “Apa judul buku itu, Sam?” tanyaku. “Judulnya.. Purnama Ketiga.” jawab Sam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD