Bab 12 – Inner Conflict (1)

2111 Words
I. Semesta               Aku datang ke kota ini untuk menuntut ilmu. Mengejar impianku untuk menjadi penyair, penulis buku yang dielu-elukan pembacanya. Sebagai seorang penulis tentu dibutuhkan imajinasi yang luas, ide yang tak terbatas, pikiran terbuka. Untuk itu aku banyak membaca, aku belajar banyak hal, menyerap sebanyak mungkin ilmu yang akan berguna kedepannya. Aku pun tetap harus realistis dan berpikir logis, jangan sampai menjadi sinting terjebak pada dunia yang kubuat sendiri. Yang sering kali terjadi pada para jenius di luar sana dan juga pada mereka yang mempercayai hal klenik, hal mistis, kegaiban, sihir, dan segala yang pada akhirnya membuat terhanyut lalu lupa pada dunia nyata. Aku tak mempermasalahkan kepercayaan mereka maupun mereka yang percaya, selama itu tak merugikanku. Tapi kini yang kuhadapi adalah sesuatu yang jauh dari pengetahuanku. Sesuatu yang jauh dari kenyataan yang bisa kupercaya. Aku buta bahkan selalu sengaja menutup mata akan hal ini. Lalu sekarang saat mau tak mau dihadapkan oleh masalah ini, aku tak hanya harus memutar pikiran mencari petunjuk diantara kejadian yang tak logis, tapi juga harus memutar tuas kewarasanku agar bisa mempercayai segalanya adalah nyata.               Selama ini aku selalu meyakini segala hal di dunia ini pasti bisa dibuktikan dengan ilmu pengetahuan. Tak menggubris hal-hal klenik di sekitarku meski itu datang dari orang terdekat sekalipun. Hilangnya Wulan dan bulan mengobrak-abrik keyakinan yang selama ini kupercaya. Mitos, tahayul, legenda yang beredar di masyarakat kini malah menjadi petunjuk penting yang kucari-cari untuk memecahkan masalah kami. Seperti halnya aku yakin kejadian-kejadian yang menimpa kami seminggu sebelum keberangkatan ke pulau itu adalah suatu pertanda yang seharusnya tak kuabaikan. Mimpi yang kudapatkan ketika aku sakit menunjukkan dengan jelas aku dan Wulan berada di pantai. Dan Samudra yang tiba-tiba muncul menarik tangan Wulan, sama dengan kejadian saat ini. Meski bukan Samudra yang menariknya masuk dalam pusaran angin, tapi benar dia yang menyebabkan semua ini, dan benar sebuah tangan muncul menariknya.               Selain mimpi itu, kejadian demi kejadian selanjutnya juga sangat mencurigakan. Wulan sakit, Layung kehilangan laptop, Samudra dan Pijar dihajar pasukan pengamanan, mobil Pijar rusak, lalu peringatan dari Pak Risman. Semuanya terjadi berturut-turut tapi terselesaikan tak lama setelahnya. Seperti telah diatur, semuanya mendapat giliran. Andai salah satu dari kejadian itu bisa menghentikan kami berangkat merayakan purnama kedua, apakah petaka ini tak akan terjadi? Apa ini berarti ada sesuatu atau seseorang yang dengan sengaja berusaha menghalangi kami merayakan purnama? Sebelumnya aku pikir itu adalah pertanda yang dikirimkan oleh alam semesta, yang bertujuan untuk menghalangi kami merayakan purnama kedua agar rembulan tak musnah. Tapi mengingat peringatan terakhir yang kudapat dari Pak Risman terasa ganjil dan sangat terang-terangan, aku merasa seseorang sedang berusaha mengirimkan peringatan langsung untukku.               Pak Risman. Dia tak ingat telah bertemu denganku, meski begitu informasi yang diberikannya masih satu arah dengan cerita yang dikatakannya padaku di perahu. Mungkinkah beliau mengidap alzaimer atau penyakit pikun sehingga lupa akan pertemuan kami? Tapi usianya masih belum terlalu tua dan seorang pengidap alzaimer takkan diizinkan menyebrangkan penumpang lewat dermaga resmi, kan? Pak Risman juga sudah setuju untuk bekerja sama denganku, bila Pak Risman tak lupa untuk memberikan informasi keadaan pulau seperti yang telah dijanjikan berarti bukan penyakit itu yang menyebabkannya lupa akan pertemuan kami. Tak mungkin juga Pak Risman sengaja berpura-pura tak mengenaliku. Bila itu yang terjadi dia pasti tak mau kutemui dan takkan memberikan informasi sebanyak ini. Apa lupa karena terlalu banyak bertemu dengan orang? Tapi hanya kami yang menginap di pulau untuk melihat gerhana di hari itu. Tak mungkin iya salah mengiraku dengan orang lain, jelas-jelas ia bahkan lupa sudah mengatakan gerhana sebagai penyebab kematian banyak orang. Lalu apa yang membuatnya lupa?               Perilaku aneh Pak Risman sejalan dengan informasi yang diberikan. Sihir gelap yang dikeluarkan oleh alam? Bukan Penyihir atau Empu, tapi oleh alam. Apa yang dimaksud alam adalah rembulan? Alam yang murka, amukan alam menurunkan bencana, seharusnya seperti itu yang akan dikatakan oleh seseorang bila sumbernya adalah alam. Penggunaan kata sihir di sini membuatku positif berpikir ada seseorang yang mungkin juga bisa mempelajari atau menggunakan sihir gelap menghilangkan rembulan. Persis kata Samudra, seseorang yang mendapat kekuatan bulan. Di dunia yang serba modern ini, mungkinkah ada orang seperti itu? Tunggu, bukankah Pijar pernah bercerita ayah dan kakeknya bertapa disaat purnama? Dia pernah bercerita menganggap purnama seperti dewa dan bertapa untuk menyerap kekuatannya. Apa leluhur Pijar dan Pak Risman menganut kepercayaan yang sama? Tapi Pijar juga bingung dengan maksud Pak Risman tentang sihir gelap. Sepertinya kepercayaan leluhur Pijar lebih condong pada cerita dari buku Samudra. Dalam berjalannya suatu kepercayaan turun temurun pasti akan terjadi perubahan cerita. Di buku yang dibaca Samudra, sang rembulanlah yang akan memilih orang untuk mendapatkan kekuatannya. Bisa saja kini terdegradasi menjadi orang yang memohon pada bulan dengan cara bertapa pun akan mendapatkan kekuatan serupa.               Jangan-jangan Pijar adalah orang yang telah membuat petaka ini terjadi? Tak mungkin! Atas dasar apa? Dia sama bingung dan takutnya denganku. Dia tak pernah menyebabkan konflik dengan siapapun. Dia pun selalu mengatakan ingin melepaskan diri dari tradisi keluarganya. Tidak, tak mungkin Pijar seorang musuh dalam selimut. Pasti ada kemungkinan lain. Aku pasti sudah sinting sampai menuduh Pijar seperti ini. Meski aku pernah berpikir seseorang yang memiliki kekuatan bulan bisa saja berada di antara kami malam itu, tapi Pijar bukan orang yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan dalam buku. Setidaknya untuk berjaga-jaga mungkin tak ada salahnya mencoba bertanya ke keluarga Pijar. Semakin banyak informasi akan semakin bagus. Untuk saat ini lebih baik jangan menunjukkan kecurigaan apapun. Jangan sampai Pijar merasa telah dituduh oleh kawannya sendiri. Bagaimanapun belum ada bukti yang mengarah ke Pijar. Bila aku salah langkah, tak hanya bulan yang hilang, perkumpulan kami pun akan berantakan.   II. Layung               Saat kecil aku adalah seorang yang pendiam dan penakut. Aku juga sulit bersosialisasi yang membuatku tak memiliki banyak teman di rumah. Aku punya seorang kakak perempuan yang jarak umurnya cukup jauh. Saat aku lahir kakakku sudah kelas 2 SMP, terpaut 14 tahun. Karena orang tua kami adalah pedagang di pasar yang berangkat dari dini hari dan pulang ketika petang, maka sehari-hari kuhabiskan waktuku di rumah bersama kakakku. Dia jarang mengajakku bicara, kami tak banyak bermain bersama. Saat umurku 5 tahun, kakakku sedang giat-giatnya belajar untuk mendapat beasiswa kuliah di perguruan tinggi. Setiap hari aku hanya duduk di sampingnya berharap dia akan mengajakku bermain seperti kakak adik yang ada di kartun tontonanku, tapi tentu saja itu tak terjadi. Aku kecewa, kakakku tak menyayangiku. Ketika pengumuman keluar, kakakku menangis. Dia gagal mendapat beasiswa yang dia impikan. Sedangkan orang tua kami pun tak bisa membiayai kuliah kakakku karena di tahun yang sama aku juga akan masuk sekolah. Kakakku terpaksa mengubur cita-citanya dan menerima untuk dikawinkan setelah lulus SMA. Pada hari dia menangis karena pengumuman itu, dia mengatakan sesuatu padaku. “Aku sudah belajar setiap hari, aku meninggalkan teman-temanku, dan tak menikmati masa sekolahku. Aku sampai tak pernah mengajakmu bermain, tak pernah mengenalkanmu pada anak-anak tetangga. Tapi aku tetap gagal. Yung, kamu jangan sepertiku. Pergilah bermain, cari teman sebanyak-banyaknya, nikmati masa sekolahmu. Kamu harus aktif di sekolah, kamu harus rajin belajar sejak kecil. Aku akan menabung untukmu kuliah di kampus manapun yang kamu mau.” Dia mengatakannya sambil menangis memelukku. Aku ikut menangis tersedu-sedu dalam pelukan kakakku. Aku sudah salah menilainya, kupikir dia tak menginginkanku, kupikir dia tak menyayangiku. Ternyata dirinya pun mengalami masa-masa yang sulit. Ia menyesal sudah membiarkanku sendirian dan ia bersedia berkorban untukku. Aku memutuskan untuk menjadi seperti yang kakakku harapkan. Aku mulai memberanikan diri untuk bicara, berteman dengan banyak orang, rajin belajar dan selalu mendapat rangking di kelas. Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama pada orang lain, jadi aku belajar untuk benar-benar memahami orang dulu sebelum berani menilainya.  Nasib baik mendatangiku, aku mendapat beasiswa keluarga miskin dan tak mampu. Jadi aku tak perlu membebani orang tuaku yang sudah sepuh dan kakakku yang memiliki banyak anak untuk bisa meneruskan kuliah di perguruan tinggi. Beasiswa itu membawaku pada Semesta, Samudra, Pijar dan Wulan. Dari sejak pertama aku mengenal mereka, aku sudah kagum pada personality mereka masing-masing. Semesta seorang yang cerdas, dia selalu bisa berpikir lebih cepat daripada kami. Dia memiliki jiwa pemimpin yang membuatku menghormati segala keputusannya dengan tulus. Dia berasal dari keluarga petani, memiliki seorang adik laki-laki yang mungkin menjadi alasan kenapa dia selalu bijak. Dan caranya menjaga gadis yang dicintainya membuatku kagum pada ketulusan hatinya. Meski Wulan menyukai Samudra yang kaya raya, cerdas, dan sempurna, Semesta tak rendah diri.  Aku yakin Samudra juga menghormati Semesta sama sepertiku. Sam seorang yang setia kawan, meletakkan kepentingan kami di atas kepentingan dirinya sendiri. Walaupun menurutku dia sedikit aneh dengan kecintaannya pada purnama dan juga kebiasaan impulsif yang gak cocok banget dengan dirinya itu. Tapi Sam adalah seorang sahabat yang bisa diandalkan. Dia orang yang tak suka berfoya-foya, meskipun mapan dan kaya raya ia masih mau mengikuti gaya hidup kami yang serba sederhana. Bahkan suka ikut-ikut mengeluh tak punya uang di akhir bulan. Berbeda dengan Pijar. Pijar tak pernah ragu untuk menghamburkan uangnya. Dia juga berasal dari keluarga kaya raya, tapi sepertinya bisnis keluarganya bukan bisnis yang bersih jadi dia sedikit memiliki trust issue dalam berteman. Keluarganya pasti sering mendapat pandangan buruk dari orang-orang, begitu juga lingkungannya. Pijar yang aslinya berhati lembut dan perasa, terpaksa memasang tampang tangguh dan cuek. Persis seperti Wulan. Gadis itu sangat kuat. Saat dia menceritakan kisah hidupnya padaku, aku tak kuasa menahan tangis. Andai aku ada diposisinya, aku tak tahu apa aku akan bisa seceria dirinya saat ini.               Aku sangat beruntung mereka mau berteman denganku yang bukan siapa-siapa ini. Aku tak memberikan kontribusi apapun pada perkumpulan kami. Aku tak kaya, tak pintar, tak tampan, dan mereka mau menerimaku apa adanya. Yang bisa kulakukan untuk membalas mereka hanya dengan menghibur, membuat suasana menjadi meriah. Tapi itupun tak bisa kulakukan ketika mala petaka ini menimpa kami. Saat Samudra tiba-tiba diam termenung menatap lautan, aku sudah merasa ada yang aneh. Samudra tak biasanya serius dan berpikir matang-matang sebelum bertindak. Malam itu dia butuh waktu lama untuk membaca sebuah bait dari buku yang sudah dipegangnya erat-erat. Ketika muncul angin kencang tepat setelah dia selesai membacakannya, aku tau kecurigaanku benar.  Badanku gemetar melihat tiba-tiba bulan perlahan menghilang. Aku panik mendadak muncul sebuah pusaran angin di dekatku. Dan saat kudengar jeritan Wulan bersamaan dengan hilangnya angin itu, aku lemas tak berani membuka mata. Aku tak bisa menjaga mereka. Aku tak bisa berpikir apa-apa. Meski ada hal yang aku curigai, tapi aku tak ingin berprasangka dan memecah belah perkumpulan kami. Selama belum ada bukti yg kuat, kecurigaanku tetap akan menjadi prasangka, dan aku akan menutup mulutku erat-erat untuk itu. Aku harus mencari petunjuk dan menentukan siapa yang bisa dipercaya, siapa yang bisa jadi adalah musuh dalam selimut. Bagaimanapun prioritas saat ini adalah memecahkan misteri hilangnya purnama dan menemukan kembali Wulan. Berbarengan dengan itu aku pun harus menjaga perkumpulan kami, menjaga semuanya selamat entah bagaimana caranya.               Dari yang aku tangkap, saat ini rembulan hilang karena sebuah mantra yang di baca oleh Samudra. Mantra itu harusnya hanya bekerja bila dibacakan oleh seorang yang memiliki kekuatan bulan. Tapi entah bagaimana mantra itu tetap berhasil menyihir purnama hilang di malam ketika purnama kedua muncul. Purnama kedua dalam buku ajaib yang dibaca Samudra juga bukan purnama biasa. Mestinya purnama kedua menyapu habis para pelaku kejahatan dan kerusakan di bumi, mengembalikan kedamaian dan keseimbangan alam. Namun entah salah sasaran atau bagaimana, sahabatku Wulan justru lenyap bersama dengan purnama itu. Aku yakin bahkan sangat yakin Wulan bukanlah orang jahat, tak mungkin purnama kedua melenyapkan Wulan. Dari kesaksian Semesta, ada seseorang yang dengan sengaja menculik Wulan menariknya masuk ke pusaran angin lalu menghilang tanpa jejak. Orang macam apa yang keluar dari pusaran angin dan menarik orang lain lalu menghilang begitu saja? Kalau aku tak mengalaminya sendiri aku pasti sudah menganggap mereka gila, mabuk, halusinasi, mungkin juga kesurupan. Tapi aku ada di sana, aku sudah melihat hal-hal mustahil yang tak mungkin bisa dinalar. Saat ini batas antara logika dan khayalan sudah tak terlihat lagi. Jika Semesta mengatakan demikian, berarti memang benar adanya. Orang yang memiliki kekuatan bulan, orang yang bisa menyembunyikan bulan, orang yang menculik Wulan melalui pusaran angin, mungkinkah mereka satu orang yang sama? Samudra saat ini menjadi orang yang menyembunyikan bulan dengan mantranya. Tapi aku yakin bukan dia orang yang menculik Wulan. Kemungkinan orang yang menculik Wulan dan orang yang memiliki kekuatan bulan adalah orang yang sama cukup besar, karna pasti butuh kesaktian luar biasa untuk bisa melakukan trik pusaran angin itu. Meski begitu orang sakti macam itu apakah masih memerlukan tumbal? Seperti kata Samudra, bulan adalah sumber kekuatan yang penuh kasih, bulan tak memerlukan tumbal atau pengorbanan. Berarti kemungkinan orang yang mendapat pecahan kekuatan bulan itu bisa saja berbeda dengan pelaku penculikan Wulan. Masih ada satu atau mungkin dua orang lagi yang harus ditemukan, dan Samudra tetap menjadi kunci sekaligus pelaku dari petaka ini. Kurasa hanya Samudra yang bisa memunculkan kembali bulan dengan cara yang sama seperti dia melenyapkannya. Buku itu harus ditemukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD