“…Fenomena alam langka Super Blood Moon atau yang dikenal dengan gerhana bulan total ini hanya terjadi seratus tahun sekali, tapi durasinya singkat saja. Diketahui pada bulan ini, akan ada dua kali bulan purnama yang terjadi dikarenakan kemunculan fenomena alam langka ini. Gerhana bulan total terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berbaris sempurna. Fenomena…” suara dari berita streaming yang diputar Samudra membangunkanku. Jam di meja masih menunjukkan pukul 7 pagi dan Sam sudah berisik dengan gawainya padahal semalam kami baru selesai main PS pukul 3 dini hari. Dan yang lebih menyebalkan, berita pertama yang kudengar pagi ini lagi-lagi tentang bulan purnama.
Belum juga kulupa kekacauan yang terjadi akibat mabuk-mabukan yang kami lakukan bulan lalu. Aku dan Pijar kewalahan mengurus Layung dan Samudra yang kemudian meriang sampai beberapa hari setelah itu. Sepulangnya kami dari vila, mereka tidur selama 14 jam lebih. Lalu saat bangun mereka mengeluh pusing, mual, dan kedinginan. Aku sempat menelpon Wulan untuk memastikan keadaannya, syukurnya dia baik-baik saja di kosan. Aku khawatir dia akan sama kondisinya dengan Samudra, mengingat terakhir dia bilang padaku dia sampai tak bisa mengingat apapun kejadian malam itu. Ternyata bukan omong kosong saat dia bilang tubuhnya kuat dengan alkohol. Justru Samudra yang berbadan besar malah lebih manja dan merepotkan.
Berita tentang gerhana bulan tadi membuatku malas untuk bangun. Samudra pasti manik dengan rencana merayakan purnama kedua bulan ini. Kami semua memang sedang tidak banyak kegiatan, aku hanya tinggal menunggu wisuda, yang lainnya sedang mengerjakan skripsi dan menunggu jadwal bimbingan. Jadi merayakan purnama kapan saja dan berapa kali pun tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah baru tiga hari yang lalu kami pulang dari merayakan purnama, masa sudah akan purnama lagi? Bukannya ini terlalu aneh?
”Ta! Bangun, Ta! Seminggu lagi ada gerhana bulan. Kita merayakan purnama kemana nih enaknya?” Sam menggoyang-goyangkan tubuhku penuh semangat.
“Kan kemarin udah. Masa purnama lagi? Hoax ah.” jawabku malas.
“Ini berita dari LAPAN, Ta. Mana mungkin hoax.” jawab Sam sambil menunjukkan layar ponsel.
“Masa cepet banget sih?” tanyaku masih ragu dengan berita itu.
“Namanya juga fenomena alam. Ini gerhana langka lho, seratus tahun sekali. Kita harus menyambut gerhana dari tempat yang pantas, Ta.” seperti dugaanku, Samudra sangat antusias. Dia lalu pergi ke kamar Layung dan Pijar. Aku bisa dengar suaranya membangunkan mereka dan memberitakan kemunculan gerhana dengan semangat level maksimal. Tak ketinggalan dia juga menelepon Wulan dan mengabarkan hal yang sama. Semuanya bermuara pada satu pertanyaan, “enaknya merayakan purnama dimana besok?”.
Siangnya kami makan di warung tegal langganan kami. Wulan ikut menyusul. Hari ini hari minggu, kami tak ada agenda apapun selain bersantai. Tapi kini kami jadi punya satu hal penting yang harus segera diputuskan.
“Kita ke dieng aja gimana?” saran Wulan.
“Gunung lagi? Kan kita baru aja turun merapi. Pegelnya masih kerasa lho.” sergah Pijar.
“Dieng kan naik mobil bisa sampai atas.” bantah Wulan.
“Tetep aja aku yang nyupir aku yang bawa carrier. Kamu mah enak.” adu Pijar.
“Yaudah ke pantai aja. Pantai siung gimana? Kita kan udah lama gak rock climbing di sana.” saran Layung.
“Pantai lain dong, kan udah beberapa kali ke sana. Kali ini harus spesial, yang belum pernah kita samperin.” tolak Sam.
“Pantai di Bengkulu aja kalau gitu.” kataku menanggapi permintaan Sam.
“Mending ke Bali sekalian.” sahut Wulan dengan nada.
“Kaya pada punya duit aja.” potong Pijar tertawa.
“Naik mobil sampai Bali bisa kali, Jar.” goda Wulan.
“Bisa gila! Suwun (makasih) kalau yang bisa nyupir aku doang.” jawab Pijar tertawa kecut.
“Ke pulau seribu aja?” saran Sam.
“Naik apa? Kereta?” tanya Pijar lagi.
“Yang deket-deket aja sih. Kan baru kemarin merayakan purnama.” Layung satu pikiran denganku.
“Oiya, ke sini aja gimana?” Sam menunjukan suatu artikel wisata di ponselnya.
“Nah ini deket.” kata Pijar.
“Pasir putih juga nih.” tambah Wulan.
“Yaudah situ aja. Kayanya bagus.” tambah Layung.
“Ta?” tanya Sam, diikuti tatapan penasaran dari mereka semua menunggu pendapatku.
“Ya udah ngikut.” jawabku setelah jeda beberapa detik.
“Nah, oke. Deal yah minggu depan kita ke sini. Kosongin jadwal, siapin barang-barang, kita akan merayakan gerhana bulan langka di pulau ini.” kata Sam menutup diskusi.
Artikel yang ditunjukkan oleh Sam merujuk pada sebuah pulau kecil di utara Pulau Jawa, tepatnya Kabupaten Jepara. Dari yang k****a, laut di daerah sana memiliki terumbu karang yang indah dan pasir pantai putih nan halus. Pada bulan-bulan tertentu cuaca akan bersahabat untuk para wisatawan melakukan kegiatan menyelam atau snorkling. Belakangan, pulau itu juga terkenal sebagai tujuan berkemah para pecinta alam karena di bagian tengah dari pulau itu adalah hutan tropis. Di sana ada mercusuar dan makam keramat yang sering dikunjungi peziarah, itu artinya di sana juga memiliki fasilitas umum yang cukup memadai. Jarak dari Kota Semarang ke Jepara kurang lebih 3 jam perjalanan darat, untuk mencapai lokasi perlu 1 jam perjalanan dengan menyewa perahu dari pantai wisata terdekat. Total perjalanan kurang lebih 4 jam, bukan perjalanan jauh yang melelahkan. Dengan pertimbangan kesehatan kami dan keadaan ekonomi di akhir bulan, sepertinya pulau ini adalah pilihan yang paling tepat.
Bila kuingat-ingat kami memang belum pernah merayakan purnama di pulau. Kami pernah berlibur ke karimun jawa dan kepulauan seribu bersama-sama, tapi bukan untuk merayakan purnama. Ditambah lagi purnama yang akan terjadi minggu depan bukanlah purnama biasa. Seperti kata Samudra, itu adalah fenomena gerhana bulan langka yang terjadi seratus tahun sekali. Menikmatinya di atas pasir pantai yang hangat dengan deburan ombak sebagai musik pengiring tentu lebih nyaman daripada di atas gunung yang dingin setelah lelah mendaki berjam-jam. Tempat istimewa untuk menikmati purnama yang istimewa.
Mendadak aku jadi teringat sebuah mitos tentang gerhana bulan yang sangat kupercayai semasa kecil. Di daerahku, ketika gerhana bulan terjadi anak-anak dan ibu hamil tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Jika keluar dari rumah dan menatap purnama secara langsung maka akan diculik oleh raja iblis yang sedang melahap bulan. Mitos itu berhasil menakutiku saat kecil. Aku selalu bersembunyi bersama ibuku saat gerhana bulan terjadi. Dan ketika memasuki usia remaja barulah aku tahu, itu adalah kebohongan yang dibuat orang dewasa agar kami tidak main malam-malam. Rasanya lucu sekali, saat kecil aku sangat takut hingga bersembunyi menghindarinya, kini dikala dewasa aku justru mempersiapkan kursi terbaik untuk menikmati gerhana bulan secara langsung.
”Ta, sakit?” tanya Wulan setelah menatapku melamun beberapa saat.
”Hah? Gak.” jawabku kaget darimana dia bisa menyimpulkan itu.
”Kok diem aja?” tanya Wulan lagi sambil menyendok nasi dan tumis buncis yang tersisa di piringnya.
”Orang lagi makan.” jawabku masih melanjutkan makan.
”Ta, nanti malem ikut futsal sama anak-anak hukum mau gak?” tanya Pijar.
”Ngikut.” jawabku enteng tanpa menengok ke arah Pijar.
”Lemes amat jawabnya. Kenapa sih?” Wulan meletakkan tangannya ke dahiku. Aku langsung tersentak kaget karena tangannya terasa dingin seperti beku.
”Tuh kan bener! Semesta badannya panas nih! Gak usah pada futsal, di kosan aja nanti malem.” Wulan mengatakannya sambil pindah menyentuh pipiku. Aku menatap matanya dalam-dalam. Jika dia bisa merasakan aku sakit hanya dengan mengamati gerak gerikku mustahil dia tidak menyadari perasaanku selama ini.
”Ayo abisin makannya terus minum obat. Mak, punya parasetamol gak?” Wulan bertanya pada ibu penjaga warteg lalu diserahkannya sebutir obat padaku. Sam, Layung dan Pijar mengamati dalam diam.
”Abis ngapain sih? Kok tiba-tiba sakit? Kangen rumah?” sekarang Wulan mulai mengomel. Aku merasa itu bukan pertanyaan yang butuh jawaban jadi aku hanya diam sambil menghabiskan makananku.
”Semalem main PS sampai pagi tuh.” Pijar mengadu pada Wulan. Padahal dia juga ikut main bersama kami. Aku, Sam, Layung dan Pijar bertanding pes semalaman. Sam tak terima kalah dariku, jadi kami bertanding ulang sampai beberapa ronde.
”Ini minum teh anget aku aja, es terus!” Wulan merebut es teh yang kupesan, disodorkannya teh hangat yang sudah tinggal setengah penuh.
”Omelin aja, Lan. Iya tuh jajannya es terus kaya bocah.” Layung tertawa mengejek. Kutelan obat yang tadi diserahkan padaku.
”Yuk pulang. Abis ini tidur, Ta. Seminggu lagi harus sembuh lho.” Samudra mengatakannya sambil berdiri membayar makanan yang dihabiskannya. Lalu kami ikut berdiri untuk membayar dan pergi meninggalkan warteg itu.
Aku langsung berbaring begitu sampai di kamar. Padahal tadi aku merasa baik-baik saja, tapi begitu Wulan menyentuh wajahku aku merasa benar-benar sakit. Aku penasaran apa yang ada dalam benak Wulan. Kenapa dia tidak berubah sedikitpun meski ia tahu aku mencintainya. Apa dia tidak merasa kesulitan dengan perasaannya pada Samudra saat aku juga ada disekitarnya? Atau dia juga merasakan hal yang sama denganku, serba salah tak ingin kehilangan apapun. Aku membayangkan kami terikat pada rantai emas murni yang berkilau indah sangat berharga untuk dijaga. Lalu aku melilitkan kawat berduri ke leherku, ke Wulan, ke Samudra. Makin lama makin kutarik kawat itu hingga durinya dibasahi darah. Tapi mereka tetap terseyum. Mereka tak jua bersusah payah melepas lilitanku. Tanganku tercabik kawat berduri yang kugenggam kuat, darah menetes satu-satu dari jerat leher kami. Dan kami tetap tersenyum. Terhipnotis kilau indah rantai emas yang mengikat kami.
Apa lilitan kawat berduri itu akan musnah dengan aku menyatakan cinta pada Wulan? Tidak. Kawat berduri itu adalah wujud perasaanku yang egois. Yang harus kulenyapkan adalah perasaan cintaku pada Wulan. Dan bagaimana pula caraku membunuh perasaan yang sudah hidup empat tahun bersamaku? Jika waktu menumbuhkan cinta, apa waktu pula yang akan membuatku lupa? Sebentar lagi aku juga harus pulang ke Bengkulu. Dengan tambahan jarak sebagai bumbu, aku akan melupakan kawat duri itu. Harus. Aku menjawab pertanyaan yang kubuat sendiri, meluruskan kekusutan yang kuciptakan sendiri, dan masih merasa ada yang salah. Sesuatu belum beres.