Bab 5 - Hangover (3)

2068 Words
Samudra dan Layung masih berisik dalam kamar mandi. Aku langsung melesat naik ke lantai atas menuju kamar Wulan. Ternyata di atas ada dua kamar tidur berhadapan-hadapan dengan ruang tengah yang terhubung ke balkon. Tak tahu mana kamar yang digunakan oleh Wulan, aku langsung saja masuk ke kamar yang pintunya terbuka. Sebelum masuk, aku meneriakkan nama Wulan dulu kencang-kencang sebagai antisipasi. “Lan… Wulan…” mataku memindai isi kamar yang gelap. Kunyalakan lampu setelah susah payah mencari sekringnya. Begitu lampu menyala, sebuah pintu yang tampak seperti pintu kamar mandi di hadapanku terbuka. Refleks kubalikkan badan, ini pertama kalinya aku masuk ke kamar perempuan. “Apa sih teriak-teriak? Bikin kaget aja.” jawab Wulan di belakangku. “Di bawah gak ada handuk. Nih pakai selimut aja buat ngeringin badan.” kataku sambil menyodorkan selimut ke belakang. “Ta, ngapain sih? Aku udah ganti baju ini.” Wulan mengatakannya sambil menepuk pundakku. Aku kaget sekaligus salah tingkah. “Oh, kirain.” jawabku sambil membalikkan badan. Wulan tampak sudah berpakaian rapi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Kirain apaan? Aku keluar kamar mandi telanjang gak pakai baju, gitu?” kata-kata Wulan semakin membuatku salah tingkah. “Ya siapa tau, kan?” astaga, apa yang sudah kupikirkan sih! “Yee, maunya! Aku gak b**o ya. Lagian buat apa selimut? Di sini ada handuk. Tuh, banyak!” Wulan menunjuk setumpuk handuk dalam lemari yang pintunya terbuka. “Hih, bukannya bilang daritadi. Kita pakai selimut tau gak buat ngeringin badan.” kataku kesal. “Sengaja, siapa suruh main ceburin sembarangan.” jawab Wulan sambil melet-melet mengejek. “Woo, ni anak mulai berani ya! Yaudah buruan turun, ngapain sih lama banget di sini sendirian? Kupikir tadi kamu pingsan kedinginan tau.” kataku sambil mencubit pipinya yang lembut seperti bakpau. “Aduh aduh! Iya iya ini mau turun. Yuk!” kami turun berbarengan sambil membawa handuk kering untuk mengeringkan rambut. Di bawah semuanya sedang berkumpul di dapur. Pijar sedang menghadap kompor memasak air, sedangkan Sam dan Layung duduk di meja bar sambil membuka bungkus mie instan. “Makan lagi?” tanya Wulan begitu melihat dapur. “Cari yang anget-anget aja. Di sini gak ada kopi, adanya mie sama minuman jahat di kulkas.” jawab Pijar. “Lho, masih ada lagi, Jar?” Layung langsung menyaut begitu mendengar ada minuman beralkohol. “Ada, tapi yang ini beda. Lebih keras.” jawab Pijar sambil tersenyum nakal. “Wah, cocok nih. Pas dingin-dingin gini.” kata Sam saat mengeluarkan isi kulkas yang dimaksud. “Heh, ini di makan dulu. Itu nanti gampang.” kata Pijar sambil menuangkan mie rebus ke dalam mangkuk. Kami pindah kembali ke halaman belakang. Duduk lesehan beralas matras sambil menikmati sinar bulan purnama dengan hangatnya dua bungkus mie instan dimakan bersama-sama. Wulan duduk di sampingku, Samudra di sebelah Wulan. Lalu Layung dan Pijar bersebelahan duduk di sampingku yang satunya. “Main kartu yuk.” ajak Pijar setelah kami selesai makan. “Pake taruhan ya.” saut Layung. “Yang menang apa yang kalah?” tanya Sam. “Samain yang tadi aja.” jawab Layung. “Tapi gak pake nyebur kolam renang lagi ya!” sambung Wulan. “Setuju.” tambahku. Aku merasa kali ini aku tak bisa lagi menahan mereka untuk minum sampai teler. “Deal!” jawab mereka serempak. Kami main beberapa putaran sampai Layung akhirnya teler duluan. Dia hampir selalu menang di awal permainan, hadiahnya pun dia tenggak sendiri. Tak heran sekarang dia tertidur nyenyak di sebelahku. Tersisa kami berempat melanjutkan permainan. Sam bermain aman dengan terus menang dan memberikan minumannya padaku. “Ta, minum.” Sam menang lagi. “Sialan. Sam lo gak minum?” ini sudah ketiga kali berturut-turut dia menang. “Lo kayanya lebih haus, Ta.” jawab Sam tersenyum penuh arti. Sepertinya dia sengaja untuk membuatku mabuk agar bisa mengakui perasaanku pada Wulan. “Kalian ada dendam apa sih?” tanya Wulan mulai curiga. Langsung ku tenggak satu gelas penuh, untuk menghindari pertanyaan Wulan. “Semesta kayanya lagi galau. Bentar lagi wisuda terus balik Bengkulu ya, Ta? Tinggal bentar doang dong di sini.” Samudra memberikan kode keras padaku. Benar, tidak lama lagi aku harus kembali ke kota asalku. Aku sudah berjanji pada orang tuaku untuk ikut pulang bersama mereka di hari wisudaku. “Iya ya, Ta? Wah, bakal kangen banget nih. Gak cari kerja di sini aja?” kata Wulan. “Ada janji yang harus kutepati, Lan. Meski aku juga tak tahu kemana nasib akan membawaku nantinya.” Jawabku berusaha sewaras mungkin menanggapi kata kangen dari Wulan. “Janji apa?” tanya Wulan serius. “Mau dijodohin sama tuan putri yang punya tambang intan di sana katanya.” jawab Sam dengan tanpa ekspresi sambil memainkan kartu di tangannya. “Haha. Lucu banget deh, Sam. Gak ada yang lebih lucu lagi.” jawab Wulan kesal atas guyonan Sam. Aku jadi ingin menggodanya juga, penasaran dengan tanggapannya. “Iya, Lan. Emang bener kok.” kataku dengan wajah dibuat senatural mungkin. “Masa sih? Kalian ngerjain aku ya? Mana mungkin jaman gini masih ada jodoh-jodohan.” Wulan mengelak dengan tertawa yang dipaksakan. “Bengkulu beda sama jawa, Lan.” tambah Pijar dengan wajah meyakinkan. Aku benar-benar ingin tertawa melihatnya, tapi justru sepertinya Wulan berhasil dibuat percaya dengan itu. “Apaan sih? Kamu juga tau, Jar? Ini cuma aku doang ya yang gak tau? Ta, beneran ini?” wajah Wulan mulai merah, seperti kelabakan, dia mencari jawaban dengan memandangku marah. “Sorry ya, Lan.” jawabku singkat. Aku masih tak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Apakah karena merasa terhianati tidak kuberi tahu tentang hal ini, atau jangan-jangan karena yang lain? “Ih parah. Kok bisa cuma aku yang gak dikasih tau sih? Pantesan belakangan ini kamu aneh banget, Ta.” jawab Wulan sambil memikirkan sesuatu. Dia diam sejenak, menunduk memandangi kartu di tangannya. Aku, Sam dan Pijar saling bertukar pandang. Sekarang aku benar-benar bingung bagaimana mengartikannya. “Lan.” panggilku pelan. Wulan masih menunduk tak mau merespon. “Kamu marah, Lan?” kataku lagi. Sekarang matanya mulai berkaca-kaca seperti mau menangis. Aku panik. Kulihat Sam dan Pijar juga melotot menahan tawa dengan respon Wulan. “Lan, kamu nangis?” aku sudah tak tahan lagi berpura-pura, kudekati wajahnya yang sedang menunduk. Sesaat mata kami beradu pandang. “Panik ya?” katanya penuh penekanan. Lalu tertawa kencang, diikuti oleh ledak tawa Sam dan Layung. “k*****t. Ini siapa ngerjain siapa jadinya.” kataku geli ikut tertawa. “Heh, kalian pikir aku gak bisa baca wajah bohong kalian? Kalian mau ngerjain aku? Kecepetan seribu tahun! Apanya yang tuan putri tambang intan? Hahaha, kocak!” Wulan seperti puas menertawakan kami. Aku jadi merasa bodoh sendiri, bisa-bisanya tadi aku berpikir Wulan merasakan sesuatu padaku. “Udah ah, capek. Kalian masih mau main?” tanyaku sambil menenggak lagi segelas penuh minuman yang kutuang sendiri. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Mungkin juga merasa kecewa. “Iya dong. Purnama masih tinggi lho, Ta. Masa udah mau tidur?” jawab Sam. Ikut menuang minuman ke gelas lalu menenggaknya. “Ih Semesta ngambek ya?” kata Wulan sambil menggodaku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil tersenyum manis sekali. Dengan jarak kami sekarang, aku bahkan bisa melihat bayanganku sendiri di bola matanya. Aku bisa mencium wangi shampo bercampur dengan bau alkohol menyelimuti tubuhnya. Aku bisa merasakan nafas hangat menyentuh wajahku saat dia berbicara. Sekujur tubuhku terasa panas dan aku sungguh ingin mencium bibir itu saat ini juga. Kemudian aku berpaling. “Aku udah mabuk kayanya, ngantuk banget.” Aku lalu berbaring, menutup mataku dengan siku. Pasti. Pasti aku sudah mabuk. Aku sampai ingin mencium bibirnya. Ini pertama kalinya aku memiliki perasaan ini. Bila aku tak segera berpaling atau bila aku minum satu gelas lagi, aku mungkin tak bisa mengendalikan diri. Ternyata akulah b******n yang sedari awal kukhawatirkan. Ternyata diriku sendiri yang tak bisa menghindar dari pengaruh alkohol. Akal sehatku sudah koyak. Pikiranku keruh. Dan aku masih juga merasa kecewa. *** Aku bangun saat matahari sudah tinggi. Layung masih tertidur di sebelahku. Sam, Pijar, dan Wulan tidak terlihat di sini. Ku periksa layar ponsel saat ini menunjukkan pukul 8 pagi. Meski sudah siang tapi di sini masih cukup dingin, masih sangat nyaman untuk lanjut tidur meski di halaman sekalipun. Terdengar suara mobil Pijar dari kejauhan. Aku lalu membangunkan Layung memintanya untuk pindah ke dalam rumah. ”Yung.. Yung.. Pindah dalem.” kataku sambil kugoncang-goncang tubuhnya. ”Hmhh..” dia hanya menjawab dengan deheman. ”Yung.. Hari ini ujian Bu Lina, bangun!” Bu Lina adalah dosen pembimbing Layung, beliau sulit sekali untuk ditemui, jadi Layung pasti tak akan melewatkan uji materi dengan beliau. ”Hah, Bu Lina?! Iya baik bu! Saya sampai kantor ibu dalam tiga menit!” Layung langsung bangun dengan tangan menempel di telinga seperti sedang menelepon. Aku tertawa melihatnya. Pijar yang datang dari kejauhan juga ikut tertawa melihat Layung. ”Yung.. Bu Lina beliin kamu sarapan, ayo buruan dimakan.” tambah Pijar. Layung setengah sadar, matanya merah masih belum terbuka sempurna. ”Jar, ndasku ngelu (kepalaku pusing), Jar.” Layung seperti berusaha setengah mati untuk membuka matanya. ”Koe ngombe gak itungan sih! (Kamu minum berlebihan sih) Nih makan soto dulu buat anget-anget.” Pijar memapah Layung ke dalam rumah sambil memarahinya. ”Kamu udah bangun daritadi, Jar?” tanyaku. ”Jam 7. Aku gak minum banyak to kemarin, ngerti aku mesti bakal jadi kayak gini. Makanya aku bangun langsung cari sarapan beli soto depan pasar di bawah komplek. Sana, Ta. Kamu bangunin Sam sama Wulan.” kata Pijar. ”Sam sama Wulan di mana, Jar?” tanyaku. ”Wulan di kamar utama, Sam mungkin di sofa. Coba cari aja, Ta.” Pijar lanjut membopong Layung masuk rumah, aku segera menuju ke kamar utama. Wulan masih tertidur lelap di balik selimut. Rambutnya berantakan wajahnya tampak kusut. Melihatnya begini membuatku ingat pada kejadian semalam. Aku merasa bersalah sudah pernah memiliki pikiran kotor padanya. ”Lan, bangun, Lan. Sarapan dulu.” ku tepuk-tepuk kakinya dari atas selimut. ”Hmhh..” responnya sama persis dengan Layung. “Lan, bangun. Makan dulu. Tar sakit perut kalau gak makan.” kataku sambil menarik selimutnya. Wulan juga sepertinya habis mabuk berat semalam. “Ta, ini dimana?” tanya Wulan setengah sadar. “Di surga. Ayo buruan makan keburu sotonya dingin.” ajakku lalu kutarik tangannya agar segera bangun dari kasur. Matanya merah sama seperti Layung. “Ta! Pusing banget, Ta! Pelan-pelan!” teriak Wulan saat kududukan di kasur. “Kemarin minum sampe jam berapa sih? Kamu minum apa aja?” tanyaku kesal. “Gak tau, gak inget. Ada air gak? haus banget, Ta.” rengek Wulan dengan wajah melas seperti sayuran busuk. Kuambilkan botol air mineral di meja samping kasur dan dia langsung minum seperti habis mengarungi gurun pasir. Setelah itu barulah matanya terbuka lebar. “Ta, puyeng banget nih. Kenapa ya?” tanya Wulan dengan polosnya. “Menurut ngana? Masih tanya kenapa lagi? Siapa suruh mabok-mabokan. Ayo makan dulu biar enakan.” jawabku sambil lagi-lagi mengajaknya makan. “Gendong.” kata Wulan sambil mengangkat dua tangannya. “Parah! Abis marah-marah terus minta gendong.” jawabku sambil menggendongnya di punggung. Tangannya yang kurus itu dilingkarkannya ke leherku. Aku berjalan perlahan, berharap jarak dari kamar sampai dapur akan menjadi lima kali lipat lebih jauh dari semestinya. “Ta, aku gak bisa inget apa-apa soal kemarin.” kata Wulan tepat di kupingku, karena dia sandarkan kepalanya di pundakku. “Ya berarti kamu mabuk berat semalem.” jawabku setengah berbisik. “Yah sayang banget, padahal pasti seru ya.” jawabnya dengan suara bangun tidur yang menggetarkan jiwa. Aku berusaha keras mengumpulkan kewarasanku agar tidak terlihat menggelikan. “Nanti juga bakal inget lagi. Mau digendong sampai mana?” tanyaku saat kami sudah sampai ruang tengah. “Tolong mampir kamar mandi dulu bisa gak pak supir? Saya tiba-tiba kebelet.” jawabnya sambil tertawa kecil. “Yee, itu sih balik lagi namanya. Tuh kamar mandi pembantu aja.” kuturunkan Wulan di bawah tangga, meski sebenarnya aku tak keberatan untuk menggendongnya kembali ke kamar. Aku terlalu pengecut. Aku tak berani mengakui perasaanku. Aku tak berani mempertaruhkan hubungan persahabatan ini untuk perasaanku yang dangkal dan egois.    Setelah makan, kami semua kembali segar bugar dan tertawa riang lagi seperti semula. Acara dilanjutkan dengan bersih-bersih vila dan perjalanan pulang kembali ke kontrakan. Saat berangkat ke vila mataku ditutup dengan kain, jadi aku tak tahu dimana tepatnya lokasi vila ini. Baru kini kutahu, ternyata tempatnya ada di luar Kota Semarang, tepatnya di kaki Gunung Merbabu. Gunung pertama yang kudaki bersama dengan keempat sahabatku ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD