Semua bermula entah dari mana. Tidak ada hal pertama apapun yang bisa kuingat.
Rasanya seumur hidupku sudah seperti ini. Penuh dengan sengatan rasa sakit, kepedihan, kesedihan, putus asa, kebencian. Semua itu sudah menjadi bagian dari hidupku.
Aku tak pernah terbiasa. Bukannya menjadi kebal, justru seluruh tubuhku malah menjadi lebih sensitif dari seharusnya. Setiap hari rasa benciku terus menumpuk.
Membenci kehidupanku, diriku, tempatku terkurung, dan sang naga.
Aku bahkan sempat mengira aku adalah keturunan si naga. Anaknya yang dirawat dengan kelewat sadis. Sayangnya bukan.
Naga sialan yang menamai dirinya Gwazel Aurivorn Thal'dren atau yang biasa kusebut Gwazel, bukanlah ayahku. Bukan kakak, bukan saudara. Dia hanya naga b******n yang menyandera hidupku.
Aku bahkan tidak tahu berapa umurku sekarang. Seperti apa rupaku. Siapa aku. Dari mana asalku.
Tidak tahu.
Tidak ada cermin, tidak ada siapa pun yang bisa memberitahuku.
Naga itu? Gwazel?
Dia tidak pernah menjelaskan apa pun.
Petunjuk yang kupunya hanyalah kulitku yang makin pucat. Rambut abu kusamku yang makin kusut. Menjuntai terlalu panjang hampir se-mata kaki. Serta tubuhku yang terus bertumbuh. Semua itu menunjukkan bahwa waktu terus berjalan.
Hanya saja aku sendiri tidak begitu yakin. Karena arti waktu sendiri telah membusuk di tempat ini.
Siang dan malam tidak pernah berbeda. Cahaya yang masuk tipis, kadang putih pucat, kadang abu-abu samar. Semua terasa sama, tanpa jeda, tanpa penanda.
Aku pernah mencoba menghitung tetesan air dari langit-langit atau gerincing rantai yang berayun, berharap bisa menandai hari, tapi akhirnya semuanya bercampur jadi satu, sampai hitunganku kehilangan arti. Aku tidak tahu apakah aku sudah menghabiskan bulan, tahun, bahkan abad. Mungkin tidak selama itu juga. Entahlah...
Aku masih mengingat pertanyaan pertama dan terakhir yang pernah keluar dari mulutku, selain semua yang tak terucap hingga sekarang. Semua berawal dari rasa penasaranku tentang dunia luar.
"Gwazel, di luar itu apa?"
Sebuah pertanyaan singkat, menanyakan tentang dunia yang tidak pernah kulihat. Pertanyaan itu muncul setelah Gwazel pertama kali membawaku ke menara di bagian selatan kastil, tempat yang selama ini kujadikan rumah.
Rumah.
Kata yang ironis sekali. Katanya, rumah adalah tempat orang merasa aman, tempat kembali, tempat beristirahat. Kalau benar begitu, maka tempat ini hanyalah kebalikannya. Dingin, pengap, penuh belenggu. Kalau ini disebut rumah, berarti aku selalu pulang ke neraka setiap harinya.Tempat ini lebih tepat disebut penjara.
Tapi.. yah..
Ruangan ini adalah satu-satunya bagiku, dimana setelah kesakitan yang beruntun, air mata, emosi yang dipaksakan. Aku bisa melepas semuanya di ruangan ini, sendirian. Tanpa kehadiran siapapun.
Anehnya, ditengah neraka ini aku menemukan sedikit ketenangan. Lucu bukan?
Gara-gara pertanyaan itu, aku kehilangan hak untuk berbicara. Mulutku di sumpal dengan kain dan diikat dibelakang kepalaku. Gwazel hanya membuka ikatan itu ketika aku harus makan dan minum. Sekali aku mulai berbicara maka dia akan menyumpalnya lagi.
Untuk setiap kata yang keluar dari bibirku, naga jahat itu akan membuatku kelaparan untuk waktu yang sangat lama, sampai aku tak bisa lagi menggerakan badanku. Tetapi dia selalu kembali untuk memastikan aku tidak mati. Baru setelah itu aku akan diijinkan untuk makan.
Kalau hitunganku benar, aku pernah tiga kali mencoba berbicara lagi.
Memohon lebih tepatnya.
Bukan...
Bukan memohon belas kasihan, memohon ampunan, ataupun memohon kebebasan.
Tidak bukan itu...
Aku memohon... kematian...
Memohon agar naga itu membiarkan aku menghilang dari dunia ini.
Entah karna kesakitan atau karna kelaparan. Tapi permohonanku ditertawakan oleh kesenyapan.
Aku tetap dipaksa hidup, dipaksa menanggung siksaan.
Sayangnya setelah itu hal yang sama terulang kembali. Aku akan diabaikan, dibiarkan berhari-hari. Kelaparan, kedinginan, sendirian. Bahkan rasa sakitnya semakin menjadi. Berlipat-lipat. Membuatku terkadang heran kenapa bukannya menjadi gila, justru aku malah tetap waras.
Sepertinya jika aku kehilangan pikiran jernihku ini akan lebih enak. Terdengar lebih masuk akal mengingat situasiku saat ini.
Kalau saja aku kehilangan kewarasanku, aku tak harus memikirkan semua rasa sakit ini bukan? Aku tak perlu membenci apapun. Tak perlu seperti sekarang, saat aku membenci segala hal.
Terutama membenci hidupku sendiri...
Aku bahkan tidak tahu lagi seperti apa suara asliku. Bibirku sudah terlalu lama dibungkam, suaraku berkarat di tenggorokan.
Memuakkan...
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku masih bisa disebut hidup? Ataukah aku hanyalah mainan naga itu? Layaknya seonggok daging yang bernapas hanya karena ia menginginkannya...
Aku bahkan mulai penasaran..
Jika suatu hari nanti aku rusak, apakah dia akan membuangku? Atau justru membiarkanku meraih impianku untuk mati?
Kadang aku juga bertanya, apakah masih ada sesuatu di luar sana yang menungguku, atau semuanya telah hancur, bersamaan dengan kehancuranku di tempat ini?
Mungkin dunia luar hanyalah bayangan yang kuciptakan agar bisa terus bernapas. Padahal mungkin kenyataannya tidak ada apapun diluar sana. Dan kehidupan hanya berputar di sini. Dalam pusaran kepedihan.
Terlalu lama terkungkung disini, membuat indraku menumul. Sampai rasa sakit pun berubah menjadi kebiasaan, dan keheningan menjadi teman paling setia. Jika aku memang dilahirkan hanya untuk hidup di dalam diam dan rantai, maka mungkin... beginilah caraku ada.
Tanpa asal, tanpa tujuan, tanpa suara.
Apakah ini yang dinamakan sebagai hidup?
Tapi akhir-akhir ini... sesuatu terasa berbeda. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatku sulit tidur.
Ada suara samar yang tidak kukenal. Langkah-langkah ringan, pelan, nyaris tak terdengar, seolah seseorang mencoba bersembunyi di balik tembok batu.
Awalnya kupikir itu Gwazel, tapi suara itu tidak seberat miliknya. Tidak ada desis napas panas yang biasanya menyertai kehadirannya. Tidak ada bau darah atau bara.
Suara itu... asing. Lembut. Ragu-ragu.
Aku sempat menegakkan tubuh, menajamkan pendengaran, tapi yang terdengar hanya keheningan. Beberapa saat kemudian, terdengar lagi. Satu langkah. Dua. Lalu diam.
Aku menunggu. Tidak ada apa-apa.
Mungkin hanya halusinasiku. Atau mungkin... bukan.
Dan untuk pertama kalinya setelah entah berapa lama, dadaku terasa bergetar aneh. Bukan ketakutan. Bukan sakit. Tapi sesuatu yang telah lama hilang.
Harapan.
Apakah ini pertanda bahwa aku tidak sendirian di tempat ini?
Atau justru awal dari sesuatu yang lebih buruk?