Chapter 1- Chains

1444 Words
Mungkin lebih mudah menyerah pada kehancuran daripada terus berpura-pura menjadi sesuatu yang bernama manusia. Aku muak. Dunia ini hanya neraka yang tak bertepi, dan aku terjebak di dalamnya bersama iblis yang tersenyum setiap kali aku jatuh. Bicara soal iblis. Dia akhirnya datang juga. Suara langkah kaki terdengar samar dari lorong. Aku mengangkat kepala perlahan. Suara itu memantul di dinding batu yang basah, menggetarkan udara pengap di ruangan sempit ini. Dindingnya lembab, lumut menempel seperti kulit kedua. Bau karat dari rantai menyatu dengan aroma lembab tanah. Tetes air jatuh dari langit-langit, satu-satu, memecah kesunyian seperti jam yang tak mau berhenti. Setiap bunyi kecil terasa nyaring di sini. Lantai batu di bawahku tetap dingin seperti biasa, tapi kali ini dinginnya menembus lebih dalam, hingga ke tulang. Aku menggigil, menarik lututku lebih dekat ke d**a. Rantai di pergelangan tanganku berderak pelan saat aku bergerak, suara yang sudah terlalu akrab di telingaku. Kadang kupikir, mungkin benda ini lebih setia dari manusia mana pun. Ia selalu ada di sini. Tak peduli aku menangis, tertidur, atau berhenti bernapas sekalipun. Bunyi belenggu yang bergemerincing setiap aku bergerak adalah musik harianku, musik yang selalu mengingatkan bahwa aku bukan manusia bebas, aku hanyalah benda yang terikat. Tidak ada posisi nyaman. Tidak ada istirahat. Langkah berat Gwazel semakin terdengar keras. Di kastil istana ini hanya ada naga jahat itu dan aku, jadi tidak mungkin ada orang lain yang membuat suara, bahkan hewanpun tidak ada yang bisa berkeliaran terlalu lama di kastil. Kalaupun ada, mereka akan berakhir di rahangnya. Ya... Dia akan langsung melahapnya seperti memakan makanan ringan. Aku masih mengingatnya. Waktu itu aku mendengar suara desis singkat, lalu bunyi tubuh yang terhempas kasar ke lantai batu. Hewan malang itu, tak sempat menjerit lama sebelum dicengkeram. Gwazel meraih mangsanya dengan satu tangan, mencengkeram bulunya dengan cakar yang menembus kulit, darah menetes cepat ke lantai. Dengan gerakan lambat, ia membuka penutup wajahnya, tapi memalingkan kepala, seolah tidak ingin aku melihat apa yang terjadi di balik kain itu. Namun bayangannya di dinding tampak jelas. Saat rahangnya meregang, taring menyorong ke luar, suara daging dikoyak dan bunyi tulang yang retak. Aku tidak bisa melihat langsung, tapi cukup untuk membuatku mengerti. Aku menutup mata, tapi suara itu menempel dikepalaku. Suara predator yang mengoyak mangsanya seolah tidak ada perbedaan antara melahap hewan liar atau... bisa jadi selanjutnya adalah aku. Aah cukup! Aku tidak mau mengingatnya! Aku menggelengkan kepala mencoba mengusir bayangan itu dari kepalaku, bulu kudukku meremang, badanku mulai gemetaran. Aku benci ketika Naga itu datang. Setelah ini yang ada hanya kesakitan yang beruntun. Udara menolak memasuki paru-paruku saat Gwazel akhirnya sampai di depan jeruji besi yang jadi pintu kamarku. Aku dapat melihat bayangan hitam. Hanya kehadiran bayangannya saja sudah membuat neraka ini menjadi lebih menyiksa. Aku lupa. Dia bisa berubah menjadi manusia. Dia membuka kunci jeruji besi. Suara kunci pertama terdengar, sebuah denting tajam yang merobek sunyi. Klik. Klik. Klik. Kunci ketiga menambah nada, seperti palu kecil mengetuk sesuatu di dalam dadaku. Denting ketiga, berdengung lama sampai gema itu berputar di kepalaku seperti putaran pisau. Berlebihan bukan? Semua ini hanya untuk memastikan seorang gadis terantai tak bisa kabur. Padahal rantai di pergelangan tanganku sudah cukup untuk membunuh harapanku untuk melarikan diri, namun naga itu tetap menambahkan belenggu demi belenggu. Bukannya tak pernah kucoba... Dulu, waktu tubuhku masih kecil dan rantai belum jadi perhiasan abadi di tanganku. Gwazel pergi entah ke mana, dan aku menemukan pintu jeruji itu tidak terkunci sepenuhnya. Hanya sedikit celah, hanya satu kelalaian kecil, tapi bagiku itu terlihat seperti kebebasan. Aku mendorong pintu penjara hingga terbuka sedikit, melangkah keluar. Saat itu mungkin aku baru melangkahkan satu kakiku, atau dua, ketika suara itu datang. Bunyi langkah berat. Aku membeku, tapi terlambat. Gwazel sudah berdiri di sana, menatapku dengan sorot mata yang membuat jantungku hampir berhenti. Ia menyeretku kembali tanpa sepatah kata, lalu menghukumku dengan rantai di tembok lembab. Sejak saat itu, aku tidak pernah benar-benar bebas. Itulah kenapa sampai sekarang kedua tanganku tidak pernah lepas dari yang namanya rantai. Seperti saat ini. Aku hanya bisa diam, menunggu apapun yang akan terjadi. Pintu perlahan terbuka lebar. Cahaya berubah. Udara terasa menyempit. Lalu sosok itu memenuhi ruangan. Sepatunya beradu dengan lantai batu, gema pendeknya memecah pikiranku. Bau kayu manis, darah kering dan asap samar menempel di sekelilingnya. Tubuh tinggi dan tegapnya menjulang menutupi cahaya redup yang masuk lewat celah jendela. Rambut hitam panjangnya diikat kebelakang, berkilau tipis saat secercah cahaya memantul di sana. Kulitnya pucat, kontras dengan pakaian kulit hitam yang menempel rapat di tubuhnya. Tanpa jubah. Membuatnya tampak seperti kesatria kegelapan. Tidak... itu terlalu mulia. Ksatria menyelamatkan orang. Gwazel lebih mirip raja iblis yang turun dari singgasananya, menginjakkan kaki di tanah hanya untuk menyebar kengerian. Aku membeku, tapi otakku berputar. Ia tidak memakai jubah. Itu hanya berarti satu hal. Dia akan berubah lagi. Menjadi naga. Aku benci fakta itu. Lima kali aku melihatnya berubah. Lima kali. Dan lima kali cukup untuk menghantui hidupku. Apa stok kenangan itu sudah habis? Atau hari ini ia berniat menambahnya? Ah... Kenapa aku harus memikirkan itu. Harusnya aku memikirkan rasa yang sebentar lagi aku terima. Lagi-lagi aku menahan napas. Rasanya paru-paruku mengecil, diperas oleh ketakutan yang menempel di udara. Nafas yang tadi baru saja kucuri dari dunia, kini kembali membeku di tenggorokan saat Gwazel mendekat. Setengah wajahnya tertutupi sebuah topeng dari kulit ular. Aku tak tahu apa yang disembunyikannya, cacat yang mengerikan, keindahan yang tak manusiawi, atau kebusukan yang menjijikkan. Entahlah. Tapi bahkan tanpa melihat wajahnya, aku sudah tercekik oleh ketakutan. Dengan atau tanpa topeng, aku tetap menjadi mangsanya. Anehnya Gwazel tidak pernah menua. Garis rahang, sorot mata, cara berdirinya, sama persis seperti saat aku kecil. Waktu seperti berhenti di tubuhnya, tapi tidak pada diriku. Aku terus tumbuh. Kebenaran itu menempel seperti racun, membuat setiap hari di tempat ini terasa seperti keabadian. Seperti siksaan yang tidak pernah berganti. Gwazel menunduk lalu mencondongkan tubuhnya kearahku. Jarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam terulur dan menyentuh leherku, pelan, tapi cukup untuk membuat tubuhku gemetar tanpa kendali. Klik. Nafasku melarikan diri dari paru-paruku. Suara kunci kalung besi itu menutup rapat tepat di pangkal leherku. Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa detik, lalu kembali menghantam tak terkendali. Gwazel menambahkan rantai, menariknya perlahan. Gesekan logam dengan kulit sarung tangan hitamnya menelusup ke telingaku, dingin dan menakutkan. Tubuhku gemetar, seperti daun yang tertiup angin dingin. Aku menunggu, menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Hal mengerikan yang selalu datang setelah sentuhan ringan itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Setelah rantai di leherku terpasang sempurna, sesuatu yang tidak pernah kulihat darinya terjadi. Gwazel tidak segera menjauh seperti biasanya. Sarung tangan hitamnya masih menempel di kalung besi itu, jari-jarinya bergerak pelan di sepanjang mata rantai, seakan-akan benda mati itu adalah sesuatu yang rapuh. Tatapannya jatuh padaku. Lama. Beberapa saat berlalu dalam hening, hanya suara tetes air dari langit-langit yang memecah sunyi. Aku menatap bayangan rantai di lantai, pola-pola acak yang terbentuk dari cahaya redup, seolah dunia di luar sana masih ada, meski tak pernah kukunjungi. Mata hazelnya yang biasanya sedingin batu kini tampak sendu, seperti ada beban yang berat dan sulit ia sembunyikan. Aku membeku, tak tahu harus bagaimana. Tatapan itu terasa asing, terlalu asing, sampai membuatku lebih gemetar daripada saat dia marah. Jika itu iba, kenapa rasanya seperti luka? Aku takut. Bukan padanya. Pada diriku sendiri. Ia mendekat, perlahan, tanpa ancaman. Nafasnya hangat di wajahku. Jarak kami terlalu dekat. Tapi yang menusuk bukan ketakutan, melainkan sesuatu yang aneh, samar, nyaris lembut. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuatku ingin berpaling tapi juga ingin tahu lebih jauh. Aku takut melihat hal yang tak seharusnya tidak ada pada dirinya. Sedih, ragu, bahkan mungkin belas kasih. Hal-hal yang tidak mungkin dimiliki oleh naga kejam itu. Lalu seolah tersadar, ia menjauh lagi. Gerakannya kembali dingin, Seakan semua itu hanya ilusi yang tak seharusnya terjadi. Namun bagiku, udara tidak lagi sama. Tatapan itu masih menempel di bawah kulitku, seperti luka yang tak bisa sembuh. Aku mengepalkan tanganku. Semua ini salah. Tatapan itu, napas itu, jarak yang terlalu dekat itu... semuanya salah. Semua terasa seperti pertanda. Firasat buruk merayap, menjerat. Sesuatu sedang berubah di dalam diri naga itu, dan perubahan itu jauh lebih menakutkan daripada siksaannya yang biasa. Jari-jarinya beralih ke rantai di tanganku. Hanya sekejap keduanya bebas, mereka sudah kembali terperangkap jadi satu dengan belenggu lain di depan tubuhku. Sebentar saja kebebasan semu itu berlalu, dan aku jatuh ke dalam kebingungan yang lebih dalam. Apa yang telah dilakukannya pada ku? Sampai aku begitu mengharapkan keteraturan, bahkan dalam penyiksaan? Gwazel tak mempedulikan ku yang gemetar hebat ketika dia menarik rantai yang ada di leherku. Kakiku terpaksa ku seret agar berjalan mengikuti Gwazel, keluar menuju tempat rasa sakit dan penyiksaan berada. Dan di antara bunyi rantai yang menyeret lantai batu, aku tahu, hari ini, sesuatu dalam diriku akan hancur lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD