Kakiku menyentuh air kolam. Rasanya menyenangkan. Sentuhan dinginnya seolah menyusup hingga ke relung terdalam jiwaku.
Ada sesuatu tentang air yang selalu menenangkan bagiku, seolah ia memahami setiap luka yang tak bisa ku ucapkan. Setiap riaknya membawa pergi satu per satu bebanku, rasa sakitku, hingga yang tersisa hanyalah hening. Seperti saat ini.
Gwazel menunggu di seberang kolam berbentuk lingkaran yang sedang berusaha aku lewati. Kolam tua ini dikelilingi dinding batu berlumut, retak di sana-sini, pelan-pelan ditelan waktu. Beberapa undak-undakan batu yang menurun ke arah air sudah mulai aus dimakan usia, tapi masih berdiri kokoh, menuntun langkahku memasuki air.
Dari sela-sela retakan di atas, cahaya matahari menerobos masuk, memecah jadi garis-garis lembut yang menari di permukaan air. Cahaya itu memantul di permukaan kolam dan mengenai kulitku, menciptakan kilauan bergelombang di lengan dan leherku, seolah aku sendiri sedang berubah menjadi bagian dari air itu.
Wangi lumut yang basah memenuhi udara, bercampur dengan aroma tanah lembap dan batu yang lama tidak disentuh matahari. Wanginya anehnya menenangkan, seperti pelukan dari sesuatu yang sudah lama mati tapi masih mengingatku.
Rantai di leherku menjuntai terlalu panjang, dari tempatku berdiri sampai ke tangan Gwazel, membuatku sedikit kerepotan menahan beratnya yang tertarik dan terendam di dalam air.
Tiga puluh langkah lagi sebelum aku mencapainya.
Sepuluh langkah lagi sebelum aku sampai di bagian terdalam kolam, tempat di mana kepalaku biasanya tercelup sepenuhnya ke dalam air.
Di sanalah dasar kolam seperti lubang hitam yang memanggil, sunyi, dingin, dan hening. Tapi justru di sanalah, di antara cahaya yang menari dan suara air yang berbisik, semuanya terasa... indah.
Seperti saat ini, aku sudah berada di langkah kesembilanku. Kutarik napas dalam-dalam, lalu membiarkan seluruh wajahku terendam sempurna oleh air.
Segalanya menjadi tenang.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di bawah sini.
Lima detik?
Atau lima menit?
Tidak ada bedanya.
Di dalam air, waktu tidaklah penting.
Disinilah aku merasa lebih nyata, seakan aku bukan lagi diriku, melainkan bagian dari air itu sendiri.
S
etiap riaknya adalah denyutku.
Setiap kilau yang pecah di permukaan adalah ingatanku yang perlahan lenyap.
Aku bisa saja tetap di sini selamanya. Dan mungkin aku memang ingin begitu.
Ini satu-satunya tempat di mana aku bisa bernapas tanpa takut.
Nanti sore, ia akan membiarkanku kembali ke sini.
Itu satu-satunya kemurahan yang ia beri.
Mungkin itu sebabnya aku belum sepenuhnya hancur.
Rantai di leherku menegang tiba-tiba.
Sekejap.
Sunyi itu pecah.
Gwazel menarik ku mendekat padanya.
Tubuhku kubiarkan setengah terseret dan setengah mengambang di dalam air. Suara rantai bergemerincing samar di bawah permukaan. Sampai akhirnya kakiku menyentuh lantai kolam yang dingin namun terasa akrab.
Aku memaksa kakiku untuk menyusuri undakan yang ada. Setiap langkah terasa berat, bukan karena airnya, tapi karena aku enggan meninggalkannya.
Kolam ini adalah satu-satunya tempat yang membuat segalanya terasa lebih ringan, lebih sunyi, lebih... bisa ditahan.
Tapi tarikan di rantai leherku tak pernah mengendur. Gwazel tak akan mengizinkanku berada lebih lama di dalam kolam.
Mana mungkin dia membiarkanku lebih senang lagi dari ini?
Aku merasa kehilangan sesuatu begitu kakiku menapak kembali ke batu. Seolah air itu mencuri sebagian diriku setiap kali aku meninggalkannya. Dadaku kosong, seperti ada ruang yang seharusnya terisi tapi kini menganga. Setiap tetes air yang jatuh dari ujung rambutku bukan sekadar air tapi serpihan diriku, tercecer dan hilang.
Batuan yang terasa sangat nyata ditelapakku membawa aroma lumut yang kuat. Sinar matahari menyentuh kulitku, menyebarkan kehangatan. Seperti belaian yang menenangkan.
Kadang aku berpikir, suatu hari nanti aku tidak akan kembali lagi dari dalam kolam. Aku akan larut bersama riaknya, hilang bersama pantulan cahaya. Dan mungkin, itu jauh lebih baik daripada kembali menghadapi dirinya.
Aku keluar dari kolam. Tepat berada di hadapan Gwazel dengan keadaan basah kuyup tentu saja. Air menetes deras dari ujung gaunku, menuruni lipatan-lipatan berat kain yang menempel ketat di tubuhku. Gaun coklat tua tanpa renda, tanpa hiasan. Gaun yang entah sejak kapan sudah menjadi bagian dari diriku. Kainnya tebal tapi kasar. Tapi aku sudah terbiasa.
Aku hanya ingat pernah berganti gaun tiga kali.
Gaun pertamaku berwarna hitam, berlengan pendek. Panjangnya dulu menutupi kakiku sampai mata kaki.
Aku menyukainya.
Ringan dan tidak terlalu mengekang.
Tapi lambat laun, panjangnya hanya sampai separuh betis, entah karena tubuhku yang terus tumbuh atau karena gaunnya semakin mengecil.
Gaun kedua adalah abu-abu. Warna yang lebih suram dari rambutku.
Berlengan panjang dan berkerah tinggi, menutupi seluruh leherku.
Kainnya berat, lebih panas.
Ketika matahari panas menyengat, aku hampir merasa seperti tercekik gaunku sendiri.
Dan sekarang, gaun coklat ini.
Ini adalah yang terbaik bagiku.
Warnanya seperti tanah basah. Bagian lehernya berbentuk setengah lingkaran, membebaskan leherku dari belitan kain yang terlalu rapat.
Walaupun terkadang membuatku menggigil di tengah malam ketika angin menyelinap masuk.
Setidaknya, dia tidak menambah siksaanku saat siang hari. Aku lebih senang merasa dingin daripada panas.
Gaun ini memberiku ruang untuk bernapas.
Hal yang tidak pernah diberikan oleh hidupku sendiri.
Oh, dan satu hal lagi. Yang paling kusukai dari gaun ini adalah kenyataan bahwa ia tidak mudah kering.
Kainnya menyimpan air dalam waktu lama, membuat tubuhku tetap basah bahkan berjam-jam setelah keluar dari kolam.
Jadi, ketika naga itu mulai menyiksaku, setidaknya aku masih bisa merasa tenang, karena ada air yang menetes perlahan dari tubuhku, menyejukkan kulitku seperti pelindung tipis terakhir yang tersisa.
Air terakhir menetes dari ujung gaunku.
Lalu aku ditarik masuk kembali ke kastil. Melewati lorong-lorong yang panjang dan dingin. Langkah kaki kami bergema di atas lantai batu berwarna kelabu tua yang sedikit licin karena kelembapan.
Dinding-dinding kastil menjulang tinggi di sisi kami, dibangun dari batu-batu besar yang kasar, sebagian ditumbuhi lumut hijau gelap yang tumbuh di sela retakan dan sudut-sudut yang jarang tersentuh cahaya.
Beberapa obor tua menempel di dinding, nyalanya redup dan berkelip, seperti berjuang untuk tetap hidup dalam udara yang berat dan lembap.
Kami melewati banyak pintu. Pintu-pintu kayu tua, dihiasi besi berkarat dengan pola aneh. Di setiap lorong, cahaya tipis matahari berdebu menembus jendela tinggi. Tapi sebagian besar hanyalah gelap.
Seperti isi hatiku...
Kurasa kalau aku harus berjalan sendiri di sini, pastilah aku sudah tersesat. Kastil ini seperti labirin hidup, sunyi, tapi penuh gema. Terlalu besar, terlalu banyak ruang yang tidak berpenghuni, terlalu banyak pintu yang terkunci.
Kami berjalan lama.
Terlalu lama.
Aku berhenti menghitung langkah.
Berhenti mengharap ada pintu baru yang terbuka.
Bukan berarti aku tak menginginkannya. Menjelajahi kastil. Menjelajahi dunia luar. Tentu saja aku sangat ingin.
Tapi itu tidak mungkin, selama Gwazel masih ada.
Sosoknya terlalu besar, terlalu kuat, terlalu menakutkan, bahkan bagi pikiranku sendiri.
Tak jarang juga aku berharap dia menghilang.
Pergi selamanya.
Atau mati.
Sejauh ini, harapan seperti itu hanya bisa menggantung di udara kastil ini, seperti debu yang tak pernah jatuh.
Tiba-tiba saja sosok di depanku berhenti berjalan, jaraknya begitu dekat sampai hampir membuatku menabraknya. Tubuhku menegang. Paru-paruku serasa diremas.
Bayangan besar Gwazel memenuhi celah pandangku, dan sekejap aku membayangkan apa yang bakal terjadi bila aku benar-benar menubruk punggung bidang itu. Cakar yang menyambar, tawa dingin, hukuman baru yang lain.
Astaga.. aku takut sekali membayangkannya.
Dingin merayap dari tulang belakangku sampai ke ujung jari. Untungnya bencana itu bisa dihindari. Aku menghela nafas lega saat ditarik masuk melewati sebuah pintu kayu yang terlihat sangat tebal.
Tidak! Harusnya aku tidak boleh bernafas lega!
Karena di tempat seperti ini, setiap keheningan… selalu berarti badai yang sedang menunggu waktunya.