Kini mereka berangkat kekantor bersama, membuat mata para karyawan lainnya melihat kearah mereka. Moya sedikit risih dengan pandangan yang tak menyukainya dekat dengan Bossnya. Berbeda dengan Ray yang bersikap cuek pada lainnya. Dalam lift Moya memberitahukan pada Ray untuk tidak terlihat mesra didepan karyawan lain, ia tak ingin imagenya buruk sebagai sekertaris. Ray hanya tersenyum menanggapi ucapan Moya dan hanya berdeham sekenanya.
" Boss, jangan seperti itu... ", ucap Moya sedikit manja
Cup...
Ciuman Ray mendarat di bibir Moya, Moya tertunduk malu dan wajahnya merona saat ini. Pintu lift terbuka, ada Yuan yang sedang menunggu kedatangan kedua orang penting itu.
" Bagus ya!! ,sejak kapan Bro? ", tanya Yuan menggoda Ray
" Sudahlah, masuk keruanganku sekarang!. Dan sayang, selamat bekerja ",
" Oh s**t, aku jadi obat nyamuk nih sekarang! ",
" Sssttt, Silent is Gold!! ", Ray masuk keruangannya sambil mengedipkan matanya pada Moya
Yuan keluar dari ruangan Ray ,ia melirik kearah Moya dan menggodanya. Moya yang menyadari hal itu hanya diam tak merespon Yuan sama sekali. Sialnya Yuan yang masih berdiri di dwpan pintu tak tau kalau Ray hendak membuka pintu. Yuan tersungkur jatuh karena Ray yang membuka pintu. Moya menahan tawanya berusaha menolong Yuan.
" Apa yang kalian lakukan? ", tanya Ray bingung
" Apa kau tak tau? aku terjatuh karena kau membuka pintu dengan sarkash!", jelas Yuan kesal
"Oh ya? Maaf Bro, lalu kenapa juga kau masih berdiri disana!",
" Hah!! ",
" Sayang ikut aku meeting dengan klien di Jco, dan kau! Siapkan berkas untuk tender bulan depan! ",
" Okay!! ",jawab Yuan
Moya dan Ray pergi menuju cafe Jco, yang letaknya cukup jauh dari kantor. Mereka pergi dwngan Mobil milik Ray, dan ia yang menyetir sendiri. Didalam mobil Ray menyuruh Moya memeriksa berkas yang ia bawa, memastikan tidak ada yang tertinggal. Moya terlihat cantik hari ini, ia mengenakan setelah rok dengan atasan putih tanpa lengan. Memperlihatkan aura cantik dan sexy yang membuat Ray susah menelan salivanya, sungguh Ray ingin melahap Moya saat itu namun ia tahan.
" Boss, sepertinya kau salah masuk tol. Seharusnya kita kesana, tapi kenapa kau kearah sini?", tanya Moya bingung
" Ada yang tertinggal di Apartementku, aku ingin mengambilnya. Klien kita juga baru saja memberikan kabar bahwa ia memundurkan jam pertemuannya.",jelas Ray pada Moya
" Oh begitu rupannya!",
"Ayolah sayang, tak ada orang lain disini! panggil namaku saja atau panggil sayang juga!",
" Ehm .... Aku malu Ray!, aku takut jika banyak yang tak suka dengan status kita",
"Apa urusannya dengan mereka?!, Jika tak mau aku akan berhenti disini !", ucap Ray kesal
" Baiklah Ray! Jangan marah! Okay?! "
Mereka sampai di apartement Ray, yang berada di lantai 20. Itu adalah apartemen Luxury dengan hanya ada 1 rumah tiap lantai. Moya mengekor pada Ray, didalam lift banyak sekali yang ingin ditanyakan Moya ,namun tertahan untuk bertanya. Samapai di kamar apartemen Ray, Moya terlihat biasa dengan interior disana. Ada satu foto yang menarik perhatian Moya, Foto anak laki-laki kecil yang sedang berada di depan taman yang sangat Moya kenali. Tiba-tiba sekilas Moya mengingat sesuatu dari masa kecilnya. Ia berada di Taman itu dengan seorang anak laki-laki yang tak nampak wajahnya. Mereka sedang berlari dan bermain bersama, ingatan itu membuat Moya sakit kepala. Ray masih di ruang kerjanya mengambil sesuatu yang tertinggal. Lalu saat ia kembali ke ruang tamu, ia menemukan Moya tergeletak di lantai gak sadarkan diri. Ray menjadi panik dan menggendong Moya menuju kamarnya. Ray memanggil dokter pribadinya untuk datang kesana. Kekhawatirannya membuatnya tak tenang, Dokter datang dengan cepat ,ia memeriksa Moya.
" Sepertinya hanya pingsan saja ,Ray! Bagaimana ia bisa pingsan?",
"Aku tak tau ,kutemukan ia sudah tergeletak diruang tamuku!, kau yakin ia hanya pingsan?",
" Iya Ray, mungkin ia merasa sakit di kepala atau ada hal lain yang membuatnya pingsan. Sebwntar lagi ia akan sadar, aku pergi dulu Ray!",
" Baiklah!, terima kasih ",
Tak lama setelah dokter pergi, Moya mulai membuka matanya. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Melihat sekeliling ,mencari keberadaan kekasihnya.
" Ray...",
" Kau sudah sadar, kau membuatku khawatir sayang!, ada apa? apa kau sakit?",
" Kepalaku sakit Ray, aku mengingat satu kejadian setelah melihat foto masa kecilmu tadi ",
" Sudah kubilang, jangan memaksa dirimu untuk mengingat! ",
" Maaf Ray, itu muncul begitu saja!. Ah Klien kita sudah menunggu Ray, ayo pergi!",
"Pergi kemana?! sudah kubatalkan janji itu! kesehatanmu lebih penting dari apapun! akh bisa mengatur ulang jadwalnya!"
" Tapi Ray!",
"Sudahlah!! Istirahat dulu, aku buatkan cream soup untukmu, tunggu disini aku ambilkan !",
' Apa dia bilang? cream soup? apa dia sedang bercanda denganku? atau memang dia jago masak?', Batin Moya.
Ray kembali lagi kekamarnya, membawa semangkuk cream soup yang hangat. Moya melihat ke arah Ray dengan menaikkan satu alisnya. Ray mengerti maksud Moya, ia menjelaskan bahwa ia bisa memasak beberapa makanan. Itu karena Ray sudah lama tinggal sendiri. Ia hanya mempekerjakan asisten rumah tangga tiga kali dalam seminggu. Ray dengan telaten menyuapi Moya, meski ia bisa makan sendiri namun Ray memaksa untuk menyuapinya. Usai menyuapi Moya ,Ray terus menerus menerima telepon dari Yuan. Karena memang hari ini Ray banyak pertemuan penting.
" Ray, kita kembali saja ke kantor!, sepertinya banyak kerjaan yang menunggu kita",
"Tidak perlu, aku bisa atasi dari sini! kau mau apa? cepat kembali ketempat tidur! jangan buat aku khawatir lagi!", ujar Ray dengan tegas
" Aku sudah tidak apa-apa ,Ray. Jangan berlebihan! Kalau kau tak mau kembali ke kantor, biarkan aku pulang! aku akan istirahat dirumahku sendiri!",
"Tidak Moya!! Kau membuatku tak punya pilihan!",
Ray mendekati Moya dan menggendongnya , Ray meletakkan Moya di atas ranjangnya yang berukuran King itu. Posisi Ray berada di atas Moya, ia hanya terdiam melihat wajah cantik Moya. Ray menyikap rambut yang menutupi wajah Moya. Perlahan wajah Ray mendekat, Moya memandang Ray dalam.
Sekarang Ray tengah mencium bibir Moya, melumatnya secara lembut. Moya membalas ciuman itu, mereka bermain di dalam rongga mulut sedangkan tangan Ray sudah meraih p******a Moya. Desahan kecil Moya membuat jagoan Ray bangun, Ray menurunkan ciumannya keleher hingga sampai di d**a Moya. Banyak sekali kissmark disana, Ray sepertinya ahli dalam membuat tanda kepemilikan.
Baju Moya perlahan dilucuti Ray ,hingga Moya tak mengenakan sehelai benang pun. Kini Ray bermain lebih ganas karena Moya terlihat menikmati setiap alur yang dibuat Ray. Desahan demi desahan memburu mereka, mereka saling menikmati setiap o*****e. Dan entah sudah berapa kali Moya mencapai puncaknya. Meski Sudah berkali-kali mencapai k*****s Moya masih kuat melayani Ray yang sudah k*****s tiga kali.
" Aah Ray... Last okay?!",
" Hmm.. Okay sayang... "
"Aahh... Ray... Fast.. akk..uuhh.. kkeell...uuuaaarr",
" Sama- sama sayang.... Aaahh.. you are the best Moya ",
Mereka mencapai k*****s dan sekarang Moya benar-benar lemas dalam pelukan Ray. Ray mencium kening Moya, lalu terlelap tanpa menanggalkan tautannya.
Moya merasa miliknya masih terasa penuh, ia baru saja ingat bahwa milik Ray masih tertancap di dalam sana. Moya berusaha membangunkan Ray, sedikit mendorongnya agar tautannya bisa terlepas.
"Ahh..", desah Moya
"Kenapa di lepas sayang?",
"Ehm Ray... Aku mau ke kamar mandi..",
"Baiklah.. Ayo mandi bersama..."
"Tidak Ray.. Ehm..",
Ray menggendong Moya ala Bride Style, menuju kamar mandi dan mandi bersama awalnya. Tangan nakal Ray menggerayai tubuh Moya hingga membuatnya menegang.
"Ahh... Ray... Kau nakal.. Ahh..", desah Moya karena jari Ray sudah masuk kedalam liangnya
Ray membuat Moya menubgging, dan memasukkan kejantanannya dengan hmgaya doggy style membuat Moya berkali-kali mendesah keenakan.
"Aahh... Ray... Aahhh",
Tak lama kemudian Ray mengeluarkan spermanya di dalam rahim Moya. Dan mereka melanjutkan mandinya.