Genap satu bulan Moya bekerja di kantor milik Ray. Ia terkejut saat melihat isi Atmnya ada uang 50juta ,sedangkan gajinya hanya 20juta kata HRDnya. Moya mengambil ponselnya dan mencari nama Boss disana, ya ia akan menelepon Bossnya diluar jam kerja hanya untuk bertanya mengenai gaji yang ia terima.
" Selamat malam Boss, maaf mengganggumu malam-malam, ehm.. Boss... Apa ada kesalahan mengenai gajiku? aku menerima 50juta, sedangkan HRD bilang hanya 20juta! ",
" Malam Moya, kau meneleponku malam-malam hanya untuk bertanya hal ini? ",
" Ya Boss, akh hanya ingin memastikan uang itu benar-benar uangku.",
"Apa kau sudah menerima rincian gajimu?",
" Sepertinya belum Boss",
"Besok minta rinciannya ke HRD, kau akan tau setelah menerima rincian itu!",
" Ehmm, baiklah Boss. Maaf mengganggu... Selamat malam ",
" Tunggu!!, Kau dimana sekarang? apa kau ada waktu? ",
" Aku di Cafe dekat apartemenku,Boss. Tentu waktuku sangat banyak, hehe.. Ada yang bisa aku bantu ,Boss? ",
" Tunggu aku disana!",
Tut... Tut... Tut...
Moya membulatkan matanya mendengar ucapan Boss nya itu, ia berfikir untuk apa Bossnya menemuinya di luar jam kantor. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dikepala Moya. Ia memesan Cappuchino sekali lagi untuk menunggu Bossnya itu. Tak lama kemudian Ray datang dengan pakaian casualnya, Moya yang tau Bossnya datang tiba-tiba saja pipinya menjadi merona karena pesona yang Ray tunjukkan. Tak ingin ketahuan ia menundukkan kepala dan meminum cappuchino pesanannya.
" Hi Moya, apa aku terlalu lama? ", sapa Ray yang heran melihat Moya menundukkan kepala
" Hi Boss, ah tak lama kok, duduklah Boss. Ada apa? Apa ada pekerjaan yang harus ku selesaikan?", tanya Moya penasaran
"Tak ada, aku hanya ingin menemui. Apa kau sudah punya kekasih? Sehingga aku mengganggumu?",
" Uhuk Uhuk... ah tidak ada Boss, aku masih sendiri. Maaf Boss, aku hanya ingin memastikan saja!",
" Syukurlah!, Apa kau sudah makan malam?",
"Hmmm sudah Boss...", (Kruuyuukk... Kruuyuukk...)
' Demi dewi fortuna, apa-apaan perutku ini!! malu sekali aku!! ' batin moya
" Hahahaha, sepertinya perutmu mengatakan hal lain, Ikut aku makan malam, aku juga belum makan", Ray menarik tangan Moya
" Kita makan dimana Boss?",
"Ini diluar jam kantor moya!! ,Panggil aku Ray!!",
" Maaf Boss itu terlalu canggung untukku!!",
" Panggil aku Ray atau kau akan menerima akibatnya!!",
"Hah? Baiklahh B..Rrayy!",
" Bagus!! ",
Mereka dimobil Ray, menuju sebuah resto yang Ray suka. Moya hanya terdiam selama perjalanan, pikirannya merancau kemana-mana. Bossnya memang tampan dan kaya, namun dibalik itu ada kesamaan diantara mereka. Pipi Moya memerah dan Ray melihat itu, Ray melirik kearah Moya dan tersenyum kecil. Sampai di resto Moya terkejut karena itu adalah Resto yang sering ia datangi bersama ayahnya dan rekan bisnis ayahnya saat Moya masih kecil. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini, Ray membuat Moya mengingat masa kecilnya yang saat itu samar-samar ia bersama anak lelaki yang memanggilnya Momo.
" Auh...", Moya mengeluh memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit
"Kamu kenapa Moya?", tanya Ray khawatir
" Entah Boss, ehh Ray.. kepalaku tiba-tiba sakit.. sepertinya ada kenangan disini, namun aku lupa",
" Ah benarkah? apa kau mengalami hilang ingatan atau semacamnya?",
" Iya Ray, aku pernah mengalami kecelakaan, sebagaian memori kenangan masa kecilku hilang ",
" Ah aku ikut sedih mendengarnya ",
" Aku pernah kesini ,Ray. Namun aku lupa siapa yang bersamaku saat itu ,aku.. aahh",
" Sudahlah Moya, jangan memaksakan diri. Kita makan malam dulu ",
" Iya Ray "
Mereka makan malam bersama, dan mengobrol santai. Moya memang cepat akrab dengan seseorang apalagi jika ia sudah menganggapnya teman atau sahabat. Ray nampak senang dengan kedekatannya dengan Moya. Membuat Moya jatuh cinta padanya mungkin akan sedikit mudah dengan sifat Moya yang seperti itu.
" Aku dengar perusahaan ini milikmu pribadi, bagaimana dengan orangtuamu? ",
" Dari dulu aku memang mandiri, aku tak pernah mau bergantung pada orang tuaku. Ya meski perusahaan ini juga ada sedikit bantuan dari ayahku, namun tetap saja aku selalu berusaha untuk memenangkan setiap tender sendiri ", jelas Ray pada moya
" Hebat, aku juga ingin seperti itu. Selama ini aku selalu berusaha sendiri, meski ayah selalu membantuku, namun bantuan dari ayah selalu aku sendirikan dan tak pernah kugunakan ",
" Mengenai Ayahmu, apakah ia juga seorang pengusaha?",
" Ah... Ehm... Iya, dia juga Pengusaha, namun aku sedang kesal dengannya!",
" Apa perusahaannya juga bekerja sama dengan perusahaanku?, apa aku mengenal ayahmu? ",
" Entahlah Ray, maaf aku tak bisa memberitahumu. Tapi tenang saja! Aku bukan mata-mata! aku hanya ingin bekerja untuk hidupku sendiri ,Ray. Sungguh!", Moya menjelaskan dengan detail kondisinya
" Hahahahahaha, Kau lucu sekali moya!. Tenang lah.. Maaf sudah membuatmu grogi!",
Ray nampak senang melihat wajah Moya yang salah tingkah. Mereka menghabiskan makanannya dan beranjak dari sana. Ray mengantarkan Moya pulang, dan Moya menawarkan pada Ray untuk mampir ke apartemen kecilnya.
" Mau mampir dulu ,Ray? tentu Apartemenku tak semewah milikmu, namun ada kopi atau teh yang sama jika kau mau",
" Tentu, dengan senang hati aku ingn tau bagaimana tempat tinggalmu ",
Wajah Ray merona saat ia sudah berada di ruang tamu di dalam apartemen Moya. Ia melihat ruangan dengan Hiasan yang sederhana namun bernilai tinggi. Ya ,Moya memang suka mengkoleksi lukisan mahal yang ada di setiap pameran di beberapa Mall. Ada juga kerajinan tangan yang Moya buat sendiri. Moya datang membawakan Kopi untuk Ray, mereka kini duduk di ruang tamu yang hening karena mereka sangat canggung saat itu.
" Ray, apa tak ada yang marah jika kau menemuiku seperti ini ? ", tanya Moya penasaran
" Hahaha, tentu tak ada... aku masih sendiri sama sepertimu. Bahkan jika sekarang kau mau bersamaku menjadi kekasihku ,pasti aku akan senang sekali ",
" Apa Ray? ",
Pernyataan Ray membuat Moya tersipu, tanpa sadar Moya menjawab sekenanya.
" Aku suka padamu Moya, Mau kah kau menjadi kekasihku? ",
" Ray.. ini terlalu cepat, kita baru saja mengenal .. bukannya aku tak suka padamu.. sebenarnya ...",
Ucapan Moya di hentikan oleh tangan Ray yang berada di bibir Moya. Ray mencium Moya dengan perlahan, awalnya Moya kaget dan hanya diam. Namun akhirnya Moya membalas ciuman Ray. Kini mereka saling melumat hingga kehabisan nafas. Ray melepaskan ciumannya dan menatap mata Moya dalam.
" Aku mencintaimu Moya ,dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Percayalah, aku sudah mengenalmu lebih lama dari yang kau kira ",
" Ray.... Aku juga mencintaimu... Aku harap kau serius dengan hal ini, karena aku "
Ucapan Moya terpotong lagi karena Ray mendaratkan ciumannya lagi, kali ini ciuman itu lebih ganas. Ray terbawa suasana dan nafsunya, tangan Ray mulai mempererat pelukan mereka, tangan Ray mulai menyusup di bagian d**a Moya. Moya yang merasakan sentuhan Ray mendesah kecil. Ciuman Ray turun keleher Moya, lalu turun ke pundak Moya dan meninggalkan Kissmark disana.
"Aahhh Ray... Hentikan...", desahan Moya tak dipedulikan oleh Ray
Ray terus menciumi Moya , dan sekarang Ray akan menanggalkan baju yang Moya kenakan. Moya mengikuti setiap alur yang Ray lakukan. Kini hanya bra yang menutupi p******a Moya, Moya menatap dalam mata Ray. Ia merasa percaya dengan lelaki itu, dan membiarkan setiap sentuhan Ray menjamahi tubuhnya.
" Ray.... Pindah ke kamar saja ya? ", pinta Moya yang langsung di sambut dengan gendongan ala Bride Style oleh Ray
Sekarang mereka sudah di Kamar Moya, Ray melanjutkan kegiatannya. Kali ini Moya sudah telanjang bulat, dan Ray juga mulai membuka bajunya. Ray melumat p******a Moya dengan lembut, meninggalkan banyak kissmark di bagian payudaranya.
" Ahh Ray... Just Do it ", pinta Moya yang sudah tak tahan lagi dengan sentuhan Ray
" Jika kau mau aku berhenti aku akan berhenti, jika kau mau lanjut, akan ku lanjutkan ",
" Do it Ray, aahhh ",
" I love you , Moya ",
" I love you Ray ",
" Tahan, akan sedikit sakit sebentar ",
" Ahhh... Sakk..iitt.. aahh "
Ray melumat bibir Moya agar ia bisa menahan sakitnya. Keperawanan Moya hilang di tangan Ray, dan saat itu Ray berjanji akan terus melindungi Moya dan mencintainya. Moya menitihkan air mata, memandang Ray dalam dan tenggelam dalam pelukan Ray malam itu.
Mereka langsung tertidur dengan posisi masih bertelanjang, dan hanya di tutupi oleh selimut. Malam yang membuat dua orang yang dulunya terpisah, kini bersama kembali dengan cinta yang murni datang darindiri mereka masing-masing.