Part 4

1179 Words
" Ray, sini!! Ayo sini!! ", panggil Momo " Tunggu !!, Jangan pergi terlalu jauh!! ", " Ray, Ayoooo... kejar aku kalau kamu bisa", " Jangan kesana ,bahaya!! Momo....", (Flashback off) " Momo.... !!! ", Ray berteriak " Nightmare ,broo??", tanya Yuan " Hah? Apaan sih! ,Jam berapa sekarang?", "Sudah jam 7 malam!, Kau tidur seperti orang mati saja!", " Dimana Moya?", " Udah pulang kale, Ray!, ini udah malam tau! ", " Aahhhh, padahal aku ingin mengantarnya pulang!", "Seriously ,Ray?! Kamu suka sama Moya?", " Dia itu Momo, teman masa kecilku dan wanita yang dijodohkan denganku!, Namun sayangnya ia menolak perjodohan itu sebelum bertemu denganku!", jelas Ray "What ,Ray?!, gimana kamu bisa tau soal Moya ?, bukannya kamu sudah belasan tahun tak bertemu dengannya?!", " Aku selalu mengikuti perkembangan Momo, bahkan aku sudah melihat fotonya sebelum ia melamar kerja disini, Aku sengaja karena ini juga salah satu permintaan Ayahnya!", menunjuk ke proposal tender Eliot "Eliot? jadi Moya itu Anak tunggal pemilik perusahaan Eliot??", " Iya benar sekali!!", " Ya sudah,Ray. Ayo balik! ", *** Moya baru saja selesai mandi, Ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Uang makannya kali ini habis karena naik taksi saat kembali ke kantor tadi siang. Untungnya ia membawa pulang makanan yang di bawakan Ray. Moya sedang sibuk menghangatkan makanannya ,tiba-tiba ponselnya berdering. Temannya Airin sedang meneleponnya. (Airin) 'Moy, aku boleh menginap ga?', 'Hah? kenapa emang?', (Airin) 'Udah entar aja aku jelasin!', Tut... Tut... Tut... "Apa-apaan dia itu!", Tak lama Airin datang ke apartemen moya. Ia membawa banyak makanan dan camilan untuk merayu moya agar tak marah saat ia menjelaskan alasannya menginap. " Jelasin sekarang! Ada apa?" ,desak Moya sedikit tegas " Jadi gini Moy, aku hamil! dan aku ga tau siapa bapak anak ini! ", " Kau gila?!!!! Bagaimana bisa kau tak tau ayah anakmu!!! ", " Waktu itu aku ikut pesta di kantor tempat kerjaku, Moy. Trus aku kebanyakan minum, akhirnya paginya aku bangun di kamar hotel tanpa baju dan cuma ada surat rasa terima kasih dan uang aja Moy!, Aku bener-bener bingung Moy! harus gimana ini??", jelas Airin sambil menangis. " Udah sini!", Moya memeluk Airin Moya sangat tau tentang Airin dan keluarganya yang arogan dan kolot. Airin sangat takut pada Ayahnya yang terkenal orang paling jahat di kota itu. Moya menyuruh Airin untuk pindah apartemen, dan sementara Airin tinggal dengannya. " Kamu stay disini dulu aja ya?, Nanti kita pikirin jalan keluarnya gimana?!, kamu besok ga kerja?", tanya Moya " Aku udah resign, karena di kantor ada yang menjebakku ", " Trus gimana sekarang? mau cari kerja atau diem dulu?", " Besok aku mau cari kerja ,Moy", "Ya udah, kamu tidur di kamar yang itu ya!. Istirahat dulu, besok kita lanjut ngobrolnya!", Apartemen Moya memiliki 2 kamar tidur dengan kamar mandi di masing-masing kamar. Paginya Moya sudah siap untuk pergi bekerja, sedangkan Airin sudah rapi untuk pergi wawancara. Mereka berpisah di depan apartemen, Moya berjalan ke selatan ,Airin ke utara. (Dikantor) Moya berjalan menuju lift, tiba-tiba seseorang menyenggolnya dari samping hingga ia terjatuh. "Auw... Hei!!", " Ups ,Sorry... " wanita itu berlalu tanpa menolong Moya. "Kau tak apa?", Ray datang dan membantu Moya berdiri " Eh Boss, aku tak apa. Aahhh... ", saat berdiri kaki Moya seperti terkilir " Sungguh kau tak apa? sepertinya kakimu terkilir saat jatuh!", "Iya Boss, tapi tak apa! Aku bisa Tah... aaahhh", Tanpa permisi Ray menggendong Moya ala Bride Style, Moya terkejut karena semua mata melihat kearahnya. Mereka berjalan menuju lift untuk naik kelantai 17. " Boss, aku malu! tolong turunkan aku!", "Sudahlah! Diam saja kau!", Moya terdiam dengan wajah memerah. Ray tersenyum penuh kemenangan karena bisa sangat dekat dengan Moya. Tanpa sadar Ray terus memandangi Moya, namun yang di pandang hanya tertunduk malu. " Wow... Kenapa ini si Moya ,bro?", Yuan melihat mereka keluar dari lift " Kakinya terkilir, bawakan kotak obat kekantorku! ", Ujar Ray yang masih menggendong Moya menuju kantornya " Boss ,apa yang kau lakukan. Aku tak pantas mendapat perlakuan seperti ini darimu!, Biar aku sendiri yang mengobati kaki ... aaaahhhh", "Sudah, coba gerakkan kakimu!", " Sudah ,Boss. Terima kasih!", Moya mencoba berdiri, namun sepatu hak tingginya terpeleset lagi sehingga ia terjatuh tepat di atas Ray. Bibir mereka saling bersentuhan, Moya membuka mata perlahan dan terkejut. Moya langsung berdiri dan menjadj salah tingkah. "Boss, maaf.... maaf Boss!", " Sudahlah, keluar sekarang. Kerjakan kerjaanmu!", "Baik Boss!", Moya kini duduk di meja kerjanya, wajahnya masih memerah karena memikirkan hal tadi. Yuan yang memperhatikan Moya menjadi tak konsen untuk bekerja. " Hoi, ngapain sih?", tanya Yuan "Hah.... Tak apa Pak! maaf!", Sedangkan di dalam kantor, wajah Ray merah padam karena malu dan senang. Itu adalah ciuman pertama dari Moya ,meski tak sengaja namun Ray sangat senang saat itu. Ray terus tersenyum di ruangnya hingga tak sadar bahwa Yuan memperhatikannya di pintu masuk. " Ada kejadian apa hari ini? kenapa wajahmu dan Moya sama-sama menerah?", " Tak ada!! ,Ada apa? kenapa tak ketuk pintu dulu?", " Aku udah berkali-kali ketuk pintu b**o!, kamunya aja yang ga denger!, kesel deh!", " Ouh, Sorry! ", " Tuan Eliot akan kesini sebentar lagi, Siapkan file kemarin Boss!", ujar Yuan " Suruh Moya masuk kesini!", Yuan memanggil Moya untuk masuk keruangan Ray. "Ada apa Boss?", " Siapkan berkas tender dengan Eliot! ,Presdir akan datang kesini sebentar lagi!", "Aaaaapaa?? Eh... Baik Boss!", Moya keluar ruangan dengan lemas, ia berfikir lagi untuk bisa lolos dari sergapan ayahnya. " Emang Gapapa Bro kalo Tuan Eliot melihat Moya disini?", " Tak apa, Presdir sudah tau soal Moya!", Ray tersenyum kecil karena Moya salah tingkah saat Ray akan bertemu Ayahnya. Dalam hatinya ingin sekali mengungkap semuanya, namun Ray ingin membuat Moya jatuh cinta padanya terlebih dahulu. "Selamat datang Tuan Eliot", sapa Yuan pada Presdir Eliot " Silahkan masuk ", Moya membukakan pintu sambil tertunduk Jantung Moya berdetak sangat kencang, ia hampir kehabisan nafas saat ini karena Ayahnya ada di depannya. Moya sedikit heran kenapa ayahnya tak menyapanya, apa karena ayahnya marah dengan tibnkah lakunya?. Kali ini pikiran Moya penuh tanda tanya mengenai ayahnya yang hanya diam saat melihatnya. " Ray, boleh aku bicara berdua dengan sekertarismu?", tanya Presdir Eliot pada Ray "Tentu, silahkan!, Moya antar sekalian Tuan Eliot sampai Lobby", " Baik,Boss!", Mereka berjalan menuju lift, dan saat di dalam lift perdebatan antara ayah dan anak dimulai. " Ada apa?", tanya Moya kesal "Kau tak rindu pada Ayahmu? Tak ingin memelukku? Ah aku kecewa!", " Sudahlah!, aku tak ingin berdebat dengan Ayah! aku tetap tak ingin dijodohkan!", "Ayah tak akan memaksamu lagi, selama kamu inginnya begitu, ya sudah!", " Benarkah?" "Tentu, tetaplah bekerja disini! Ray anak yang baik! kau akan nyaman bekerja disini!", " Tapi ayah tak katakan padanya kan kalau aku anak ayah?", " Tentu tidak! Ray tak tau! Tenang saja ,okay?", dalam hati Eliot tersenyum menang Sekarang Mereka sudah di Lobby, dan Presdir Eliot berpamitan pada Moya dan Karyawan lain.  Lega, itu yang dirasakan Moya. Ia sangat tegang tadi karena takut jika ayahnya membongkar semuanya. Beruntung Ray dan karyawan lain tak curiga padanya, saat Eliot ingin berbicara padanya tadi.  "Dasar ayah!! Hampir saja aku terkena serangan jantung karena ulahnya!!", gumam Moya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD