Part 3

1151 Words
Sekarang mereka sudah berada diruang meeting perusahaan Eliot. Sudah banyak yang berdatangan disana, namun ayah Moya belum nampak disana. Jantung Moya sudah berdetak sangat cepat saat orang terakhir yang ditunggu masuk. Tak sesial yang dikira, ternyata yang datang adalah Asisten pribadi Ayahnya. Meski begitu Moya masih saja takut jika Asisten itu mengenalinya. Yuan menepuk pundak Moya dan mengingatkan untuk mencatat setiap ucapan di meeting itu. Moya yang terkejut akhirnya mulai bekerja. Perdebatan saat memperebutkan tender sangat seru bagi Moya, ia bisa melihat karakter setiap pimpinan perusahaan. Moya melihat ke arah Ray yang dengan tenang hanya melihat perdebatan tersebut. " Baiklah, hasil untuk tender senilai 1 milyar akan jatuh pada perusahaan Gavin!", ucap moderator meeting itu Moya tak terkejut karena ia sudah mendengar setiap gosip tentang Boss nya itu. Usai meeting Ray dan Moya kembali ke kantor, sedangkan Yuan menyelesaikan urusan tender di perusahaan Eliot. Moya sangat bersyukur karena irang di kantor ayahnya tak ada yang mengenalinya. "Bagaimana tadi?", Ray tiba-tiba bertanya pada Moya " Boss bertanya soal apa? hasil meeting atau suasananya atau hal lainnya?", tanya Moya bingung "Hmm, sudahlah lupakan!", Ray nampak kesal karena Moya tak mengerti maksudnya Mereka sudah sampai di kantor, Ray langsung masuk ke dalam kantornya, sedangkan Moya duduk di meja kerjanya. Dan sekarang sudah waktunya makan siang, Moya beranjak dari tempatnya dan berniat untuk berpamitan ke Bossnya. Tok... Tok... Tok... " Permisi Boss, sudah waktunya makan siang. Aku ijin untuk pergi makan keluar ,boleh?", " Tidak perlu! Makan denganku!, sebentar aku bereskan mejaku dulu", "Eh tidak perlu Boss, aku bisa makan sendiri", " Ada Klien yang ingin aku temui, ikut denganku!", "Oh, baiklah kalau begitu", Wajah Moya nampak lesu saat ini, seharusnya ia bisa istirahat dan makan. Namun pekerjaan sedang menantinya. Moya berjalan mengekor pada Ray, dan di saksikan seluruh karyawan yang sedang berada di lobby. Mereka mulai berbisik dan bergosip tentang apa yang mereka lihat. Membuat Moya memutar bola matanya karena ia kesal dengan mulut murahan karyawan itu. " Kau kenapa?", tanya Ray "Tak apa Boss, aku hanya... hmm", " Sudahlah!, masuk mobil!, kita makan dulu baru bertemu Klien!", "Baik boss!", Mereka pergi menggunakan mobil pribadi Ray, Mobil Mercedes tipe terbaru dan limited. Moya tak kaget dengan kekayaan Ray, karena Moya sendiri anak orang kaya. Latar belakang Ray dan Moya memang sama, dan mereka juga memiliki kepribadian yang hampir sama. Suka berusaha sendiri dan tak membawa nama keluarga. " Boss ,siapa Klien yang akan kita temui?", " Itu Presdir Eliot, tadi kita tidak bertemu dengannya. Makannya Yuan aku suruh untuk mengatur jadwalku dengan Tuan Eliot diluar", Moya membulatkan matanya, dan berusaha mencari alasan untuk bisa menghindari Ayahnya itu. "Apakah pak Yuan sudah ada disana juga Boss?", " Tidak, Yuan aku suruh mengurus hal lain! ", Kali ini Moya berfikir sangat keras, tanpa sadar ia mengeluarkan keringat dingin karena grogi dan takut jika jati dirinya terbongkar " Kau kenapa? Apa kau sedang sakit? ", tanya Ray khawatir " Sepertinya aku sakit perut karena salah makan pagi ini!", Moya beralasan "Kalau begitu kita kerumah sakit!", " Tidak perlu!, aku hanya membutuhkan obat sakit perut saja ,tidak perlu ke rumah sakit!", "Baiklah, dimana membelinya? ", " Aku akan berangkat sendiri, tidak enak jika Klien datang Boss tidak ada disini, Aku akan segera kembali,Boss. Tenang saja! ", ujar Moya " Cepat kembali! ", Moya sedikit berlari keluar resto, sekarang ia tengah mencari tempat untuk bersembunyi sebentar. " Tuan Eliot, senang bertemu dengan anda ", Ray menyapa Eliot dan berjabat tangan " Jangan begitu Ray, anggap aku ini ayahmu agar kita tidak canggung", "Ah tentu ,maaf. Bagaimana dengan proposal yang tadi aku buat? apa anda suka?", " Tentu, aku selalu suka dengan kinerjamu, Ray. Kau adalah menantu idamanku, Andai anakku mau bertemu denganmu dulu !", Eliot nampak sedih " Sudahlah, masih banyak waktu. Aku akan selalu menunggu Momo. Sudah belasan taun kami tidak bertemu, pasti ia sudah lupa denganku!", jelas Ray dengan wajah murung " Maafkan Momo ,Ray. Dia tumbuh menjadi wanita yang terlalu mandiri dan keras", " Hahahaha, tentu karena dia anakmu, paman!. Kau pun begitu kan?, maaf!", " Hahaha, ya... kau tau lah bagaimana kami!", Mereka berbincang sangat akrab, tanpa sadar kalau Moya sedang memperhatikan mereka. Namun sayangnya Moya tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. ' Apa yang mereka bahas, hingga membuat Ray tersenyum lebar seperti itu. Mereka nampak sangat akrab sekali ', batin Moya penasaran Krucuuuk... Kruuucuukk... Perut Moya melilit karena lapar, ia belum makan dari tadi. Sedangkan Ray dan Ayahnya sedang asiknya mengobrol. "Ah sial, perutku sangat lapar. lebih baik aku pergi mencari makan dekat sini!", Akhirnya Moya makan di warung kecil dekat resto, Ia harus berhemat karena uangnya menipis saat ini. Saat suapan terakhir, ponsel Moya berdering. Boss meneleponnya dan spontan ia mengangkat telepon itu. " Ya boss!", "Kau dimana? kenapa lama sekali?!, Klien kita sudah pergi dan kau belum kembali!!", " Maaf Boss, perutku benar-benar sakit. Aku sudah kembali dari tadi namun tiba-tiba sakit perutku kembali, jadi aku memutuskan kembali ke kantor untuk ke kamar mandi", Moya beralasan pada Ray "Hah!! Ya sudah, aku kembalibke kantor sekarang! ,Aku bawakan makananmu", " Baik ,Boss. Terima kasih!", Moya beranjak keluar dari warung itu dan berlari mencegat taksi, ia langsung menuju kantor. Sampai di Kantor, beruntungnya Ray belum sampai. Moya berlari kecil menuju lift dan naik ke lantai 17. " Se... la... mat!!! ", Moya mengatur nafasnya dan duduk di meja kerjanya. Tak lama Ray keluar dari lift membawa bungkusan makanan. " Bagaimana perutmu? Apa kau baik-baik saja? ", tanya Ray khawatir " Sudah lebih baik ,Boss. Terima kasih!", " Syukurlah, ini makanan untukmu, sepertinya kau tadi pergi tanpa makan apapun", " Ah, Terima kasih Boss", Moya menelan ludah melihat makanan di depannya. Perutnya sudah kenyang dengan makanan dari warung tadi. " Kenapa? Kau tak suka dengan makanannya?", " Suka ,Boss. Akan ku makan nanti, perutku masih tak enak untuk menerima makanan", "Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu!", " Iya Boss! ", Moya hanya bisa mengelus d**a untuk hari ini, dan ia berdoa agar tak terulang kejadian hari ini. Moya merapikan meja kerjanya, dan bersiap untuk pulang. Ia mengetuk pintu kantor Bossnya untuk berpamitan, namun tak ada jawaban. Yuan baru saja keluar dari lift dan melihat Moya sedang berdiri di depan kantor Ray. " Ada apa ?, kenapa kau berdiri didepan kantor Boss?", tanya Yuan "Aku mau berpamitan, namun aku mengetuk pintu dari tadi tak ada jawaban", " Sepertinya Ray sedang lelah, pulanglah. Biar aku yang menyampaikan pada Ray bahwa kau sudah pulang.", "Baiklah ,pak. Terima kasih!", Moya pergi dari kantor dan pulang membawa bungkusan makanannya tadi. Berharap makanan itu masih enak untuk makan malamnya. Kini Moya sudah bersiap menyantap makanan yang ia bawa tadi. Moya menikmati setiap suapan yang masuk kedalam mulutnya. Sembari memegang perutnya yang terasa sangat lapar. Selesai dengan makanannya ia kembali ke kamar untuk mengecek kerjaan esoknya. Membuat jadwal untuk Bossnya, dan bersiap untuk lelah esok karena Bossnya adalah orang yang sangat sibuk, dan dia juga harus ikut kemanapun Bossnya itu pergi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD