bc

Membesarkan Anak Selingkuhan Suamiku

book_age16+
2
FOLLOW
1K
READ
forbidden
love-triangle
BE
family
escape while being pregnant
second chance
drama
sweet
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Blurb

Nara pikir pernikahannya baik-baik saja. Sampai ia menemukan tiket pesawat London atas nama wanita asing di apartemen suaminya. Tiga tahun menikah tanpa anak, dan Nara memilih tenggelam dalam pekerjaan. Rendy, suaminya, dipromosikan ke London. Hubungan jarak jauh membuat mereka menjadi dua orang asing yang tinggal di kota berbeda.

Di musim dingin London, Rendy bertemu Kinan—sahabat lamanya yang baru saja kehilangan sang suami. Percakapan hangat mereka berubah menjadi perasaan terlarang.

Hingga di suatu malam khilaf, Kinan hamil.

Saat Nara menyusul ke London demi memperbaiki rumah tangga, ia justru harus menghadapi kenyataan: suaminya mencintai wanita lain. Dan wanita itu sedang mengandung anak suaminya. Nara bisa marah. Nara bisa pergi. Tapi ia memilih hal paling gila, memohon agar bisa membesarkan anak itu dan Kinan setuju. Ia pergi, menebus salah dengan cara yang tak pernah Nara duga. Bertahun-tahun Rendy hidup dengan Nara dan Kayla—anak dari wanita yang dicintainya. Tapi cinta Rendy untuk Nara sudah lama mati. Sampai Nara sadar mempertahankan seseorang yang tak mencintaimu dengan tulus hanya akan membunuhmu pelan-pelan.

Di kota yang paling dingin, tiga hati saling menghangatkan. Dan saling menghancurkan.

Ini bukan kisah tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini tentang tiga orang baik yang membuat keputusan paling menyakitkan dalam hidup mereka.

chap-preview
Free preview
BAB 1
Aku menggoresnya, membuat sketsa dan membangunnya dengan ujung pena. Namun nyatanya, tak semudah itu. Aku sudah berusaha, namun lagi-lagi kau terus mengingat kesalahan itu. Tak bisakah kita memulainya kembali? Tak ingatkah kau...bagaimana kau mencintaiku dulu? “Aku bahagia menikah denganmu, apakah kau berjanji akan terus bersamaku? Apa pun yang terjadi nanti?” Rendy mengecup sebelah pipi Nara, perempuan yang ia nikahi atas nama cinta itu. Jemarinya meraih kepala Nara, membawanya ke dalam pelukan. Rendy mengangguk pelan, lalu berkata lirih, “Ya, aku berjanji. Apa pun yang terjadi aku akan terus mencintaimu, Nara.” Nara mempererat pelukannya di tubuh Rendy, ia begitu mempercayainya. Sangat percaya. Nara yakin cinta Rendy untuknya tak akan pernah habis, ia sangat mengenal suaminya itu. “Lalu bagaimana denganmu, Nara? Apakah kau juga berjanji untuk terus menjadi Nara yang kukenal?” Nara tertawa, mencubit gemas pipi Rendy yang memerah, “Aku? Aku tak akan pernah berubah, Sayang. Kau adalah satu-satunya yang membuatku hidup. Sampai kapan pun.” ... Rendy menatap Nara yang begitu sibuk dengan sketsanya. Bahkan saat perempuan itu sudah berada di dalam rumah mereka. Nara dulu tidak begitu, ia selalu memiliki banyak waktu untuk Rendy. Namun akhir-akhir ini, setelah usia pernikahan mereka menginjak tahun ke – 3, Nara banyak berubah. Ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan gambar-gambar itu, bahkan bertemu klien di jam makan malam mereka. Rendy seolah tak ada lagi baginya. Rendy menghampiri Nara untuk ke sekian kalinya, memeluk pinggang ramping perempuan itu, mencium leher jenjangnya dan mulai meraba. Tapi, Nara selalu menghindar. Melepaskan tangan Rendy begitu saja, dan memilih untuk menjauh. Sesuatu yang tak pernah Rendy rasakan sebelumnya. “Nara....” Nara menghentikan langkah, menoleh sedikit ke samping. Nara tahu apa yang akan Rendy katakan, dan sesungguhnya lelaki itu pun sudah tahu jawabannya. “Bukankah semua sia-sia, Ren? Apa yang kita lakukan tidak pernah membuahkan hasil. Sudah 3 tahun, kan? Aku terus menanggung beban saat bertemu mereka, ibumu.” Rendy mendekat, meraih pergelangan tangan Nara, membuat perempuan itu berbalik ke arahnya. Bola mata penuh kesedihan itu saling beradu pandang, mencari jawaban dari apa yang seharusnya mereka dapatkan. “Tapi tidak begini caranya, Nara. Jika kita memang belum diberi keturunan, apakah itu salahku?” kata Rendy. Nara tersenyum tipis, setengah menggeleng, “Tidak. Bukankah kata ibumu aku yang tak becus sebagai perempuan? Setidaknya, aku tak merepotkan suamiku dengan mengambil seluruh hasil jeri payahnya. Setidaknya aku berdiri di atas kakiku sendiri,” sahut Nara membuat hati Rendy terasa terpukul. “Nara, itu kewajibanku sebagai suamimu. Aku tak pernah mempermasalahkan soal ini. Bekerja adalah keinginanmu dan aku mendukung, kan? Kalau pun tidak, itu tak masalah. Aku sanggup menopang keluarga kita secara utuh, Nara. Nara, sampai kapan kau mau begini padaku? Kau terus menenggelamkan diri di dalam kesibukan, bahkan saat berada di rumah. Aku di sini, Nara. Aku ada,” ucap Rendy. “Jadi, aku harus bagaimana? Aku memang sibuk, Ren. Aku punya banyak klien dan semua mengejarku harus tepat waktu.” “Oke! Tapi tidak berarti kau mengabaikan hubungan kita, kan? Aku juga sibuk, Nara. Tapi aku selalu memiliki banyak waktu untukmu. Apakah kau berpikir jika aku tak menginginkan seorang anak? Apakah aku diam saja saat ibuku membuatmu terpojok? Tidak, kan? Kita bisa menjalani ini bersama-sama, Nara.” “Rendy, aku lelah dan di sana masih banyak yang harus kukerjakan.” Nara menunjuk meja gambarnya, beberapa lembar kertas berukuran lebar terpampang di tempat itu. Nara diam sesaat, lalu kembali menatap Rendy, “Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan, Ren.” Rendy mengerutkan keningnya, merasa aneh. “Kenapa? Apakah kau mempertimbangkan kata-kataku tadi?” Suara Rendy sedikit melembut, berharap itu benar. “Semua orang di perusahaan itu bergantung padaku, melimpahkan semuanya padaku. Aku memiliki banyak klien, mereka selalu mencariku dan nyatanya aku tak memperoleh apa yang kuinginkan. Aku akan membangun perusahaanku sendiri, Rendy. Apakah kau keberatan kalau aku memakai kamar itu untuk menjadi ruang kerjaku?” “Kamar untuk anak kita kelak?” kata Rendy seraya menghela napas panjang. Ia pikir Nara akan berhenti, tapi ternyata ia salah. Nara mengangguk, “Ya, kamar itu sudah terlalu lama kosong.” Rendy tidak menjawab, ia tahu apa yang sedang Nara katakan sekarang. Ini bukan soal ruang kerja itu, tapi soal buah hati yang tak pernah ada di sana. “Hanya sementara, sampai aku menemukan studio gambarku sendiri. Aku tahu kau keberatan dengan kamar itu,” tukas Nara lagi, kali ini terdengar sedikit ketus. “Tidak. Kau bisa memakainya. Ini juga rumahmu, Nara. Aku mengerti apa yang sedang kau pikirkan, tapi yang pasti aku tidak keberatan. Mungkin ini jauh lebih baik karena kau akan sering berada di rumah.” Rendy tersenyum, mengulurkan tangannya dan membelai rambut panjang istrinya itu. “Kau mau kopi?” tawar Rendy, seraya berjalan meninggalkan Nara yang terdiam di sana. Nara menatap Rendy yang sedang mengaduk kopinya, lelaki itu duduk membelakangi Nara. Sesekali tangannya terdiam, dan terdengar helaan napas panjang yang berusaha Rendy sembunyikan. Entah kapan terakhir kali Nara membuat kopi untuk suaminya itu, ia bahkan lupa jika Rendy selalu meminumnya sepulang kerja. Nara mengatupkan bibirnya berulang kali, menahan sesuatu di dalam dirinya. Ia tahu ini bukan salah Rendy, namun keadaan yang memaksanya demikian. “Nara, duduklah,” pinta Rendy, seraya menarik kursi di bawah meja makan itu untuk Nara. “Maaf, tapi aku harus melanjutkan pekerjaanku. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi, setidaknya semua harus selesai saat aku meninggalkan perusahaan,” jawab Nara yang memilih untuk meninggalkan Rendy di dalam kesepiannya. Rendy hanya mengangguk, menatap Nara dalam diam. Perempuan itu kembali disibukkan dengan gambar-gambarnya, seolah apa yang baru saja terjadi di antara mereka lenyap begitu saja. Pernahkah Nara memikirkan semua ini? Mengapa perempuan itu seolah menanggung semuanya sendirian? Pertanyaan-pertanyaan itu mengelilingi kepala Rendy, jika ia bertanya...mungkin hanya akan membuat Nara semakin terluka. “Kau marah kepada ibuku, tapi kau melampiaskan kemarahanmu itu kepadaku.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Rendy, membuat Nara menoleh cepat. Perempuan itu menatap Rendy dengan bola matanya yang membulat. Terkejut. “Sekarang kau menuduhku?” kata Nara yang terlihat tak menyukai kalimat itu. “Itu yang kurasakan, Nara.” “Ren, bisakah aku bekerja dengan tenang malam ini?” “Ya, kau memang tak pernah ingin mendengar perasaanku. Nara, kau berubah. Kau menjadi Nara yang tak kukenal.” “Ren....” Rendy tidak berpaling saat Nara memanggilnya. Lelaki itu memilih untuk masuk ke dalam kamar. Semua terasa gelap. Mungkinkah ia telah kehilangan Nara?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Ternyata Suamiku Seorang CEO

read
133.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
51.0K
bc

Tujuh Kali Klimaks Semalam

read
21.4K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
5.6K
bc

Cinta yang Tak Semestinya

read
7.8K
bc

Gadis Kesayangan

read
10.1K
bc

Iparku Lebih Menggoda

read
2.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook