Keyna duduk di depan meja rias melihat pantulan dirinya dalam cermin, ia sangat cantik dengan riasan pengantin yang natural tapi elegan dan rambutnya sudah tergulung rapih dengan hiasan emas dedaunan. Keyna berdiri lalu melihat kembali dirinya di cermin besar dimana ia sudah mengenakan gaun putih yang sempit itu, dengan belakan d**a yang lumayan rendah. Pemilik gaun ini pasti sangat percaya diri dengan tubuhnya.
Siapa sangka bahwa ia menikah hari ini, walaupun memang palsu tapi tetap saja ini membuatnya gugup dan jika keluarganya mengetahui ini maka habislah, ia yakin ibu tirinya akan mengeluarkannya dari keluarga mereka. Mungkin. Keyna tidak yakin juga tapi kakeknya pasti amat sangat kecewa dengannya.
Tapi, memikirkan uang yang ia akan dapatkan bukannya itu terlalu sedikit untuk Enzo padanya?
Ah, seharusnya ia meminta lebih mengingat betapa kayanya keluarga ini. Harga rumah bahkan tidak cukup dengan uang itu, mobil juga tidak bisa dan membuka usaha terlalu beresiko karena ia tidak tau apapun tentang bisnis. Keyna merasa benar bahwa ia harus meminta lebih. Di jaman sekarang, uang memang segalanya.
Keyna kembali menyebutnya bodoh, ia tidak bisa berpikir cepat dan sekarang ia harus berpikir cepat bagaimana mendapatkan uang lebih. Ia berjalan kearah pintu ruangan tersebut, ia membuka pintunya sedikit untuk mencari kebardaan Enzo karena Enzo memintanya untuk berdiam disana selama dua jam untuk dirias sampai dia datang menjemputny karena pernikahannya bisa saja terjadi dan tidak, semua tergantung sang pengantin wanita yang asli itu.
Sebenarnya ia masih belum mengerti apa yang terjadi, dan orang-orang yang membantunya mengenakan gaun juga meriasnya tadi adalah dari keluarga dua belah pihak, mereka sama tidak tau apa yang terjadi tapi mereka membicarakan bahwa ini adalah bentuk pemberontakan mereka dan balas dendam untuk membuat malu kedua belah keluarga. Mereka di jodohkan, jadi mungkin saja terjadi tapi disaat mereka sudah mengundang para tetua juga tamu-tamu penting keuarga mereka maka ini sangat memalukan. Hanya itu yang bisa di dengar Keyna, mereka juga meminta Keyna untuk membantu mereka dan kata mereka ia cocok dengan Lorenzo.
Tapi, ia sama sekali tidak melihat batang hidung Enzo bahkan Regan sekalipun membuat Keyna merasa ingin keluar sampai ia melihat wajah tidak asing di luar sana. Dia adalah Zara. Keyna sangat buruk mengingat wajah dan nama orang, tapi ia langsung mengenal Zara dalam sekali lihat karena gadis itu dekat dengan Erik akhir-akhir ini.
Mengapa Zara ada disini?
"Apa yang kamu lakukan? Cepat masuk?!"
Tiba-tiba pandangannya terganti dengan d**a seseorang yang tidak lain adalah Enzo. Keyna hanya menyengir lalu Enzo berjalan kearahnya yang memaksanya untuk mundur. Enzo memperingati Keyna untuk tidak membuka pintu ruangan sembarangan. Keyna beralasan bahwa ia mencari Enzo, ia tidak membicarakan Zara disana karena ia takut Enzo mengetahui identitas aslinya.
"Bagaimana? Apa kita jadi menikah?"
Enzo mengangguk, ia menawarkan dua kali lipat dari yang ia tawarkan tapi masalahnya mereka akan sungguh menikah. Ini seperti nikah kontrak, setelah beberapa bulan mereka bisa bercerai setelah mendaftarkan pernikahan mereka. Keyna tidak tau harus bagaimana, ia ingin saja mengatakan iya tapi ia teringat dengan Erik yang membuatnya bingung, jika ia menolak maka ia akan kehilangan uang yang ia butuhkan sekarang.
Benar, jaman sekarang adalah uang segalanya dan ia tidak bodoh tentang itu lagipula mereka akan bercerai nanti, mereka juga tidak akan melakukan hal aneh dan ini hanya pura-pura sama seperti ketika ia bersama kliennya kemarin
Keyna melihat lagi pada Lorenzo yang tidak buruk, selain sikapnya yang serius dan dingin. Penampilannya lumayan, menikah dengan laki-laki seperti Lorenzo tidak buruk juga. Lagipula Erik tidak menyukainya dan Erik juga pasti mengerti keadaannya ini, mungkin.
"Jika anda memberikanku satu miliar.....aku mau. Dan, aku butuh penutup wajah oke?"
Dan, semuanya terjadi begitu saja.
Ia sungguh sudah menikah sekarang, memang sungkar di percaya tapi karena ini semua palsu jadi semuanya terjadi begitu cepat. Keyna bahkan langsung kembali ke ruangannya itu sambil melepaskan sepatu high heels yang sempit itu dengan cepat, ia mengingat lagi kejadian tadi dan yang ia pikirkan malah Zara yang akan melihatnya atau tidak. Tapi, siapakah Zara sampai bisa ada di acara pernikahan ini bahkan berada diantara keluarga Enzo?
Memikirkannya membuat kepalanya mendadak pusing, jadi ia lebih mengabaikannya lalu fokus pada kakinya yang terluka. Keyna duduk di bangku yang ada disana sambil mengeluhkan banyak hal lalu mencari-cari plester yang biasa ia bisa menutupi lukanya agar tidak sakit saat menggunakan high heels miliknya.
Tapi bodohnya ia malah menjatuhkan semua isi tasnya karena terburu-buru, Keyna langsung mengomel lagi sampai tidak menyadari Enzo masuk kedalam ruangan tersebut lalu membantunya mengambil barang-barangnya itu dan menemukan kartu pelajar yang ia miliki. Keyna tidak menyadarinya sambil mengatakan apa yang harus ia lakukan setelah ini, ia sangat lelah belum lagi keluarga Enzo begitu dingin padanya.
"Kamu masih sekolah?"
"Oh?" Keyna mengandalkan kepalanya dan melihat Enzo memegang kartu pelajarnya.
Sial. Awalnya ia pikir hari ini adalah hari keberuntungannya, ia bisa mendapatkan uang tapi tidak lagi karena Enzo terlihat sangat marah padanya.
.
.
.
"Aku gatau, kalo kamu ini bener-bener bodoh."
Pernyataan Nia padanya itu, Keyna bisa menerimanya. Keyna tau seharusnya ia lebih hati-hati dan tidak membawa kartu pelajarnya, tapi biasanya ia akan mendapatkan diskon karena itu jadi selalu membawanya.
Nia menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas frustasi, bukan itu yang ia maksud. Nia menjelaskan bahwa tentu saja pria yang menyewa Keyna itu marah setelah mengetahui bahwa Keyna di bawah umur, "Dan, kamu tau kan kalo kalian itu sungguh menikah?"
"Aku tau, tapi kita juga ga beneran nikah! Jadi sekarang tidak mau membayar uangnya dan pasti memperotes ke bos ku,"
Tentu saja pria itu akan marah, karena dia melakukannya dengan Keyna yang dibawah umur sekalipun palsu. Keyna berdalih bahwa ia sudah dewasa, usianya lebih tua dari yang lain bahkan tahun depan ia akan berusia sembilan belas tahun bahkan seharusnya ia sudah bisa kuliah sekarang.
Nia baru ingat itu, tapi tetap saja Keyna masih sekolah dan pria itu tidak mau mengambil resiko dengan hukum. Keyna tidak tau, ia hanya berharap bahwa pria itu akan membayarnya saja.
"Jadi kamu udah nyerah sama Erik?"
Keyna makin muram mendengar nama Erik, "lagipula dia ga suka sama aku jadi..."
"Akhirnya kamu sadar,"
Keyna melihat Nia sinis, tapi bukan berarti perasaannya hilang. Jika begini ia malah ingin mendekati Erik lagi. "Ah, tapi...aku ngeliat Zara di pernikahan ini, dia pasti keluarga suamiku."
"Zara? Benarkah?! Apa....dia mengenalimu?"
Sepertinya tidak, ia mengenakan makeup juga. Tapi buruknya ia menyebutkan nama aslinya walaupun Enzo mengenalkannya sebagai Keyna. Tapi pasti Zara tidak akan menyangka bahwa teman sekolahnya itu menikahi saudaranya. Keyna mengatakan itu dengan percaya diri, membuat Nia malah frustasi karena tidak tau mengapa Keyna bisa seceroboh ini.
"Gatau, kita bahkan ngomongin ini di kelas.." kata Keyna melihat sekitarnya, yang memang kosong karena ia meminta Nia datang lebih awal untuk bercerita. "Ahh...uangku...."
Nia meminta Keyna untuk berhenti memikirkan uang, ada banyak hal yang perlu Keyna khawatirkan karena jika sekolah mengetahui semuanya juga maka bisa saja Keyna di keluarkan.
Keyna tau, tapi bagaimana lagi yang ia butuhkan sekarang adalah uang miliknya yang masih ditahan pria itu. "Tapi dia sungguh suamiku sekarang, kan?"
"Ya, bagaimana pun kalian sudah mengucap janji suci itu walaupun kalian tidak saling mencintai? Tapi, oh? Kamu buat aku bingung! Aku pikir pernikahan kalian tidak sah!"
"Well, sah atau tidak sah. Dia tetap suamiku, aku akan meminta tanggung jawabnya!"