Kebohongan

1424 Words
Syukurnya, tidak terjadi apa-apa di sekolah. Zara sepertinya tidak tau kalau ia adalah pengantin wanita yang menikah kemarin. Ya, siapa juga yang akan menyangka bahwa dunia bisa sesempit ini tapi tidak juga, mereka ada satu kota yang sama jadi semuanya bisa terjadi. Keyna melihat Erik yang berada di kejauhan sana, ia ingin berlari mengejar pria itu yang sedang bersama teman-temannya tapi Nia melihatnya tajam dan memintanya untuk menahan diri, tidak mengejar Erik yang sedang bersama teman-temannya itu. Ia juga ingin bersama Erik, disana. Keyna masih tidak tau mengapa Erik begitu membencinya. Nia meminta Keyna untuk menjaga jarak, sudah berulang kali ia mengatakan kalau bisa saja Erik risih karena perbuatan Keyna yang menempel pada Erik. "Baiklah," Kata Keyna lesu."Itu bus kamu," Nia memperingati Keyna lagi untuk bersikap biasa saja dan tidak mengejar Erik. Keyna mengerti, ia meminta Nia untuk cepat naik bus sebelum ditinggal pergi. Nia naik bus dan memberitahu bahwa Keyna bisa menghubunginya jika terjadi sesuatu lagi. "Ohh...sekarang kamu bener bener bersikap kaya temen ku yah.." "Diam!" Nia mengelaknya, tapi Keyna tau bahwa Nia juga mengkhawatirkannya lihat saja perkataannya tadi dan di pagi hari juga dia mau datang ke sekolah di pagi hari. Keyna tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Nia yang sudah berada di dalam bus. Dan setelahnya, bus tujuan Keyna datang. Keyna langsung masuk kesana, ia mengambil kubangku kosong lalu melihat keluar jendela dimana dari sana ia bisa melihat Erik yang tertawa bersama teman-temannya, bisa-bisanya Erik tidak pernah tertawa seperti padanya lagi. Keyna ingin bertanya langsung tentang itu tapi ia juga takut akan jawaban Erik, ia takut jawaban itu akan menyakitinya. Entahlah, memikirkan Erik malah membuatnya semakin pusing tapi memikirkan pernikahan kemarin malah lebih memusingkan, jika pada akhirnya ia menikah juga dengan orang asing bukankah itu sama saja jika ia di jodohkan oleh orangtuanya? Jadi buat apa ia melarikan diri? Tidak! Batin Keyna menolaknya! tentunya saja berbeda. Ini hanya pernikahan kontrak sedangkan menikah dengan pria yang dipilihkan orangtuanya itu adalah selamanya, jadi berbeda. Keyna mencoba beranggapan seperti itu, ia hanya butuh uangnya sekarang dan Lorenzo sama sekali tidak membalas pesannya. Keyna memang memiliki ingatan buruk tapi ketika ia berusaha maka ia bisa mengingatnya dengan baik, jadi ia ingat ketika membaca tentang Lorenzo ia mengingat nama perusahaan tempat Lorenzo bekerja dan ia langsung mencarinya di internet, bagaimanapun ia harus mendapatkan uangnya walaupun harus di potong juga tidak masalah daripada ia diusir bulan ini. . . Apa hari sialnya kembali berlanjut? Bisa bisanya hari yang cerah berubah gelap saat ia berada di bus lalu turun hujan. Keyna tidak memiliki pilihan selain berlari menuju kosannya, ia paling malas mecuci sepatunya. Tapi, di depan gerbang kosannya itu. Keyna melihat seseorang yang tidak asing baginya, seorang pria berbadan tegak dan mengenakan pakaian formal itu berdiri disana sambil memegang payung hitam. "Permisi, anda menghalangi jalan masuk." Pria berwajah dingin itu langsung memayungi Keyna dan memanggilnya nona. Keyna mengambil payung itu, "Kebetulan aku ga punya payung, jadi aku akan ambil ini!" "Kapan anda akan pulang?" "Apa kakek baik-baik saja?" Tanya Keyna mengabaikan pertanyaan Joe sebelumnya. "Ya, beliau baik-baik saja walaupun ingatannya masih belum sepenuhnya pulih." Jawab Joe datar, "Jadi, kapan anda akan pulang nona?" Keyna tidak bergeming. "Sejak kapan kamu tau keberadaan ku disini, apa papa juga tau?" Joe hanya diam membuat Keyna bisa menebak bahwa selama ini memang dia dan Ayahnya mengetahui keberadaannya, bisa saja Ayahnya tau pekerjaan sampingannya itu tapi Keyna tidak peduli juga, inilah hidupnya sekarang. "Aku tidak mau kembali, katakan itu pada mereka." Kata Keyna tersenyum lalu berjalan masuk kedalam kosannya itu tanpa mengindahkan Joe yang mengatakan bisa saja nanti tuannya langsung yang akan menjemput Keyna. "Katakan padanya jangan ganggu aku, urus saja wanita simpanannya itu!" Tentu saja Keyna tau kalau ayahnya itu juga memiliki wanita simpanan lain yang tidak tau berapa jumlahnya pasti tapi selalu berganti-ganti, ia tidak terlalu peduli juga tentang itu dan semua orang di rumah mereka juga mengetahuinya tapi mereka tidak begitu peduli. Istri sah Ayahnya yang merupakan ibu tirinya itu memang kuat, ia tidak menyalahkan beliau juga karena bersikap dingin padanya. Jika ia adalah beliau, ia malah tidak ingin melihat anak dari istri siri suaminya itu tinggal bersamanya. Ibunya berkata seperti itu bahwa ia istri siri dari Ayahnya, tapi entah mereka sungguh menikah atau tidak. Keyna jarang membicarakan Ibunya karena ia juga tidak bisa mengingat jelas kebersamannya dengan Ibunya, mereka tinggal di sebuah kota kecil yang jauh dari keramaian sampai usianya tujuh tahun Ibunya membawanya ke rumah Ayahnya dan mengatakan bahwa dia sudah lelah dengan semuanya lalu mereka tidak pernah bertemu lagi. Mungkin Ibunya sudah lelah dengannya juga Ayahnya, jadi meninggalkannya. Keyna tidak tau juga bagaimana ia harus membenci Ibunya untuk apa, untuk meninggalkannya bersama Ayahnya? Padahal kemungkinan kehidupannya akan lebih buruk jika ia terus bersama Ibunya, dia bukan ibu yang baik dan selalu meninggalkannya untuk sendiri untuk bersenang-senang di malam hari bahkan tidak memberitakannya sekolah. Satu-satunya kata yang paling ia ingat adalah ketika Ibunya mengatakan bahwa seharusnya dia tidak melahirkannya, Ibunya pikir jika ia melahirkannya, maka kehidupannya akan lebih baik dan keluarga ayahnya akan menerimanya namun kenyataan tidak seperti itu, Ibunya yang bukan dari keluarga berada dan pekerjaannya yang tidak jelas jadi mana mungkin bisa diterima dan istri sah dari Ayahnya yang menentang keras kehadiran Ibunya, tidak akan bisa merubah apapun sesuai yang diinginkan Ibunya. Itulah yang membuat Ibunya membencinya, dan mungkin ada beberapa alasan lainnya juga. Perkataan Ibunya itu sangat menyakitinya, tapi dipikirkan lagi bagaimana ia hidup sekarang maka mungkin lebih baik ia memang tidak dilahirkan karena pada akhirnya ia menjalani semuanya sendirian dengan orang-orang yang tidak menginginkan atau mengharapkan kehadirannya sama sekali. Hah, percuma saja membahasnya sekarang. Keyna mencoba menjalani hidupnya dengan baik sekarang, bertahan dari hari ke hari dengan keyakinann kecilnya bahwa pada suatu hari nanti ia akan menikmati dan bahagia dengan hidupnya. Entah kapan itu, tapi ia sangat berharap bahwa suatu hari ia akan menjalani hidupnya yang tenang. Bisa dikatakan juga bawa ia bisa bertahan sejauh ini karena Erik, berpikir Erik akan terus menyambutnya hangat yang kembali ke pandangannya dan bahagia bersama. Memikirkan itu sekarang membuatnya hanya bisa menghela nafas dalam. Keyna berbaring di atas tempat tidurnya setelah ia membersihkan diri, ia melihat keluar jendela dimana hujan masih turun padahal ia sudah mencuci pakaian juga sepatunya tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda hujan akan mereda. Sambil mengeluhkan itu, Keyna duduk di atas tempat tidurnya itu lalu mengambil ponsel yang berada di sampingnya dan kembali mencoba menghubungi nomor kantor Lorenzo untuk menanyakan tentang nomornya, tapi mereka tidak memberikannya. Tentu saja mereka tidak akan memberikannya, ia tidak kehabisan akal karena kali ini ia meminta nomor Regan yang ia tau pria itu adalah asisten Lorennzo. Ia mengenalkan dirinya sebagai kekasih Regan, ia sedang di rumah sakit dan ia butuh menghubungi Regan sekarang juga hanya saja Regan tidak menjawabnya jadi ia meminta pada wanita yang mengangkat teleponnya itu untuk memberikannya pada Regan Dan segera menghubunginya. Itu berkerja, dibandingkan memakai nama Lorenzo ternyata menggunakan nama Regan lebih berguna. Ia sangat membutuhkan uang itu sekarang karena hari ini adalah hari terakhir ia harus membayar kosannya, walaupun biasanya diberi keringan dua hari lagi tapi ia tidak tau. Dan, baru saja ia memikirkan itu. Pintu kamarnya di ketuk dari luar. Keyna tidak mau membukanya, tapi ia harus membukanya karena itu dari Ibu kos yang memang tinggal di sebelah kosan ini. Keyna menyapa beliau dan memberitahu kalau ia akan membayar besok. Tapi ternyata bukan itu masalahnya, tapi beliau diberitahu bahwa Keyna berkerja tidak benar dan para penghuni lain juga warga sekitar merasa tidak nyaman dengan itu jadi beliau ingin Keyna segera keluar dari kosannya besok pagi. Keyna tidak tau darimana kabar itu menyebar, bahkan ia tidak kenal dengan sesama penghuni kos bahkan tetangga lainnya bagaimana bisa mereka tau pekerjaannya. "Bu, saya hanya anak sekolah...apanya yang bekerja tidak benar!" "Iyah tapi orang-orang ngomongin kamu kaya gitu, banyak yang liat kamu ganti-ganti cowok jadi ibu mohon yah..tolong keluar secepatnya besok pagi, ibu ga mau kosan ibu tercoreng karena itu." Ini pasti kerjaan Joe atau Ayahnya. Keyna lelah membela diri tapi tidak di dengar tapi ia tegaskan bahwa itu tidak benar, ia bahkan menjamin itu bohong dan tidak ada buktinya. Keyna kembali kedalam kamarnya, ia mengomel sendiri pada Joe. Apa dengan ini ia akan kembali ke rumah Ayahnya? Tentu saja tidak! Keyna malah tidak mau kembali setelah rencana licik yang mereka lakukan. Ponselnya berdering, Keyna langsung melihat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Itu pasti dari Regan dan dugaan itu benar, panggilan itu dari Regan yang langsung saja ia langsung berbicara. "Jika boss mu tidak mau berbicara denganku, tolong berikan alamat tempat tinggalnya atau... kamu ingin semua ini terbongkar? Aku bisa menyebarkannya dengan mudah lewat media sosial."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD