Masa Lalu

1326 Words
Melihat sahabatnya tampak shock, Inggrid langsung iba. "Sudah Nya, sudah," katanya. Anya menangis dalam pelukan Inggrid. Inggrid merasa tidak enak dengan sepupunya, lalu ia mengajak Anya ke mobil. "Aku nggak tahu harus gimana, Nggrid. Rasanya nggak percaya semua ini terjadi. Aku kurang apa untuk Bastian. Aku bahkan sudah mengorbankan kuliahku untuk dia, orang tuaku melarang aku menikah dengannya tapi aku tetap berusaha. Aku selalu setia untuknya, tapi ini balasannya," tangis Anya. "Sudahlah Nya, yang dulu tak usah disesali. Yang penting sekarang Nya, setelah kamu tahu ini semua, kita mau gimana?" tanya Inggrid. Air mata Anya tak berhenti berderai walaupun ia terus menghapusnya. "Aku masih tidak tahu, Nggrid. Aku masih shock." "Oh I see," jawab Inggrid. Gadis itu diam sebentar sambil menenangkan Anya yang masih menangis di pelukannya. Setelah sahabatnya itu sedikit tenang, ia bertanya. "Lalu ... apa kamu mau minta tolong keluargamu untuk bersikap tegas pada Bastian?" "Jangan Inggrid, jangan!" Anya menghapus air matanya. "Aku tidak ingin orang tua dan keluargaku tahu, Nggrid." "Kenapa?" "Mmm, nggak apa-apa," jawab Anya. "Ah sudahlah, biar kupikirkan nanti. Sekarang tolong antar aku pulang ya. Tolong setirin mobilku, aku merasa nggak enak." "Oh iya nggak apa-apa, Nya. Oke, aku setirin mobilmu ya," kata Inggrid. Dalam perjalanan pulang pikiran Anya merasa tak tentu. Dia menyesali piihannya sendiri. Pikirannya pun terbayang pada masa lalu, sebelum ia menikah dengan Bastian. Waktu itu setahun yang lalu .... "Papa, Anya mau menikah," kata Anya dengan santai waktu mereka sarapan pagi itu. "Apa-apaan kamu? Kamu kan masih kecil," jawab papanya. "Aku sudah kuliah Pa, dan mas Bastian calon suamiku sudah 26 tahun," jawab Anya. "Ya, tapi Papa ingin kamu lulus kuliah dulu, kerja, baru nikah," jawab Papa. "Anya takut dosa Pa, jadi Anya ingin segera menghalalkan hubungan Anya sama Mas Bastian. " Anya bersikeras. Adya, kakak laki-laki Anya tersenyum sinis. "Sejak kapan kamu peduli halal sama haram? Cuma karena pengen nikah kamu jadi peduli halal sama haram. Kalau merasa pacaran haram, kenapa kamu pacaran?" tukas Adya sinis, membuat Anya serasa ditempeleng kepalanya. *** "Gimana Nya? Kamu udah boleh nikah?" tanya Bastian di mobil saat mengantar Anya kuliah. "Mas Bastian aja deh yang ngomong ke Mama Papa, biar mereka yakin," jawab Anya. "Lho aku mau ngomong setelah kamu diizinkan sama orang tuamu," kata Bastian. "Kalau Mas nggak ngomong sama Mama Papa, mereka nggak akan percaya," kata Anya. "Ya deh, kapan-kapan aku ngomong," jawab Bastian. "O iya, Mas sendiri belum pernah kan ngenalin aku sama keluarga Mas?" tanya Anya. "Keluargaku di luar kota," jawab Bastian. "Aku tetap harus dikenalin dulu sama keluargamu Mas," bujuk Anya. "Itu pasti, Sayang." *** Petang itu keluarga Anya dilanda kepanikan. Sudah pukul tujuh malam, tapi Anya belum pulang juga. Lagi-lagi ponsel Anya tak dapat dihubungi dan hujan turun terus menerus. Mereka sangat gelisah, takut terjadi apa-apa dengan gadis itu. Mereka juga menelefon sahabat-sahabat Anya dan sanak famili, tapi tak satupun yang tahu keberadaan Anya. "Gimana nih Pa? Apa kita lapor polisi?" tanya Adya. "Harusnya begitu, tapi ini kan belum 24 jam, apa laporan kita bisa ditindak lanjuti?" ucap Papa. Adya pun geram. Iya juga, kenapa laporan orang hilang harus ditindak kalau sudah 24 jam ya? Sebelum dua puluh empat jam itu kan bisa terjadi apa-apa. Keluarga Anya gelisah. Di tengah hujan yang deras, Adya menjalankan mobil untuk mencari Anya. Ia tidak peduli dengan kilat dan genangan air yang membanjiri jalan. Lelaki itu sangat khawatir dengan keselamatan adiknya. Sementara itu di rumah, Papa dan Mama terus berdoa dengan khusyuk mendoakan keselamatan Anya. Pukul sebelas malam Adya pulang dengan tangan hampa. Orang tua Anya tak bisa tidur nyenyak, mereka terus memikirkan putri bungsu mereka itu. *** Selama hampir dua hari Anya pergi dengan kekasihnya tanpa izin orang tua, lalu sore itu dia pulang diantar Bastian. Papa sudah menunggunya di teras. Saat Anya turun dari mobil, Bastian langsung menyetir mobilnya pulang, tapi Pak Dibyo- papa Anya, segera mencegahnya. "Hei hei hei, sebentar!" seru lelaki itu pada Bastian. Ia kemudian bicara pada Anya, "Nya! Suruh pacarmu menemui Papa!" Mendengar hal itu Bastian langsung turun dan bersalaman dengan papa Anya. "Masuk rumah dulu! Saya mau bicara dengan anda!" kata Pak Dibyo. Dia memang suah mengenal Bastian sejak lelaki itu memperkenalkan diri beberapa waktu lalu. Dulu pun ia merasa simpati pada lelaki yang terlihat dewasa dan mapan itu. Namun, perkembangan Anya yang terlihat negatif sejak bertemu Bastian membuatnya kesal. "Duduk, Bastian!" perintah Pak Dibyo. Sedikit takut Bastian duduk. Anya juga khawatir papanya akan memarahi Bastian. "Bastian, saya mau tanya. Kamu sering mengajak Anya pergi, sebenarnya niatmu untuk apa?" tanya Pak Dibyo. "Maaf sebelumnya, Pak. Saya dan Anya saling mencintai. Jadi selama ini kami sebagai sepasang kekasih," jawab Bastian. "Kekasih itu apa?" tanya Pak Dibyo tegas, dan itu pertanyaan yang sulit dijawab. Bastian pun berusaha menjawab pertanyaan papa Anya. "Kekasih itu ... sepasang manusia yang saling mengasihi." "Jadi kamu mengasihi Anya, Anya mengasihi kamu begitu? Kalau kamu mengasihi Anya tentu kamu ingin yang terbaik untuk Anya, lalu kenapa setelah bertemu denganmu perkembangan Anya jadi lebih ke arah negatif?" "Papa!" Anya merasa tidak terima papanya berkata begitu, tapi Pak Dibyo mengabaikan. "Maaf Pak, tapi saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menjadi orang yang terbaik untuk Anya," jawab Bastian. "Dengar Bastian, dulu Anya anak yang cerdas, nurut pada orang tua, dan punya cita-cita yang tinggi. Tapi setelah bertemu denganmu, kenapa malah prestasi belajarnya menurun? Dia juga sering pulang terlambat, pergi tanpa pamit. Kamu menjemput dan mengantar pulang Anya tanpa mampir terlebih dahulu, itu sopan tidak? Bahkan kamu mengajak Anya pergi lewat semalam tanpa izin, pantas tidak??" kata Papa dengan intonasi meninggi. Anya membela Bastian, "Papa, itu bukan salah Mas Bastian! Aku yang minta diperkenalkan orang tua Mas di luar kota, aku tidak minta izin karena sudah yakin tidak diperbolehkan, aku nggak langsung telefon karena ponselnya low ...." "Jangan memotong, Anya! Papa bicara pada Bastian, bukan kamu!" Perkataan papa Anya yang keras membuat Bastian terdiam. Cukup lama ia tak menjawab, kemudian ia berkata. " Maafkan saya Pak kalau saya dianggap lancang, tapi saya sudah memberikan yang terbaik untuk putri anda. Jika anda tidak berkenan, tidak apa-apa, mungkin saya memang harus meninggalkan putri anda. Terimakasih. Saya izin pulang," jawab Bastian. Dengan kesal lelaki itu berdiri dan keluar dari rumah Anya. "Mas Bastian! Tunggu! Maafin Papa, Mas. Jangan marah begitu!" Dengan panik Anya mengejar dan membujuk Bastian. Bastian menepis tangan Anya yang berusaha menarik lengannya. Dengan marah lelaki itu meninggalkan Anya dan pergi dengan mobil. "Mas! Mas!" panggil Anya pada kekasih yang berlalu. Air matanya menetes. Ia takut Bastian benar-benar marah dan meninggalkannya. Beberapa jam setelah itu, apa yang ditakutkan Anya terbukti. Saat itu Bastian mengirim pesan melalui ponsel padanya. [Anya, aku merasa tak pantas untukmu] begitu pesan yang dikirimkan Bastian padanya. [Jangan pikirkan kata-kata Papa, Mas. Anya tetep sayang sama Mas] [Untuk apa rasa sayang kalau tanpa restu] balas Bastian. [Kita harus tetap berjuang, Mas] [Aku sudah lelah berjuang, Nya] [Jangan begitu, Mas. Hubungan kita ini sudah terlalu jauh. Tidak boleh putus di tengah jalan] [Anya, demi kebaikanmu, lebih baik kita putus saja ya] chat yang dikirim Bastian itu benar-benar mengejutkan Anya. [Apa maksudnya Mas? Enggak Mas, aku nggak mau putus] [Itu semua untuk kebaikanmu] [Enggak Mas, aku nggak mau putus!] Anya bersikeras. [Aku tetap pada pendirianku. Kita putus Anya, jangan tunggu aku lagi. Besok kita tak bisa lagi bersama. Carilah orang yang lebih baik dariku dan lebih pantas untukmu] tulis Bastian dalam pesannya. [Apa-apaan ini? Enggak Mas, aku nggak mau putus!] [Tidak, kita tetap putus, Anya] [Enggak Mas, aku nggak mau putus!] Tak ada balasan apapun dari Bastian, bahkan saat Anya menelefonnya panggilan itu diabaikan. Tubuh Anya panas dingin. Ia gemetar. Anya tak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin Bastian tega memutuskannya? Kemarin hubungan mereka masih mesra, bahkan sangat mesra seolah tak kan terpisahkan. Bahkan cumbuan Bastian di tubuhnya pun masih terasa. Anya benar-benar tak percaya. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Kalau memang benar Bastian tega memutusnya itu sangat keterlaluan, karena baru kemarin ia mengucap janji akan setia selamanya, baru kemarin ia merayunya, dan ... baru kemarin ia mengambil kegadisan Anya. *Bersambung*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD