Ketahuan Berselingkuh

1143 Words
"Ayo jawab, siapa kamu??" tanya Anya makin kencang. "Tuut tuut." Telefon dimatikan. Anya jadi curiga. Ternyata banyak percakapan antara wanita itu dan suaminya di ponsel tersebut. [Mas, makasih ya udah ngasih aku kalung. Aku suka banget sama kalung ini] [Syukurlah kalau kamu suka. Kalau kamu seneng aku juga seneng, Sayang. O iya besok berangkat kerja aku jemput seperti biasa ya] Jeda beberapa hari. [Malem Sayang, kangen sama aku nggak?] Bastian memulai chat lebih dulu. [Pasti kangen dong, Mas. Lagi ngapain kamu?] [Lagi mikirin kamu, Sayang.] [Ah Mas bisa aja] [Kamu lagi ngapain?] [Lagi mau bobo, Mas] [Aduh, Mas jadi nggak sabar pengen bobo sama kamu] [Ih, Mas genit deh] [Habis genit-genitan sama kamu enak] [Jangan gitu dong Mas, nanti istrimu marah lho] [Santai aja, dia nggak akan tahu hubungan kita] [Aku takut dia tahu Mas, bisa kacau hubungan kita ini] [Santai saja, Sayang. Istriku itu lugu, kalau pun tahu hubungan kita, dia nggak akan bisa ngapa-ngapain, hahaha] [Mas, aku ingin hubungan kita segera diresmikan] [Sabar Sayang, kita tunggu saat yang tepat. Tunggu sampai aku menceraikan istriku, baru kita resmikan hubungan kita] [Kapan kamu ceraikan istrimu, Mas? Aku ingin hubungan kita segera diresmikan] Wajah Anya memanas. "Kurang ajar sekali perempuan itu, sudah tahu Bastian punya istri masih mau diambil juga," batin Anya. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang ia curigai benar. Ia langsung menyimpan nomor telefon itu di handphonenya. Saat itu Bastian keluar dari kamar mandi. Anya segera meletakkan ponsel Bastian, tapi terlanjur, lelaki itu sudah melihatnya. "Ada apa?" Bastian curiga. Anya masih tak mampu berkata-kata. Bastian langsung mengambil handphone dan membukanya. "Kamu baru saja membuka handphone ku. Iya kan?!" ucapnya marah. "Memang kenapa kalau seorang istri membuka handphone suaminya? Bukannya dari dulu kalau ada telefon atau SMS aku biasa mengangkatnya? Kenapa kamu harus marah kalau ponselmu kuangkat?" balas Anya. "Membuka-buka ponsel orang lain tanpa izin itu bukan perbuatan yang baik, nggak sopan," kata Bastian. "Kalau itu nggak sopan, kenapa baru ngomong sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Lagipula kita suami istri, tak boleh ada yang ditutupi di antara kita. Aku juga memperbolehkan kamu buka-buka ponselku, kenapa kamu mendadak melarangku buka ponselmu? Ada yang kamu simpan?" Anya berkata tegas. Bastian tak bisa menjawab. Bagaimanapun istrinya benar. Dulu memang dia sempat membebaskan istrinya itu membuka ponselnya. Misalkan ada telefon atau kabar dari keluarga, istrinya itu bisa membantu menjawab. Namun kali ini ia memang merahasiakan sesuatu pada istrinya. Dia lengah sehingga ketika kekasih gelapnya itu menelefon, Anya tahu. "Katakan padaku. Siapa perempuan yang menelefonmu?" tanya Anya. "Perempuan yang mana?" Bastian masih mengelak. "Lihat! Ini nomornya!" Anya menunjukkan nomor perempuan itu pada Bastian. "Ah itu cuma orang salah sambung," katanya enteng. "Salah sambung? Lihat ini pesannya! Dia mengirimmu pesan dengan sebutan Sayang-sayang!" "Ah, itu paling cuma iseng. Cuma orang ngerjain gitu, nggak usah dipikirin," kata Bastian. Kejadian itu terjadi tahun 2007, saat teknologi belum secanggih sekarang. Bastian dan pacar gelapnya itu hanya berkomunikasi dengan telefon dan SMS. Bastian juga sudah menghapus beberapa pesannya pada perempuan itu, beberapa pesan dari Si Pelakor juga sudah ia hapus, tapi jika Tuhan berkendak supaya Anya tahu tetap saja ada pesan yang terlewat tidak dihapus. "Oke, kalau menurutmu dia perempuan iseng, aku akan menelefonnya supaya tahu dia siapa," kata Anya. Dengan ponsel milik Bastian, Anya menelefon nomor perempuan itu. Sebelum diangkat Bastian segera merebut ponselnya. "Kembalikan!" teriak Anya. Bastian menghindar. Dengan cepat ia menghapus nomor perempuan itu dari ponselnya. Ia juga melihat Anya memegang handphone. Direbutnya handphone Anya dan ia memeriksa isinya. "Kamu menyimpan nomor perempuan itu kan? Benar-benar lancang kamu!" kata Bastian panik. "Harusnya aku memang menyimpan nomor perempuan itu. Ah sayang banget terlewatkan," jawab Anya. Bastian memeriksa ponsel Anya lalu .... "Nih!" Bastian mengembalikan ponsel Anya dengan cara dilempar hingga benda kotak kecil itu jatuh. Uff! Untungnya tidak rusak. Namun Anya sudah benar-benar kesal dengan perbuatan suaminya. Ia berlari ke kamar, mengunci pintu dan menangis. Bastian pun buru-buru menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor tanpa bicara sepatah kata pun dengan istrinya. Setelah siap, ia segera pergi tanpa berpamitan pada Anya. Setelah suaminya itu keluar dari rumah, Anya keluar dari kamar. Sambil minum s**u hamil dan menikmati roti untuk sarapan, Anya mengutak atik handphonenya. Dia merasa bahwa dirinya harus tahu siapa perempuan itu dan memastikan siapa dirinya. Anya tersenyum dalam hati, ternyata Bastian tak sepintar yang ia kira. Anya menyimpan nomor perempuan itu dengan nama "Mama" hingga Bastian tak menyadari bahwa itu nomor kekasih gelapnya yang sudah berhasil disimpan Anya. Anya langsung menelefon Inggrid. "Nggrid, kamu bisa cariin orang yang ngerti IT nggak?" tanya Anya. "Memangnya mau disuruh apa Nya?" Inggrid balik bertanya. "Kecurigaan kamu terbukti Nggrid. Tadi ada seorang perempuan menelefon Bastian dan kirim pesan dengan panggilan Sayang-sayang. Bastian sempet nge les macem-macem, tapi aku tetep nggak percaya. Yang bikin aku lebih curiga, reaksi Bastian berlebihan, tapi aku berhasil menemukan nomor itu dari disk drive, Nggrid. Kalau bisa ada orang yang ngerti IT buat menyelidiki itu nomor siapa," kata Anya. "Hmm, kayaknya sepupuku bisa kalau itu Nya. Sekarang kamu di mana? Aku lagi nggak kuliah, biar kuhubungi sepupuku dulu. Kalau dia bisa, kita ke rumahnya aja. Sebentar ya, nanti kamu kuSMS lagi," kata Inggrid. "Baik Nggrid." Setelah menunggu beberapa saat, Inggrid mengirim pesan. "Andra mau bantu, Nya. Sekalian kalau ada laptop Bastian di rumah boleh bawa, bisa bantu untuk melacak juga." "Oke Nggrid, aku segera datang." *** Anya, Inggrid, dan Andra duduk bertiga di depan laptop dan komputernya. Dengan kemampuan IT nya, Andra bisa melacak pemilik nomor ponsel itu. "Namanya Saskia Amanda," kata Andra. "Coba aku cari Friendster dia." Cowok berusia 20 tahun itu menemukan akun sosial media Friendster milik Saskia Amanda. Di sana ada foto-foto wanita itu. Hmm, dia memang cantik, dan sepertinya seorang wanita karir. Dari Friendster, Andra bisa melacak akun sosial media perempuan itu yang lain, termasuk Yahoo Messenger. "Kamu tahu nama Yahoo Messenger Bastian?" tanya Andra. "Tahu," jawab Anya. "Hmm, aku izin untuk buka YM suami kamu ya," kata Andra. "Tanpa pasword apa bisa?" "Aku usahakan, asal menggunakan laptop yang sama yang biasa digunakan suamimu pakai YM. Mana laptop suami kamu?" Andra bisa mengutak-atik laptop itu dan bisa membuka Yahoo Messenger Bastian meski tak tahu paswordnya. Dari situ tampak semua percakapan Bastian dan Saskia. Mereka saling kenal lewat Yahoo Messenger. Saskia seorang wanita karir, cantik, seksi, dan modis. Dari percakapan di Yahoo Messenger kelihatan mereka sudah bercinta berkali-kali, lalu ada sebuah percakapan yang sangat menyakitkan .... [Kamu bener cinta sama aku nggak Mas?] chat dari Saskia Amanda. [Pasti dong Sayang] balas Bastian. [Enakan siapa aku sama istrimu?] [Enakan kamu dong Sayang, main sama istriku tu rasanya kayak main sama kayu. Garing!] Dua manusia b***t itu pun menertawakan Anya dalam chat mereka. [Kasihan banget kamu, pasti malammu selalu dingin ya] tulis perempuan itu lagi. [Wkwkwkw, yang bisa bikin hangat ranjangku cuma kamu Sayang] [Kalau gitu buruan nikahin aku, Mas] [Pasti, Sayang. Aku akan segera ceraikan istriku dan nikahin kamu] Seketika air mata Anya tumpah. Badannnya langsung lemas seketika. *Bersambung*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD