Harus Sedih Atau Gembira?

1099 Words
Anya benar-benar terkejut dan ngeri. Wajah mayat itu berdarah-darah dan hancur. "Benarkah itu suami anda?" tanya Dokter. Dengan tatapan ngeri Anya berusaha meneliti mayat tersebut, tapi ... bukan, itu bukan suaminya. "Bukan, Dokter. Itu bukan suami saya," ucap Anya. "Anda yakin?" "Yakin Dok," jawab Anya. "Hmm, baiklah. Berarti anda sudah lega ya, kerena dia memang bukan suami anda?" "Iya, Dok. Terimakasih sudah membantu," jawab Anya. Entah perasaan apa yang harus dirasakan Anya. Ia lega karena korban kecelakaan itu ternyata bukan suaminya, tapi dia juga masih bingung karena kabar suaminya belum diketahui hingga saat ini. Perempuan itu masih gelisah. Bagaimana kabar suaminya? Di mana dia? Selamatkah ia? Anya masih merasa tak bisa tenang jika suaminya tak ada kabar. Bahkan makan pun serasa tak enak, tidur tak nyenyak. Walaupun bisa tertidur karena lelah memikirkan Sang Suami, tapi sering kali ia bangun tiba-tiba dan mimpi buruk karena terlalu memikirkan orang yang dicintainya. *** Sementara itu, Bastian datang ke kantor seperti tanpa beban apa-apa. Teman-temannya langsung berkata, "Eh Bastian, kemarin kamu dicari istrimu tuh!" "Lho, masak sih," jawab Bastian seolah tak ada masalah. " Iya bener, emang kamu ke mana aja sampai dicari istrimu kayak gitu? Kamu hilang dibawa hantu?" seloroh temannya. Bastian tertawa. "Ya, udah entar aku telefon istriku." Di rumah Anya masih gelisah memikirkan Sang Suami. tiba-tiba handphonenya berbunyi dari Bastian. Cepat-cepat Anya mengangkatnya. " Dari mana saja kamu, Mas? Kenapa baru telepon sekarang?" tanya Anya sedikit marah. Bastian tertawa. "Maaf Sayang, maaf ya,"katanya. "Kemarin habis dari kantor aku langsung pulang ke rumah orang tuaku karena ada kabar saudara yang sakit parah. Aku nggak mau bikin kamu panik, makanya aku nggak ngomong sama kamu, apalagi handphoneku saat itu sedang lowbat dan aku nggak sempet mikir untuk menghubungi kamu saking sibuknya. Lagian kalau kamu kubawa kesini kasihan, kamu kan lagi hamil, kalau melakukan perjalanan jauh luar kota takutnya kamu kepayahan di jalan." "Tapi kan kamu bikin aku mikir yang enggak-enggak, Mas. Aku sampai parno sendiri waktu ada ada berita kecelakaan di televisi. Kukira itu kamu, ternyata bukan." "Hahaha," tanpa merasa berdosa Bastian tertawa. "Sampai segitunya sih, positive thinking dong Sayang," kata Bastian. "Ya namanya istri kan khawatir itu wajar. Apalagi aku sedang hamil," jawab Anya. "Iya iya, maaf ya Sayang," kata Bastian. "Nanti aku pulang deh, kamu mau oleh-oleh apa?" "Udah, nggak usah bawa oleh-oleh apapun, yang penting Mas pulang dan selamat, itu aja," ucap Anya. "Oke deh Sayang. Sekali lagi aku minta maaf ya, janji deh nanti kalau ada apa-apa aku mau pamit sama istriku tersayang," kata Bastian. Sorenya Bastian pulang kantor seperti biasa. Anya sempat ngambek, tapi Bastian bisa merayunya hingga perempuan itu luluh. Tak lama mereka telah kembali bermesraan. Dalam hati Bastian berkata, "Mudah sekali istri kecilku ini kubodohi." *** Setelah kejadian kemarin, Bastian tak pernah lagi menghilang. Hanya saja dia jadi jarang pulang karena katanya lembur. Anya berusaha positif thingking kalau semua itu benar. Suatu ketika, ia berjalan-jalan dengan Inggrid dan Elena. "Gimana kabar kamu Nya setelah menikah?" tanya dua sahabatnya itu saat mereka makan bersama di cafe. "Ya, I'm happy," jawab Anya dengan senyum cerianya. Kedua sahabat berpandangan. "Oh syukurlah kalau kamu bahagia," kata Inggrid. "Soal Bastian menghilang itu gimana?" tanya Elena hati-hati. "Ternyata dia pergi ke rumah keluarganya di luar kota, dia nggak mau bikin aku panik, jadi dia pergi sendiri dan nggak sempet ngasih tahu," kata Anya dengan polos. "Oh, begitu ya," kata Inggrid sambil berpandang-pandangan dengan Elena. "Emang kenapa sih? Kok kayak ada sesuatu gitu?" tanya Anya. "Oh nggak apa-apa kok," jawab Inggrid sambil mengaduk minuman dan menyesapnya. Dalam hati ia gelisah, masalahnya sudah dua kali ia melihat Bastian dengan perempuan selain Anya. Pertama ia melihat Bastian di mall dengan perempuan itu, kedua ia melihat lelaki tersebut dengan perempuan yang sama berada dalam satu mobil. Walaupun cantik dan modis, tapi perempuan itu sepertinya lebih tua dari Anya dan seorang wanita karir. Ia ingin menceritakan hal itu tapi khawatir jika ia salah sangka dan takut menyakiti Anya yang sedang hamil. Namun jika dibiarkan, ia takut hal ini akan menjadi api dalam sekam yang bisa membakar rumah tangga sahabatnya sewaktu-waktu. Akhirnya Ingrid menemukan cara untuk menceritakan hal tersebut. "Nya, Bastian punya saudara yang umurnya kira-kira 25 tahun gitu nggak, wanita karir dan kerja di kota ini? Orangnya cantik, bertubuh tinggi berkulit putih rambut panjang, agak ikal?" ''Emmm, siapa ya. Kayaknya nggak ada deh, saudara Bastian itu di luar kota semua," jawab Anya. "Emang kenapa sih?" "Mmmm anu Nya," kata Inggrid ragu-ragu. "Aku tu pernah melihat orang mirip Bastian jalan di mall sama cewek dengan ciri-ciri kayak gitu. Masalahnya, itu hari di mana Si Bastian hilang. Terus aku lihatnya dua kali, yang kedua aku melihat mereka satu mobil di pagi hari pada jam berangkat kerja gitu." Deg! Jantung Anya berdegup keras, wajahnya pias. "Masak sih, Nggrid?" Melihat wajah temannya pucat pasi Inggrid jadi tidak tega. "Oh, mungkin itu hanya mirip saja Nya, jangan dipikirin ya." "Iya Nya, mungkin hanya mirip. Inggrid terlalu khawatir padamu," tambah Elena. Tangan Anya yang sedang memegang sedotan dalam gelas juice gemetar. "Kalau memang itu benar, gimana?" "Oh, positif thingking saja Nya, bisa jadi aku salah lihat," kata Inggrid cepat. "Masalahnya kamu lihat Bastian sama cewek di mall itu saat Bastian menghilang dan nomor handphone nya sulit dihubungi. Jujur sebagai istri aku juga curiga, hanya saja aku masih takut menghadapi kenyataan kalau semua itu benar. Kalau memang benar gimana? Aku udah mengorbankan kuliahku untuk menikah dengannya, lalu anak dalam kandunganku ini bagaimana?" Anya mulai cemas. "Oh begini, Nya! Jangan percaya sesuatu dulu kalau memang belum ada bukti. Paling nggak kamu waspada dulu, dan jangan curiga berlebihan dulu sama Bastian. Jangan tuduh dia macam-macam juga. Berlagak saja seperti biasa, tapi kalau ada yang mencurigakan kamu segera aja bilang kita-kita, biar kita bantu menyelidiki," kata Si Tomboy Ingrid. "Ya kan Na?" "Yak, bener banget," ucap Elena. "Oke deh kalau gitu," jawab Anya. Ketika pulang dari jalan-jalan bersama temannya, sebenarnya Anya sangat gelisah, tapi ia berusaha tenang dan mengendalikan emosi demi anak yang dikandungnya. Namun perasaan seorang istri sebenarnya tak bisa dikelabui. Dalam hati memang ia curiga kalau suaminya itu menyimpan sesuatu, hanya saja Anya belum punya bukti, jadi dia belum bisa bertindak tegas pada suaminya tersebut. Anya hanya bisa berdoa jika suaminya memang ada main dengan perempuan, semoga Tuhan memang menunjukkan bukti padanya. Tuhan selalu memberi jalan keluar terbaik bagi hambanya yang tulus berdoa. Saat Bastian sedang mandi, telefonnya berbunyi. Anya mengangkatnya. "Halo," kata Anya. "Kamu siapa?" terdengar suara seorang perempuan dari handphone Bastian. "Aku istri Bastian. Kamu siapa?" tanya Anya tegas. "Lho, Bastian punya istri?" ucap perempuan yang menelefon Bastian. "Iya. Kamu siapa??" tanya Anya agak kencang. Dia sangat penasaran siapa perempuan itu. *Bersambung*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD