Prologue
Ruangan itu terlalu dingin.
Bukan karena pendingin udara yang terus berdengung disudut-sudut langit, melainkan karena tidak ada satupun kehangatan tersisa didalamnya. Aku terduduk dengan kedua tangan terborgol diatas meja besi. Bekas darah yang sempat mengering disela kuku sudah dibersihkan oleh petugas beberapa jam yang lalu, tetapi aromanya masih tertinggal dikepalaku. Seolah darah memang tidak pernah bisa benar-benar dicuci.
Di seberangku, seorang penyidik membuka map berwarna cokelat. Ia tidak langsung berbicara. Hanya membalik beberapa lembar kertas sambil sesekali melirik ke arahku. Keheningan diantara kami terasa lebih bising daripada suara apapun.
“Nama”
Aku menjawab pelan.
“Tanggal lahir”
Aku menjawab lagi.
Lalu ia menutup map itu.
“Kenapa kamu membunuh ayahmu”
Pertanyaan itu akhirnya keluar. Sederhana. Lugas. Dan entah kenapa, terdengar jauh lebih tajam daripada suara benda apapun yang pernah melukai tubuhku.
Aku menatap pantulan wajahku dipermukaan meja. Kusam. Pucat. Mata yang sembab karna semalaman tidak tidur.
“Aku tidak membunuh ayah”
Penyidik mengangkat sebelah alisnya.
“Lalu siapa yang kamu bunuh?”
“Yang ku bunuh… adalah laki-laki yang bertahun-tahun menyebut dirinya ayah”
Ruangan kembali sunyi. Tak ada yang mencatat. Tak ada yg menyela. Aku tau kalimat itu terdengar seperti pembenaran. Mungkin memang begitu.
Namun bagaimana menjelaskan kepada seorang bahwa ada rumah yang tidak pernah menjadi tempat pulang?
Bahwa ada anak yang tiap malam menghitung langkah kaki ayahnya diteras bukan karena rindu, tapi karna takut. Bahwa ada seorang ibu yang belajar tersenyum sambil menyembunyikan lebam dibalik lengan panjang.
Dan bahwa ada doa-doa yang setiap malam dipanjatkan, bukan agar hidup menjadi lebih bahagia, melainkan agar esok pagi semua masih selamat.
“Mulailah dari awal” kata penyidik.
Aku memejamkan mata.
Awal…
Lucu sekali.
Karena luka seperti ini tidak pernah benar-benar memiliki awal.
Ia diwariskan. Ia dipelihara. Ia tumbuh diam-diam.
Dan malam ketika ayahku mati…
Bukanlah awal tragedi kami, melainkan akhir dari suatu yang seharusnya berakhir sejak bertahun-tahun lalu.