BAB 9 Menumpahkan Isi Hati

1059 Words
FITNAH MANTAN (9) … Makan malam. Aku membantu Mas Juliano dan Mbak Charela menyiapkan makan malam. Sebenarnya mereka masing-masing memiliki dua asisten. Namun, aku kurang akrab. Ruang makan kali ini cukup lengkap. Ada Mas Daffa, Mas Ferdian, Yozi, Dokter Hendra, Haura, dan tentu saja Pak Kairav dan Kioya. Kioya ada di pangkuan Pak Kairav. Menu makan malam kali ini makanan khas Lampung untuk menyambut Dokter Hendra. Pak Kairav memang sering memanjakan orang-orang di sekitarnya. Salah satunya dengan menyiapkan makan malam kesukaan mereka. Aroma ikan bakar gurame dimasak seruit—ikan bakar dicampur terasi dan tempoyak. Tak ketinggalan gulai taboh—makanan jenis kuah dengan bahan dasar santan; campuran daun tangkil, rebung, dan kacang panjang. Pindang ikan bandeng berkuah kuning, asam gurih, dengan aroma kuat kemangi, tak kalah menggugah selera. Ada juga sambal tempoyak udang. Minumannya tentu saja serbat kweni terbuat dari gula merah berisi potongan daging mangga kweni dan dicampur biji selasih. Makan malam berlangsung meriah. Hanya Haura yang terlihat cemberut sepanjang waktu. Sesekali dia melirik Kioya atau aku. Mas Daffa, Mas Ferdian, dan Yozi mengundurkan diri lebih dulu. Disusul Dokter Hendra dan Kioya yang dibawa Mbak Riyanti untuk istirahat. Aku membantu Mbak Santi—salah satu asisten rumah tangga—membereskan piring-piring dan gelas kotor. “Aku juga bisa bantu-bantu!” Haura tiba-tiba meraih piring dari tangan Mbak Santi. Namun—mungkin karena licin—piring-piring justru jaruh berhamburan ke lantai. “Astagfirullahala’dzim!” Mbak Santi, aku, dan beberapa ART lain jadi terkejut. Haura sendiri tak kalah terkejut. Pak Kairav menatap gadis itu dengan seulas senyum lembut. Tidak ada ruat marah di wajah pucatnya. “Makanya, kalau biasa main boneka, jangan coba-coba.” Mata Haura berkaca-kaca. “Nggak usah nangis. Stok piring saya masih banyak.” Kali ini Pak Kairav berusaha menghibur. Aku pergi mencari sapu dan serokan. Namun, karena kurang hati-hati, telapak kakiku yang tak memakai alas menginjak serpihan beling. Spontan aku meringis, mengangkat kaki. “Kamu nggak apa-apa, Mai?” Pak Kairav bangkit berdiri. Berjalan menghampiriku. “Nggak apa-apa.” Aku mencabut serpihan kaca berukuran kecil. Darah segar menetes dari kulit yang robek ringan. Lumayan sakit. “Saya panggilkan Dokter Hendra dulu.” Refleks aku memegang lengan Pak Kairav, tetapi buru-buru melepaskannya lagi. “Nggak usah, Mas. Cuma luka kecil, dikasih rivanol juga sembuh.” Pak Kairav menatapku sesaat, baru kemudian mengangguk. “Ya, sudah. Sekarang kamu istirahat. Ini biar dibereskan sama yang lain.” Aku mengangguk. “M-maaf, ya, Mbak. Ini gara-gara aku.” Haura tampak menyesal. “Mbak nggak apa-apa, Dek.” Aku meyakinkan. “Lain kali lebih hati-hati.” Pak Kairav menyentil kening Haura. Namun, gadis itu membalas—meraih jari telunjuk Pak Kairav dan menggigitnya keras-keras. Setelah itu pergi begitu saja dengan wajah merengut. Saat Haura pergi, Pak Kairav masih bengong, meringis menatapi jari malangnya yang memerah. Kempot bekas gigi tercetak di sana. Aku tidak tahu harus iba atau menertawainya. … Malam datang dengan cepat. Kioya sudah terlelap. Dadanya turun-naik dengan teratur. Menatap wajah Kioya membuatku teringat pada Mas Vano. Seketika perasaan gelisah datang menyergap. Aku tahu bagaimana Mas Vano. Ambisius. Segala macam cara bisa dilakukannya. Aku dan Mas Vano pertama kali bertemu di sebuah acara pesta pernikahan. Aku diundang datang sebagai penata rias sang mempelai. Saat itu jas yang dikenakan Mas Vano entah kenapa basah. Aku yang memberinya jas baru. Pertemuan kedua di acara ulang tahun. Aku memang bekerja sebagai penata rias di salah satu vendor dekorasi pesta. Ponsel Mas Vano jatuh, kebetulan aku melihat dan mengembalikannya. Sebagai ucapan terima kasih, Mas Vano ingin mengajakku makan malam. Namun, aku menolaknya karena risih kalau makan berdua. Mas Vano menanyakan tempat tinggalku. Saat dia tahu aku tinggal di panti asuhan, Mas Vano langsung menjadi donatur tetap. Kami menjadi lebih sering bertemu di panti. Saat itu aku sudah menjadi tunangan Mas Fathir. Mas Vano meminta Mas Fathir memutuskan tunangannya padaku saat aku menolak lamarannya. Semula Mas Fathir menolak. Namun, dua minggu kemudian Mas Fathir memutuskan tunangannya padaku dan menghilang. Keluarga Mas Vano—teruma Bu Intan—menolak keras hubungan kami. Mas Vano sebelumnya sudah dijodohkan dengan Putri Adiorra—mereka juga sudah berpacaran selama dua tahun. Aku menerima pernikahan dengan Mas Vano karena Mas Fathir memutuskan menyerah. Bagaimanapun, aku merasa kagum pada kebaikan Mas Vano—yang menjadi donatur tetap panti. Jadi, aku menerima lamaran keduanya. Sayangnya, usia pernikahanku dan Mas Vano hanya bertahan enam belas hari. Aku menghela napas. Rasanya sesak. Mengecup kening Kioya, aku membaca Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas, masing-masing tiga kali. Lalu meniupkannya ke ubun-ubun Kioya. Berdoa semoga Sang Khalik selalu memberikan keberkahan-Nya. … Gelisah. Mencoba mengobati rasa gelisah, aku melangkah ke taman belakang. Ini sudah pukul sembilan, udara lumayan dingin. Namun, aku tidak perlu takut kelayapan di pekarangan rumah pada larut malam. Ada satpam dan para bodyguard yang berjaga dua puluh empat jam. Berganti shift setiap enam jam sekali. Aku memejam saat embusan angin menerpa. Wajah terasa dingin. Namun, sedikit membuat pikiran lebih segar. “Mai.” Hampr aku terlonjak. Pak Kairav datang mendekat di atas kursi rodanya. Dia menempatkan kursi roda di sisi kursi kayu yang sedang aku duduki. “Kenapa belum tidur?” tanyanya. “Emmm.” Senyuman lembut menggantung hangat di bibir pucat Pak Kairav. “Kepikiran soal Vano yang ingin mengambil Kioya?” Aku mengangguk, mengakuinya. “Saya sudah bilang untuk jangan terlalu memikirkannya, Mai. Saya akan melindungi kalian berdua. Saya akui, Kiovano memang jenis orang yang terbilang langka. Dia genius dan licin. Tapi saya punya orang-orang yang cukup bisa diandalkan. Kamu harus percaya.” “Mai … Mai hanya nggak ngerti. Dulu Mas Vano nggak mengakui Kio. Sekarang dia tiba-tiba datang dan ingin ambil Kio. Kenapa dia nggak menikah dengan orang lain saja terus punya anak sendiri. Kenapa harus Kio?” Akhirnya aku bisa menumpahkan emosi yang sedari tadi memenuhi d**a. Air mataku jatuh tak terbendung. Pak Kairav menggerakan kursi rodanya sehingga menjadi berhadapan denganku. Dia mengulurkan tangan, tetapi membeku beberapa inci dari pipiku. “M-maaf ….” Pak Kairav menarik lagi tangannya. Dia tahu kalau tanpa ikatan yang sah, dia tidak boleh menyentuhku. Pak Kairav melepas sabuk jubah fiyamanya dan menyerahkannya padaku. “Saya nggak bawa sapu tangan. Kamu pakai itu ajah, ya, buat hapus air matanya.” Aku tesenyum juga menangis. Aku meraih sabuk dari bahan flanel tebal dan lembut berwrana putih salju. Ada-ada saja. Pak Kairav membuat emosiku jadi tidak keruan. Campur aduk antara sedih, marah, dan ingin tertawa. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD