FITNAH MANTAN (8)
…
“Kemungkinan besar Vano akan mengambil jalur hukum untuk mendapatkan Kioya.” Pak Kairav memberitahu.
Kata-kata itu seperti godam yang menghamtam d**a.
Dulu Mas Vano tidak percaya. Mengusirku dan calon anaknya. Lalu, setelah dia tahu kalau aku benar dan benih dalam rahimku memang anakanya. Seenaknya saja dia menginginkan Kioya.
Pak Kairav memejam. Selain kulit, matanya juga sangat sensitif pada cahaya matahari.
“Sebenarnya posisi Vano sangat lemah. Kemungkinan dia menang di pengadilan tidak akan ada sampai lima persen. Hanya saja ….” Pak Kairav menghela napas. Kelopak matanya terbuka sedikit—memicing. “Kiovano bukanlah orang biasa. Dengan semua fasilitis, kekuasaan, dan uang yang dimilikinya. Menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, bukanlah suatu yang mustahil baginya.”
Dalam hati aku membenarkan apa yang diutarakan Pak Kairav.
“Saya memberitahu kamu, agar kamu bisa mempersiapkan diri. Ke depan, mungkin akan ada banyak tekanan.” Pak Kiovano memutar kursi rodanya sehingga membelakangi cahaya dan menghadapku. “Tapi kamu jangan khawatir, Mai. Saya pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kalian berdua.”
Perasaanku tidak keruan ditatap Pak Kairav. Namun, perasaan gelisah yang paling pekat. Aku tahu Mas Vano orang yang sangat ambisius. Dia nggak akan berhenti menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dulu pun begitu—saat dia memaksa orang yang awalnya aku cintai untuk mundur.
“Mai.”
Suara Pak Kairav menarikku dari lamunan.
“Mas, maaf. Mas jadi banyak masalah karena aku.”
“Kamu bicara apa, Mai? Saya sudah bilang, saya dan Kiovano sudah bermasalah sejak lama. Nggak semata-mata karena kamu.”
“Ta—”
“Jutru mungkin sebenarnya kamu dan Kioya akan baik-baik saja kalau nggak bersama saya. Tapi sekarang sudah terlambat. Saya lepas kalian berdua pun, belum tentu Vano mau melepaskan kalian berdua.”
“Mas Vano membenci Mas Kairav?”
“Lebih dari apa pun.”
“Kenapa?”
“Karena dia nggak bisa merima kenyataan kalau dirinya bukan anak tunggal dan pewaris satu-satunya.” Pak Kairav memutar sedikit kursi rodanya sehingga menjadi menyamping. Cahaya matahari yang jatuh di kulit pucatnya membuat rambut-rambut halus dikulitnya seperti bercahaya. “Vano selalu ingin mengambil apa yang penting dalam hidup saya. Termasuk … kalian berdua.”
Suara Pak Kairav sangat lirih, tetapi aku masih bisa mendengarnya.
Aku dan Kioya, dianggap penting?
“Mas.” Suaraku bergetar karena haru.
“Hmm.”
“Terima kasih.”
Pak Kairav menanggapi ucapan terima kasihku dengan seulas senyum hangat. Kehangatannya serupa mentari yang bersinar di balik kaca sana. Membuat hatiku lebih tenang dan lebih siap menghadapi segala masalah.
…
Dokter Hendra.
Dokter pribadi Pak Kairav ini kalau tidak salah sudah berusia enam puluh empat tahun. Masih terlihat bugar dengan helai-helai uban mendominasi rambutnya yang biasa disisir klimis.
Beliau sudah menikah, memiliki dua orang putra dan satu putri. Putra pertamanya sedang menjalani kuliah kedokteran S-2 di luar negeri. Putra keduanya sudah semester enam, kuliah di UGM—Yogyakarta. Sedangkan putrinya baru lulus sekolah menengah atas dan bersiap masuk universitas.
Dokter Hendra tinggal bersama Pak Kairav. Namun, pulang setiap akhir pekan. Kadang-kadang juga minta cuti untuk liburan bersama keluarganya.
Dokter Hendra, Mas Daffa, dan Yozi akan pergi shalat bersama setiap hari Jumat—Shalat Jumat. Ketiganya memiliki hubungan yang baik.
Pak Kairav dikelilingi orang-orang luar biasa yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kadang-kadang aku kepikiran dari mana Pak Kairav mendapatkan uang untuk membayar jasa mereka semua.
Apa dari Tuan Bima?
Hari ini Dokter Hendra pulang. Aku sengaja menyambutnya untuk memberitahu kalau pagi tadi Pak Kairav dipukul. Aku harap nanti dia langsung memeriksa dan memastikan kalau cedera Pak Kairav memang baik-baik saja.
Dokter Hendra memiliki postur tinggi dengan kulit putih. Sangat menyukai kebersihan. Disiplin dan tegas. Salah satu orang paling paling rewel dalam hal menjaga pola makan Pak Kairav.
Namun, sore ini Dokter Hendra tidak datang sendiri. Seorang gadis berambut blonde sepinggang ikut bersamanya. Usia gadis itu masih muda, mungkin baru tujuh atau delapan belas tahun. Kalau aku tidak salah ingat, dia Haura, putri Dokter Hendra. Seperti namanya, Haura memiliki kulit putih dan mata hitam bak batu kecubung wulung hitam.
“Mai. ” Ramah, Dokter Hendra menyapa.
Aku membalas senyuman ramahnya.
“Dia siapa, Pa?” Haura menatap Dokter Hendra lalu menatapku tak berkedip. Aku dan Haura memang belum pernah bertemu sebelumnya. Namun, Dokter Hendra pernah memperlihatkan foto anak-anaknya padaku—termasuk Haura.
“Istri Kairav.” Dokter Hendra menjawab sembari tertawa.
Mimik wajah Haura langsung berubah murung begitu mendengar jawaban bohong ayahnya. Dia tampak sangat kecewa, seperti ingin menangis.
“Dokter Hendra bohong, Mbak bukan istrinya Mas Kairav.” Aku memberitahu.
Harura tampak lega dan langsung mencubit gemas lengan ayahnya, membuat Pak Hendra meringis dan minta ampun.
Apa Haura menyukai Pak Kairav?
Aku, Dokter Hendra, dan Haura masuk bersama. Pak Kairav juga muncul, sepertinya dia juga ingin menyambut Dokter Hendra. Senyuman lembut menggantung di sudut bibirnya.
Untuk menjaga kelembapan bibirnya, Pak Kairav kerap memakai lip blam. Kadang dia sengaja memilih lip blam yang memiliki warna tipis—dia membeci seluruh warna pucat dalam dirinya.
“Om Kai!” Haura tiba-tiba menghambur maju. Dia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Pak Kairav yang duduk di kursi roda. Hidung mereka nyaris bersinggungan. “Kenapa ada wanita di rumah ini!”
Pak Kairav menarik wajahnya ke atas agar hidungnya dan hidung Haura tidak bersinggungan. Dia tersenyum geli—mungkin gemas.
“K-kenapa, ya?” Pak Kairav balik bertanya.
“Ihh, jawab! Aku nggak bercanda.”
Pak Kairav masih tersenyum dengan wajah diangkat tinggi. “Memang selama ini Charela bukan wanita? Mbak Santi atau yang lain juga bukan wanita?”
Haura mendengkus, membuat Pak Kairav memejam terkena napasnya. “Maksud aku, apa hubungan Om Kai sama Mbak itu.” Huara melirikku.
“Calon istri.”
“Aku serius!” Haura nyaris menjerit.
“Serius! Iya, kan, Mai?” Susah payah Pak Kairav menoleh.
Aku menjadi gelagapan.
Harus kujawab iya atau tidak.
Aku tidak ingin berbohong walau hanya bercanda.
“Jangan bohong!” Harua semakin tidak sabar. Dia mencengkeram erat jubah Pak Kairav di kedua sisi.
Pak Kairav mengendurkan bahunya, memelas pada Dokter Hendra. “Dokter, tolong ….”
Dokter Hendra mendekati mereka. Dia berdeham. “Haura, jaga tata krama. Kalau kamu nggak bisa bersopan santun, Papa kirim kamu pulang sore ini juga.”
Haura mendengkus. Namun, dilepaskan juga cengkeramannya pada jubah Pak Kairav. Dia merengut dan menatapku cemburu.
Haura benar-benar menyukai Pak Kairav.
“Jangan ganggu Kairav, dia butuh istirahat. Kamu kan janji datang ke sini cuma buat liburan sepekan. Sana kemasi barang dan minta kamar sama Mas Daffa atau Mbak Yuni.” Dokter Hendra menyentil kening putrinya.
Meski dengan wajah cemberut, Haura mematuhi perintah ayahnya.
Dokter Hendra menatap Pak Kairav dengam wajah pasrah. Dia meminjat pangkal hidung sambil bergeleng pelan. “Padahal sebelum ke sini dia janji nggak akan buat ulah.”
Pak Kairav hanya tersenyum lembut. “Dokter pasti lelah. Istirahatlah dulu.”
Dokter Hendra mengangguk, kemudian undur diri. Aku ingin mencegah, tetapi sudah terlambat. Aku belum sempat memberitahu Dokter Hendra kalau Pak Kairav sempat dipukul.
“Kenapa, Mai?” Pak Kairav menatapku.
Aku mengatupkan mulut yang sempat terbuka ingin memanggil Dokter Hendra. “Enggak apa-apa, Mas.”
“Tadi kenapa nggak mau jawab?”
“Jawab apa?”
“Kalau kamu calon istri saya.”
“M-Mai nggak mau bohong, Mas.”
“Jadi maunya beneran?”
Aku menundukkan wajah, jengah—malu. Tiba-tiba jadi salah tingkah dengan wajah terasa hangat. []