FITNAH MANTAN (7)
…
“Kamu ingin tanya soal hubungan saya dan Kiovano, bukan?” Pak Kairav menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Ada sorot tak biasa di mata kelabunya.
Aku diam-diam menelan ludah.
“Kiovano adik satu ayah beda ibu dengan saya.” Ketika mengucapkan sebaris kalimat itu dari mulutnya, Pak Kairav terlihat hampa.
Sementara aku menganga tak percaya. Jadi, selama ini aku tinggal bersama mantan kakak ipar. Jika memang begitu, kenapa selama ini Pak Kairav tidak pernah mengungkitnya.
“Kamu kecewa?” Pak Kairav menatap pantulan wajahku di cermin.
“Kecewa?”
“Karena ternyata saya memiliki darah yang sama dengan pria yang sudah mencampakan dan juga menelantarkan kamu dan Kioya.”
“Itu nggak bener.” Aku menggeleng keras-keras. “Darah Mas Kairav dan Mas Vano mungkin sama, tapi sifat kalian berbeda. Mai sangat bersyukur bisa menganal Mas Kairav dan berterima kasih atas semuanya.”
Senyuman lembut kembali terlukis di bibir Pak Kairav. Sorot matanya kembali tenang dan memancarkan suatu daya pikat yang aneh.
“Emmm.” Aku ragu-ragu ingin bertanya.
“Apa?”
“Berarti … berarti Mas Kairav selama ini tahu kalau Kioya putra Mas Vano?”
Mas Kairav mengangguk.
“L-lalu … apa yang Mas Kairav bisikan pada Mas Vano tadi? Sampai Mas Vano langsung pergi.”
“Kamu ingin tahu?”
“Iya.” Aku benar-benar penasaran.
“Saya bilang … Maira sangat cantik, kamu rugi mencampakannya.”
Pantulan cermin memperlihatkan mataku yang terbelalak. Rona merah dengan cepat menyebar di area wajahku.
“Mas, aku nggak lagi ingin bercanda,” protesku.
Senyuman Pak Kairav melebar. “Kalau kamu nggak ingin bercanda, kamu jadi petugas upacara saja. Saya heran, kamu kuat banget berdiri lama-lama.”
Aku melengoskan wajah karena Pak Kairav memandang lewat pantulan cermin—malu.
“Saya nggak apa-apa, Mai. Kamu nggak usah khawatir. Lagi pula, sore ini Dokter Hendra pulang.”
“Dokter Hendra pulang?”
“Iya.”
Syukurlah.
Kalau ada dokter Hendra, aku menjadi lebih tenang.
“Mas,” lirihku.
“Hmmm.”
“Terima kasih.”
Pantulan cermin menampilkan senyuman lembut dan hangat Pak Kairav. Aku ikut tersenyum.
…
‘Maira sangat cantik.’
Kata-kata itu terus terngiang di kepala. Padahal aku tahu Pak Kairav berbohong. Anehnya, mengingatnya tetap membuatku salah tingkah sendiri.
Pak Kairav adalah kakak Mas Vano.
Fakta ini masih sangat mengejutkan.
“Mai.” Mbak Charela duduk di kursi. Meletakan segelas jus jeruk di atas kitchen set. Segelas lagi digenggamannya. “Kenapa wajah kamu merona?”
“H-huh? Iya, kah?”
Mbak Charela mengangguk kemudian tersenyum menggoda. “Diajak married sama Tuan Kairav, ya?
“Huh? Mana ada! Mbak jangan mengada-ada.”
“Tuan Kairav sebenarnya orang yang kesepian. Dunianya sangat kecil. Hanya seputar rumah dan rumah. Sejak kecil ditinggal mama dan papanya.” Mbak Charela memandangi jus jeruk di tangannya.
“Mbak tahu kisah hidup Mas Kairav?”
“Nggak banyak. But yes, I do know a little. Yang saya tahu, mamanya berdarah Jepang, papanya asli Indonesia. Keduanya bertemu di Raja Ampat saat sedang liburan. Nyonya Hikaru menjadi seorang mualaf dan meninggalkan keluarganya.” Sampai di sini, Mbak Charela berhenti bercerita.
Aku memandang Mbak Charela. Memelas, meminta agar mau meneruskan kisah tentang Pak Kairav. Aku ingin tahu seperti apa masa lalu si pemilik nama Teratai Putih itu.
Mbak Charela menghela napas sebelum meneruskan. Matanya menerawang. “This is sad. Awalnya kehidupan Nyonya Hikaru dan Tuan Bima berjalan baik. Mereka hidup harmonis dan bahagia. Namun, ternyata keluarga Tuan Bima tidak sepenuhnya menerima kehadiran Nyonya Hikaru. Diam-diam mereka menekan Tuan Bima supaya menikahi Bu Intan. Ditambah lagi putra yang dilahirkan Nyonya Hikaru dianggap aneh. Pernikahan kedua Tuan Bima pada akhirnya tercium juga. Nyonya Hikaru merasa sangat kecewa, dia lalu pergi membawa putranya kembali ke Jepang.”
“Kembali ke Jepang? Kembali ke keluarganya?”
“I do not know. No one knows.”
“Tuan Bima nggak mencari?”
Mbak Charela mengangguk. “Tuan Bima menjadi sangat kesepian. Dia berusaha mencari, tetapi tidak pernah berhasil menemukan Nyonya Hikaru. Dia jadi suka sakit-sakitan. But, enam belas tahun kemudian, seorang remaja datang menemui Tuan Bima. Dialah Tuan Kairav. Tuan Bima langsung mengenali putranya, bahkan tanpa tes DNA. Meski begitu tes DNA tetap dilakukan sebagai formalitas dan bukti sah.”
“Mbak Charela dapat semua cerita ini dari mana?”
“Sebeleum bekerja sama Tuan Kairav, saya lebih dulu bekerja pada Tuan Bima. And now, saya menceritakan ini ke kamu, karena saya lihat, kamu bisa mengurai kesepian di mata Tuan Kairav.”
“M-mengurai kesepian?”
“Walau Pak Kairav selalu tersenyum lembut, sejatinya dia orang yang sangat kesepian. Kamu dan Kioya adalah dunia Pak Kairav yang mengeluarkannya dari kutukan kesepian itu.”
Aku memandangi lantai marmer.
Aku dan Kioya, pengusir kesepian Pak Kairav?
Fakta baru yang kuketahui tentang Pak Kairav benar-benar mengejutkan. Di balik keramahan dan kebaikan hatinya, dia memiliki sisi hidup yang kelam. Bahkan enam belas tahu sebelum dia akhirnya menemui Tuan Bima, tidak ada yang tahu seperti apa kehidupannya.
Selama enam belas tahun itu, apa saja yang sudah dialaminya? Kenapa sekarang dia nggak tinggal sama Tuan Bima? Darimana semua harta yang sekarang dimilikinya? Banyak sekali pertanyaan di dalam kepalaku.
Aku bahkan tidak tahu kenapa selama ini Pak Kairav nggak bilang kalau dia saudara Mas Vano. Kelak, apa mungkin aku akan mengetahui semua seluk-beluk tentangnya—orang yang sudah menyelamatakanku dan Kioya dari keterlantaran.
“Lalu bagaimana sama Nyonya Hikaru?”
“Sudah meninggal.”
Aku menelan ludah.
…
Sore.
Cahaya matahari memendar lembut.
Pak Kairav duduk di kursi roda menghadap jendela kaca. Rumah ini memiliki dua lantai dan dilengkapi lift. Jadi, Pak Kairav tidak perlu turun dari kursi roda kalau ingin ke lantai atas.
Salah satu ruangan favorit Pak Kairav ada di lantai atas. Ruangan lengang dan sangat luas menyerupai aula. Lantai ruangan ini berwarna hijau muda lembut mengilap mirip batu giok. Aku tidak tahu dari bahan apa. Rumah ini memang memiliki beberapa lantai yang menggunakan bahan dan material berbeda satu sama lain.
Tidak ada perabotan apa pun di ruangan ini.
Benar-benar kosong.
Dinding ruangan di cat kuning gading dengan satu jendela utama berukuran raksasa. Kata Mas Daffa, kaca jendela didesain dari jenis kaca sunergy. Kaca yang dilapisi dua pelapis (coating) oksida logam melalui proses CVD (chemical vavor desposition). Kaca sunergi clear dengan dua pelapis dapat mengurangi panas yang masuk sehingga mampu meningkatkan kenyamanan.
Di sisi kanan-kiri kaca utama terdapat masing-masing tiga kaca dari jenis kaca patri. Kaca warna-warni yang dirakit menjadi satu menggunkan timah dan kuningan.
Jendela yang memakai kaca patri tidak menggunakan tirai. Sementara jendela utama memakai dua lapis tirai. Tirai pertama menggunakan jenis sheer—tirai berbahan tipis dan putih polos. Sementara tirai kedua memakai jenis tab top dari bahan tebal dan berwarna merah gelap, menggantung hingga ke lantai.
“Mas manggil aku?” tanyaku ketika sudah di dekat Pak Kairav.
Pak Kairav menyerahkan selembar foto.
Foto Mas Vano di depan sebuah gedung instansi.
“Kemungkinan besar Vano akan mengambil jalur hukum untuk mendapatkan Kioya.” Pak Kairav memberitahu. []