BAB 6 Khawatir

1102 Words
FITNAH MANTAN (6) … Ketegangan meningkat. Kedua kubu seperti anak panah yang siap dilesatkan. Mas Ferdian menatap Pak Kairav dengan sorot memelas. Dia seperti memohon untuk diizinkan melakukan tindakan atau membalas Mas Vano. Namun, Pak Kairav malah tersenyum, mengelap sudut bibirnya dan duduk kembali di kursi roda. “Sepertinya aku leboh cocok duduk saja daripada berdiri.” Pak Kairav menggerakkan pungungnya, seperti mencari posisi yang nyaman. “Di mana Kioya?”Mas Vano menatap dingin. Seingatku, Mas Vano menekuni beladiri taekwondo. Dia juga rutin ke gym untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Mungkin sekarang juga masih rutin, sebab perawakannya masih tegap dan berisi. Tidak berubah seperti tiga tahun silam. Aku menatap khawatir Pak Kairav. Pukulan Mas Vano terlatih dan pasti sangat bertenaga. Mas Vano bahkan memiliki dua pelatih profesional secara khusus—taekwondo dan pencak silat aliran Merpati Putih. Namun, aku tidak tahu apakan sekarang Mas Vano masih memilikinya atau tidak. “Di mana Kioya?” Mas Vano mengulang lagi pertanyaannya. Kali ini suaranya lebih nyaring. Sekarang Mas Vano sudah tahu nama anaknya. Pak Kairav mengangkat bahu. “Mungkin bersembunyi. Anak kecil biasanya takut pada orang dewasa yang suka berteriak.” Mas Vano mendengkus. Dia maju selangkah seakan ingin mencengkeram jubah Pak Kairav. Namun, Mas Ferdian dengan cepat menjegal. Raut wajah Yozi yang biasa terlihat santai kini berubah serius—tubuhnya seperti bisa bergerak kapan saja. Ketegangan seperti hampir meledak. Dua kubu saling pandang dengan sorot permusuhan. Pak Kairav yang hanya mengenakan jubah tidur berbahan flannel (fleece coral tebal) merapikannya. Ketika jatuh tadi, jubah sebelah kiri sempat tersingkap hingga hampir melorot. Sebagian kulit pucat perut, d**a, dan bahu kirinya menjadi tak terlindung. Untungnya ini di dalam rumah. Jika di luar, mungkin akan langsung memerah terkena sinar matahari. Selesai merapikan jubahnya, Pak Kairav berdeham. Dia bangkit berdiri. Tersenyum lembut seolah tidak ada situasi menegangkan apa pun juga. Mas Ferdian mengawasi tanpa ekspresi. Pak Kairav melangkah pelan. Walau tersenyum, kali ini ada sesuatu yang berbeda pada sorot matanya. Ketika sorot mata itu beradu dengan sorot dingin milik Mas Vano, keduanya seperti tenggelam. Mas Vano seperti terhipnotis dan Pak Kairav mendominasi. Bibir Pak Kairav hampir menempel di telingan Mas Vano, dia membisikan sesuatu. Jari-jari Mas Vano mengepal erat. Rahangnya mengatup ketat. Terakhir, Pak Kairav menepuk punggung Mas Vano dua kali. Gerakannya seperti seseorang yang sedang memeluk teman lama atau saudaranya. Keheningan mengiringi Pak Kairav yang bergerak mundur. Sesaat tidak ada seorang pun yang bergerak atau bersuara. Ketika Pak Kairav duduk kembali di kursi rodanya dan tersenyum lembut, ketegangan mendadak memudar. Ekspresi Mas Vano sulit diartikan—rumit. Mas Vano menatap Pak Kairav. Pak Kairav hanya tersenyum lembut. Mas Vano tiba-tiba mendengkus dan berbalik tanpa sepatah kata pun. Orang-orang yang ikut dengan Mas Vano saling pandang kebingungan. Mereka lalu mengundurkan diri mengikuti Mas Vano. Ketegangan yang sempat menggantung tebal mulai memudar. Para bodyguard Pak Kairav juga mulai mengundurkan diri. Mas Ferdian menatap cemas Pak Kairav, tetapi Pak Kairav justru memberi isyarat agar kepala bodyguard itu pergi. Perlakuan yang sama pada Mas Daffa. Pasrah, Mas Daffa dan Mas Ferdian mengundurkan diri. Hanya Yozi yang tetap tersenyum, seolah tidak pernah terjadi sesuatu apa pun. Aku menarik napas. Sedari tadi d**a rasanya sesak. “Mai,” panggil Pak Kairav, “kamu nggak lagi upacara, ‘kan?” Aku gelagapan sendiri. Pak Kairav memperhatikan dan membuatku semakin salah tingkah. “Kamu nggak apa-apa, Mai?” Pak Kairav melajukan kursi rodanya menghampiriku. Aku menggeleng canggung. Pertanyaan itu seharusnya untuk dia. Melihat memar di sudut bibir Pak Kairav, mataku menjadi berkaca-kaca. Pandangan memburam seketika. “Kamu kenapa mau nangis?” Pak Kairav malah tersenyum lembut. “Maaf,” sesalku. “Bukan hanya soal kamu atau Kio. Saya memang sudah bermasalah sejak dulu dengan Kiovano. Kamu tidak usah memikirkannya.” Pengakuan Pak Kairav membuatku tertegun. Sudah bermasalah sejak lama? Jadi, apa hubungan Pak Kairav dan Mas Kiovano sebenarnya? Aku menatap sudut bibir Pak Kairav dengan cemas. “Apa Dokter Hendra masih lama perginya?” “Kenapa? Kamu kangen Dokter Hendra?” “Mas, aku nggak lagi bercanda.” “Kalau begitu ambilkan saya batu es dan kain.” Aku mengangguk. Langsung mengambil batu es dan kain lembut. … Pak Kairav duduk di depan sebuah cermin besar. Tinggi cermin mungkin mencapai tiga meter. Setiap sisinya dibingkai oleh ukiran kayu jati yang diplester mengilap—warna kuningnya menyerupai sepuhan emas. Sesekali, ketika kain berisi es batu menyentuh kulit yang lebam, Pak Kairav meringis. Aku yang menyaksikan dari samping ikut merasakan ngilu. “Kamu dulu waktu sekolah, pasti nggak pernah bolos upacara. Iya, kan?” tanya Pak Kairav. Pantulan wajahku di dalam cermin tampak merengut. Aku sedang tidak ingin bercanda. Di sisi lain juga merasa canggung serta khawatir. “Di mana Kio?” Pak Kairav menempelkan kain berisi es sudut bibirnya. Kali ini dia tidak meringis. “Kio ada di kamarnya sama Mbak Riyanti.” Pak Kairav meletakan kain berisi es batu ke mangkuk yang ada di pangkuannya. Meski duduk di kursi roda, dia tetap terlihat sangat berwibawa. “D-dulu, Mas Vano menekuni seni beladiri taekwondo dan pencak silat aliran Merpati Putih. Pukulannya terlatih. A-apa … apa nggak sebaiknya Mas diperiksa ke dokter?” Mata abu-abu Pak Kairav tampak menerawang ke dalam cermin. Kadang, kalau sedang bicara dengan Pak Kairav, aku merasa seperti sedang berhadapan dengan makhluk asing. Postur tubuh Pak Kairav tergolong sedang—menurutku. Meski memiliki fisik yang lemah, perawakannya cukup tegap berisi. Rambutnya yang sedikit gondrong kadang dibiarkan berantakan, kadang dipotong curtains. Kalau tidak salah, Pak Daffa pernah bilang kalau Pak Kairav memiliki darah campuran Jepang-Indonesia. Hanya saja, kondisi unik Pak Kairav yang memiliki kelainan kulit albino, membuatnya terlihat sangat berbeda. Mirip sosok peri dari negeri dongeng. Kalau saja Pak Kairav memiliki teling runcing, mungkin orang-orang akan berpikir dia peri dari Negeri Valinor. “Mai,” panggil Pak Kairav setelah hening beberapa saat. “Huh?” “Apa kamu sedang mengkawatirkan saya?” Pertanyaan itu begitu sederhana, tetapi berhasil membuatku salah tingkah. Tentu saja aku mengkhawatirkannya. Namun, kenapa malu untuk mengakuinya. “Saya ….” Aku melihat bayanganku sendiri gelagapan di dalam cermin. Ada rona merah yang menjalar di pipi, padahal kulitku tidak albino. “Saya … iya!” aku mengakuinya. Senyuman lembut Pak Kairav bertambah lebar. “Saya baik-baik ajah, kamu nggak usah khawatir.” Semoga. Maira harap begitu. “Kenapa? Kamu ingin menanyakan sesuatu?” Pak Kairav menatap pantulan wajahku di cermin. Dari tadi aku memang ingin menanyakan sesuatu. Pertanyaan yang sudah mengganjal dari kemarin. Namun, aku belum menemukan momen yang tepat untuk bertanya. “Sebenarnya, Mai memang ingin tanya sesuatu. Tapi … tapi mungkin masuk ke dalam ranah pribadi.” “Kamu ingin tanya soal hubungan saya dan Kiovano, bukan?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD