FITNAH MANTAN
Mbak Riyanti undur diri setelah aku beri isyarat.
Kini, hanya ada aku dan Kioya.
Setiap kali melihat wajah Kioya, tak jarang aku mengingat Mas Vano. Wajah keduanya benar-benar seperti pinang dibelah dua.
“Kio sayang,” panggilku.
“Hmm.”
Aku mengelus lembut rambut tebal Kioya. “Kio sayang Papa Kairav, nggak?”
“Sayang.”
“Kalau Kio sayang Papa, kenapa Kio bohongi Papa. Kio sengaja kan banting kaca plexi di atas nakas itu? Kenapa? Bilang sama Mama.”
Raut wajah Kioya seketika berubah murung, matanya berkaca-kaca. Hujan bisa kapan saja tumpah dari pelupuk matanya yang mengembun.
Aku membawa Kio ke pangkuanku, mendekapnya erat. “Kio jangan takut. Mama nggak akan marah, Mama cuma ingin tahu kenapa Kio berbohong sama Papa.”
“Takut ….” Akhirnya Kio menjawab dengan suara bergetar.
“Takut dimarahi?”
“Iya.”
“Tapi Kio salah, Kio harus bertanggung jawab. Kio sudah rusak barang berharga milik Papa, Kio harus minta maaf ke Papa. Kio ingat, empat sifat wajib yang harus dimiliki rasul Allah?”
“Amanah?”
“Iya, terus?”
“Tabligh.”
“Pintar, terus?”
“Fathonah.”
“Satu lagi?”
“Shiddiq.”
“Apa itu shiddiq?”
“Jujur.”
Aku bersyukur atas ingatan tajam yang dimiliki Kioya. Meski usianya baru dua tahun lebih beberapa bulan, tetapi ingatannya sudah begitu tajam. Aku tidak pernah memintanya untuk menghafalkan, hanya membacakan beberapa cerita inspiratif saat Kio menjelang tidur.
“Nah, kan Kio sudah pernah dikasih tahu. Kalau kita, harus meneladani sifat-sifat nabi dan rasul. Salah satunya shiddiq atau jujur. Jadi, Kio nggak boleh bohong. Besok Kio minta maaf, ya, sama Papa.”
Kioya menenggelamkan wajahnya dibahuku.
“Kenapa? Kio takut?” Aku mengelus-ngelus punggung Kioya.
“Takut.”
“Jangan takut, Kio berdoa sama Allah semoga Papa bisa ngerti. Tapi Mama yakin, Papa pasti ngerti dan bangga kalau Kio berani jadi anak jujur.” Aku menangkup kedua sisi wajah Kioya agar mendongkak menatapku. “Lain kali, Kio harus bisa lebih mengontrol rasa penasaran Kio, ya. Kalau Kio tertarik pada sesuatu, tanya Mbak Riyanti dulu. Boleh, enggak. Jangan asal banting.”
Kioya mengangguk.
Aku masih menatap lembut mata Kioya. “Kio ingat, Papa sangat sayang sama Kio. Jangan sia-siakan kepercayaan dan kasih sayang Papa dengan kebohongan kecil. Kio harus ingat, kebohongan besar dimulai dari kebohongan yang kecil.”
“Iya.”
“Ya, udah. Udah malam, Kio bobo, ya. Mama bacakan kisah Umar.”
Kioya mengangguk.
“Kio, jangan lupa baca doa sebelum tidur.”
Kioya membaca ‘bismika allahuma ahya wabismika wa amut’ sebelum menutupi dirinya dengan selimut.
Aku mengambil buku ‘Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah’ dan membacakan Kisah Umar bin Khattab. Ah, iya, buku-buku ini, Mas Kairav yang membelikannya.
Setelah Kioya terlelap, aku membaca surah Al-Ikhlas, An-Nas, dan Al-Falaq, masing-masing sebanyak tiga kali dan meniupkannya ke ubun-ubun Kioya. Berdoa semoga Allah selalu menjaga Kioya dan menjadikannya laki-laki yang mewarasi sifat-sifat teladan para Rasulullah.
…
Pagi-pagi sekali Kioya sudah bangun.
Mbak Riyanti membantunya mandi dan berpakaian. Aku kemudian membantu Mas Juliano dan Mbak Charela.
Mas Juliano dan Mbak Charela memiliki fostur khas orang eropa. Tinggi, hidung mancung, dan kulit cerah. Mbak Charela memiliki binti-bintik cokelat di wajahnya. Rambut kemerah-merahan sebahu dan mata cokelat terang. Mas Juliano memiliki rambut gondrong cokelat gelap yang biasa dikuncir undercut. Mata cokelat terang dan cambang lebat. Keduanya katolik taat.
Aku tidak tahu bagaimana Pak Kairav bisa bertemu dan mempekerjakan Mas Juliano dan Mbak Charela.
Pukul delapan, Pak Kairav sudah duduk di meja makan. Meski Dokter Hendra sedang tidak ada—dokter pribadi Pak Kairav. Masih ada Mas Daffa yang akan dengan ketat menjaga pola makan Pak Kairav. Kadang aku merasa iba saat Pak Kairav nggak berselera makan. Namun, dr. Hendra atau Mas Daffa begitu gigih memaksanya menelan sesuatu.
“Papa ….” Kioya berdiri di kaki Pak Kairav—malu-malu.
Pak Kairav meraih tubuh kecil Kioya. Mendudukannya di pangkuan dengan posisi menghadap dirinya. “Kenapa?” tanyanya.
“Kio minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Kio bohong,” suara Kioya bergetar.
“Oh, ya?”
Kioya terlihat gugup, menjawab terbata-bata. “Kio sengaja … menjatuhkan koleksi Papa.”
“Kenapa Kio sengaja menjatuhkannya?” Nada suara Pak Kairav tetap lembut. Senyuman hangat tergantung di sudut bibirnya.
Kioya terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, “Penasaran.”
“Terus, apa kata Mama?”
Kio tampak mengingat-ingat. “Kio harus bisa mengontrol rasa penasaran. Ngak boleh rusak barang sembarangan. Tanya Mbak Riyanti dulu boleh atau enggak.”
“Pintar!” Pak Kairav menjatuhkan wajahnya di kening Kioya selama beberapa saat.
Ekspresi gugup Kioya seketika hilang dan kembali cerah. “Papa nggak marah?”
Menggeleng pelan, Pak Kairav tersenyum. “Tapi kalau Kio bohong lagi, Papa akan merasa sedih. Janji nggak akan bohong lagi.”
“Iya.”
“Good!”
“Yeah!”
Pak Kairav dan Kioya melakukan tos.
Kioya menenggelamkan wajah di perut Pak Kairav dan jari-jari lembut Pak Kairav mengelus punggung Kioya. Dadaku terasa sesak oleh keharuan melihat semuanya.
“Jangan berdiri di sana saja, Mai. Kamu nggak lagi upacara bendera, ‘kan? Ayo sarapan.”
Kata-kata Pak Kairav membuatku malu.
Kadang aku bingung, sebenarnya Pak Kairav sedang bergurau atau menyindir—sulit membedakannya. Salah tingkah, aku meninggalkan sisi lemari tempat memperhatikan interaksi Kioya dan Pak Kairav.
Ikut sarapan bersama.
…
Jika sedang longgar, aku akan membantu para asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah. Lucunya, mereka memanggilku nyonya dan menganggapku sebagai pasangan Pak Kairav.
Kadang aku merasa geli sendiri.
Kadang merasa iba.
Kasihan Pak Kairav yang begitu berharga disandingkan denganku yang bukan apa-apa. Namun, kadang aku juga merasa bahagia—entah apa alasannya.
Suara ribut di luar membuatku menghentikan aktivitas merapikan mainan Kioya. Suara ribut berasal dari depan. Aku bergegas ke sana.
Brak!
Pintu depan terbuka paksa, membuatku terlonjak.
Orang-orang berseragam hitam berhamburan masuk, jumlahnya mungkin ada lima puluh orang. Namun, mereka semua bukan bodyguard Pak Kairav.
Pak Kairav muncul di atas kursi rodanya. Mas Daffa, Mas Ferdian, Yozi, dan puluhan orang-orang berseragam hitam yang sebagian kukenal wajahnya mengekor.
Ruang depan ini sangat luas. Namun, sekarang seperti penuh sesak. Hawa kekerasan menguar pekat. Mas Vano melenggang masuk, sorot matanya begitu angkuh.
Seragam bodyguard milik Pak Kairav memiliki garis putih di kedua saku baju atasnya. Menggunakan jenis bahan kain drill yang pas di masing-masing tubuh orang. Tidak ada yang kebesaran atau kekecilan.
Sementara orang-orang yang ikut bersama Mas Vano memakai seragam hitam polos. Aku tidak tahu jenis kain yang digunakan mereka. Namun, seragam tampak kebesaran atau kekecilan di bererapa orang.
Kini, kedua kubu saling berhadapan.
Jumlah orang Mas Vano jelas lebih banyak.
Aku memendarkan pandangan, mencari di mana Kioya. Namun, tidak aku temukan. Mungkin Mbak Riyanti membawanya bersembunyi di belakang.
Mas Vano berdiri tepat di hadapan Pak Kairav yang duduk di kursi roda. Mas Ferdian sudah akan menjegal langkah Mas Vano supaya nggak terlalu dekat sama Pak Kairav. Namun, Pak Kairav mencegah dengan isyarat tangan.
Dalam situasi seperti ini, Pak Kairav masih saja bisa tersenyum. Perlahan dia bangkit berdiri. Namun, sebuah pukulan telak membuatnya kembali terduduk ke kursi roda. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, begitu kontras dengan kulit pucatnya.
Aku menutup mulut sehingga suara teriakan tertahan.
Ketegangan semakin meningkat.
Kedua kubu seperti anak panah yang siap melesat, memukul satu sama lain. []