FITNAH MANTAN (04)
“Anak itu, apa dia anakku?” Mas Vano menatapku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Seluruh badan kaku tegang rasanya.
“Dia anakku.” Pak Kairav menjawab dengan santainya. Senyuman lembut bahkan terukir di bibir pucatnya.
Mas Vano mengalihkan perhatiannya dariku ke Pak Kairav, gerakannya sangat pelan. Ketika mereka saling bertatapan, udara ketegangan meningkat. Bahkan Kioya ikut terdiam.
“Apa maksud kamu?” Suara Mas Vano sangat dingin. Dia bahkan mengganti sapaan ‘kak’ hanya dengan ‘kamu’ saja.
Mas Ferdian tidak menampilkan ekspresi apa-apa juga tidak melakukan apa-apa. Mas Daffa tampak mengawasi Pak Kairav dan Mas Vano. Sementara Yozi terlihat tak memedulikan sekitar, dia fokus menikmati makanannya.
Senyuman lembut Pak Kairav seperti ujung jarum tajam yang memecahkan gelembung ketegangan. Lembut, dia mengelus rambut tebal Kioya. Kioya mendongak, mata beningnya membentur mata penuh kabut misteri milik Pak Kairav.
“Kio, Kio anak siapa?” tanya Pak Kairav.
“Anak Papa.” Suara anak-anak Kio terdengar sangat imut.
“Siapa Papa?”
“Papa Kairav Kioyaka.”
“Oh, yeah!” Pak Kairav mengangkat tangan.
“Yeah!” Kioya menepuk tangan Pak Kairav—tos.
Tingkah keduanya persis anak dan ayah.
Aku yang menyaksikan momen itu entah kenapa jadi teharu. Pandangan jadi buram karena ada kaca-kaca menghalangi mata.
Senyuman lembut tetapi juga mengandung suatu daya pikat menggantung di sudut bibir Pak Kairav. Dia menatap Mas Vano dengan tenang, tetapi juga seperti mampu membuat seseorang tenggelam pada ketenangannya.
“Kamu dengar sendiri, ‘kan?” kata Pak Kairav.
Mas Vano mendengkus.
Raut muram seperti selapis kabut hitam menghiasi wajah Mas Vano atas kekalahannya. Dia tidak berkata-kata apa-apa. Mematung dengan sorot kesal.
“Kamu boleh menjadi orang yang dia anggap ayahnya. Tapi darah yang mengalir di tubuhnya adalah darahku, kenyataan yang nggak akan bisa kamu tepis sampai kapan pun. Aku-lah ayah bilogisnya.”
Menanggapi serangan Mas Vano, ekspresi Pak Kairav tidak berubah, senyuman lembutnya juga masih terukir. Pak Kairav menggenggam jari-jari kecil Kioya, menepuk-nepuknya. Kioya menanggapi permainan itu dengan antusias.
“Darah? Darah yang mana? Kio hadir lebih dulu sebelum ibunya menikah.” Kata-kata Pak Kairav lembut. Mimik wajahnya juga ramah. Namun, nada sindirian yang terkandung di dalam ucapannya begitu menusuk. “Seorang laki-laki yang tak mengakui benihnya, bahkan di saat janin itu belum memiliki nyawa, memangnya pantas disebut ayah?”
Rahang Mas Vano mengatup erat.
Aku melirik jari-jemari Mas Vano yang mengepal.
Aku benar-benar was-was.
Kioya tertawa mengikik saat hidung mancung Pak Kairav menggesek pipi dengan lembut. Dia terlihat begitu ceria, menggemaskan bagi yang melihat.
Pemandangan itu seperti pukulan telak untuk Mas Vano. Pria yang wajahnya masih setampan tiga tahun silam itu melangkah pergi. Dia sudah kalah. Namun, tatapan tajamnya sebelum pergi begitu membara—seakan memberitahu kalau dia belum sepenuhnya kalah.
Aku terkesima menyaksikan semuanya.
Aku.
Kioya.
Mas Kiovano.
Pak Kairav.
Kami semua terlibat hubungan yang rumit sekarang.
“Ayo, makan,” ajak Pak Kairav.
Mas Daffa dan Mas Ferdian menyantap makanan mereka. Mas Ferdian masih dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Mas Daffa kelihatan santai seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Sementara Yozi sudah selesai makan, dia yang sekarang memangku Kioya dan menyuapinya.
Pak Kairav menyantap sajiannya, sesekali tersenyum ke arahku. Aku menjadi gugup setiap kali ditatap Pak Kairav.
…
Saat aku melahirkan, Pak Kairav membayar jasa seorang baby sitter untuk membantuku mengurus Kioya. Setelah Kioya menginjak usia dua tahun, Pak Kairav mengganti baby sitter dengan nanny.
Semula aku tidak mengerti, kenapa harus diganti? Lalu Pak Kairav menjelaskan. Katanya, tugas baby sitter adalah untuk merawat dan menjaga bayi. Termasuk membuat MPASI sehat bergizi saat usia bayi sudah mencapai enam bulan. Usia bayi antara 0-2 tahun atau 24 bulan.
Karena Kioya sudah berusia lebih dari dua tahun, maka yang mendapinginya bukan lagi baby sitter, melainkan pengasuh yang biasa disebut nanny. Tugas seorang nanny tentu saja membimbing, mendidik, dan mengajarkan hal-hal baik. Termasuk membaca dongeng dan edukasi s*x. Mengajarkan apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Pak Kairav juga mengatakan, saat nanti usia Kioya sudah lima tahun, dia akan mengganti lagi pengasuhnya dengan pengasuh yang disebut governess. Governess yang kompeten dalam merawat anak, termasuk mendidik dan membantu proses belajarnya. Usia anak antara 5-12 tahun.
Kini, nanny bernama Riyanti itu menganga menatap Kioya di atas nakas. Di lantai, sebuah kaca plexi berbentuk limas segi lima tergeletak. Salah satu sisinya terlepas. Butiran beras berserakan.
Aku pun pasti tak kalah menganga dari Mbak Riyanti. Masalahnya, butiran beras itu semula adalah sebuah karya yang tak ternilai harganya. Mas Daffa pernah memberitahu, susunan beras yang membentuk seekor angsa anggun itu adalah kerajinan yang disebut Gaoloumixian. Kerajinan dibuat dari susunan beras, berasal dari Dinasti Qing, Tiongkok. Konon, kerajinan itu sudah 170 tahun menghilang, hingga seorang seniman dari Provinsi Fujian Cina, Chen Guorui kembali membuatnya.
Aku nggak tahu dari mana Pak Kairav mendapatkan karya seni langka itu. Yang pasti dia membawanya dari rumah lama ke rumah baru. Hanya berang-berang penting dan berharga saja yang ikut dipindahkan dari rumah lama. Dan kini, karya seni langka juga berharga itu sudah hancur berantakan.
Mungkin kerana Pak Kairav juga mendengar suara berisik ketika kaca plexi membentur lantai, dia muncul dari arah kamar tidurnya. Kursi roda Pak Kairav memiliki tuas dan beberapa tombol yang tidak aku ketahu fungsinya. Namun, salah satu fungsi tuas adalah mengatur kecepatan laju roda otomatis.
Pak Kairav menghentikan laju kursi roda saat hanya tinggal selangkah lagi dengan Kioya. Usai makan di restoran tadi sore, Pak Kairav terus berada di kamarnya. Dia menghela napas saat memandang butiran beras yang berserakan di lantai granit hitam pekat—kontras dengan warna beras yang putih.
Pak Kairav melangkah turun dari kursi roda. Dia meraih Kioya dari atas nakas setingi dua meter. Sepertinya Kioya naik melalui sandara sofa di dekat nakas.
“Kio, kenapa dijatuhkan?” Pak Kairav menunjuk butiran beras yang berserakan dan kaca plexi yang tergolek tidak berdaya. Suara Pak Kairav lembut, tidak mengintimidasi apalagi bernada marah.
“Nggak sengaja.” Kioya menjawa dengan polosnya.
“Terus naik nakas?”
Kioya diam.
Anak-anak kadang memiliki rasa penasaran yang tinggi. Aku rasa itulah yang sedang terjadi pada Kioya.
“Kio, dengar Papa.”
“Hmm.”
“Jangan naik ke atas nakas yang tinggi, berbahaya. Kalau Kio jatuh, bisa cidera. Naik ke atas nakas kalau nggak ada fungsi dan tujuan tidak jelas, nggak boleh. Barang yang Kio jatuhkan itu berang berharga, tapi Kio jauh lebih berharga bagi Papa. Jadi, jangan sampai Kio jatuh kaya kaca plexi itu. Oke?”
“Oke!” Kioya seperti menyesal. Dia menjatuhkan dagunya di atas bahu Pak Kairav.
“Good, Boy! Jagoan Papa.”
“Yeah!” Wajah Kioya langsung berubah ceria lagi begitu Pak Kairav memuji dan menyebutnya jagoan.
“Oke, sudah pukul sembilan. Saatnya bobo.”
“Oke.”
Cepat tanggap, Mbak Riyanti langsung menghampiri dan membawa Kioya ke pangkuannya.
“Selamat tidur, Jagoan. Jangan lupa berdoa.”
“Selama tidur Papa.” Kioya mengecup pipi Pak Kairav saat pria itu menyodorkan wajahnya.
Aku menghampiri Pak Kairav yang sudah duduk di sofa setelah Mbak Riyanti pergi.
“Maaf, Mas.” Aku merasa benar-benar bersalah.
“Kalau mau aman, seharusnya saya simpan di lemari kaca yang dikunci. Atau di brankas sekalian. Kenapa harus menyalahkan anak kecil dan merasa bersalah?” Pak Kairav tersenyum hangat.
“Salah satu bagian kacanya lepas. Kio nggak menjatuhkannya, tapi membantingnya.” Aku menggigit bibir karena merasa begitu bersalah.
Pak Kairav malah terkekeh rendah. “Tugas kamu untuk memberitahunya kalau berbohong bukan suatu sikap yang baik.”
“Tapi sebenarnya Mas juga tahu kan?”
Pak Kairav tersenyum, tak menjawab.
Aku tahu arti senyuman itu, Pak Kairav memang tahu Kio berbohong. Namun, dia berpura-pura bodoh di depan Kioya.
“Saya tunggu permintaan maaf dari Kio besok pagi.” Pak Kairav beranjak ke kursi roda, sebelum pergi dian menatapku dengan seulas senyum lembut. “Jangan tidur terlalu malam.”
Aku mengangguk.
“Selamat malam, Mas.”
“Selamat malam, Mai.”
Kairav, berarti bunga teratai putih.
Seindah dan seputih hati kamu, Mas. []